Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
kelam


__ADS_3

Setelah mengunjungi Jennie. Mobil Andi kembali melaju menuju sebuah basecamp tempatnya berkumpul.


di depan basecamp tersebut.


terdapat Dua pria kekar yang tengah membukakan pintu yang besar dan tinggi menjulang mempersilahkan Andi untuk masuk.


Tanpa berbicara pria itu terus melangkahkan kakinya berjalan menyusuri para gangster yang tadinya tengah asik bermain judi namun seketika menghentikan permainan mereka.


bahkan Riuh suara mereka tadi seperti suara tawa, pertengkaran, atau suara gelas yang jatuh pun hening seketika, kala Andi sudah masuk ke dalamnya.


Jangankan untuk mengeluarkan suara tawa,


mereka bahkan tidak berani mengeluarkan suara nafasnya jika sang pria bringas yang tak takut mati itu sudah datang.


Andi duduk di sebuah kursi yang berada di ujung ruangan tersebut.


Jika di gambarkan basecamp tersebut seperti sebuah gudang bekas yang sangat luas.


Dimana banyak meja-meja bundar tempat mereka semua bermain judi atau minum-minum dengan para wanita yang mereka bawa.


Andi mengisyaratkan sesuatu kepada Roy seorang ketua gangster yang pernah ia taklukkan namun kini menjadi temannya yang setia, untuk memerintahkan semua orang yang ada di sana kembali beraktivitas normal, Roy pun mengerti.


Lalu mengangkat kedua tangannya pertanda mereka bisa fokus kembali pada permainan mereka masing-masing.


Setelahnya ia pun duduk di dekat Andi yang tengah duduk menyandar dengan kedua kakinya ia letakkan di atas meja.


Matanya sedikit terpejam.


"Tuan, Anda ingin saya bawakan anggur jenis apa?" tanya Roy. Andi diam saja.


walaupun tidak di jawab oleh Andi, Roy tetap memilihkan satu jenis wine yang lumayan disukainya. Sehingga membuat Roy beranjak lalu meraih sebotol anggur jenis Bruno Giacosa Dolcetto D'alba, Minuman ini dibuat dari anggur dolcetto, yaitu anggur hitam Italia yang banyak tumbuh di daerah Piedmont, Italia. 


Dan jika di rupiahkan harga anggur ini berkisar sembilan ratus ribuan perbotol.


"Maaf Tuan, semenjak kepergian Anda ke negeri sebrang, Anda belum pernah datang lagi ke basecamp saya, jadi tidak ada anggur terbaik di sini selain yang ini." Roy menuangkan minuman itu di gelas Andi lantas menyerahkannya.


Andi meraih gelas tersebut menggoyangkan nya sejenak, lalu menenggaknya sekaligus.

__ADS_1


Pria itu menyodorkan gelasnya, meminta untuk di isi kembali.


Roy lantas menuangkannya.


"Apa terjadi sesuatu dengan Anda?" tanya Roy.


Andi menghela nafas pandangannya tertuju pada segelas wine di tangannya.


"Hati ku," jawabnya singkat. Lalu kembali menenggaknya.


Roy paham, suasana hati Andi sedang tidak baik.


suasana hati pria itu memang akan tidak baik jika berhadapan dengan sang ayah, namun kali ini sepertinya sedang jauh lebih murung dari biasanya.


Roy kembali menuangkan minumannya. "Apa ada sesuatu di luar rumah besar? Maksud saya selain dengan ayah Anda?" tanya Roy.


Roy itu sebenarnya adalah pria yang sangat mengerikan, ia bahkan punya ratusan daftar nama yang sudah ia bunuh dengan tangannya sendiri. namun jika di hadapan Andi, Roy akan menjadi seorang pria yang akan siap bersimpuh di bawah kakinya, saking menghormati sosok Andi itu.


Andi menghela nafas. "Aku tidak pernah merasa sebersalah ini dengan seorang wanita. Kau kenal aku, bukan?" tanya Andi tanpa menoleh ke arah Roy, pria itu lantas menuangkan lagi Wine di tangannya, ke dalam gelas Andi yang sudah kosong.


Ia paham, Andi memang gemar sekali keluar masuk hati wanita satu dengan yang lainnya. Bahkan para wanita itu juga sampai rela mempertaruhkan nyawanya demi bisa tidur dengan seorang Andi.


ya benar karena Andi hanya akan menyalurkan urusan hasratnya, setelah selesai sang wanita akan di tinggalkannya begitu saja.


"Apa, wanita itu adalah? Wanita yang dari masa lalu?"


Andi tersenyum tipis. Ia kembali menenggak minumannya lalu menyodorkan lagi gelasnya pada Roy yang dengan sigap langsung menuangkan minuman tersebut.


"Haaaaahhh, aku tidak suka jatuh cinta. Dari dulu, aku hanya ingin mempermainkan wanita. Bukan untuk jatuh cinta. Aku tidak ingin terikat dengan yang namanya pernikahan. Karena bagi ku? Untuk apa menikah jika kita bisa menyalurkan hasrat kita dengan para wanita-wanita bodoh itu? Dan lagi pernikahan itu hanya akan semakin membuat ku kesusahan untuk melangkah. Apalagi cinta hahaha" Andi terkekeh ia sudah sedikit mabuk.


Wine di botol pun sudah habis separuhnya lebih.


"Aku akan jadi orang tidak waras seperti ini." Andi kembali menenggak minumannya sampai habis, lalu mengangkat gelas itu sebatas wajahnya.


"Dan terluka." Melepaskan gelas di tangannya kemudian. hingga jatuh dan pecah.


Roy diam saja, Andi benar-benar terlihat sangat kalut.

__ADS_1


terlihat dari auranya yang kelam, Ia heran bercampur penasaran. wanita seperti apa yang membuat pria liar di hadapannya ini menjadi takluk dan se-depresi ini.


Andi beranjak. "Terimakasih untuk minumannya. Aku harus pergi." ucap Andi. Roy pun turut beranjak, ia mengikuti langkah Andi di belakangnya.


"Anda perlu supir Tuan?" tanya Roy. Andi pun mengangkat satu tangannya menandakan ia tidak perlu supir atau apapun lagi. Sembari terus melangkahkan kaki ia terus keluar dari basecamp tersebut. Dan mendapati para gangster yang membungkuk ke arahnya setiap kali Andi melewati nya.


Roy di sana masih mengamati punggung Andi yang semakin menjauh. Pria itu sungguh merasa khawatir dengan panutannya. Bahkan kini ia merasakan perubahan Andi yang seperti sudah tidak peduli lagi dengan bisnis hitamnya.


***


Keesokan harinya.


Ini adalah hari off nya Jennie bekerja. dan biasanya Jennie akan di rumah saja tidak ke rumah orang tuanya.


atau mungkin akan mengunjungi orang tuanya di sore hari nanti.


Masih dalam suasana pagi, Jennie tengah memasak hidangan untuk dirinya dan Nara setelah mengantarkan Nara ke sekolahnya lebih dulu.


ya ini masih hari Kamis, Nara masih harus sekolah hari ini. sangat sulit mencari waktu libur yang pas, karena hari libur Jennie tidak melulu di hari minggu.


Jennie membuka tutup pancinya, dimana uap panas mengepul keluar dari dalam panci tersebut, air yang sudah bergemulak dan sayur-sayuran yang sudah melunak menandakan masakan itu telah siap.


Dengan satu tangannya menengadah dan satunya lagi memegangi sendok sup ia mencicipi masakannya sendiri.


Bibir Jennie mengecap meresapi kuah sup yang ia masak itu, lalu tersungging tipis ketika merasa sudah pas.


makanannya sudah matang sempurna, Jennie lantas mematikan kompornya.


Potongan ayam yang sudah ia rebus pun sudah masak. Dan menyisihkan nya, karena ayam itu akan ia goreng nanti saat sudah waktunya makan siang bersama Nara.


"Okay, masak sudah selesai tinggal beres-beres rumah, sebelum kembali ke sekolahnya Nara." Jennie bersemangat ia merenggang kan tubuhnya sejenak lalu kembali berjalan meraih alat bersih-bersih di sudut dapur.


Biasanya Jennie akan memulai untuk menyapu rumahnya. Lalu mengepel dan seterusnya.


Ia juga meraih beberapa cucian kotor untuk dia rendam sejenak sebelum mencucinya nanti siang.


Karena jika ia cuci sekarang juga waktunya tidak akan cukup.

__ADS_1


Setelah selesai ia berjalan keluar menata bunga dan tanaman hias miliknya, rasanya sangat sejuk melihat bunga-bunganya bermekaran. Terlebih dengan para kupu-kupu kecil dan tawon madu yang hinggap dari bunga satu ke bunga yang lain.


Sungguh mampu membuat suasana hati menjadi tenteram.


__ADS_2