Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
sahabat lucknut


__ADS_3

Di dalam ruangan kerja Excel.


Alvian berjalan mengelilingi sudut ruangan itu, menyentuh apapun yang ingin dia sentuh lalu berakhir pada meja Excel.


"Direktur Utama, Excel Pradiitaa." Membacanya lantang pada sebuah papan nama yang terbuat dari kaca. Alvian tersenyum, temannya itu akhirnya mau memegang hotelnya sendiri.


Padahal ia sempat membodoh-bodohkan sahabatnya itu karena memilih menjadi arsitek.


"Kau sengaja sekali masih mengguna seragam mu, ingin tebar pesona di hotel ku?" tanya Excel sembari melemparkan sekaleng minuman berkarbonasi.


Haaaappp Alvian menangkapnya dengan sempurna. "Aku baru saja kembali. Dan Istri ku pulang sekitar dua jam lagi, jadi aku memutuskan untuk mampir dulu ke hotel mu. Lihat aku membawa ayam goreng tepung." Mengangkat tinggi-tinggi bungkusan berisi ayam goreng tepung yang ia beli tadi.


Excel pun meraihnya namun langsung di jauhkan Alvian. "Kau dua aku empat ya."


"Setan! Kau yang dua bodoh."


"Kan aku yang membelinya bukan diri mu."


"Pelit mu tidak ilang-ilang ya Vian."


Terkekeh. "Cecunguk ini mengatai ku pelit. Kaca mu kurang besar atau bagaimana? Memang kau tidak pelit hah?"


Excel bersungut-sungut. Alvian pun merangkulnya dan mengajak Excel duduk di sofa.


"Silahkan duduk." Titah Alvian.


"Vangke!! Belagu sekali diri mu itu, seharusnya aku yang mempersilahkan mu duduk! Dasar berdebah."


"Hahaha, iya...iya." Alvian tergelak.


Mereka pun menikmati makanan kesukaan mereka, ayam goreng tepung. Dan memang dasar Alvian, dia tahu Excel suka paha ayam dia malah membeli hanya satu, sudah jelas hal itu menjadi sebuah perebutan sengit di antara keduanya.


Bahkan paha ayam itu malah menjadi hancur akibat keduanya saling tarik.


Dan akhirnya terjatuh ke lantai.


"Paha ayam ku...!" Seru Excel. Ia pun menoleh sebal ke arah Alvian.


"Ambil saja sana, sudah ku ikhlaskan." ucapnya enteng sembari meraih potongan dada ayam di atas meja.


"Bedebah sialan!" Plaaaaaaakkk Excel memukul kepala bagian belakang Alvian. Membuat Alvian terkejut.


"Wah kau ngajak duel ya? Kurangajar."


"Ayo duel, dasar kau menyebalkan. Sengaja sekali membeli satu potong paha ayam setelah hancur dan terjatuh baru kau menyerahkannya."


"Hei jin Gondrong! Kau tidak ingat apa, dulu kau juga sama? Sengaja membeli satu, padahal kau tahu aku juga suka? Dan lagi ini... Kau lihat ya." Alvian melepas satu persatu kulit dada ayamnya.


"Hei...hei....hei... Apa yang kau lakukan pria lucknut?"


Alvian memakan semua kulit ayam itu.


"BEDEBAH TENGIK!!!!" pekik Excel sudah naik pitam.


"Dendam ku terbalaskan." jawab Alvian sembari tersenyum sinis.


"Benar-benar kau cari mati ya manusia bekantan?"

__ADS_1


"Apa? Kau juga dulu sama saja tuh."


"Setan alas!"


"Tidak usah emosi makan saja tepungnya itu."


"Cih!!!" Bersungut. Sedangkan Alvian tertawa puas.


Hening sejenak. "Hei bagaimana istri mu?"


"Baik." jawab Alvian.


"Maksud ku, sudah jadi belum?"


"Apanya?"


"Kau ini bodohnya ya? Sudah jelas anak lah, apa lagi? Kau sudah menikah lebih dari lima bulan kan?"


Alvian menghela nafas. "Boro-boro jadi, melihat bagian tubuhnya saja belum."


Bruuuuuuuufffff. Excel menyembur kan minuman bersoda yang tengah ia tenggak. "Apa kau bilang? Aku tidak salah dengar kan? Bagaimana bisa kau belum melihatnya? Kau tidur satu ranjang kan?"


"Iya."


"Dan kau belum pernah melakukannya?"


Alvian mengangguk.


"Bukan main... Kau ini menyia-nyiakan mahluk seindah itu di sebelah mu? Kalau aku sudah tidak tahan."


"Kau pikir aku tahan apa?" Bersungut. Alvian menenggak minumannya.


Alvian menyandarkan kepalanya. "Sulit." Gumamnya lirih.


"Sulit?" Excel meletakkan minuman di tangannya ke atas meja. "Hei...hei... Jangan bilang kau tidak tahu caranya membobol gawang? Wah wah... Mau ku bantu?"


Buaaaaaakkk sebuah bogem mentah mendarat di wajahnya. Namun pukulan tidak terlalu keras.


"Cari mati kau hah?"


"Aaasssshhh... Aku hanya bercanda," jawab Excel sembari terkekeh. Alvian geleng-geleng kepala.


"Bagaimana bisa kau belum Menyentuh nya? Aku jadi penasaran."


"Kau kan tahu, aku menikahi istri mendiang Aska. Dan dia belum mencintai ku."


"Berat sekali ya menjadi suami pengganti? Aku pun sama." Excel menghela nafas.


"Sama maksudnya?"


"Aku menyukainya."


"Siapa?"


"Jejen ku."


"Ngomong yang jelas, bodoh!"

__ADS_1


"issssssshhh, wanita yang tadi. Mantan adik kelas kita."


Mata Alvian membulat. "Kau menyukainya?"


Excel menjawab dengan anggukan kepala.


"Kau tahu sebelumnya jika Jennie sudah punya anak?"


"Baru kemarin-kemarin sih."


"Lalu?"


"Aku sempat berfikir dia sudah bersuami. Namun pas tahu dia ibu tunggal aku jadi semakin ingin mendekatinya. Tapi faktanya dia malah mantan kekasih Andi di masa lalu."


Alvian menepuk bahu Excel. "Aku mendukungmu kalau begitu. Kejar dia sampai dapat."


"Tapi wanita itu sepertinya tidak menyukai ku."


"Memang bagaimana cara mu mendekatinya?"


"Ya dengan cara ku lah."


"Cara mu?" Berfikir sejenak.


"Tidak usah di pikir, kau tidak akan pernah paham."


"Begitu, aaahhh tunggu, aku baru ingat. Aku berpapasan dengan Andi saat membeli ayam ini."


"Oh ya?


"Iya, dan dia bersama seorang anak perempuan. Apa mungkin dia anaknya?"


"Apa? Andi bersama Nara?" Excel terkejut. Ia bahkan sampai berdiri.


"Bisa jadi."


"Aku tidak yakin Jennie tahu hal ini. Aku harus menghampirinya." Excel bergegas keluar dari ruangannya meninggalkan Alvian yang masih menatapnya bingung.


Bersambung...


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hai maaf aku menyapa lagi, hehehe sory telat up ya. Beginilah jika nulis dua novel huhuhu, suasana hati harus sesuai dengan apa yang tengah ku tulis agar feel-nya dapat.


Kadang suka lucu sendiri saat satunya sedang scene sedih terus satunya lagi scene lucu. Berasa berkepribadian ganda saya hahaha. Jadi harus jeda dulu.


Okay... Kali saja ada yang penasaran kenapa Alvian nggak sama Jennie malah jadi Excel yang ngejar dia.


Begini para Reader. Aku pernah nulis buku pertama ku judulnya Second Husband di Platform ini.


Novel itu bercerita tentang perjuangan seorang pilot mengejar cinta dokter cantik yang baru saja kehilangan suaminya.


Novel itu ku hapus karena ku pindahkan. Di platform lain. Tapi sudah tamat kok, nah novel Jennie ini ku anggap sekuelnya cuma alurnya ku ganti seluruhnya. Hanya mengambil ide dan nama-nama tokohnya saja.


Kalo dulu Andi benar-benar jadi ******* yang sampai nyabotase pesawat Alvian. Sekarang nggak ada ya. Hehehehe ku buat Andi jauh lebih baik.


Di sini ada sih yang mungkin udah baca novel itu. Tapi tetap aja mereka nggak tahu ending nya nanti, jadi jangan percaya spoiler ya hehehehe.

__ADS_1


Terimakasih sudah berkenan membaca karya ku... Novel masih berlanjut. Di tunggu ya lanjutannya. πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2