Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
pertandingan catur bagian 1


__ADS_3

Senja di langit yang menguning itu benar-benar mengguratkan lukisan alam berwarna merah jingga yang begitu indah.


Jennie menatap penuh haru, saat Excel menggendong putrinya hingga masuk ke dalam mobil miliknya.


Dan entah karena anak itu mudah sekali dekat dengan seorang pria dewasa atau memang Nara sudah sangat menginginkan sosok ayah ada di dekatnya, rasanya melihat gadis itu sudah akrab dengan Excel sedikit membuat Jennie senang. Tunggu senang? Iya benar, dia bahkan menyunggingkan senyum tanpa sadar seraya mendengarkan celotehan Nara yang di balas dengan nada ketus ala Excel seperti biasa. Hehehe.


Braaaaakkk, Excel menutup pintu depan mobil itu, ia pun menoleh ke arah Jennie yang masih mematung di dekatnya.


"Kau tidak mau masuk?" Tanya Excel memecahkan lamunan Jennie yang langsung menarik senyumnya.


"Emmm, iya." Ucap Jennie hendak meraih handel pintu mobil namun sudah di dahului Excel yang membukanya.


"Hei, aku melihat mimik wajah kekecewaan di sana." Menunjuk wajah Jennie.


"Maksud mu, mas?"


Excel tersenyum, dia masih konsisten memanggilnya mas.


"Maksudku, kau pasti kecewa ya karena Nara yang di depan? Aku jadi tidak bisa menyolek mu seperti ini." Excel menyolek dagu Jennie. Jelas saja hal itu membuat mata Jennie membulat.


"Iiissshhh!"


"Hahaha, muka marah mu benar-benar menggemaskan. Sayang."


"Ku bilang jangan panggil sayang mas, aku kan sudah memanggil mu dengan sebutan itu."


"Tapi aku suka..... Sayang."


"Mas!"


"Sayang—"


"Iisss mas Excel."


"Ooohhh suara merengek mu semerdu suara hmmmmmmm nya Nisa saban." Terkekeh.


'dasar bos gendeng!' batin Jennie menatap sebal.


"Sayang. Ayo masuk."


"Ku bilang jangan panggil sayang!"


"tapi aku suka, sayang."


"Mas Excel!!" Semakin geram.


"Hahaha Sayang! Sayang! Sayang!" Menutup kedua telinganya sembari berjalan menjauh. Sementara Jennie hanya memandang kesal ke arahnya.


"Sayaaaaaa!! Mppp" berlari lah Jennie hanya sekedar membungkam mulut Excel. Pria itu pun terbelalak.


"HEI...!! beraninya kau?" Teriak Excel setelah di lepaskan oleh Jennie.

__ADS_1


"Ini bukan hotel mu ya mas, jadi aku bisa melakukan apapun, bahkan menghajar mu sekalipun! Jadi bersikaplah biasa saja!" Pekik Jennie kesal, ia menghentakkan kakinya sekali lalu masuk kedalam mobil Excel sembari membanting pintu itu.


Sementara Excel mendadak beku melihat Jennie yang ternyata bisa marah juga.


"Aaaahhh, marah mu manis sekali Jejen, tertantang nya aku...hahhaha" tertawa kemudian lalu melanjutkan langkahnya menuju kursi kemudi.


Di rumah Jennie...


seorang ayah sudah menyambut kedatangan mereka bertiga, sebenarnya lebih fokus pada Excel itu sendiri.


Karena baru kali ini dia melihat Jennie membawa teman pria lagi setelah remaja yang pernah dia usir dulu.


Nara yang baru saja turun dari gendongan Excel langsung berlari menghampiri sang kakek yang sudah menyambutnya dengan pelukan hangat dan kecupan di wajahnya.


"Bau asem ini cucuk kakek, tapi bau apa lagi ya?" Mengendus.


"Bau bakso kakek." Jawab Nara riang. Sang kakek pun tergelak.


"Iya benar bakso, haduh habis makan bakso tidak mengajak kakek ya?"


"Hehehe," Nara tertawa renyah, merasa geli karena kecupan kakeknya itu.


"Sayang kita mandi dulu yuk, nanti pulang langsung pulang." Ajak Jennie. Nara pun mengangguk lantas meraih tangan sang bunda yang sudah terulur kepadanya. "Mas, aku masuk dulu. kau mengobrol-ngobrol saja dengan ayah ku ini."


"Iya Jen." Tersenyum kaku, lebih tepatnya mendadak tegang karena mendapatkan tatapan tajam dari sang calon ayah mertua, itu pikirnya.


"Dan ayah, perkenalkan dia bosnya Jennie, mas Excel namanya." Ucap Jennie memperkenalkan Excel pada ayahnya.


Ehhh? 'kliwon?' batin Excel masih tidak mengerti kliwon itu siapa. Jennie pun terkekeh tanpa suara seraya menutup mulutnya.


"Ya sudah ayah, mas Excel. Jennie tinggal dulu ya." Gadis itu pun melangkah masuk.


'jangan lama-lama Jejen, aku bisa mati di terkam pak Raden di hadapan ku ini.' batin Excel yang hanya tersenyum aneh dengan tangan menggaruk kepalanya.


"Kuat berdiri lama kamu?" Tanya pak Ridwan.


"Ehhh, ku...kuat, kuat dong."


"Kalau begitu berdiri saja di sana tidak usah duduk." Ucapnya sembari melangkah menuju bangku teras.


"Tapi ada bangku nganggur pak, kalo nggak saya dudukin kan sayang." Turut melangkah mendekati bangku teras di sebelah pak Ridwan yang terdapat meja di tengah-tengah.


Pak Ridwan pun hanya dia saja. Dia lantas mengeluarkan papan catur yang berada di bawah meja. Braaaaakkk. Meletakkan dengan hentakan keras membuat Excel terperanjat bukan kepalang.


"Tata itu." Titahnya.


"Eh, maksudnya bagaimana?"


"Ku bilang tata bidak caturnya."


"Wahhh hahaha, saya tidak biasa main catur pak." Alias tidak bisa ya Excel hahaha.

__ADS_1


"Tata!" Titahnya lagi, Excel pun mendesah tanpa suara. Sudah pasta saja dia melakukan apa yang di suruh oleh ayahnya Jennie itu. Ia pun menata bidak catur tersebut dengan arahan pak Ridwan karena ada beberapa yang salah seperti penempatan raja dan ratu, kuda dan benteng.


Kraaaaakkk memetik jari-jari secara bersamaan di depan Excel yang sudah menelan selavinya.


"Kau jalan dulu." Titah pak Ridwan saat bidak itu sudah tertata seluruhnya.


"Maaf tapi saya?"


"Jika kau kalah dari ku, maka jangan lagi-lagi kau mendekatinya."


"Emmm, nya?"


"Jennie ku!" Jawabnya.


'sial, aku kan tidak bisa main catur.' batin Excel pias.


"Ayo jalankan bidaknya!" Titah pak Ridwan yang sudah tak tahan melihat pria itu banyak berfikir.


"Tapi pak?"


"Jika kau tidak mau, pulang saja sana!"


"Baiklah saya akan jalan."


"Ingat!!! Jika kau kalah? Maka stop mendekati putri ku."


Gleeeekk.... "I...iya pak." Excel mulai mengangkat tangannya meraih salah satu bidak prajurit dan mengajukan.


"Bodoh." Gumam pak Ridwan. Yang turut memajukan juga. Excel pun menggaruk, ia berjalan lagi dengan bidak yang sama.


"Ckckck." Haaaapp satu bidak itu termakan. "Kau kalah satu." Tersenyum sinis.


'sial!!! Bagaimana ini?' kembali menjalankan bidaknya.


"Pilihan terbodoh lainnya." Gumam pak Ridwan. Excel pun kembali meraih bidak yang lain.


"Cih!"


'aaaaahh! Kenapa bapak satu ini mengumpat terus sih, seolah semua yang ku jalani salah!!!' makin keringat dingin Excel, serius mencari bidak mana yang perlu ia jalankan.


"Hei...! Apa kau tidur? Cepat jalan!!" Seru pak Ridwan, menggebrak meja, yang jelas saja membuat Excel langsung terperanjat kaget.


'cih bagaimana aku mau fokus kalau di buat tegang seperti ini?' Excel mengusap peluhnya yang menetes dari di keningnya.


Kembali ia memajukan bidaknya. Dan lagi-lagi ayah Jennie geleng-geleng kepala, seraya menjalankan bidaknya


"Skaaakkk! Bodoh!" Umpatnya tersenyum sinis.


"Aaaaarrrrrggggghhhh." Excel mulai frustasi. "Baiklah pak, saya akan serius kali ini."


"Cih! Berjuanglah." Melipat kedua tangannya di depan dada menunggu bidak Excel maju.

__ADS_1


__ADS_2