
Di sebuah meja makan sederhana. Excel dan Nara sudah duduk di sana, sedikit merasa canggung Jennie saat melihat seorang pria tengah duduk di meja makannya.
Karena ini kali pertamanya ada seorang pria turut makan bersama Jennie dan Nara.
Excel menopang dagunya sembari mengamati tubuh Jennie yang tengah membelakanginya. 'berasa tengah memiliki keluarga yang lengkap. Punya istri yang cantik. Pintar masak, dan anak yang?' Excel melirik Nara. 'malas mengatakannya namun okay lah, anak yang manis.' Lanjutnya.
Nara tersenyum lebar pada Excel. 'cih, sepertinya dia tahu aku memujinya dalam hati.' batin Excel. Namun ia tidak bisa untuk tidak turut tersenyum karena senang melihat senyum anak perempuan Jennie ini, sangat manis menurutnya.
"Om jangan senyum... Jelek!" ujar Nara. Yang seketika itu membuat Excel kembali menarik senyumnya.
"Sudah tahu jelek kenapa di lihat? Menyebalkan." Bersungut.
Jennie pun meletakkan lauk dan sayurnya di atas meja. "Sini nak bunda ambilkan nasinya." Nara mengangkat piringnya. Namun Excel pun sama turut mengangkat piringnya.
"Hei Jejen, yang ada aku dulu yang di ambilkan."
"Om ini? Nara kan masih kecil, om harusnya mengalah. Lagi pula tadi yang di tawarkan itu Nara bukan om."
"Tidak ada di kamus ku untuk mengalah termaksud dengan anak bayi sekali pun. Jejen berikan nasinya." Titah Excel.
Jennie tertegun. Semakin merasa canggung dia saat Excel sudah mendekatkan piringnya ke arah Jennie.
"Bunda, Nara dulu ya." Pinta Nara membuat Jennie tersadar. Dia tersenyum.
"Maaf Tuan, apa Anda mau ambil sendiri saja nasinya? Soalnya anak saya ingin dia lebih dulu."
"Cih... Ya sudah dia saja dulu. Tapi habis ini saya ya."
"Baiklah Tuan. Sebentar ya, setelah ini saya akan melayani anda."
"Me...melayani?"
"Maksud saya mengambilkan nasi untuk anda." Jennie tersenyum tulus. Sangat manis terlihat bahkan membuat Wajah Excel sedikit memerah.
'aaahhhh jangan tersenyum seperti itu Jejen, aku tidak tahan.' Excel memalingkan wajahnya. Sedikit menyentuh bagian dadanya yang bergetar untuk yang pertama kalinya. Sekilas Excel tersenyum. Tanpa sepengetahuan Jennie ataupun Nara.
"Piring anda Tuan?" Pinta Jennie sembari mengulurkan tangan.
Excel menoleh, sedikit gemetaran dia mengangkat piring miliknya. "Ini. Secukupnya saja." ucap Excel.
Jennie meletakkan satu centong nasi di piring Excel. "Lagi Tuan?"
__ADS_1
"Cukup." Excel kembali menarik piring itu. Lalu mengibas-kibaskan baju di bagian dadanya. 'kenapa tiba-tiba panas sekali sih?' dia melirik ke arah Jennie.
Wanita itu sudah duduk di kursinya. Lalu meraih lauk untuk Nara. Dan kini kepada Excel.
"Silahkan Tuan,"
Semakin tertegun lah Excel, di perlakukan seperti ini. Ia benar-benar merasakan tengah di layani seorang istri. Excel beranjak.
Kedua ibu dan anak itu memandangi Excel dengan penuh kebingungan.
"Izin ke luar sebentar." ucapnya. Pria gondrong itu langsung berjalan dengan sangat kaku keluar. Tepatnya di ruang tamu.
Ia berdiri sembari menyandar ke dinding di sebelah pintu masuk ke ruang tengah. Wajahnya benar-benar memerah, senyumnya tersungging bahagia. "Astaga... Astaga... Jantung ku...?" Dia memegangi dada sebelah kirinya.
"Perasaan apa ini? Kenapa aku bahagia sekali?" Excel terus saja tersenyum.
"Tuan—" panggil Jennie. Excel berdeham lalu menoleh.
"Apa?"
"Emmm kenapa Tuan tidak jadi makan? Tadi katanya lapar? Masakan saya tidak menarik selera ya?" tanya Jennie.
"Siapa bilang? Aku hanya merasa gerah sedikit jadi aku keluar sebentar. Sekarang aku baru mau makan ini." ucap Excel yang kembali melangkah masuk.
Di dalam ruangan yang tidak terlalu luas mereka menyantap hidangan makan siang mereka dengan hikmat.
Excel terlihat menikmati sekali masakan Jennie.
Terlihat ia bahkan sampai nambah.
Setelah selesai, ia menyandar memegangi perutnya yang rata itu. Merasa kekenyangan. Baru kali ini ia menikmati makanan yang sangat menggugah selera. Atau mungkin karena ada temannya. Karena selama ini dia sering makan sendirian hanya di temani pelayan.
Ataupun Alvian jika tengah berkunjung, namun semenjak sahabatnya itu menjadi pilot terlebih sudah menikah membuatnya sangat jarang mengunjungi Excel lagi, hal itu juga yang membuat Excel kembali kesepian.
Namun sepertinya sekarang sudah jauh lebih berbeda, setelah mendapatkan mainan baru dia jadi jauh lebih semangat. Ya... Mainannya adalah seorang Jejen atau Jennie hehehe
***
Di rumah besar Excel...
Pria itu berdiri menatap hujan di balik Diding kaca di kamarnya. Dengan tangan melipat di depan dada, Excel tersenyum-senyum sendiri mengingat seharian ini dia sudah melakukan banyak hal bersama Jennie dan anaknya.
__ADS_1
Walaupun lebih ke menyusahkan Jennie ya, namun gadis itu tidak pernah berhenti tersenyum saat Excel meminta Jennie untuk melakukan hal aneh sesuai keinginannya.
Yah bapak gondrong ini tidak tahu saja sedari tadi Jennie selalu mengumpat dalam hati.
Tapi ya sudah lah yang penting hatinya saat ini jadi jauh lebih berbunga-bunga.
Tok tok tok...
Excel menoleh. Sang mamih sudah pulang. "Dari mana saja kau? Kenapa tadi kau tiba-tiba minta libur sehari?"
Excel tersenyum. "Mamih?" Excel mendekati ibunya. "Mamih mau cucu tidak?" tanya Excel.
"Apa maksud mu tiba-tiba tanya itu?"
"Jawab saja, karena Excel sudah punya cucu perempuan untuk mamih." Tertawa.
Lain halnya ibu Miranda yang seperti merasa mendadak migrain. "E... Excel? Kau tidak menghamili anak orang kan? HAH!!!" pekik sang mamih.
Excel memegangi kedua bahu ibunya. "Ssssstttt Mamih ku yang cantik? Excel sedang ingin berdansa. Yuk berdansa yuk temani Excel ya." Memutar sembari memegangi satu lengan ibunya.
"Adaaaaaamm! Adaaaaaaam—" seru ibu Miranda merasa ketakutan. "Excel kau harus ku bawa ke pak kyai. Kau perlu di rukiyah."
Excel mengecup pipi ibunya. "Sayang mamih deh...hahaha"
"Ka...kau pasti kerasukan hantu Sangkuriang ya...a...aku bukan dayang Sumbi Excel." Memundurkan langkahnya.
"Sini mamih, biar Excel cium mamih... Sudah lama kan mamih tidak di cium Excel." Memajukan bibirnya. Ibu Miranda pun meraih sepatu hak tinggi milik nya.
"Berani kau maju, ku habisi kau ya? Kau ini mabuk ya? hah!!!" Masih memundurkan langkahnya. Sembari memegangi sepatu.
"Iya mamih, Excel mabuk, mabuk cinta.... Aseeeeekkk."
"Tidak waras, kau makan apa sih tadi siang?"
"Makan sayur SOP rasa cinta, ayam goreng rasa sayang, sambal rasa greget. Waaaaawww mantap."
"A...Adaaaaaaaammmmmm." ibu Miranda kabur dari Excel. Karena melihat anaknya itu semakin tidak waras. Walau memang kenyataannya memang tidak waras hahaha.
Excel pun tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perutnya. "Ohhh Jejen ku. Aku harus tidur. Bangun pagi supaya cepat bertemu Jejen Ku." Excel melompat ke atas ranjangnya.
Malam yang membahagiakan untuk Excel. Walaupun hanya sebatas makan siang saja sudah sebegitu bahagianya. Yahhh begitulah sang budak cinta gondrong kita. Hahaha.
__ADS_1
Bersambung...