Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
ungkapan hati Andi, dan pertemuannya dengan Excel


__ADS_3

"apa hak mu?" Tanya Andi datar. Sembari mengangkat dagunya.


"Memang tidak ada hak ku atas Jennie dan anaknya. Namun wanita itu adalah karyawan ku. Jadi aku berhak menjaganya." ucap Excel.


Andi pun semakin mendekat kearah Excel. Lalu berbisik "Aku tahu, kau menyukainya kan?" Mata Excel melebar. Sedangkan Andi tersenyum sinis.


"Tapi jangan berharap lebih Dengan perasaan mu itu. Jennie adalah wanita ku. Ibu dari anak ku, dan dia akan tetap kembali pada ku. Camkan itu baik-baik."


Excel menatap lurus ke depan tangannya pun sudah terkepal.


Andi tersenyum sinis. Ia lantas memutar haluan. Dan kembali mendekati Jennie.


"Ikut lah dengan ku." Meraih tangan Jennie sembari membuka pintu mobilnya.


Sedangkan Excel masih mematung di sana melihat Jennie sudah masuk ke dalam mobil Andi yang sudah di tutup pintunya oleh pria itu.


Tersenyum tipis bibir Andi terarah pada Excel, sembari berjalan menuju pintu kemudinya.


Mobil pun melaju, sesaat setelah Andi masuk dan menyalakan mesin mobilnya. Melewati Excel yang kini menoleh kebelakang.


"Brengsek!!!" Excel meninju kap mobilnya sendiri. Kedua tangannya bertopang pada kap mobilnya. Dengan nafas yang memburu.


"Aku tidak akan membiarkannya mendapatkan Jennie kembali. Tidak akan!!!" Mengerang sembari meremas kepalanya.


***


Di dalam mobil Andi, Jennie benar-benar tegang. Pria di sampingnya hanya diam saja, sedangkan Nara masih tertidur di bangku belakang.


'dia ingin membawa ku kemana? Sepertinya ini jalan ke bukit? Apa yang akan dia katakan pada ku? Semoga dia tidak melakukan hal yang akan merugikan ku lagi.' Kedua tangannya saling meremas. pikiran Jennie masih penuh dengan hal-hal buruk. Karena bagaimanapun juga ia masih belum mempercayai pria itu yang sudah berubah menjadi baik.


Mobil pun terus saja melaju dan berhenti di sebuah kebun ilalang di tepi bukit. Andi menoleh melepaskan sabuk pengamannya. Namun pria itu hanya diam saja kedua tangannya ia letakkan di atas setirnya.


"Kau masih ingat ayah ku kan?" Tanya Andi memecah keheningan. Pandangannya menatap lurus ke depan.


Sedangkan Jennie hanya diam saja.


"Dia bukan tipe pria yang menginginkan sedikit pun cacat ada di namanya," diam sesaat.


"kau tahu apa yang dia lakukan pada ku setelah kau dan keluarga mu pulang, malam itu?" Menoleh ke arah Jennie yang masih membisu.


"Dia menghajar ku habis-habisan. Dan bahkan ia hampir membunuh ku malam itu juga."


Jennie masih menatap Andi, mendengar kan setiap ucapannya.


"Kau penasaran tidak? dengan apa yang dia katakannya pada ku, saat itu?" Andi membelai poni Jennie dengan jari telunjuknya lalu menyematkannya di telinga Jennie.

__ADS_1


"A...apa?" Memberanikan diri untuk bertanya.


Andi tersenyum. "Dia bilang. Hidup ku dan hidup mu tidak akan selamat, jika orang sampai tahu, ada aib di keluarga Iskandar." Mengusap-usap pipi Jennie dengan jari telunjuknya lalu meraih dagu Jennie.


Jennie masih menatap takut pada pria itu.


"Aku tahu aku pengecut Jennie. Aku takut padanya kala itu, dan lagi? Aku juga belum ingin terbebani atas adanya seorang anak dan istri." Mengusap bibir Jennie dengan ibu jarinya.


"Namun, saat ini. Aku sudah tidak akan takut lagi dengan itu. Aku bisa menikahi mu, dan mempertanggungjawabkan apa yang ku perbuat dulu. Menjadi suami mu, dan ayah terbaik untuknya."


Andi meraih tangan kanan Jennie lalu mengecupnya.


"Aku tidak sedang bergurau saat ini. Atau sekedar merayu mu seperti dulu. Kau mau merasakannya?" Andi mendekatkan tangannya dan menempelkannya di dada Andi.


"Kau merasakannya kan?" Tanya Andi.


Benar,Jennie merasakan debaran jantung Andi yang begitu kuat.


"Aku masih mencintaimu sayang. Sangat." Andi menitikkan air mata.


Perlahan Jennie menarik tangannya.


"Sudah?" Tanya Jennie. Tatapannya dingin tanpa ekspresi.


"Apa?" Tanya Andi.


"Jennie?" Suara Andi sedikit serak. Sedangkan Jennie hanya menatap lurus ke depan.


"Kau bilang hanya ingin menjelaskannya saja. Aku mengikuti kemauan mu bukan untuk hal ini."


"Tidak adakah maaf untuk ku?" tanya Andi.


"Aku sudah bilang, aku sudah memaafkan mu kak. Tapi aku tidak bisa untuk kembali."


"Jen?"


"Ayah—" panggil Nara, gadis kecil itu terbangun. Jennie menyentuh dadanya saat Nara menyebut Andi dengan sebutan Ayah.


"Kau sudah bangun nak?'' tanya Andi sembari tersenyum.


"Bunda?" Panggil Nara senang, merasa tidak percaya ada bundanya di sini.


"Nara?" Jennie mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes di pipinya lalu, menghadap ke belakang. Tepat setelah Andi kembali duduk pada posisi normal.


"Nara senang ada bunda. Bunda sudah kenalan sama ayah bohongan nya Nara?" Tanya gadis itu polos.

__ADS_1


Andi dan Jennie saling tatap sesaat pria itu pun tersenyum sembari menunduk dan mengusap matanya yang basah.


"Kita jalan-jalan lagi yuk ayah... Mumpung ada bunda."


"Nara, bunda itu harus?"


"Siap tuan putri, ayah akan mengajak kalian jalan-jalan." Potong Andi semangat. Nara pun bersorak kegirangan.


"Kak Andi." Panggil Jennie tidak suka.


Sedangkan Andi hanya meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri yang tengah tersungging tipis itu. Meminta Jennie untuk mengiyakan saja.


Andi lantas menyalakan mesin mobilnya, dan mobil pun mulai kembali melaju.


Siang itu mereka kembali memasuki sebuah taman bunga di daerah Cibodas dimana, Nara terus berlarian ke sana kemari. Sedangkan Jennie berjalan beriringan di sebelah Andi yang tengah terkekeh senang karena melihat Nara begitu bahagia.


"Aku tidak memberikan mu toleransi apapun kak Andi." Ucap Jennie tiba-tiba.


Andi menoleh. "Aku akan menunggu."


"Tidak usah menunggu, menikah lah dengan orang lain."


"Aku tidak mau menikah selain dengan mu." Jawabnya enteng.


"Jangan memaksakan. Karena aku tidak akan pernah mau kembali pada mu."


Andi menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapannya Jennie.


"Terserah kau mau mengatakan apa. Yang pasti kau milik ku. Dan akan tetap menjadi milik ku." Ucap Andi menunjuk ke arah Jennie dengan tangan kanan nya. Sedangkan tangan kirinya ia masuk kedalam saku celananya.


"Ayah...!" Seru Nara, Andi pun menoleh kebelakang. Gadis itu melambai kearah Ayah.


"Lihat, begitu bahagianya Nara bersama ku. Pikirkan baik-baik. Demi kebahagiaannya." Ucap Andi sebelum berlari kecil menghampiri Nara dan menangkap anak itu.


Jennie melipat tangannya di depan dada.


'tidak semudah itu kau ingin kembali pada ku kak Andi. Tidak semudah itu. Kau sendiri yang membuat hati ku mati kepada mu.' batin Jennie masih terus mengamati seorang pria dewasa yang tengah tertawa riang bersama gadis kecil yang sudah berada di atas pundaknya.


Bersambung....


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


mohon maaf sekali lagi aku harus mengganti judul dan cover ya... karena satu dan lain hal. pasti kalian bakal bingung. mohon maafkan aku ya.... dan mohon di mengerti juga.


ini judul dan covernya yang sekarang.

__ADS_1


dan boleh minta saran kah? kalian suka judul baru ini atau judul awal... ku tunggu ya komentar kalian. 🤗🤗🤗



__ADS_2