
Malam ini dengan perasaan kecewa, tanpa peduli rasa sakit dan perih yang ia rasakan akibat luka sulutan besi panas dari Arya.
Seolah tak berarti apapun ketimbang luka di hatinya. Sudah jelas, Jennie dan Excel pasti ada hubungan spesial. Lalu bagaimana dengan dirinya?
Dia membawa laju mobilnya, menuju sebuah rumah sakit. Demi bisa mendapatkan penanganan dari luka bakarnya itu, seorang dokter pun memeriksanya lalu memerintahkan perawat untuk membersihkan kotoran di sekitar luka Andi. Hingga setelah luka itu di bersihkan dan di tutup perban, Andi kembali melangkah keluar.
Batuk yang Masih keluar bersamaan dengan bercak darah yang menempel di saputangannya, membuat Andi berhenti sejenak sebelum membuka pintu mobilnya, ia menyandar di sana untuk beberapa saat.
Mengingat kembali apa yang baru saja terjadi, Arya memang bukanlah orang yang bisa dia remehkan. Dia bisa melakukan apapun demi memuaskan keinginannya, sekarang fokusnya mungkin bukan kepada hubungan Excel dan Jennie. Melainkan keselamatan Nara.
Hingga sebuah pesan singkat pun masuk. Andi menghela nafas malas, lalu membukanya.
(Memang kau singa liar yang kuat ya hahaha. Andi? Kau harus ingat bahwa keselamatan anak itu sangatlah terancam, jadi kembali saja pada ku maka orang terkasih mu tak akan pernah ku sentuh.)
Andi meremas ponselnya keras, lalu memutar tubuhnya mencondongkan sedikit dengan menyandarkan kepalanya di samping atap mobilnya itu seraya membentur-benturkan pelan, dia mulai mengerang.
"Kenapa harus begini? Kenapa harus aku berurusan dengan pria iblis Seperti Arya?" Bergumam. Cukup lama ia menyandarkan kepalanya, hingga akhirnya dia kembali masuk ke dalam mobilnya, dan pergi dari tempat itu.
***
Pagi berselang...
Ayah Jenni sudah bersiap-siap untuk melakukan tugasnya, dengan seragam TNI yang gagah itu. Beliau pun kini tengah memanaskan mesin motornya di luar, hingga sebuah dering pesan chat masuk membuatnya membuka cepat.
(Maaf Pak ini aku, Andi. Ayah kandung Nara. Bisakah kita bertemu?)
Kening pak Ridwan berkerut. Beliau masih sangat membenci laki-laki keparat itu, dan saat ini seperti punya nyali sekali dia meminta untuk bertemu?
Pak Ridwan mencoba menekan tanda memanggil dan meletakkan ponsel itu di telinganya.
Di deru kedua, telfon pun di terima oleh Andi.
__ADS_1
"Hallo, pak?" Jawab Andi dari sebrang.
"Bedebah...! Punya nyali sekali kau menghubungi ku, dan mengaku sebagai ayah kandung dari cucu ku?" Hunus ayah Jenni tanpa basa-basi.
"Aku tahu, Anda pasti masih sangat membenci ku pak. Namun ini demi keselamatan Jennie dan Nara."
"Tidak usah kau sebut nama Putri dan cucuku dengan mulut menjijikkan mu itu...!" Gertak pak Ridwan yang sudah setengah mati membencinya. Sementara yang di sebrang hanya menghela nafas, menutup mulutnya karena terbatuk. "Dengarkan aku bai-baik, laki-laki Biadab! Kau yang sudah membuang putri dan cucu ku. Jadi jangan pernah bermimpi untuk bisa menemuinya lagi."
"Aku tahu itu. Tapi ku mohon pak... Ku mohon dengan sangat, beri saya kesempatan untuk berbicara. Atau lebih baik kita bertemu saja. Dan bicara secara langsung. Setelahnya akan ku tunjukkan sesuatu padamu di sekolah Nara. Tolonglah..."
'apa maksudnya? Apa aku harus percaya dengannya? Aku yakin anak ini adalah seorang penjahat, siapa yang tahu kalau dia tengah menjebak ku?' batin pak Ridwan.
"Pak Ridwan, apa bapak masih di sana?"
"Ya... Baiklah. Kapan kita akan bertemu."
"Pagi ini juga."
"Baik. Saya akan ke sekolah Nara." Ucap Pak Ridwan mengiyakan. Hingga senyum Andi mengembang dia pun menghela nafas lega di sana.
Tangan Andi mengepal di lingkaran setirnya. Dia merasa tidak ikhlas Nara di gendong oleh Excel.
Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya diam saja mengamati dua orang itu melambaikan tangan pada Nara yang sudah mulai berlari masuk. Lalu menggandeng tangan Jennie serta berjalan kembali memasuki mobil Excel.
"Benar... Jennie memiliki hubungan khusus dengan pria gondrong itu. Ck...! Harapan ku benar-benar pupus sekarang." Andi menyandarkan kepalanya di kursi kemudi, saat itu pula. Darah segar tiba-tiba mengalir dari hidungnya membuat Andi mengusap pelan.
"Aku mimisan lagi?" Gumamnya mengamati darah yang berada di tangannya, di ambilnya beberapa lembar tissue, guna membersihkan hidungnya lalu menyandar lagi. Matanya masih tertuju pada mobil Excel yang mulai menjauh. "Benar... Aku tidak bisa egois, adanya Excel, mereka berdua akan bahagia setelahnya." Menitikkan air matanya sembari terkekeh.
"Kenapa aku melow sekali sekarang sih?" Mengusap air matanya sendiri. "Haaaaahhh... Andai aku jadi manusia yang baik dulu, mungkin yang mengantar jemput anak ku adalah aku sendiri. Dan istri ku Jennie tidak akan bekerja di hotel." Andi mencondongkan tubuhnya kedepan, memeluk setirnya. penyesalan itu tidak akan mengubah keadaannya yang sekarang.
Hidupnya yang berantakan serta tubuhnya yang rusak, bersamaan dengan cintanya yang kini telah di miliki orang lain. Membuatnya semakin merasa menjadi pria paling menyesal di dunia ini.
__ADS_1
–––
Sebuah motor berhenti tak jauh dari mobil Andi, membuat kepala pria itu terangkat.
"Pak Ridwan?" Gumam Andi segera mengusap air matanya sembari menatap dirinya di depan cermin, memastikan apakah masih ada darah di hidungnya?
Dan setelah di rasa tidak ada, dia pun keluar dari dalam mobil menghampiri pak Ridwan yang sudah menatapnya tajam.
"Om?" Hendak menjabat tangan Ayahnya Jennie, namun secepat itu pula tangan ayah Jennie menjauh.
Andi tersenyum kecut, dia paham sih dan tidak akan menyalahkan pak Ridwan juga.
"Cepat katakan saja, apa yang ingin kau bicarakan. Aku tidak ada waktu."
"Ini masalah keselamatan Nara, aku harus mengecek bagian sekolah Nara pak." Ucap Andi.
"Cih...! Kau ini bicara apa sih?"
"Ikut saya, pak. Agar bapak bisa tahu." Andi melangkah lebih dulu. Sementara pak Ridwan pun mengikuti dengan malas.
Setelah meminta izin pada scurity, Andi pun mengecek sudut-sudut taman. Hingga ia pun menginjak sesuatu.
Perlahan dia mulai berjongkok mengeruk sedikit bagian tanah itu dan akhirnya ditemukan lah sebuah ranjau.
sontak saja mata pak Ridwan dan scurity tersebut melebar. Bagaimana bisa ada ranjau yang terpasang di sana namun tidak ada yang tahu?
"Ini masih ada sambungannya, pemacunya pasti ada di suatu tempat." Gumam Andi, yang mendapatkan sebuah kabel yang turut tertanam di sana.
Saat itu juga Andi mulai menarik kabel tersebut secara perlahan sembari melangkah maju, mencari pusatnya ranjau itu di tanamkan. Kabel yang amat panjang terus berusaha ia tarik. Hingga sampailah mereka di belakang ruangan perpustakaan sekolah.
Andi mengangkat kepalanya. Tepat di atasnya adalah ruangan kelas, membuat tangannya langsung saja terkepal saat tahu itu adalah ruangan kelas Nara.
__ADS_1
Dia pun berjongkok. Mencoba menggali lebih dalam dan benar saja sebuah bahan peledak aktif jenis directional tertanam di sana. Andi pun segera mengeluarkan ponselnya, mengotak-atik kode-kode yang hanya dia saja yang tahu.
Sampai layar itu berubah menjadi sebuah titik-titik koordinat yang menunjukkan di mana saja bom ini terpasang.