Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
jurang penyesalan.


__ADS_3

Aku bersalah, aku pria keji, aku pria tak memiliki hati. Pembunuh masa depan wanita.


Benar semua memang benar! Jennie pantas marah pada ku! Bahkan tidak hanya Jennie mungkin semua orang. Semua wanita yang sering ku lukai hatinya.


Itu lah yang terus terngiang-ngiang di benak Andi sembari membawa laju mobilnya pergi.


Sudah lebih dari dua jam dirinya bersimpuh tadi. Namun Jennie sama sekali tidak mau keluar lagi.


Dia memilih untuk membiarkan Andi di luar. Walau hujan deras sudah mulai turun sekalipun.


'Tidak ada ampun kah untuk ku Jennie? Tidak adakah walau hanya sedikit saja?' Terus saja dirinya bergumam seperti itu dihatinya.


Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi. Meliuk-liuk menyalip satu persatu kendaraan di hadapannya.


Tatapan Andi benar-benar tajam menghunus ke depan.


Sembari terus menekan klaksonnya meminta yang ada di depan untuk minggir.


Mobil-mobil di depannya pun minggir dengan cepat. Merasa takut dengan mobil gila yang tengah berjalan dengan kecepatan tinggi tersebut.


Hingga sampai dirinya di sebuah jalan layang. Ia menghentikan cepat laju mobilnya menepi di bahu jalan.


Nafasnya tersengal-sengal, menatap lurus ke depan, menatap hujan yang turun dengan derasnya.


'Cewek sial! Kau mau apa?' tanya Andi. Kala itu. Yang kembali terngiang dalam benaknya.


'Aku hanya ingin kejelasan hubungan kita kak Andi.'


'Sudah jelas kan? Kita ini sudah putus.'


'Kapan kita putus kak? Selama ini kak Andi hanya menghindari ku, setelah sebulan yang lalu, kau merenggut mahkota ku. Kau langsung menghindari ku kak? Kau tahu akibat perbuatan mu itu, aku hamil kak Andi.' Jennie terisak.

__ADS_1


Andi meremas kepalanya, sangat kesal.


"Yaaaaaiiiiiiiiisssshhhhh... Brengsek! Bejat!!! Pengecut!!!! Aaaaaaaarrrrrggghhhh!!!!" Andi mengerang, memukul-mukul setirnya.


Ia mengingat jelas wajah Jennie dulu. Sangat ketakutan, bercampur kesedihan.


Bahkan dia sampai putus sekolah karena kesalahan Andi itu sendiri.


Gadis yang ia kenal sangat ceria, bahkan menjadi salah satu anak paling berprestasi di sekolahnya. Dia harus hancur karena keegoisannya.


Fikiran Andi pun melayang ke masa lalu, dimana dirinya tengah mengajak jalan-jalan Jennie sepulang sekolah. Satu Minggu setelah jadian.


(Flashback is on)


"kak Andi cita-cita mu nanti jadi apa?" bertanya di sebuah warung yang tengah tutup karena hujan yang deras kala itu membuat mereka berteduh.


"emmmm apa ya? Menikahi mu mungkin." Andi terkekeh, saat Jennie memukul bahunya.


"aku mana ada cita-cita sih?"


"ya apa gitu?"


"apa ya? Orang hebat pokoknya lah." Jennie tersenyum tipis, "Kalau Jennie sendiri?"


"aku mau jadi seorang dokter yang hebat, tapi aku mau ambil studi di Paris." penuh keyakinan Jennie mengatakan itu. Sembari menengadah tangannya menampung air yang jatuh dari atas genting.


Andi tersenyum, mengusap kepalanya. "jangan ke Paris dong, nanti kau melupakan aku lagi, dan menikah dengan bule."


Jennie terkekeh. "yang ada-ada saja, memang kak Andi yakin, kita akan berjodoh?"


"Yakin lah. Akan ku pastikan." Andi menunjuk ke arah Jennie. "Kau akan menjadi ibu dari anak ku." Jennie terpaku mendengar itu dari Andi, dan hanya menyunggingkan senyum tipisnya.

__ADS_1


Itu adalah omong kosongnya dulu, selayaknya pria yang pandai merayu. Kata-kata itu sangatlah manis terdengar di telinga Jennie. Hingga membuat Jennie tersenyum lalu menyentuh wajah Andi yang basah dan mengusapnya lembut. Andi meraih tangan itu dan mengecupnya.


"Aku mencintaimu." Ucapnya. Jennie merona. Ia melepaskan tangannya. Namun tetap di pegang erat oleh Andi.


"Balas dong kata-kata ku."


"Ihhh apa sih kak, tidak ahhh aku malu." Jennie memalingkan wajahnya.


"Cepat balas dong sayang."


"Aku juga." Jawabnya lirih.


"Aku juga apa? Jangan setengah-setengah dong."


"Aku juga mencintaimu kak Andi. Puas kan?" Seru Jennie. Wajahnya sudah merah padam.


"Hahahaha." Andi tergelak melihat ekspresinya yang menggemaskan itu.


(Flashback is off)


Andi menyentuh dada sebelah kirinya. "Kau tahu? Hari itu dada ku berdebar sangat kencang Jennie. Dan itu ku rasakan hanya pada mu." Andi masih menangis.


"Bahkan saat memeluk mu tadi, aku masih merasakan itu. Aku merindukan mu sayang. Aku merindukan." Andi memeluk setirnya, bahunya berguncang.


"Kenapa aku bisa seterluka ini. Kenapa aku harus merasakan jatuh cinta pada wanita yang sudah ku depak dari hidup ku. Kembali lah Jennie, ku mohon kembali lah pada ku. Yaaaaiiiiiissshhhh!" Pria itu menangis tak terkontrol di dalam mobilnya di tengah hujan lebat. menyesali semua yang sudah terjadi, yang mungkin akan sangat sulit untuknya kembali.


Malam itu. Di langit yang sama, ada tiga orang yang tengah memiliki perasaan yang berbeda, sama-sama tengah menatap hujan di tempatnya masing-masing.


Excel yang dengan rasa bahagianya, meresapi debaran jantung yang tak terkendali itu, akibat cinta yang sudah semakin masuk ke hatinya.


Jennie yang merasa sesak akibat luka yang kembali terbuka karena hadirnya Andi, dan permintaan maaf pria itu sampai-sampai ia Sudi untuk bersimpuh di kakinya.

__ADS_1


Lalu Andi yang larut dalam jurang penyesalannya.


__ADS_2