Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
kau pilihan ku


__ADS_3

Beberapa saat Setelahnya...


Dengan kedua mata yang saling bertemu. Andi menatap dengan sayu, bulir bening yang masih membasahi sudut mata Keduanya. Menyiratkan sebuah rasa yang berbeda antar satu sama lain.


"Aku ingin, memperbaiki semua kehancuran yang ku buat," bergumam dalam keheningan di ruangan itu, membuat kening wanita muda di atasnya berkerut. "Kumohon... Izinkan aku membahagiakan Nara, walaupun tidak lama."


Deg...!


'apa maksudnya?' batin Jennie, penuh tanya. Ia mengedip, senyum yang sangat manis di berikan Andi kepadanya.


"Menikahlah denganku. Izinkan aku menciptakan kesan baik untuknya, serta menebus kesalahanku kepada mu."


Jennie mendorong paksa, melepaskan diri dari pelukan sang mantan kekasih. Yang ia anggap sebagai seorang penjahat, pembunuh masa depannya. Si pria brengsek yang membuatnya membesarkan anak tanpa suami. Bibir Jennie terkatup rapat, mengguratkan tanda tanya besar tentang apa yang ada di pikirannya. Perlahan Andi menggenggam tangan Jennie.


"Jen... Kamu setuju kan?"


Jennie hendak menjawab, namun keduanya langsung menoleh ke arah pintu, saat mendengar seperti suara benda yang terjatuh. Juga suara permintaan maaf dari seorang pria.


Mata Jennie melebar saat tahu siapa pria itu. Ia melepaskan genggaman tangan Andi lalu berjalan cepat keluar.


Pria itu sudah berjalan beberapa langkah, menjauh dari tempat itu sementara seorang perawat masuk setelah mengangguk sekali pada Jennie.


"Mas Excelโ€“" panggilnya. Pria itu pun langsung menghentikan langkahnya, membelakangi Jennie, ia menyentuh dadanya yang masih teramat sakit.


"Mas..." Panggilnya lagi, lalu berlari kecil mendekati pria yang masih membelakanginya. Ia meraih tangan Excel, Membuat pria itu menoleh. "Kenapa pergi?"


Excel berusaha mengembangkan senyumnya. "Kau sedang berbicara dengannya? Aku tidak mau mengganggu kalian."


"Aku tetap memilih mu. Tidak akan berubah," potong Jennie, ia sudah paham situasinya.


Excel kembali menyunggingkan senyumnya, dengan tangan membalas genggaman gadis itu. Namun hanya untuk melepaskan tangan Jennie.


"Kita bicara lagi nanti. Aku harus keluar, membeli air. Aku haus."


"Aku....?" Tangan Jennie terangkat hendak meraih lengannya lagi, namun urung. Ketika Excel sudah kembali melangkahkan kakinya pergi.


'aku itu mencintaimu, Jennie. Namun aku sadar anak itu pasti memerlukan ayah kandungnya. Bukan aku.' batin Excel dengan langkah pelan menjauh dari wanita yang masih memandangnya sendu.


"Mas Excel," gumamnya lirih.


๐Ÿ‚ ๐Ÿ‚ ๐Ÿ‚ ๐Ÿ‚


Hingga lebih dari setengah jam, Excel sudah kembali. Ia berdiri di depan pintu. Ketika mendapati di ruangan itu, Nara beserta ayah dan ibu Jennie sudah datang. Bersamaan dengan satu wanita paruh baya lain.


Mereka sedang tertawa, mendengarkan celotehan gadis kecil yang tengah duduk di bibir ranjang, bersebelahan dengan Andi.


"Sepertinya mereka memang sudah bahagia. Nara pun terlihat lebih ceria." Menunduk.


"Mas, kenapa tidak masuk?" tanya Jennie yang sudah berdiri di belakangnya, sepertinya dia dari suatu tempat. Excel menoleh, ia mendapati kantong keresek di tangan gadisnya itu


"Kau dari mana?" Tanya Excel.


"Membeli buah," jawabnya.


"Oh..."


"Ayo masuk."

__ADS_1


"Terimakasih. Tapi aku harus pulang."


"Kenapa?"


"Tidak apa, aku hanya lelah karena meeting tadi."


Jennie menangkap raut wajah yang berbeda dari Excel. Iya, pria itu pasti marah padanya.


"Masuklah sebentar. Aku sudah meminta izin pada ayah untuk keluar dengan mu."


Excel hanya diam saja, tidak ada niatan untuk menjawab. Hingga tangan Jennie meraihnya, menautkan.


"Ayolah... Hanya mengantar buah ini saja." Menggandeng tangan Excel masuk, dan pria gondrong itu hanya menuruti.


Di dalam...


Andi menatap tangan yang saling bertaut itu, membuat hatinya sedikit tercubit. Lalu meresponnya dengan senyum tipis. Sementara Jennie melepaskan sejenak. Mendekati Nara, dan meletakkan buah itu di atas meja.


"Nara, bunda pergi dulu ya. Nanti Nara pulang sama kakek dan nenek, tidak apa-apa kan?"


Gadis itu melebarkan senyumnya, mengangguk. Setelahnya memeluk tubuh Andi, membuat Andi tersenyum.


"Nara sama ayah... Nara mau temani ayah dulu."


Jennie tersenyum. "Baiklah..."


Setelahnya Jennie berpamitan dengan mereka yang ada di sana. Terakhir pada Andi, pria itu hanya menjawab dengan anggukan sekali dengan tatapan tertuju pada Excel.


Dan ketika keduanya hendak keluar Andi memanggil nama Excel, membuat mereka menoleh.


"Bisakah kau datang besok?"


"Sebisa mu."


"Baiklah, pukul satu siang aku akan datang."


Andi mengiyakan, tanda sepakat. Mereka berdua pun melanjutkan niatan mereka, keluar dari ruangan itu.


Andi menghela nafas, hingga sebuah kecupan mendarat di pipinya. Andi menoleh pelan dan mendapati sang anak tersenyum lebar.


"Lagi dong." Pintanya, mengetuk-ketuk pipinya sendiri dengan jari telunjuk.


"Boleh... Tapi ayah harus sembuh ya. Habis ini kita jalan-jalan."


"Siap...!" Andi memberikan gerakan hormat pada sang anak, sehingga membuat mereka terkekeh.


๐Ÿƒ


๐Ÿƒ


๐Ÿƒ


Di tempat lain...


Keduanya hening, dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Jennie sudah memahami sesuatu, Excel biasanya tidak pernah sependiam ini jika sedang bersamanya.


Hingga ia mulai berdeham sejenak.

__ADS_1


"Kita mau kemana ya?" Ngelirik. "Mas?"


Excel menepikan mobilnya lalu berhenti. Jalan itu sedikit sepi. Dengan beberapa pohon di sisi kanan dan kirinya.


Jennie nampak bingung, pria itu hanya melepaskan seat beltnya lalu memutar sedikit tubuhnya menatap kearah Jennie.


"A...apa aku buat salah?"


"Siapa...?" Tanya Excel.


"Apanya?"


"Yang lebih berarti untuk mu, aku? Atau pria itu?"


Deg...!


"Tentu saja?"


"Jangan pernah mengatakan jika kau terpaksa," Excel menatap dengan serius.


"Tunggu... Tunggu dulu, apa kau saat ini benar-benar marah pada ku?"


"Iya. Aku tidak suka dia memeluk mu seperti tadi."


"Mas..."


Excel mendesah, ia kembali duduk pada posisi normal.


"Lupakan saja. Aku tahu... Aku bukanlah pria yang pantas untuk menjadi ayahnya." Memalingkan wajah, menatap ke kaca samping.


"Apakah kau sedang memberi isyarat, jika diri mu menyerah?" Hunus Jennie, sementara Excel kembali menoleh. "Jadi hanya segitu, perjuangan mu? Melihat dia memeluk ku, kau langsung pundung?"


"Bukan seperti itu."


"Ku pikir kau pria yang gigih, namun ternyata tidak." Jennie menunduk. "Salahkah aku memelihmu?"


Excel terdiam, ia merasa tertohok.


"Maafkan aku. Bukan begitu maksud ku."


"Kau menyerah hanya karena itu? Bagaimana kau bisa mengambil hati anakku? Sementara hati mu saja mudah pundung."


"Jen... Aku tidak seperti itu, aku mencintaimu dan Nara. Aku mau kalian hidup bersama ku."


Jennie menggeleng, ia menitikkan air mata. Membuat Excel langsung menyentuh kedua pundak Jennie.


"Hei... Aku itu marah, aku cemburu...! Aku pun tidak ikhlas kau kembali padanya."


"Jika kau tidak ikhlas aku kembali dengannya, kenapa kau bicara tidak pantas untuk Nara? Sedangkan aku sudah menjatuhkan pilihan ku pada mu!!"


Excel menatap gadisnya dengan senyum tersungging tipis.


"Aku sudah bilang, aku itu memilih mu. Berapa kali aku harus menyatakan itu."


'katakan... Coba katakan kau mencintaiku Jen.' batin Excel menanti.


"Masa iya aku harus bilang, kalau aku mencintaimu. Dimana harga diri ku." Cerocosnya tanpa sadar.

__ADS_1


Excel semakin melebarkan senyumnya. Ia lantas mendekati bibir yang masih berbicara tanpa henti dengan nada kesal. Lalu mendaratkan kecupan lembut. Gadis itu sempat terkejut, namun perlahan matanya terpejam, menerima saja bibir keduanya menyatu dengan lembut.


__ADS_2