Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
hal buruk


__ADS_3

Jennie masih terus mendorong pelan kursi roda itu, mengantarkan Andi yang meminta berhenti di dekat sebuah bangku taman yang terdapat kolam ikan mini.


"Jennie?" Panggil Andi.


"Ya?"


"Terimakasih ya... Dan maaf, aku sudah merepotkan mu," ucap Andi dengan suaranya yang semakin lemah, bahkan nyaris tidak terdengar.


"Tidak masalah, jangan pernah berfikir tidak enak hati. Aku hanya ingin berusaha melakukan yang terbaik untuk mu," tutur Jennie, Andi pun tersenyum.


Angin malam berhembus, membuat Andi kembali terbatuk-batuk. Sementara Jennie langsung bergegas membenahi selimut yang berada pangkuan Andi, menggelar lebih lebar, hingga menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya, sebatas leher.


"Kau masih sama, memperhatikan aku seperti ini. Itu adalah bukti jika kau benar-benar berhati malaikat," puji Andi, sembari memandangi wanita yang masih sibuk dengan selimut di tangannya.


"Tidak juga... Aku melakukan ini karena kau ayah dari Nara. Anak itu sangat menyayangi mu."


"Oh ya?"


"Iya... Aku seharusnya kesal, karena aku yang merawatnya. Tapi dia sepertinya lebih sayang pada mu."


"Haha...." Tertawa lirih.


"Makannya cepatlah sembuh, jangan merengek seperti bayi. Kau itu sudah dewasa, kak!"


"Aku memang lemah. Kau baru tahu ya?"


"Tidak sih, kau itu memang lemah dari dulu. Dan pengecut." Hunus Jennie. Sementara Andi hanya tersenyum kecut.


"Jen...?"


"Hemm?"


"Dulu aku pernah bilang begini, 'kan? hanya kau wanita yang ada di hati ku. Wanita paling baik, dan paling cantik bagi ku. Sekarang bisa ku katakan kalau itu adalah sungguhan."


Jennie hanya diam saja, mendengarkan setiap ucapannya.


"Bolehkah aku berandai-andai?"


"Iya, silahkan," jawab Jennie.


"Baiklah, andaikan aku tidak sakit, Maukah kau kembali pada ku?"


"Sepertinya tidak," jawab Jennie langsung.


Andi terkekeh pelan. "Kau jujur sekali sih."


"Karena kau kan jahat. Aku masih belum percaya diri mu seratus persen. Terlebih luka di? Ah sudah lupakan..."

__ADS_1


Andi masih melebarkan senyum di bibirnya yang pucat itu. Matanya sudah sangat sayu menatap kearah Jennie.


"Tapi? Jauh sebelum aku tahu penyakit ku. Aku sudah mulai merubah hidup ku," mengusap pipi Jennie dengan sangat pelan.


Membuat gadis itu tercenung. Pria yang ia lihat saat ini, seolah bukanlah Andi yang ia kenal dulu. Wajahnya banyak berubah, ia terlihat amat lemah dan kurus. Jennie menitikkan air matanya.


"Jangan menangis karena kasian pada ku."


"Tidak... Kau ini ya?" Jennie menghapus cepat air matanya.


"Hmmmm... Kenapa bisa ya, aku dulu menyia-nyiakan gadis cantik seperti ini."


"Berhenti menggoda istri orang."


Andi terkekeh lalu menghela nafas panjang, menepuk-nepuk dadanya, pelan. Mendadak sesak nafas.


"Kak?" Mulai khawatir.


"uhukk... Uhukk..." Andi terbatuk-batuk lagi. Sementara Jennie segera beranjak. Niat hati ia ingin memanggil dokter namun urung, dan seketika matanya sedikit melebar, saat pria di hadapannya memuntahkan banyak darah.


"Astaga!! Kak?"


Tangan Andi terangkat satu, menahan Jennie.


"Aku tidak apa-apa. Ini biasa."


Air mata Jennie mulai kembali menetes. "Ayo kita masuk saja."


"Hiks... Tidak apa-apa bagaimana sih?" Jennie mengeluarkan tissue dari dalam tasnya, lalu mengusap bagian bibir Andi, meraih beberapa lembar lagi dengan cepat, untuk membersihkan darah yang menempel di bagian dadanya, lalu tangan.


"Ayo lanjutkan pembicaraan kita." tangannya yang lemah terangkat, berusaha menyentuh wajah Jennie, yang tengah menahan tangisnya.


"Apa yang ingin kau katakan lagi? Seharusnya kita itu bergegas kembali ke kamar mu. Aku takut, aku khawatir," cerocos Jennie.


Andi tersenyum. "Aku masih ingin melihat wajah ini lebih lama," ucap Andi, suaranya terdengar semakin lemah.


"Kau masih bisa menatap ku lebih lama, sekarang lepaskan tangan ku. Kita ke kamar mu."


"Tidak perlu." Andi beranjak dari kursi rodanya. Dengan tubuh yang sedikit oleng membuat Jennie memegangi lengannya, cepat.


"Kau mau apa? Ayo kita kembali ke bangsal."


"Duduklah." Titah Andi yang sudah duduk di bangku taman.


"Apa?"


"Ayo duduk... Cepat." Kembali terbatuk-batuk, sembari meremas bagian dadanya sendiri.

__ADS_1


tidak ada pilihan lain, Jennie menuruti. Ia duduk di sebelah Andi. dan pria itu langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Jennie.


"Kak, bangku ini dingin. Karena ini terbuat dari besi."


"Tidak apa... aku masih bisa tahan."


dengan ragu. Jennie mengusap kepala pria itu yang tertutup kain kupluknya.


Andi menghela nafas, menatap ke arah langit.


"Adakah keajaiban itu?"


"Pasti ada. Aku percaya itu. Jadi semangat lah kak." Jennie memberi semangat membuat Andi kembali tersenyum.


"Aku berharap seperti itu, kalo aku sembuh? Kalau aku sembuh, hadiah apa yang akan ku terima dari mu?" tanya Andi sembari meraih tangan Jennie dan meletakannya ke dadanya.


Jennie hanya diam saja. Membuat Andi, terkekeh, ia kembali terbatuk dan kembali mengeluarkan banyak darah, bahkan sekarang keluar dari hidungnya juga.


"Aaa... Ya Tuhan. Ayolah kita masuk saja." Jennie semakin terisak, karena Andi masih tidak ingin beranjak posisinya selain memiringkan tubuhnya saja.


"Jawablah... Kalau aku sembuh, hadiah apa yang akan ku terima?" tanyanya, terdengar suara itu semakin lemah saja.


"Sudah hentikan, tidak usah bicara lagi."


"Aku ingin mengetahui isi hati mu, Jennie. Katakanlah dengan jujur, masih adakah aku di hatimu?"


"Hiks. Kak Andi?"


"Tolong jawablah agar aku bisa tenang."


Perlahan Jennie sedikit menurunkan tubuhnya, mendekati Andi dan memberikan kecupan di kening. Mata Andi terpejam sejenak dengan bibir tersenyum tipis. Setelahnya kembali pada posisi awal ia membalas genggaman tangan Andi, sembari mengangguk.


"Bohong jika aku sudah tidak memiliki rasa sama sekali terhadap mu. Bohong jika aku sepenuhnya membenci mu. Semua masih sama, rasa cinta di lubuk hati ku. Dan Ketika aku mengatakan ini? Semua tulus dari hati ku. Bukan hanya untuk membuat mu senang, maka dari itu berjuang lah untuk sembuh, walaupun aku sudah tidak bisa kembali kepada mu. Ku harap kau tidak sedih karena ini, karena aku tidak akan mungkin meninggalkan suami ku. Jadi tetaplah hidup, dan cari lah pendamping hidup yang lebih dari pada aku." Isaknya.


Pengakuan Jennie yang tengah terisak-isak itu membuat Andi tersenyum senang. Ia lantas menatap langit gelap yang penuh dengan bintang bertaburan. Menghela nafas panjang dan menghembuskannya, lalu perlahan ia mulai menutup mata. Yang seketika itu pegangan tangan Andi melonggar. Membuat Jennie merasakan hal aneh ia lantas menoleh ke wajah Andi yang sudah memejamkan matanya itu.


"Kak... Kak Andi?" Panggil Jennie memastikan.


"Kak, kak Andi tidur kah?" Panggil Jennie lagi yang mulai merasa takut saat Andi tak menjawab panggilannya.


"Kak Andi? Bangun ayo bangun... jangan bercanda kak!!!" Jennie mulai menggoyangkan tubuh Andi yang sudah tidak merespon itu.


Jennie menempelkan punggung jari telunjuknya ke bagian hidung. Menggeleng pelan, dengan air mata yang sudah bercucuran. Lalu meraih pergelangan tangan Andi, mencari denyut nadinya.


"Tidak mungkin... Ini tidak mungkin. Kak? Hiks... Kak Andi," ia meraih bahu Andi memeluk tubuhnya, menangis sesenggukan saat menyadari sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan pada tubuh Andi itu.


"Hiks... bangun lah, ku mohon bangunlah. Nara butuh kau, kak Andi. Nara ingin ayahnya sembuh, ayo bangun lah." Jennie kembali mengguncangkan tubuh itu.

__ADS_1


"Ayo merespon, BANGUN...! KU BILANG BANGUN...!!!" Jennie semakin sesenggukan, hingga memancing perhatian banyak orang yang melintas. Tak lama beberapa perawat menghampiri, salah satu dari mereka mencoba mengeceknya.


"Pasien sudah tidak bernyawa," tuturnya. Tubuh Jennie lemas, ia hanya bisa meremas baju di bagian dadanya, menangis sesenggukan.


__ADS_2