Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
cucu kandung ibu


__ADS_3

Di hari yang sudah berganti, dimana sang mentari sudah mulai meninggi menyelimuti bumi dengan sinar yang menghangatkannya. Ibu Mona sudah berjalan menjauh dari pintu rumah mereka.


Dimana ia sempatkan menoleh ke belakang sesaat, mengingat jika rumah ini adalah rumah masa lalunya.


Dimana banyak hal yang ia lalui bersama sang suami. Walaupun pak Iskandar tipe pria yang sangat keras, namun tidak bisa di pungkiri cintanya kepada pak Iskandar memanglah sangat dalam.


Karena dari dia lah, Ia memiliki seorang anak seperti Andi Prayoga ini.


Andi mempererat pegangan tangannya di bahu sang ibu, mendorongnya Pelan untuk kembali melangkah, meninggalkan rumah besar yang sudah terdapat tulisan di sita.


Dalam perjalanan ibu Mona masih menatap kosong ke depan, duka di hati masih menyelimuti seperti secarik kain hitam yang menutupi tubuhnya.


Mata yang bengkak itu masih terlihat, pertanda beliau menangis semalaman karena masih meratapi kepergian suaminya.


Di sisi lain mobil Andi berhenti di depan sekolah Nara, Diman dia melihat Jennie tengah mengantarkan putrinya.


"Sangat pas sekali." Tuturnya sembari tersenyum.


Ibu Mona menoleh. "Kenapa kita berhenti?" Tanya Beliau, dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ibu lihat wanita yang baru saja turun dari motor itu kan? Dan gadis kecil yang membonceng di belakangnya?" Tanya Andi menunjuk ke arah dua orang yang ia kenal. Ibu Mona mengangguk.


"Dialah gadis yang dulu datang ke rumah kita bersama orang tuanya, wanita yang ku hamili dulu." Ucapnya lirih. Ibu Mona memicingkan matanya, menatap dengan seksama wanita itu.


Samar-samar ia mengingatnya, gadis yang ia tolak kedatangannya beserta keluarga.


"Ibu ingat kan?" Tanya Andi.


"I...ingat." jawabnya, "lalu anak itu?"


"Dia putri ku Bu, namanya Nara."


Ibu Mona menoleh ke arah Andi. "Putri mu? Jadi, gadis itu dulu benar-benar hamil anak mu?" Tanya ibu Mona. Andi pun mengangguk.


"Bukannya kau sempat mengira jika gadis itu melakukannya juga dengan orang lain?" Tanya ibu Mona.


"Tidak Bu, Jennie? Hanya aku yang menggagahinya dulu. Aku merasakan itu. Dia? Gadis yang sangat polos." Tuturnya memandang wanita yang tengah melambaikan tangan pada putri kecilnya lalu pergi seiring dengan sepeda motor yang ia bawa.


"Jadi? Dia cucu perempuan ku?" Tanya ibu Mona.


"Iya, dia cucuk ibu, darah daging ku." Jawab Andi.


"Apa dia sudah menikah?" Tanya Bu Mona. Andi menggeleng pelan.


"Dia belum menikah Bu."


"Kalau begitu kenapa tidak kau nikahkan saja?" Ucap ibu Mona yang masih fokus pada gadis kecil yang mulai masuk ke dalam gerbang sekolahnya itu, dan menghilang dari pandangannya. "Gadis kecil yang sangat manis." Gumam Ibu Mona seraya tersenyum.

__ADS_1


"Apa ibu setuju?" Tanya Andi.


"Tentu saja, ibu sangat setuju. Yaaa walaupun dulu ibu sempat menolaknya, tapi melihat gadis kecil itu. Ibu jadi ingin menggendongnya, dan mengajaknya bermain bersama." Ucap ibu Mona. Andi pun tersenyum.


"Tapi sepertinya agak sulit." Ucap Andi.


"Kenapa?"


"Ibu ingat kedua orang tuan Jennie sampai bersimpuh di hadapan ayah dulu?" Tanya Andi, ibu Mona pun mengingat hal itu. "Jennie masih sangat membenci ku Bu. Dia bahkan menolak ku saat ini, dan tidak hanya itu. Orang tuanya pasti masih sangat marah karena kita." Ucap Andi.


"Kau benar, mereka pasti akan sangat sulit menerima mu lagi. Ibu jadi menyesal dulu pernah berbuat seperti itu." Tuturnya dengan wajah sendu.


"Tapi Andi akan berusaha mengambil hati Jennie Bu." Ucap Andi penuh keyakinan. Sang ibu pun tersenyum, ia menyentuh wajah sang putra.


"Kejarlah cinta mu sayang, tunjukkan jika diri mu benar-benar mencintainya."


Andi tersenyum senang lalu mengangguk, tak lama ia kembali terbatuk-batuk. Bahkan cukup lama, hingga sebuah darah keluar dari bibirnya.


Mata ibu Mona membulat. "Andi... Kau batuk darah? Kau sakit? Kau pasti sakit kan?" Tanya ibu Mona. Andi pun menggeleng, ia masih saja terbatuk bahkan sampai ia tidak bisa menjawabnya.


Ibu Mona mengeluarkan saputangannya seraya menyerahkan saputangan itu pada Andi yang langsung di terima oleh Andi itu sendiri.


"Ibu akan beli air ya." Ucap ibu Mona khawatir, Andi pun mengangguk.


Sang ibu sudah setengah berlari mencari kedai kelontong, guna membeli sebotol air minum kemasan.


"Minum nak, minum dulu." Ucap Bu Mona, sudah membuka penutup botol tersebut.


Andi meraihnya lalu meminum air tersebut, terlihat saputangannya penuh dengan bercak darah dari mulut Andi.


Pria itu menyandar, bahkan wajahnya kini sedikit pucat, dan batuk-batuk kecil masih terdengar di sana.


"Nak, kau sakit kan? Katakan dengan jujur." Ibu Mona mengusap dada bidang Andi.


"Tidak... Tidak Bu, aku hanya batuk biasa."


"Jangan bohongi ibu nak. Batuk mu ini tidak biasa. Sudah berapa lama?"


"Sudah ada sebulan lebih, tapi tidak apa-apa Bu."


"Apa kau sudah memeriksanya ke dokter?"


Andi menggeleng. "Tidak perlu Bu, aku tidak apa-apa, nanti juga sembuh sendiri." Kembali Andi menutup mulutnya terbatuk-batuk.


"Apanya yang tidak apa-apa. Sekarang kita ke rumah sakit, periksakan penyakit mu itu." Semakin panik pula sang ibu melihat kondisi Andi. Pria itu hanya terkekeh.


"Ibu berlebihan. Sudah ayo pulang ke rumah ku saja." Ajak Andi yang mulai membenarkan posisi duduknya lalu kembali menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


Sementara Bu Mona hanya menatapnya penuh kekhawatiran, saat mobil itu mulai melaju meninggalkan area sekolah dasar tersebut.


***


Di depan rumah yang lumayan besar, Andi membawa kan tas ibunya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya itu.


Terlihat kawasan yang lumayan sepi, bahkan seperti di pedalaman, dimana pohon-pohon tinggi nan rindang tumbuh di sekelilingnya.


Ibu Mona masih berdiri di sebuah ruang tamu, rumah yang berdinding kaca itu, sebenarnya sangat asri dan sejuk. Mungkin karena semua pohon tadi.



"Ibu mau minum kopi atau teh?" Andi menawarkan.


"Tidak usah nak, kau istirahat saja."


"Istirahat untuk apa Bu? Aku tidak lelah kok." Tutur Andi memeluk ibunya dari belakang.


"Kau tinggal di sini sudah berapa lama?" Tanya Bu Mona.


"Emmmmm? Berapa lama ya? Aku lupa Bu. Intinya tujuh tahun kemudian setelah aku keluar dari rumah ayah." Jawab Andi.


"Selama itu? Lalu sebelumnya kau tinggal di mana?"


"Berpindah-pindah Bu." Jawab Andi santai.


"Jadi kau menggelandang?" Tanya Bu Mona melepaskan tangan putranya yang masih melingkar di bahunya.


"Begitu lah."


"Astaga." Terlihat sedih ibunya itu.


"Hahaha, tidak usah mengkhawatirkan ku, karena dulu aku itu gelandang kaya Bu, aku tidur dari satu hotel berpindah ke hotel yang lain. Jadi tenang saja."


"Maksudnya? Memang apa pekerjaan mu Andi?" Tanya sang ibu, Andi pun terdiam sejenak, ia tidak mungkin memberitahukan pekerjaannya itu.


"Ayo kita istirahat saja Bu, aku sudah lelah. Yuk."


"Tapi kau belum menjelaskannya Andi."


"Sudah lah Bu, ayo kita istirahat saja. Yuk,aku sangat lelah." Ajak Andi, ia pun menunjukkan kamar untuk ibunya.


Terlihat ibu Mona menyukai kamarnya, karena beliau langsung masuk kedalam kamarnya itu. Terasa nyaman dan sejuk.


"Semoga ibu betah ya, aku keluar dulu." Ucap Andi, ibu Mona pun mengangguk dengan posisi duduk di atas ranjangnya.


Sementara Andi kembali menutup pintu kamar tersebut dan berjalan keluar. Kembali dia terbatuk-batuk, dengan darah yang kembali keluar. "Sial! Sepertinya aku memang harus ke dokter." Gumam Andi, ia pun meraih kunci mobilnya dan pergi mengunjungi rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2