
Di ruang tamu yang sangat besar kini keluarga Jennie sudah berhadapan dengan seorang pria berjas rapi, ia baru saja kembali setelah hampir dua jam keluarga Jennie menunggu kepulangannya tanpa di temani siapapun.
Terlihat dari raut wajah sang istri yang tengah menatap tidak suka pada keluarga pak Ridwan. Tak lama Andi pun datang. Ia terkejut saat mendapati Jennie dan kedua orang tuanya.
"Jen...Jennie?" Wajah Andi sangat pias kala itu.
"Kau kenal gadis itu?" tanya pak Iskandar.
Glek, Andi menelan ludah. 'Gadis jal*ng itu mau apa kemari?' batin Andi yang sedikit ketar ketir.
"Apa kau bisu? Kenapa kau tidak menjawab pertanyaan ku?" tanya Pak Iskandar sekali lagi pada Andi.
"Emmm itu..?" Andi gelagapan.
"Kau menghamili nya?" tanya pak Iskandar.
"Aku??"
Pak Iskandar mendekati Andi meraih stik golf yang ada di dekatnya lalu menghantam bagian wajah Andi hingga tersungkur dan darah segar mengalir di hidungnya. sontak saja hal itu membuat semua yang ada di sana terkejut terutama Jennie yang merasa kasihan melihat Andi di hajar sekeras itu.
"JAWAB!!" suara pak Iskandar menggelegar di ruangan itu.
"I...iya." jawabnya. Di luar dugaan Andi mengakui itu. Padahal Jennie sempat takut kalau-kalau ia tidak mengakuinya. Sedangkan ia tidak ada bukti lain selain menunggu anaknya terlahir untuk melakukan tes DNA.
Buuaaaaaak. "Aaaaaarrrrggghhhh." Andi mengerang, bahkan ia hampir saja pingsan dengan pukulan yang kedua karena lebih keras dari pada di awal. Sedangkan ibunya hanya diam saja tanpa membantunya berdiri.
"Tu...Tuan Iskandar, Sebaiknya anda tidak perlu melakukan itu padanya." ucap Pak Ridwan yang merasa kasihan pada Andi yang sudah terkulai lemas di lantai terlebih dengan darah yang mengalir dari hidung, bibir dan keningnya.
Pak Iskandar menoleh. "Apa anda sedang mengajari ku?" tanya pak Iskandar. "Aku ayahnya, jadi aku berhak melakukan apapun untuk memberinya pelajaran."
"Ma... Maafkan saya Tuan." jawab Pak Ridwan.
"Bangun kau." titah pak Iskandar pada Putranya itu.
Perlahan Andi beranjak. Dengan kepalanya yang pusing itu. kedua tangan pak Iskandar mencengkram baju Andi dengan kedua tangannya.
"Mau Sampai kapan kau menjadi anak tidak berguna seperti ini?"
"Ma... Maafkan aku, a...ayah." Andi sedikit lemas. Pak Iskandar pun memindahkan cengkraman nya di bagian belakang kerah baju Andi.
__ADS_1
Ia kembali berjalan ke arah sofa nya sembari menyeret Andi untuk duduk di sebelah Jennie.
dengan hati-hati Jennie menoleh ke arah Andi yang tengah menyandarkan kepalanya di Sandara kursi.
"Bangs*t" Andi mengumpat lirih namun masih di dengar oleh Jennie, ia pun kembali memalingkan wajahnya menunduk.
Dua orang pelayanan membawakan handuk dan bungkusan Es batu, berjalan mendekati Andi, guna membersihkan dan mengompres lukanya.
Sementara itu pak Iskandar masih menatap lurus ke arah kedua orang tua Jennie.
"Sekarang, apa yang kalian ingin kan? Karena anak saya sudah mengakuinya." tanya pak Iskandar. Air wajahnya sudah menunjukan bahwa ia pria yang tidak suka mengulur-ulur waktu. Hal itu pula yang membuat pak Ridwan berbicara pada inti pokok bahasan mereka.
"Saya tidak ingin yang lain Tuan. Hanya ingin pertanggungjawaban dari putra Tuan ini, agar mau menikahi anak saya."
Andi terbelalak. "Hei pak? Saya itu masih sekolah. Saya tidak mau menikah dengannya. Lagi pula siapa dia. Wanita rendahan sepertinya itu mudah sekali diajak melakukan itu, memuakkan!"
'A...apa? Wanita rendahan. Kau yang pria rendah ahlak kak Andi!!' batin Jennie yang sudah sangat kesal itu.
Ridwan mengepalkan tangannya, ingin sekali ia menghajar bajing*n tengik di sebelah Jennie itu.
"Tapi maaf Tuan, saya hanya menginginkan itu." Ucap Ridwan.
"Baik lah, Andi tetap akan bertanggung jawab, dan menikahi Jennie." tuturnya seperti tak di pikirkan dulu.
Ada kelegaan di hati pak Ridwan dan Istri, namun tidak untuk ibu Mona, ibunda dari Andi yang langsung menoleh cepat kearah sang suami.
"Suami ku?" Panggilnya dengan mimik wajah tidak setuju.
Tangan pak Iskandar pun terangkat. Memintanya untuk tidak bicara apapun.
"A... Ayah, aku tidak ingin menikah dengan wanita jelek ini ayah." tutur Andi.
'Jelek? Aku jelek katanya?' Jennie semakin geram namun ia tidak bisa melakukan apapun selain tertunduk.
Pak Iskandar menatap tajam ke arah Andi. "Pukulan di wajah mu kurang keras kah?" tanya pak Iskandar. Andi pun langsung bungkam.
Beliau menghela nafas lalu kembali menatap kearah kedua orang tua Jennie. "Kalian tenang saja, Andi tetap akan menikahi Jennie namun dengan satu catatan." tuturnya sembari menautkan jari-jarinya di depan dada. Dengan kedua siku menopang di pegangan kursi.
"Mereka berdua hanya menikah KUA, setelah sah maka Andi harus menalaknya langsung dan bercerai darinya."
__ADS_1
Deegg kedua bola mata pak Ridwan membulat. "Apa anda tengah bercanda Tuan Iskandar?" tanya pak Ridwan.
Pria itu tersenyum sinis. "Yang penting kan sudah mendapatkan status jandanya bukan? Itu jauh lebih baik dari pada status gadis namun sudah memiliki anak." tuturnya. Andi dan ibundanya pun tersenyum senang.
Berbeda dengan pak Ridwan yang langsung beranjak dari kursinya menuding Pak Iskandar. "ANDA JANGAN MAIN-MAIN YA TUAN, ITU SAMA SAJA MERENDAHKAN ANAK SAYA!!" Seru pak Ridwan. Yang kala itu di tahan oleh istrinya.
"Masih bisa, Anda berbicara soal harga diri? sedangkan harga diri anak bapak saja sudah benar-benar tidak ada? Seharusnya bapak sadar akan hal itu, wanita yang hamil di luar nikah memang sudah tidak ada harga dirinya kan?"
Pak Ridwan melangkahkan kakinya mendekati pak Iskandar lalu mencengkram kedua kerah jasnya. Melihat itu ibu sukma membulatkan bola matanya ia pun mendekati suaminya dan menahan beliau agar tidak melakukan hal yang akan merugikan keluarganya.
"tolong Jangan hina anak saya!" Tutur Pak Ridwan dengan tatapan tajamnya.
Pria itu menyeringai "Kenapa? Apa anda tidak Terima? Seharusnya anda mengiyakan bukan? Kalau apa yang ku katakan ini benar adanya. Dan seharusnya yang Anda lakukan adalah bersimpuh di kaki saya memohon untuk anak mu itu bisa di nikahi oleh putra saya, buka seperti ini."
Pak Ridwan tertegun sedangkan Jennie sudah mulai terisak.
'Tidak, jangan lakukan itu ayah.' Jennie menggeleng.
"Baik... Baiklah. Aku akan bersimpuh di kaki Tuan." tuturnya. Sembari melepaskan cengkeraman nya.
"Tidak ayah tolong jangan lakukan, ini kesalahan Jennie ayah. Tolong jangan lakukan itu untuk Jennie." Jennie sudah tidak bisa menahan ucapannya yang sedari tadi tertahan.
"Kau harus di nikahi oleh Andi Jennie. Kau harus menikah dengan pria yang sudah menghamili mu." Pak Ridwan menurunkan tubuhnya ia pun bersimpuh di hadapan pria angkuh yang tengah duduk di hadapannya itu.
"Tuan ku pak Iskandar Luthfi? Di sini aku bersimpuh di hadapan mu memohon dengan kesungguhan hati demi putri ku Jennie." Tuturnya dengan kedua tangan tertelungkup di depan dada ia memohon.
"Ayah, ku mohon jangan lakukan itu ayah." Jennie beranjak berniat untuk mendekati Ayahnya namun di tahan oleh Andi yang sudah memegangi lengannya.
"Kau mau apa? Itu tontonan yang sangat menarik," Andi menyeringai.
"Kak Andi sungguh kau jahat sekali." Jennie masih menangis berusaha melepaskan tangan sendiri dari cengkraman Andi.
"Ayah tolong hentikan ayah." Isak Jennie.
"Tuan ku. Mohon berilah keadilan untuk putri ku, tolong buat putra mu bersedia bertanggung jawab atas kehamilan anak ku." tuturnya.
Begitu menyesakkan. Melihat ayahnya seperti itu. Pria yang paling ia hormati harus menanggalkan harga dirinya demi kesalahan sang putri. Dan bahkan tidak hanya ayahnya. Namun sang ibu pula turut bersimpuh di hadapan kedua nyonya dan tuan yang tengah duduk dengan sangat angkuh di depannya.
Bersambung....
__ADS_1