Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
keangkuhan keluarga Andi (2)


__ADS_3

Jennie masih berusaha meloloskan diri melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Andi yang saat itu pula dilepaskan oleh Andi. Setelahnya ia berlari kecil mendekati ayah dan ibunya.


"Sudah ayah, cukup hentikan semua ini ayah?" Jennie tidak ingin melihat ini. Sudah cukup dirinya melempar kotoran ke wajah orang tuanya sebab kehamilannya itu. Tidak ingin lagi melihat ayah ibunya harus bersimpuh di bawah kaki Tuan Iskandar.


"Ayah, ibu ayo bangun. Tuan, saya tidak akan menuntut apapun lagi. Saya tidak akan meminta kak Andi untuk bertanggung jawab Tuan." tuturnya sembari terisak tangannya masih memegangi lengan ayahnya memintanya untuk bangun.


"Jennie apa yang kau lakukan?" tanya pak Ridwan. Matanya sudah merah nanar. Bahkan entah berapa tebal wajahnya itu kini setelah harga dirinya yang seorang prajurit TNI harus di lecutinya sendiri.


"Aku tidak mau ayah dan ibu seperti ini. Jennie tidak apa-apa jika tidak di nikahi kak Andi. Jennie sanggup ayah hidup seperti ini." tuturnya.


"Tidak, nak Andi harus tetap menikah dengan mu."


"Tolong mengertilah ayah. Jennie sudah sangat merasa bersalah akibat kehamilan ini. Tolong jangan membuat Jennie semakin bersalah dengan melihat ayah dan ibu bersimpuh seperti ini." Isaknya, sedangkan kedua orang tua Jennie masih keukeuh pada posisinya.


Tidak ada kata-kata lagi. Jennie sudah ingin keluar dari rumah itu. Dan tidak ingin lagi melihat Andi di hadapannya.


Pria itu masih dengan santainya terkekeh melihat pemandangan yang menyesak kan bagi Jennie namun hal yang menyenangkan bagi keluarga itu.


"Tolong ayah, ayo bangunlah."

__ADS_1


"Kau dengar sendiri kan? Anak mu yang meminta ini. Jadi bangun dan pulang saja. Karena, Jennie masih sangat jauh untuk masuk kriteria menantu saya." tutur pak Iskandar.


Sebenarnya, tangan pak Ridwan sudah terkepal sedari tadi. Ia sudah sangat ingin menghajar wajah yang tengah tersenyum angkuh itu.


"Begini saja, katakan berapa nominal yang kalian inginkan? Maka saya akan memberikannya. Setelah ini kalian harus berjanji, tidak lagi mengganggu keluarga saya dengan dalih anak yang ada di kandungan putri bapak itu adalah cucu saya,"


"Apa maksud Anda menawarkan uang pada saya?" tanya pak Ridwan tingkat emosinya sudah sampai di ubun-ubun.


"Loh, banyak di luar sana bukan? orang yang sengaja menyerahkan harga dirinya, rela hamil dengan anak orang berada demi bisa meraup keuntungan dari keluarga kaya itu kan?" tutur pak Iskandar.


"Bedebah!" Umpat pak Ridwan. Yang saat itu juga di pegangin lengannya oleh sang istri, agar lebih bisa menahan diri.


Jennie mengusap air matanya "ayah sudah ayo kita pulang saja. Lupakan semua ini. Jennie sudah tidak mau ayah di hina seperti ini karena Jennie."


Perlahan pak Ridwan beranjak ia lantas membantu istrinya untuk berdiri juga.


"Baik. Baiklah Tuan Iskandar, saya menarik kata-kata saya yang meminta anak anda untuk menikahi putri saya. Karena dari sini saja saya sudah bisa melihat, tentang kalian yang tidak akan bisa menghargai putri saya. Bagaimana jika nanti anak saya sudah menjadi menantu di rumah ini. Saya tidak bisa membayangkannya."


Pak Iskandar tersenyum sinis. "Baiklah. Pilihan bijak, sekarang sebutkan berapa nominalnya." Pak Iskandar sudah memegangi gerakan cek dan pena siap untuk menuliskan angka nominal uang jikalau pak Ridwan menyebutkannya.

__ADS_1


"Simpan saja uang Anda itu Tuan. Keluarga saya memang sederhana. Namun saya masih mampu membiayai anak saya hingga cucu saya terlahir nantinya. Memberikannya pendidikan tinggi, agar lebih bermoral, tidak seperti Anda dan keluarga Anda. Terutama anak laki-laki Anda yang pengecut itu." pak Ridwan menoleh ke arah Andi dengan tatapan tajam. Memang pria tidak memiliki rasa hormat. Andi masih mampu membalas tatapan itu dengan senyum sinis nya.


"Baik, itu keputusan Anda ya, dan jangan pernah menyesalinya, jika nanti kau butuh uang dengan nominal tinggi saat putri mu ini melahirkan. Jangan pernah datang kemari untuk mengemis bantuan."


"Itu tidak akan pernah saya lakukan! Saya bersumpah tidak akan pernah meminta sepersen pun dari Anda Tuan Iskandar. Kalaupun akan membutuhkan biaya besar sampai saya tidak mampu membayarnya, saya akan tetap mengusahakannya sendiri, walau saya harus menjual ginjal saya demi membiayai anak saya kala melahirkan nanti." Tuturnya dengan tatapan bengis menghunus kearah pak Iskandar. Sedangkan laki-laki di hadapannya hanya bisa tersenyum.


"Saya rasa tidak ada yang perlu saya bicarakan lagi di sini. Kami permisi Tuan Iskandar yang terhormat!" pak Ridwan pun merangkul putrinya dan mengajak istrinya pula untuk keluar dari rumah keluarga kaya itu.


Sudah cukup bagi pak Ridwan, ia tidak akan pernah sudi Jennie bertemu lagi dengan Andi.


"Ayah bersumpah, tidak akan pernah mengizinkan Andi untuk mendekati anaknya kelak. Bahkan jika ia bersimpuh di kaki ku sekali pun." gumam pak Ridwan sembari membawa laju mobilnya, pulang menuju rumah mereka.


Jennie tertunduk. Ia tidak pernah menyangka akan membawa orang tuanya masuk ke dalam lubang yang anak menistakan kedua orang tuanya itu. Kenikmatan apa yang ia rasa kala bersentuhan badan dengan Andi. Tidak ada, Andi hanya melukainya. Dan kini luka yang ia tancapkan lebih dari itu.


Dengan kedua orang tuannya ia bisa tertawa lepas menginjak-injak harga diri keluarganya. Kedua tangan Jennie terkepal. Terlebih melihat ibu dan ayahnya masih menangis di dalam mobil itu.


Bahkan ia saja tidak berani bersuara. Keheningan di mobil yang yang begitu menyesakkan.


sungguh ia tidak akan pernah melupakan kejadian malam ini. Seumur hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2