Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
pernyataan cinta


__ADS_3

Sementara itu Jennie yang baru saja keluar dari salah satu kamar pelanggan hotel pun kembali ke ruangan para staf. Ia terlihat sedikit lelah, karena hari ini dirinya lebih sibuk dari biasanya, mungkin karena akhir pekan.


Merasa damai dirinya hari ini, karena bos gondrong itu tengah melakukan meeting di luar sejak pagi, sehingga tidak ada yang mengganggunya untuk beberapa jam terakhir ini.


Namun sepertinya kau salah Jennie, pria gondrong itu justru sudah berdiri di depan pintu sembari berkacak pinggang.


"Jejen—" panggilan.


Mendengus. "Iya Tuan?" Dengan malas dia berdiri lalu membungkuk.


Menjentikkan jari telunjuknya "Ikut aku."


"Maaf Tuan saya tengah sibuk."


"Oh, berani menolak bos mu ini ya?"


'apa lagi sih dia ini? Kapan dia ada meeting seminggu full sih? Malas sekali rasanya melihatnya setiap hari.'


"Jejen!"


"Iya Tuan... Iya, mau kemana?"


"Tidak usah bertanya, ayo ikut aku." Di tariklah tangan Jennie oleh Excel.


'pelan kek jalannya iiiihhh senang sekali menyeret ku ya? Dasar jin gondrong.' sudah sangat malas ia mengikuti langkah Excel. Mereka pun kini berdiri di sebuah lift hingga lift itu terbuka.


Di dalam lift itu awalnya hanya ada mereka berdua. Hingga di lantai selanjutnya, seperti ada rombongan turis yang turut masuk kedalamnya, semakin mepet pula posisi Excel di depan Jennie, bahkan saking sesaknya. Jennie sampai menahan dada Excel dengan jari telunjuknya merasa risih dengan posisinya itu, berbeda dengan sang bos yang sepertinya menikmati sekali, terlihat dari senyumnya itu. Karena mungkin secara tidak langsung Excel seperti tengah memeluk tubuh Jennie.


'ya ampun lihat dia? Kenapa semakin mepet sih.' Jennie mulai merasa tidak nyaman hingga lift pun terbuka, beberapa turis itu keluar. Namun Excel masih betah pada posisinya, mengungkung tubuh Jennie dengan satu tangan, pandangannya tertuju pada Jennie yang saat itu tengah memalingkan wajahnya.


"Tu... Tuan, pintu lift sudah terbuka."


"Lalu?"


"Kita juga harus keluar kan?"

__ADS_1


"Yuupps."


"Jadi bisakah anda menjauh sedikit?"


"Kenapa mesti menunggu, kau bisa keluar kan? Masih ada ruang loh ini, jangan-jangan kau yang betah pada posisi ini ya?"


Jennie menatap ke atas. Menghadap wajah yang tengah tersenyum jail padanya. Setelahnya ia pun mendorong tubuh Excel dan berjalan keluar dari lift itu. Excel yang terkekeh pun turut keluar. Hingga di lobby itu mereka berpapasan dengan Andi yang hendak masuk.


Ketiganya mematung, pandangan Andi tertuju pada Excel yang tengah menatap tidak suka ke arahnya.


"Anda baik sekali ya? Mau mengantarkan wanita ku keluar menemui ku." Andi berjalan mendekati Jennie lalu meraih tangannya. "Ikut aku yuk, kita makan siang." Ajak Andi, baru saja ia hendak membawa Jennie, Excel sudah menahannya, dengan meraih tangan satunya.


"Aku yang akan mengajaknya pergi. Kau mau menyewa kamar hotel kan? urus saja pada resepsionis di sana." Excel menunjuk ke arah meja resepsionis, "ayo Jennie." Hendak menarik nya juga, namun pegangan tangan Andi di pergelangan tangan Jennie sangat lah kuat.


"Lepaskan tangan mu itu. Dia wanita ku."


Excel tersenyum sinis. "Dia bukan wanita mu. Tapi Dia milikku dan aku tidak akan membiarkan mu kembali merebut apa yang seharusnya jadi milik ku." Ucap Excel tegas, mendengar itu Jennie menoleh kearah Excel. Excel pun meraih kepala Jennie dan mendaratkan kecupan di keningnya. Semakin gelagapan pula Jennie di buatnya.


Andi melebarkan matanya, ia meraih baju di bagian dada Excel dan mencengkramnya. "Beraninya kau?"


"Uhukk...uhuukkk!" Jennie terbatuk-batuk mendengar itu.


Di sisi lain Adam yang ada di sana hendak melerai namun di tahan oleh tangan Excel yang terangkat.


"Lepaskan tangan mu dari nya bedebah!" Andi mulai tersulut.


"Tidak! Kau yang harus melepaskannya." Menatap lurus ke arah Andi.


"Hen...hentikan, tolong hentikan. Tangan ku sakit." Jennie mulai Meringis Karena kedua tangannya di Cengkareng kuat oleh dua orang pria di hadapannya.


"Kau dengar itu? Sebaiknya kau lepaskan tangannya." Titah Andi.


"Kau pikir aku akan semudah itu Melepaskannya?" Tanya Excel semakin kuat cengkraman Excel.


Jennie sudah tidak tahan, tangannya benar-benar sakit. Ia pun berfikir sejenak. "Aaahhh Tuan Iskandar dan ibu Miranda—" seru Jennie, keduanya sontak melepaskan tangan Jennie menoleh cepat ke arah pintu masuk.

__ADS_1


"Mana?" Excel celingukan. Begitu juga Andi.


"Tidak?" Andi dan Excel menoleh kearah Jennie berdiri tadi. Namun wanita itu sudah hilang, alias kabur dari mereka.


"Jenni—" seru Andi, Excel pun mengejar gadis itu yang hendak menutup pintu liftnya tak mau kalah Andi pun sama.


"Ku mohon...ku mohon tertutup lah..." Jennie terus menekan-nekan tombol lift, hingga pintu itu tertutup sempurna sesaat sebelum keduanya sampai.


Brakk... Braaakkk "Jejen! Ahhh sial!!!" Excel sedikit kesal.


"Ini semua gara-gara kau tahu!"


"Apa? Kau sendiri yang tiba-tiba datang, enak saja, aku kan yang sedari tadi hendak mengajaknya."


"Ternyata kau mulai berani ya? Dasar pecundang tengik!" Andi memajukan langkahnya mendekati Excel.


"Kau pikir aku takut hah?" Memundurkan langkahnya.


"Jika kau berani kenapa kau memundurkan langkah mu? Ayo lawan aku."


"Ohooo Jennie—" menunjukkan ke depan, Andi pun menoleh.


"Dasar bodoh!" Kabur ke arah berlawanan.


"Woy pengecut kau ya!!! Sial!!" Andi berseru karena sadar telah di bohongin manusia purba ber jas lengkap.


Epilog...


Di dalam lift Jennie bernafas lega, sangat mengerikan dua orang itu, tiba-tiba menarik kedua tangannya. Rasanya bahkan seperti hendak putus kedua pergelangan tangannya tadi.


Ia pun tengah mengatur siasat bagaimana caranya agar tidak kembali bertemu dua orang tadi.


Saking sibuknya Memikirkan cara untuk kabur, Jennie sampai tidak ingat bahwa tadi Excel sudah menyatakan perasaannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2