Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
penyakit yang di idap Andi


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit dokter tengah melakukan anamnesis* dengan Andi *(Cara pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara langsung pada pasien, karena 80% diagnosa didapatkan dari anamnese. Membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan pelaksanaannya.)


"batuk yang anda alami sudah berapa lama?" Tanya sang dokter.


"Sudah lebih dari satu bulan dokter, namun baru tadi mengeluarkan darah."


"Maaf, apa anda seorang perokok aktif, atau mungkin pengonsumsi minuman beralkohol? Dan obat-obatan sebelumnya?"


Andi mengangguk pelan. Dokter itu kembali mencatat.


"Apa ada rasa nyeri di bagian dada, bahu, bahkan hingga punggung, sebelumnya?"


Andi mengingat-ingat, memang benar dia mengalami itu, namun ia rasa itu adalah sakit biasa. "Iya dok." Jawabnya.


"Ada rasa sesak nafas tidak? Dan mengalami mengi? Maksudnya, suara seperti bersiul saat anda tengah bernafas?"


"Iya dok,"


"Sejauh ini, apa anda menimbang tubuh anda secara berkala?"


Andi menggeleng, "saya agak acuh dengan hal seperti itu." Jawab Andi.


Dokter menghela nafas sejenak "baik, Ini masih diagnosa awal ya saudara Andi, selebihnya, akan kami tentukan setelah melakukan beberapa tes lanjutan, karena dari gejala itu ada beberapa gejala yang masuk ke penyakit yang sama. seperti TBC (tuberkulosis), bronkitis, atau mungkin?" Terjeda sejenak karena dokter tersebut belum bisa menyimpulkan dengan pasti.


"Mungkin apa dokter?" Tanya Andi.


"Begini saja. Saya belum bisa menyebutkan gejala penyakit yang lain, sebaiknya kita tunggu sampai hasil lab keluar saja."


"Tapi saya tidak sakit parah kan?" Tanya Andi.


"Semoga saja tidak ya. Apa anda masih mengkonsumsi minuman keras?" Tanya sang dokter. Andi mengangguk.


"Saya saran kan, stop dulu untuk itu, dan rokok juga ya."

__ADS_1


"Jika minuman mungkin saya bisa mengusahakannya, tapi jika rokok? Sepertinya akan sulit dok."


"Usahakan lebih dulu Tuan, karena ini juga untuk kebaikan tubuh anda sendiri." Ucap sang dokter. Andi pun mengangguk, walau sepertinya itu akan sangat sulit. Ia pun berusaha tenang, dan berharap penyakit yang ia derita tidak lah parah.


Hingga Andi pun kembali beranjak setelah mendapatkan pemeriksaan awal, hanya tinggal menunggu hasilnya, lalu melanjutkan tes lainnya.


Selama satu bulan berlalu. Hingga kini hasil pemeriksaan Andi keluar, dokter pun sudah kembali memanggil Andi untuk datang, guna membicarakan terkait kondisi tubuhnya itu.


"Bagaimana dokter?" Tanya Andi. Pria itu terlihat takut bercampur penasaran, guna menanti keterangan dokter tersebut.


"Baiklah, saya akan menjelaskan sedikit mengenai ketidak nyamanan pada tubuh seperti gangguan nyeri di bagian dada yang tengah anda alami Tuan Andi. ketidaknyamanan itu dapat terjadi akibat pembesaran kelenjar getah bening atau metastasis ke dinding dada, lapisan di sekitar paru-paru, yang disebut pleura, atau tulang rusuk."


"Lalu mengi yang anda alami itu, di karenakan saluran udara yang menjadi menyempit, tersumbat, atau meradang, sehingga paru-paru dapat mengeluarkan bunyi."


"Sementara batuk berdarah yang anda alami itu karena terjadi luka pada di kerongkongan Anda akibat terlalu sering terbatuk-batuk itu." Dokter menjelaskan panjang lebar. Sementara Andi masih mendengarkan dengan seksama.


"Jadi, setelah semua gejala yang anda alami dan hasil dari segara prosedur pemeriksaan itu semua mengarah pada kanker paru-paru. Dan hari ini, hasil dari pemeriksaan akhir sudah menyatakan anda positif mengidap kanker paru-paru Tuan Andi."


Degg Andi tercengang mendengar hal itu.


"Mohon maaf Tuan, dari pemeriksaan awal hingga jatuh pada titik dimana anda di nyatakan positif itu sudah melalui prosedur panjang. Dan kami juga sudah mengetes itu tidak hanya satu atau dua kali sampai kami yakin akan penyakit yang di derita pasien tersebut, barulah kami menyampaikan hasilnya pada sang penderita." Tutur sang dokter.


Mata Andi mulai berkaca-kaca, 'aku sakit?' gumamnya dalam hati, perlahan kepala yang tertunduk itu kembali terangkat


"Sudah seberapa parah dok?" Tanya Andi.


"Sudah masuk stadium tiga, Tuan."


"Astaga." Gumamnya. "Apa saya harus menjalani kemoterapi, Dok?" Tanya Andi.


"Sebenarnya, untuk kasus kanker paru-paru ini agak sulit, semua Karena sifat ganas dari kanker paru-paru sangat tinggi, menyebabkan kanker paru tidak sensitif terhadap sebagian besar obat kemoterapi, dan efek samping dari kanker paru-paru sangat serius. Oleh karena itu, secara klinis telah ditinggalkan dan jarang menggunakan kemoterapi."


"Kalau begitu, apa saya harus menjalankan operasi?" Tanya Andi. "Saya tidak mau sakit dokter, saya punya seorang ibu yang harus saya jaga, saya juga punya anak yang belum sempat saya bahagiakan." Menatap penuh harap, air itu semakin tertampung banyak di ekor matanya.

__ADS_1


"Untuk operasi, itu sangat sulit, kita benar-benar harus mempertimbangkan itu semua Tuan Andi."


"Memang kenapa dok?" Tanya Andi.


"Karena? Tingkat keberhasilan operasi kanker paru-paru sangat rendah, tetapi tingkat kekambuhannya tinggi. Karena operasi hanya menghilangkan benjolan saja, tidak menyembuhkan dan tidak mampu mencegah perkembangan sel-sel abnormal dalam paru-paru, serta tidak menghilangkan racun/toksin dari tubuh. Karena itu, operasi kanker paru-paru mudah kambuh. Selain itu operasi kanker paru-paru membahayakan nyawa, merusak fungsi kekebalan tubuh. Banyak pasien menjalani hidup normal sebelum mereka melakukan operasi dan kemo. Namun pasca operasi, tubuh menjadi lemah, stamina menurun, dan racun sel kanker memburuk dengan cepat, dengan demikian penderita akan segera meninggal."


Terjatuh lah air matanya, bola mata Andi mulai bergerak-gerak, bebarengan dengan batuk yang sesekali keluar, bahkan dada yang terasa sesak itu semakin merasa sesak. 'Nara? Ibu? Aku harus bagaimana?' batin Andi.


"Untuk sementara ini, mungkin hanya perawatan biasa yang bisa Tuan Andi jalankan, dan mengkonsumsi obat pereda nyeri."


Andi merasa lemas, ia tidak bisa berkata apapun lagi saat ini. Pikirannya penuh pada Nara dan ibunya, dan juga Jennie. Dia tidak mungkin bisa mendekati wanita itu lagi, secara hidupnya sudah tidak bisa bertahan lama lagi.


"Semoga anda bisa tabah Tuan," ucap dokter itu lagi. Menenangkan Andi yang masih terlihat sangat sedih itu.


Pria itu lantas beranjak dari kursinya, lalu berjalan lunglai keluar dari ruangan dokter spesialis tersebut.


Di salah satu pilar penyangga atap, Andi menyandarkan tubuhnya ke samping. "Bagaimana ini? Aku sakit? Bahkan separah ini?" Sedikit berguncang tubuhnya itu terisak sendirian, dengan batuk yang masih saja keluar sesekali, dan darah yang membekas di saputangannya.


'hukuman apa ini? Aku sudah hendak berubah, kenapa kini aku malah dijatuhi hukuman seperti ini?' batin Andi yang masih terisak, setelah mendapati kenyataan tentang keadaan dirinya saat ini.


***


Di sebuah taman di dekat rumah orang tua Jennie, Andi mengamati Nara yang tengah bermain dengan sangat riangnya bersama para teman-temannya itu.


"Kau gadis kecil ku yang cantik," gumam Andi dari dalam mobil itu. "Ku harap kau tetap bahagia, dan berharap kau tak bertemu pria brengsek seperti ayah kelak." Menitikkan air mata, lalu mengusapnya.


"Padahal aku ingin menjaga mu hingga dewasa, namun sepertinya tidak bisa. Karena ayah sakit nak." Terisak sembari memeluk setir mobilnya. "Nara." Gumamnya serak,


"ayah mencintai mu nak, sangat." Sangat lirih ia ucapkan kata-kata itu, karena teredam suara Isak tangisnya.


Hingga tak lama sebuah mobil berhenti di depan mobilnya. Andi pun mengangkat kepalanya.


"Arya?" Gumamnya, matanya sudah melebar saat pria yang ia kenal sudah keluar dari mobilnya, berjalan menghampiri mobil Andi. Lalu mengetuk kaca bagian samping kursi kemudi pastinya dengan senyum liciknya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2