Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
stalker


__ADS_3

Di pagi sebelum drama Excel menghukum Jennie.


Seperti biasa ibu muda itu akan mengantar Nara menuju sekolahnya lebih dulu, baru lah setelah itu ia akan langsung berangkat menuju Hotel tempatnya bekerja.


Dan Nara akan di jemput ibu Sukma saat pulang nanti.


Di depan sebuah sekolah Jennie menghentikan laju motor matic nya.


"Huplah..." Jennie menurunkan Nara dari atas motor. "Sini, bunda buka dulu Helmnya." ucap Jennie. Sedangkan Nara hanya tersenyum.


"Wah, anak bunda kalau pakai seragam merah, dan putih sangat terlihat cantik." Puji Jennie.


"Seperti Bunda tidak?" tanya Nara.


"Lebih cantik Nara dong." jawab Jennie.


Nara pun melingkari tangannya di leher Jennie yang tengah berjongkok di hadapannya. Lalu mengecup pipi sang bunda.


"Nara ingin sekali seperti bunda." ucapnya sesaat setelah mengecup pipi Bundanya.


Jennie tersenyum. "Kenapa, Nara ingin sekali menjadi seperti bunda sih?"


"Habis, bunda cantik dan baik hati. Seperti ibu peri."


"Hahaha" Jennie tergelak. Ia merasa gemas pada putrinya.


"Nara juga cantik, sangat cantik." Jennie membalas pelukan Nara. 'Jangan jadi seperti Bunda nak, jangan sampai.' batin Jennie.


"Belajar yang rajin ya sayang di dalam. Seperti yang Bunda ajarkan okay?"


"Okay Bunda."


"Anak pintar. Sudah sekarang masuk sana." Titah Jennie. Nara mengangguk.


Ia mengecup punggung tangan bundanya lalu berlari masuk ke dalam gedung sekolahnya.


Jennie menghela nafas. Mengamati punggung sang putri yang semakin menjauh. "Bunda pernah gagal menjadi seorang anak."


"Dan kau tidak boleh menjadi seperti bunda sayang. Cukup Bunda yang hancur. Kau harus bisa menjalani kehidupan mu dengan baik."


Gumam Jennie, ia mengusap air matanya. Lalu kembali berjalan ke arah motornya.


Sesaat ia menoleh ke sebrang jalan, seperti tengah ada yang mengamatinya dari balik pohon besar.


Jennie menggeleng cepat. Ia melirik ke arah jam tangannya, sudah saatnya berangkat ke hotel tempatnya bekerja.


Jennie pun bergegas naik ke atas motornya dan melaju dengan kecepatan sedang.


Seorang pria keluar dari balik pohon itu. Pria berkaos hitam dengan cardigan berwarna abu-abu.


Mengamatinya.


Dia lah Andi, pria itu tertegun menatap ke arah motor yang sudah semakin menjauh, tatapannya pun beralih pandang pada sekolah itu.

__ADS_1


"Sudah lama aku tidak menengok mu dan Putri ku. Gadis kecil ku sudah besar rupanya." Gumamnya.


Ia ingat kala dirinya mengusir Jennie saat mendatanginya ke cafe tempat tongkrongannya.


Guna mengabari jika Jennie sudah melahirkan.


(Flashback is on)


"Berikan pada ku rokok Itu, bodoh!" Seru Andi pada seorang temannya.


Pria di sampingnya itu memberikan sebatang rokok padanya. "Hei, kau kenapa jadi se kere ini sih? Rokok saja minta." Cetus pria A yang tadi di mintai rokok oleh Andi.


"Ahhh bangs*t!! Kau mengejek ku ya? Aku bukannya kere. Aku tengah di hukum ayah ku. Selama beberapa bulan ke depan aku tidak akan di berikan uang sepersen pun olehnya." Ucap Andi


"Memangnya kenapa?"


"Kau tidak perlu tahu." jawab Andi. Teman-teman Andi belum tahu, atau mungkin mereka ura-pura tidak tahu kalau dirinya sudah menghamili anak gadis orang.


"Hei, bagaimana Selly?" tanya Si A.


"Wanita itu?" tanya Andi.


"Iya... Apa kau sudah memakannya?"


Andi terkekeh. "Kau bicara apa? Aku tidak doyan Selly. Dia terlalu murahan."


"Tapi kau selalu jalan dengannya tuh."


"Kalian tidak tahu apa? Gadis bodoh itu banyak duitnya, uang sakunya banyak, bersamanya aku bisa jajan gratis." Andi tergelak, begitu juga yang lainnya.


"Peduli apa kau dengannya?" tanya Andi. Dia duduk menyandar pada sandaran kursi.


"Tidak, yang ku tahu kan kalian pacaran."


"Sudah tidak lagi," jawab Andi menghisap rokoknya.


"Tapi? Benar dia hamil kan?"


Andi terdiam sejenak. "Iya." jawab Andi.


"Wah...wah... Gadis sepolos itu? Tapi? bukan dengan kau kan?" tanya Si A


"Apa maksud mu?" Andi menatap tajam. Keduanya bungkam.


cukup di tatap seperti itu saja sudah membuat mereka ciut.


Andi kembali menghisap rokoknya. "Tidak usah mengumbar yang tidak-tidak, aku pindah sekolah itu karena jenuh bukan karena menghamilinya. di situ saja kalian tahu alasan ku." tuturnya. Keduanya hanya diam saja tidak berani berkomentar apapun.


Hingga Seorang wanita datang lalu berdiri di belakang Andi.


Dua pria di hadapan Andi memberi kode dengan mata mereka. Membuat Andi menoleh ke belakang.


"Kak Andi?" panggil Jennie lirih.

__ADS_1


"Ka...kau? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Andi. Segera ia beranjak dan meraih lengan Jennie lalu menariknya ke suatu tempat dengan kasar.


"Kak, sakit, tolong pelan-pelan saja. Aku baru saja melahirkan." Degg, Andi menghentikan langkahnya. Ia kembali menoleh kearah Jennie.


Benar saja perut Jennie sudah sedikit kempes. "Kau? Sudah melahirkan."


Jennie tersenyum. Lalu mengangguk. "Anak kita perempuan." Dengan polosnya Jennie berkata seperti itu. Yang dengan cepat di bungkam oleh Andi.


Andi melepaskan bungkaman nya, "Dasar bodoh! Jaga bicara mu itu! Ini tempat umum."


"Ma... Maaf." jawab Jennie.


Andi menghela nafas. "Untuk apa kau menemui ku? Bukannya kita sudah tidak ada urusan ya?" tanya Andi.


"Aku tahu itu. Namun? Melihat wajah Nara?"


"Nara?" tanya Andi.


"Nara, anak yang ku lahir kan. Nara Prayoga."


Andi tertegun, ia hanya terdiam tanpa menjawab, apa lagi memarahi Jennie karena nama belakang nya di pakai untuk nama belakang bayi yang baru ia lahir kan.


"Wajah Nara sangat mirip dengan mu kak Andi. Itu yang membuat ku merasakan kerinduan pada mu." Jennie menitikkan air matanya.


Ia menyentuh tangan Andi. "Aku?"


Jennie tahu, Andi akan merasa dirinya semakin tidak ada harganya, namun Jennie tidak bisa membohongi perasaannya. "Aku masih mencintai kak Andi."


Mata Andi melebar. Dengan cepat ia melepaskan tangan Jennie lalu menyunggingkan senyum seringai. "Wanita rendahan! Sudah menolak, sekarang kau bilang masih mencintai ku. Apa kau masih punya harga diri atas itu?" tanya Andi.


"Aku menolak karena kau menikahi ku hanya sebatas berikrar saja. Setelah itu kau akan menceraikan ku kak Andi, aku tidak mau itu. Aku mau hidup bersama mu. Bersama Nara." Jennie meraih lagi lengan Andi.


Yang saat itu di tepisnya kasar.


"Otak mu itu benar-benar tidak memiliki lipatan atau bagaimana sih?? Kalau aku menikahi mu, sama saja aku membunuh masa depan ku!"


Jennie terisak. "Kak Andi! Apa kak Andi pikir? Kak Andi tidak membunuh masa depan ku?" Seru Jennie.


Andi terkekeh, ia sedikit mencondongkan tubuhnya "Katakan pada ku wanita rendahan? Apa kau tengah membutuhkan uang? Sehingga kau berusaha mengemis cinta ku lagi?" tanya Andi.


"Kak Andi?" Jennie menggeleng pelan. Matanya sudah merah nanar.


Andi berbisik. "Mau melakukannya lagi dengan ku? Per malam akan ku bayar mahal."


Jennie mendorong dada pria laknat itu. Plaaaaaaaaakkkk. "Cukup! Sudah cukup kak Andi...!! Sudah cukup kau merendahkan ku!!"


Andi membulatkan bola matanya kala menerima tamparan tersebut. Lantas menyeringai. "Kalau begitu pergi!! Dan jangan pernah kau munculkan lagi, wajah Jal*ng mu itu di hadapan ku!!" Tuturnya sembari menabrak batu Jennie kasar dan melenggang pergi.


Ia menoleh sejenak, mengamati punggung yang tengah bergetar akibat menangis. Andi tertunduk, ia pun kembali melanjutkan langkahnya.


(Flashback is off)


Andi mengepalkan tangannya. "Sejahat itu aku padanya? Benar, aku memang pengecut Jennie. Pria pengecut!!" Gumam Andi yang masih menatap kearah gerbang sekolah di depannya, terdiam beberapa menit. Sebelum akhirnya kembali menuju mobilnya. Dan pergi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2