Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
mengunjungi Andi.


__ADS_3

Acara yang meriah telah usai, tamu undangan pun sudah kembali kerumah mereka masing-masing. Sama halnya dengan keluarga Jennie ataupun Excel, baru beberapa menit yang lalu mereka berpamitan.


Kini hanya tinggal para pekerja yang bertugas membersihkan sisa-sisa acara. Ada yang melepaskan dekorasi, ada pula yang merapikan meja bekas hidangan di sana.


Sementara Jennie dan Excel berada di salah satu kamar yang di peruntukan untuk mereka berdua.


Ia baru saja selesai melepas semua atribut pernikahannya. Dan kini tengan menikmati waktu senja, duduk di pinggir ranjang menghadap ke sebuah dinding kaca.


Tak lama pintu toilet terbuka, Excel tercenung memandangi Jennie yang sedang duduk melamun. Tangannya memegangi ponsel yang masih menyala di bagian layarnya.


Ia pun mendekati dan duduk di sebelah wanita yang sudah sah menjadi istrinya selepas akad tadi pagi.


"Langit tengah mendung sepertinya?" ujar Excel dengan tangan menyentuh beberapa helai rambut Jennie, lantas menyematkannya di telinga.


"Bukan mendung, tapi memang sudah senja," jawab Jennie tanpa menoleh.


"Begitu kah? Yang ku maksud bukan langit di luar, tapi langit di hadapan ku. Padahal matahari di sebelahnya nampak cerah, namun awan ini malah mendadak akan menurunkan airnya."


Jennie menoleh, menatap sendu kearah Excel. Pria itu menyentuh pipi sang istri dengan tangan kanannya tanpa tersenyum, menarik dengan gemas. sementara tangan kirinya bertopang dagu.


"Kau seharusnya bahagia, bukan seperti ini," tuturnya lagi.


"Aku bahagia kok."


"Lalu, itu?" Excel menunjuk mata Jennie yang berkaca-kaca. "Kau tidak bisa membohongi ku."


Jennie tersenyum. Ya.... Excel benar, Dia tidak akan bisa menyembunyikan mimik wajah kesedihannya di depan sang suami. lalu memilih untuk memalingkan wajahnya. Dimana Excel langsung mengembalikan lagi tatapan itu.


"Aku sudah bilang, aku tidak akan egois. Kau boleh menemuinya."


"Mas, aku tidak sedang memikirkan ingin bertemu dia."


"Tapi dia butuh penyemangat. Karena ku dengar? Ia menolak kemoterapi ketiganya hari ini."


Jennie menunduk, hal itulah yang membuat otaknya dipenuhi rasa khawatir. Karena apa yang di katakan ibunya Andi tadi, tentang kondisi putranya yang semakin drop saja. Dia bahkan sudah kesulitan untuk menelan makanan, membuatnya selalu menolak untuk mengkonsumsi apapun.


"Bersiaplah, kita akan datang ke rumah sakit sekarang juga." Beranjak, namun sesaat tangannya di tahan oleh Jennie.


"Mas Excel, kau sendiri bilang kita akan terbang ke Singapura malam ini, 'kan?"


"Aku sudah atur ulang jadwalnya, kita akan pergi pekan depan. Bukankah tadi aku sudah janji pada pria itu, jika kita akan datang?"


Jennie menatap dengan perasaan tidak enak hati. "kau menunda bulan madu kita? Apakah kau sendiri tidak apa?"


Excel menghela nafas, lantas kembali duduk. "Mau bagaimana lagi, aku pun tidak sampai hati mengajak mu pergi berbulan madu, sementara ayah kandung Nara sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, jadi aku akan mengalahkan ego ku demi Dia."

__ADS_1


"Mas Excel," gumam Jennie merasa tersanjung. "Terimakasih suamiku. Kau benar-benar mengalah karena ini, aku sempat berfikir? Kau adalah pria yang sangat kekanak-kanakan dan egois."


"Kau berfikir aku seperti itu?"


"Maaf... habisnya, kau selalu meminta ku untuk menuruti keinginan mu."


Excel masih diam saja, tanpa ekspresi.


"Sayang, kau tidak marah 'kan, saat aku bicara seperti tadi?"


Deg...!


"Kau panggil aku apa?" Rasa semangat Excel mendadak naik.


"Emmm... Sayang? Bukankah tidak masalah aku memanggil itu?"


Excel mengulum senyum, menahan bibirnya itu untuk tersungging. Ia pun menghembuskan nafas setelahnya.


"Jen? Kau jangan membuat ku berubah pikiran, dan memilih untuk menunda ke rumah sakit gara-gara kata-kata mu itu, ya?"


Jennie tersenyum, dengan tatapan manja. "Apa?"


"Aaarrhh ekspresi mu itu...? baiklah kau yang memancing ya, akan ku cicipi sedikit sebelum ke rumah sakit." Excel mencondongkan tubuhnya seraya membuka kancing bajunya sendiri, mendekati sang istri yang malah justru terkekeh menahan tubuhnya.


"Ampun mas... nanti saja." Ia beranjak dari tepi ranjang tersebut lalu berjalan meraih tasnya. "Kita ke rumah sakit saja. Kau sudah mengizinkannya loh."


Keduanya pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah sakit lebih dulu. Menemui Andi di sana.


***


Di sebuah kamar VIP...


Andi duduk menyandar di ranjangnya. Tangannya memegangi satu bungkus rokok yang hanya ia tatap saja. Baru beberapa menit yang lalu Nara melambaikan tangannya, berpamitan untuk pulang. Kini kesepian kembali menguasai jiwanya, belum lagi bayangan wajah Jennie yang memakai riasan pengantin tadi saat melakukan panggilan video bersama Nara.


Setetes air pun jatuh mengenai bungkusan rokok tersebut. Tangannya semakin mengepal kuat. Bahu yang lebar itu pun mulai berguncang.


Sesaat, rasa tidak adil dalam hidupnya itu kembali membuatnya putus asa. Dia tidak hanya akan kehilangan kehidupannya, namun cintanya juga.


Pria itu membuka bungkusan rokoknya, meraih sebatang lalu menyulutnya dengan api.


Cklaaakk... Pintu di bangsalnya terbuka, sang ibu masuk dengan mata yang sedikit melebar. Ia berlari tergopoh-gopoh menghampiri Andi, lantas merebut rokok di tangannya.


"Hei... Apa yang kau lakukan?"


"Jangan larang aku untuk merokok, Bu. Aku tidak peduli lagi dengan penyakit ku, toh semua tidak ada efeknya. Aku tetap akan mati."

__ADS_1


"Kau jangan seperti ini, Andi," masih berusaha menahan sang anak. Karena Andi kembali menyulut sebatang rokok yang lain. "Serahkan rokok itu, jangan lagi kau merokok."


"Jangan halangi aku, Bu. Dan tolong berikan aku Bir juga, sekarang...!!!"


"Andi hentikan, jangan seperti ini."


"Aku hanya mayat hidup tak berguna!!!" Terkekeh, bersamaan dengan tangisnya.


Sang ibu sudah memeluknya erat. Sembari menangis, tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menenangkan Andi.


"Ku mohon, tenanglah. Dan jangan berbicara yang tidak-tidak."


Andi terisak-isak dalam pelukan ibunya. "Aku masih mau hidup, aku belum mau mati, Bu. Aku belum membahagiakan Nara."


"Kau pasti akan sembuh, Nak. Percaya lah."


"Tidak... Dokter saja sudah menyerah. Aku mendengar itu, maka aku pun juga. Jadi lebih baik kita pulang saja, percuma saja di sini. Lebih baik uang pengobatan ku untuk ibu saja. Lalu menghabiskan sisa hidup ku di rumah. Itu akan lebih baik."


"Sudah...! Jangan bicara apapun."


"Ibu?" Andi menyentuh wajah ibunya, dengan tangannya yang lemah... "tetaplah sehat Bu, walaupun tidak ada aku, setelahnya."


"Apa yang kau katakan sih? Ibu bilang sudah hentikan!!! jangan bicara lagi."


"Ibu...?" ucapan Andi terhenti, saat melihat Jennie berdiri di depan pintu bangsal tersebut. Pria itu lantas memalingkan wajah, karena ia juga melihat Excel di belakangnya.


Air mata Jennie menetes, ia sendiri bingung, kakinya seolah kaku. Di mana ibunda Andi langsung menghapus air matanya, ia tersenyum menghampiri Jennie.


"Masuklah nak," titahnya, pada gadis yang masih mematung menatap Andi. Pria itu kini tidur dengan posisi miring, membelakangi.


"Nak?" Panggil wanita paruh baya itu lagi, membuat Jennie terkesiap dengan air mata yang kembali terjatuh. Jennie tersenyum, lalu mengangguk sekali padanya.


Setelahnya ia berjalan pelan mendekati ranjang Andi, namun baru beberapa langkah Jennie menoleh ke belakang.


Di lihatnya sang suami masih diam saja, tidak turut melangkah masuk.


"Mas, ayo masuk," ajak Jennie.


Excel tersenyum, "aku ada sesuatu yang tertinggal. Aku akan mengambilnya, lalu kembali beberapa menit lagi," kata Excel, yang langsung memutar tubuhnya.


Jennie tercenung memandangi tubuh tinggi yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.


Ibunda Andi menyentuh bahu Jennie.


"Ibu keluar sebentar, untuk membeli sesuatu ya."

__ADS_1


"Anu..." Jennie ragu, dengan tangan terangkat hendak menahan ibunya Andi. Namun wanita paruh baya itu malah sudah melangkahkan kakinya, keluar. Ia menghela nafas pelan, lalu menoleh ke arah Andi.


__ADS_2