Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
Nara bolos sekolah


__ADS_3

Seperti biasa setiap pagi Jennie akan mengantar anaknya terlebih dulu. Barulah dia akan berangkat menuju hotel tempatnya bekerja.


Saat itu Andi sudah ada di sana.


Mengamati mereka dari kejauhan, seperti biasa.


dengan sesekali tersenyum saat melihat Jennie tengah bersenda gurau dengan Nara.


Tak lama Jennie pun melambai, dan membawa laju motornya pergi.


Andi menghela nafas, membuang minuman yang ada di tangannya. Lalu berjalan mendekati Nara yang sudah ingin masuk ke gerbang sekolahnya.


"Nara—" Seru Andi. Gadis kecil itu pun menoleh.


"Ayah?" Balas Nara dengan penuh semangat. Andi tersenyum ia lantas meraih tubuh Nara dan menggendongnya.


"Ayah kira Nara tidak jadi memanggil ku dengan sebutan Ayah."


"Jadi ayah, Nara kan sudah lama ingin punya ayah seperti teman-teman. Ingin rasanya Nara memperkenalkan ayah pada teman-teman yang lain dan bilang ke mereka, kalau Nara itu punya ayah. Walau ayah bohongan hehehe." Terkekeh. Sedangkan Andi hanya tersenyum.


'tidak bohongan Nara, aku memang ayah mu.'


Nara mengecup pipi Andi, yang seketika membuat Andi terkejut. "Na...Nara?"


"Maaf ya ayah, Nara tidak genit kok. Tapi Nara rindu ayah. Maaf juga kemarin ayah jadi di marahi bunda. Kali ini Nara janji tidak akan bilang-bilang kok, kalo ayah datang."


"Hahaha, ayah tidak merasa di marahi bunda kok. Emmmm Berarti ayah boleh cium Nara juga dong?"


"Boleh, boleh, boleh"


"Hahaha," Andi tergelak ia lantas mengecup pipi Nara. "Nara, ayah ingin sekali deh mengajak Nara jalan-jalan. Tapi Nara sekolah."


"Nara juga ingin di ajak Jalan-jalan."


Andi berfikir sejenak. "Mau bolos sehari?"


"Tapi nanti kalo Nara di marahin bunda bagaimana?"


"Nanti ayah yang tanggung jawab. Yah mau?"


Nara berfikir sejenak, lalu mengangguk.


Dengan perasaan senang Andi membawa Nara menuju mobilnya, dan mereka pun memulai perjalanannya.


Di dalam mobil Nara terlihat senang. "Mobil ayah bagus." gumam Nara.


"Nara suka?"


"Emmm." Jawabnya semangat.


"Nara bisa loh naik mobil ayah ini setiap hari."


"Benarkah begitu ayah?"


"Iya dong." Andi mengusap-usap kepala Nara yang tengah tersenyum itu senang.

__ADS_1


Mobil pun terus melaju menuju sebuah kawasan departemen store.


Di sebuah basement mobil Andi terparkir pria itu kembali menggendong putri nya.


"Ayah, Nara bisa loh jalan sendiri."


"Tapi ayah maunya gendong Nara." Tersenyum.


"Oh iya, katanya mau ke taman hiburan ayah? Kenapa ke sini?"


"Ayah mau membelikan Nara baju. Nara harus ganti baju dulu. Lihat 'kan? Nara masih pakai seragam sekolah."


Nara tersenyum. Tangan kecil itu masih melingkar di leher sang ayah. Andi pun melangkahkan kakinya menuju sebuah lift di sana. Menunggu sejenak, dan lift pun terbuka.


Di sana ia berpapasan dengan Alvian. Yang tengah menatapnya dengan ekspresi terkejut.


"Andi?" Gumam Alvian. Pandangannya tertuju pada gadis kecil di gendongannya.


Sedangkan Andi hanya diam saja menatap tajam ke arahnya. "Apa kau mau di sana saja? Aku mau masuk." Ucapnya dingin.


Alvian pun keluar dan Andi masuk. Mereka masih saling tatap, hingga lift itu tertutup sempurna.


"Anak siapa yang ada di gendongannya? Mungkinkah anaknya? Apa Andi dan Jennie sudah bersatu?" Alvian masih bertanya-tanya.


Ia pun hanya geleng-geleng kepala memutuskan untuk kembali menuju mobilnya.


***


Di sebuah hotel A. Alvian keluar dari dalam mobil masih dengan seragam pilotnya.


"Hei...hei... Cogan, lihat itu." Gadis di sampingnya menoleh. Saat Alvian mulai melangkah masuk.


"Astaga!" Darah segar keluar dari hidungnya. Hehehe sory berlebihan.


"Kau mimisan itu."


"Hayati tidak kuat kalo lihat cogan." Tuturnya sembari mengusap hidungnya menggunakan tissue.


Alvian kini berdiri di depan Lift menunggu lift itu terbuka. Pandangannya beralih pandang pada seorang pelayan hotel yang tengah berjalan cepat melewatinya.


Iya dialah Jennie yang tengah setengah berlari menghampiri meja resepsionis.


"Mbak, mbak, mau tanya ponsel ku tertinggal di sini tidak?" tanya Jennie.


"Haduh, tidak tuh mbak Jennie. Soalnya seingat saya, pas tadi mbak Jennie di sini tidak terlihat mengeluarkan ponsel mbak."


Sedikit kelimpungan Jennie karena ponselnya tidak ada di manapun. "Duh, dimana ya?"


"Jennie? Kau benar Jennie kan?" Panggil seseorang di belakangnya. Jennie menoleh dan terkesiap.


"Kak Alvian?" Pandangannya tertuju pada seragam yang di gunakan Alvian. 'wah, dia pilot? Gagah sekali dia sekarang.'


"Apa kabar?" Mengulurkan tangannya.


"A...aku ba?" Plaaaaaaakkk Excel menepis tangan Alvian. Sehingga ke duanya terkejut.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruh mu berkenalan hah? Kau sudah ada istri, dokter cantik pula. Jangan kau menggodanya lagi. Ku adukan pada dokter Katrina juga nih ya jika suami jeleknya ini genit."


'apa? Istri? Dia sudah menikah ya?'


"Hei, kau ini bicara apa sih. Siapa yang berkenalan? Aku memang mengenalnya. Memang kau tidak ingat dia adik kelas kita?"


"Adik kelas. Jadi Tuan Excel ini?" Jennie mengingat-ingat. Dan tertangkap lah sekelebat pria sompral yang selalu bersama Alvian dulu, pria paling konyol dan bodoh, hingga saat ini sih.


Jennie menutup mulutnya dengan kedua tangannya. 'pantas saja aku seperti mengenal dia. Pria aneh ini, malah jadi bos ku.'


"Kalian sama sekali tidak saling ingat?" Tanya Alvian.


Excel pun melebarkan matanya, ia lantas menarik lengan Alvian menjauh.


"Hei, jangan bilang Dia adalah?"


"Gadis yang di hamili Andi dulu." Potong Alvian, menjawab langsung.


"Astaga." Excel menyibak rambutnya kebelakang.


"Kenapa? Kenapa pias sekali wajah mu itu."


Excel masih mematung. 'aku menyukai mantan kekasih Andi? Pria yang pernah membully ku dulu? Sial!'


"Woy, orang utan!" Seru Alvian membuyarkan lamunan Excel.


"Brengsek! Kau bilang apa?"


"Orang utan!" Memandang dengan tatapan mengejek.


"Manusia bekantan ini ya?" Excel mencengkram kemejanya. Keduanya lantas tertawa lalu saling memeluk. Dan melompat-lompat riang seperti Teletubbies.


Dari kejauhan, Jennie hanya memandang aneh dua pria dewasa itu, yang sama-sama bodoh rupanya, ia sempat mengira Alvian lebih waras ternyata sama saja.


Terlihat kerinduan di wajah keduanya, terlebih semenjak Alvian menikah beberapa bulan yang lalu, dia sudah tidak tinggal lagi di apartemen, dan memilih untuk tinggal di sebuah hunian mewah.


Ini juga kali pertama Alvian bertemu lagi dengan Excel setelah pernikahannya itu.


"Excel, aku tahu alasannya kau memanjangkan rambut mu ini, tapi sory aku tidak doyan kau."


Melepaskan pelukannya cepat. "Najis! Kau pikir aku suka pedang hah?" Excel mendorong dada Alvian keras sehingga membuat pria itu tergelak karena hampir terjengkang kebelakang.


"Ayo, keruangan ku."


"Asik, manusia goa ini sudah jadi bos sekarang ya."


"Tidak usah banyak bicara! Ku bunuh juga kau nanti. Ayo jalan."


Alvian geleng-geleng kepala lalu mengikuti langkah Excel menuju lift. Merangkul Excel dengan akrabnya, walau sesekali pria gondrong itu menepisnya namun Alvian terus saja merangkulnya, karena dia memang benar-benar merindukan teman sompral nya itu yang suka sekali marah-marah, Namun aslinya dia baik hati.


Jennie pun tersenyum. "Aku jadi rindu Tara." gumam Jennie, yang tiba-tiba merindukan teman sebangkunya dulu.


Sudah lama sekali dia tidak bertemu Tara.


Namun Tara kini sudah bekerja di sebuah rumah sakit sebagai seorang perawat, beberapa kali sih mereka sempat bertemu.

__ADS_1


Namun karena pekerjaan masing-masing membuat keduanya sudah mulai jarang ketemu lagi.


__ADS_2