
Di sebuah ruangan kantor milik ibu Miranda.
Excel menghela nafas menyiapkan diri untuk bertemu sangat induk singa yang berada di dalamnya.
"Semoga mamih tidak membunuh ku." gumamnya. Excel meraih gagang pintu itu dan membukanya.
Ia melihat sang ibu tengah berdiri menyandar pada sebuah rak kumpulan para berkas di sana.
Tangannya melipat di depan dada, dengan pandangan menghunus mengarah kepada Excel yang tengah menelan ludah berdiri di depan pintu. Sungguh Aura membunuh yang selalu berhasil membuat Excel merasa ciut.
Ibu Miranda menjentikkan jari telunjuknya kepada Excel. "Sini." titahnya.
"Mamih, aku lebih betah di sini. Di depan AC. Adem." Nyengir.
"Ku bilang sini."
Excel menggeleng.
"Haaaahhh anak tidak berguna ini benar-benar meminta untuk di kuliti rupanya?"
Gleeek... Excel mulai keringat dingin saat sang ibu sudah melangkah kan kaki mendekatinya.
Ia meraih rambut gondrong Excel. "Dukun mana yang memerintahkan mu memanjangkan rambut?" tanya Ibu Miranda.
"Du... Dukun? Tidak ada mih. Ini kemauan Excel sendiri. Lihat? Tampan bukan? Ini korean style."
"Begitu ya? Tunjukkan semua jari tangan mu."
"Untuk apa?"
"Tunjukkan saja. Cepat!"
Excel mengangkat kedua tangannya sebatas dada.
"Ada berapa itu?"
"Se... Sepuluh mamih."
"Sepuluh ya? Tunggu sebentar ya." Ibu Miranda berjalan mendekati mejanya meraih sesuatu.
Sebuah gunting rumput yang langsung membuat Excel membulatkan bola matanya.
"Mi... Mih? I... Itu untuk apa?" tanya Excel.
"Kau mau tahu? Aku hanya ingin kau memilih. Bagian mana yang harus ku pangkas? rambut mu atau jari-jari tangan mu itu?"
"Ahahahaha.... Mamih bercanda." Excel tertawa ngeri.
Kraaaaaasss. Ibu Miranda menggunting tanaman yang ada di dekat Excel hingga terpotong sempurna bagian batang yang sedikit besar itu.
"Lihat kan? Begitu tajamnya Gunting ini? Jadi pilih saja mana yang harus ku pangkas!"
Excel mendorong pelan gunting rumput di hadapannya dengan jari telunjuk nya. "Mih, mamih tahu? Memiliki rambut panjang itu adalah ciri khas seorang arsitektur. Dimana orang-orang yang kreatif pasti akan memanjangkan rambutnya. Mamih seharusnya bangga."
Ibu Miranda mendesah sinis. "Cih... Anak ini! Masih bisa membanggakan pekerjaan yang sama sekali tidak ku sukai." Ibu Miranda meletakkan gunting nya. Di atas meja Hal itu pula yang membuat Excel mengelus dada merasa lega.
Namun sepertinya kelegaannya itu kembali sirna saat sang ibu meraih sebuah rotan panjang.
__ADS_1
"Aku tanya pada mu! Kapan kau akan menggantikan posisi ku, kau itu sudah dewasa!!"
"Emmmm, aku tahu mamih... Tapi mamih kan masih hidup, mamih masih sehat jadi mamih masih bisa menjadi seorang pemimpin, Excel yakin semua karyawan lebih menyukai di pimpin oleh seorang ibu Miranda, dari pada Excel."
"Jadi maksud mu? kau ingin ibu mu ini mati dulu begitu? Baru kau mau mengambil alih perusahaan?" Seru ibu Miranda.
"Seperti itu lah kira-kira." Jawabnya santai, yang saat itu juga membuatnya menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.
"Kau benar-benar membuat ku naik darah ya Excel?? Sekarang kau harus tahu apa yang akan kau dapatkan sebagai anak yang membangkang."
Plaaaaaaakkk "aaarrrrggghhhh! Ma... Mamih. Ampun!"
Plaaaaaakkk secara membabi buta sang ibu terus saja meluncurkan sabetan nya ke tubuh sang anak yang tengah berlari ke sana kemari menghindari sabetan rotan dari tangan ibunya.
"Kesini kau Excel!! Aku menyuruh mu mengurus hotel dan restoran!! Tapi kau malah menjadi seorang arsitek? Dasar tidak berguna!!"
"Aaarrrgghhh mamih sakit!! Hen... Hentikan! Hentikan mamiiiiih!!"
"Tidak akan ku hentikan!! Lebih baik aku membunuh mu, dari pada aku memiliki anak tidak berguna seperti mu!!!"
"Astaga mamih sudah hentikan... Hentikan...! Aaaaaaaaaarrrrrgggggggghhhhh!!"
Suara teriakan Excel pun tembus sampai depan ruangannya sehingga membuat beberapa karyawan yang di sana terperanjat kaget.
***
Di sebuah apartemen.
Excel menekan bel salah satu unit apartemen tersebut.
Pik pik pik pik cklaaaaaakk... Pintu terbuka, seorang pria yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk terlihat kaget saat mendapati sang sahabat dengan rambut dan penampilan berantakan berdiri di hadapannya.
"Excel? Aku pikir kau gelandangan."
"Brengsek kau, minggir! Aku mau masuk." Excel menerobos masuk sembari menabrak bahu pria yang masih menatapnya bingung.
Ya pria itu adalah Alvian. "Ck ck ck... Hidupnya suram sekali kelihatannya." Alvian geleng-geleng kepala ia pun menutup pintunya lalu mendekati sang Sahabat.
"Hei... Ada apa dengan mu? Apa yang terjadi? Sepertinya tubuh mu merah semua?" tanya Alvian. Kala melihat Excel sudah tak mengenakan atasan.
"Apa lagi? Kalau bukan karena sang singa betina."
"Siapa? mamih mu?" tanya Alvian.
"Dia bukan mamih ku, sudah jelas aku ini pasti bukan anak kandung nya. Kalau iya? Mana mungkin dia sebrutal itu memukuli ku. Seperti ada dendam saja."
Alvian terkekeh. "Tapi sepertinya hanya pada mu sih, beliau sangat baik pada ku tuh."
"Aaahhh benar, sepertinya kau lah yang anaknya. Bukan aku."
Alvian geleng-geleng kepala. "Kau mau minum apa?"
"Apa saja yang dingin dan berasa, jus juga boleh. Aaahhh satu lagi Pesankan aku pizza juga ya."
"Hei, kau pikir ini hotel milik mamih mu apa?"
"Kau itu pelit Vian, jika aku tidak memesannya kau pasti hanya akan menyuguhi ku air mineral. Itu saja tanpa camilan pendamping."
__ADS_1
"Cih sudah bertamu tanpa di undang, memesan seenaknya, menghina pula."
"Sudah jangan berkoar seperti induk singa itu. Cepat berikan saja apa yang aku mau. Kau tahu istilah tamu adalah raja kan? Jadi Aku ini raja di sini." Excel merebahkan tubuhnya. "Aaaarrrrhhh. Punggung ku." Beranjak kemudian. Karena merasakan sakit pada area punggungnya karena luka bekas sabetan ibunya.
Alvian pun hanya terkekeh menertawakannya lalu meraih ponselnya memesan apa yang di inginkan sahabatnya itu.
Rampung dengan urusan memesan pizza Alvian menuangkan jus jeruk kemasan ke dalam gelas.
Setelah selesai ia pun kembali duduk di dekat Excel. "Nih jus mu Tuan muda." Ucap Alvian.
"Bagus... Bagus... Kau benar-benar asisten terbaik ku."
Plaaaaakkk. Sebuah gulungan koran mendarat di kepala Excel yang sontak saja membuatnya mengerang. "Cecunguk ini!!!!" Excel mengumpat.
"Sudah minum itu." Titah Alvian. Excel pun menatap sebal kearah Alvian sembari meraih jus nya.
Matanya tiba-tiba teralihkan pada telapak tangan Alvian yang di perban.
"Hei, itu kenapa?" tanya Excel.
"Apa?"
"Tangan mu."
"Ohhh, ini. Terkena benang layangan."
"Kau bermain layangan? Lucu sekali, seorang pilot masih mau bermain layangan?"
"Bukan aku bodoh! Aku hanya membantu seorang anak, dimana layangannya itu menyangkut ke sebuah pohon. Dan aku tergores benangnya."
"Begitu ya."
"Iya, tapi dari luka ini, aku jadi menemukan cinta ku."
"Oh ya? Siapa? Gadis yang dulu hamil di luar nikah bukan?"
Alvian tertegun. "Bukan." jawabnya lirih. "Gadis ini spesial sekali, dia mantan istri mendiang Aska, kau ingat kan salah satu sahabat ku yang meninggal karena kecelakaan pesawat?"
"Co-pilot Aska? Ya aku ingat." Excel menyeruput jus nya.
"Gadis itu spesial sekali. Aku paham sekarang, kenapa Aska sangat menyukainya." Gumamnya, Alvian menyunggingkan senyumnya.
"Aku sempat berfikir kau akan bersama wanita yang pernah di hamili Andi itu loh. Soalnya kau dekat dan sangat perhatian sekali kelihatannya."
Alvian tersenyum. "Aku dulu bukan menyukainya hanya merasa kasihan saja. Dan lagi ayahnya tidak mengizinkan ku berteman lagi dengannya. Setelah itu, aku tidak lagi mengunjunginya. Dan tidak tahu lagi seperti apa kabarnya sekarang."
Excel manggut-manggut, ia tidak begitu memperhatikan gadis itu, bahkan wajahnya seperti apa dia saja sudah lupa. Excel memang tipe pria cuek. Itu sebabnya sampai saat ini belum ada seorang wanita pun yang nyangkut di hatinya.
Sesaat ia teringat seorang gadis yang ia tolong tadi. Senyumnya sangat manis. Hal itu yang membuat Excel malah justru kembali teringat akan wajahnya.
"Manis." Gumamnya.
"Apanya?" tanya Alvian.
Excel pun terkesiap. "Emmm maksud ku jus ini manis." Jawab Excel asal.
Alvian pun hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1