
(PERHATIAN!!! tulisan di bawah ini mengandung kekerasan dan bullying. jadi mohon bijak dalam menanggapi karena ini hanya khayalan author semata. happy reading...🤗)
Setelah seharian mereka melakukan perjalanan. Kini mobil Andi sudah terparkir di dekat rumah Jennie mereka baru saja tiba.
Dan tidak jauh dari sana, mobil Excel pun sudah tiba lebih dulu, menunggu sedari dua jam lamanya.
Dengan siku menopang di dekat kaca pintu mobilnya dan tangan sedikit mengepal menutupi mulut, ia terus mengamati Jennie yang tengah keluar dari dalam mobil Andi begitu pula Andi yang tengah mengeluarkan Nara yang sudah tertidur di kursi belakang, lalu menggendongnya masuk.
Terlihat Jennie berdiri lama di dekat mobil Andi, dan sedikit percakapan yang entah apa akhirnya ia turut masuk mengikuti langkah Andi di belakang.
Excel masih menunggu lagi, hingga hampir setengah jam lamanya. Namun pria itu belum juga keluar. Ia pun mulai kesal tangannya menyentuh hendel pembuka pintu mobil namun tertahan. Ia urung membuka pintu mobilnya, ingatannya tiba-tiba melayang pada masa lalunya.
(Flashback is on)
Kala itu Excel masih siswa tingkat pertama, pria itu memang selalu menyendiri di sekolahnya. Tidak ada keberanian untuk bersosialisasi, sehingga membuatnya menjadi pria penyendiri yang hanya menghabiskan waktunya sendiri di taman dekat lapangan basket, dengan PSP miliknya.
Segerombolan kakak kelas itu tiba-tiba melemparkan bola ke kepala Excel hingga membuat Excel terkejut dan menjatuhkan PSPnya.
"Sepertinya ada anak sultan kesepian di sini." Ejek pria kekar yang berdiri di tengah. Iya dia Andi Prayoga.
Di sana Excel hanya diam saja, perlahan ia membungkuk hendak meraih mainannya. Namun saat tangan itu menyentuh PSP miliknya? Andi sudah menginjak tangannya.
Excel meringis namun dia tidak bisa berteriak. Terlalu takut untuknya mengeluarkan suara, sehingga memutuskan untuk diam saja.
"Ambil PSPnya." Titah Andi pada salah satu temannya. Pria di samping Andi pun meraihnya.
"Wahhh keluaran terbaru ini? Hahaha keren... Keren..." Dua teman Andi saling berebut ingin melihatnya. Andi pun terkekeh.
"Buat ku ya." Ucap Andi enteng, ia pun mengangkat kakinya melepaskan tangan Excel yang ia injak tadi.
Lalu melenggang pergi.
"Tu...tunggu! Tolong jangan bawa, itu punya ku." Ucap Excel namun masih pada posisi menunduk.
"Kalian dengar apa yang dia katakan?" Tanya Andi.
__ADS_1
"Tidak sih, dia seperti tengah kumur-kumur, hahaha" jawab salah satu teman Andi yang di sambut kekehan yang lain.
Andi berjalan mendekati Excel.
"Coba katakan lagi, aku tidak dengar soalnya." Andi mendekatkan telinganya di dekat Excel.
"Kembalikan, itu milik ku." ucap Excel.
"Apa? Kurang jelas." Semakin mendekat.
"PSP itu milik ku, tolong kembalikan!" Suara Excel semakin tinggi.
Andi pun menyeringai, ia lantas meraih kerah bagian belakang Excel, mencengkram nya, lalu membawa pria itu ke suatu tempat.
Di sebuah gudang belakang sekolah, tubuh Excel di lemparkan hingga tersungkur ke tanah. Pria itu hendak bangun namun kepalanya sudah di injak Andi dan menekannya, tepatnya di dekat pipi Excel karena Excel memiringkan kepalanya, hingga pipi di bagian kanan Excel menempel ke tanah.
"Kau tahu? Apa yang sudah berada di tangan ku itu berarti sudah menjadi milik ku. Dan jika kau mau meminta PSP mu kembali. Sebaiknya kau lawan aku dulu." Tersenyum sinis.
"Ke... kembalikan, itu hadiah terakhir dari mendiang ayah ku."
"Jadi kau sudah tidak punya ayah ya? Kasian sekali. Namun aku tidak iba tuh."
Andi mengangkat kakinya dari wajah Excel itu lalu berjongkok dan mencengkram kedua kerah Excel. "Sebegitu kaya diri mu? Sampai bisa berkata seperti itu?"
Excel diam saja. Ia sudah sangat ketakutan melihat wajah pria berandal di hadapannya.
"Kenapa diam saja? Jika kami meminta mobil bagaimana? Apa kau mau mampu memberikannya?" tanya Andi.
Excel diam saja, masih tidak berani menjawab.
"Hei!!! Kau pria pecundang? Apa kau hanya membual saat mengatakan ingin memberikan apapun?" Tanya Andi dan Excel masih terdiam.
"Issssshhh kau bisu ya bodo?" Seru salah satu teman Andi.
"Aku, aku akan memberikan yang setara dengan itu. Sungguh." Jawab Excel.
__ADS_1
Andi pun tersenyum. Lalu beranjak dan mendekati temannya itu, meraih PSP milik Excel kemudian. "Kalau aku maunya ini bagaimana?" Tanya Andi memutar-mutar barang milik Excel itu.
"Tolong kak, jangan! jangan... yang itu ya."
"Bagaimana ya, aku suka yang ini. Kecuali jika benda ini?" Andi melempar benda itu keras hingga terbentur dinding dan pecah.
"Tidaaaaaaaakkk!" Excel membulatkan bola matanya. Ia berlari guna meraih PSPnya yang sudah hancur itu.
"Nah, sudah rusak jadi aku sudah tidak mau lagi. Jadi tepati janji mu ya. Berikan barang atau apapun yang setara dengan itu. ku tunggu" menepuk-nepuk pundak Excel lalu melenggang pergi.
Beberapa teman-teman Andi pun menoyor kepala Excel. Pria yang tengah menangisi PSP miliknya.
Benda itu baru di berikan ayahnya satu bulan yang lalu, tepat satu Minggu sebelum kematian sang ayah karena kecelakaan mobil yang menewaskan sang ayah kala itu.
"Ayah...maafkan Excel, Excel tidak bisa menjaga benda pemberian ayah." Pria itu terisak sendiri di sana, dengan pakaiannya yang kotor sembari memeluk benda kesayangannya yang sudah hancur itu.
Dalam tangisnya seorang siswa lain berdiri di hadapannya, membuat Excel menaikan kepalanya dengan sedikit ragu, karena takut Andi kembali.
Namun tidak, pria itu orang lain sepertinya dari kelas lain. Dia Alvian orang pertama yang mengulurkan tangan padanya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Alvian.
Excel hanya beranjak, tanpa menjawab apapun pria itu mengusap matanya yang basah. "Aku baik-baik saja." Jawabnya ketus. Dan langsung melenggang pergi begitu saja meninggalkan Alvian di sana yang masih menatap ke arah Excel yang sudah berbelok dan hilang dari pandangannya.
Alvian geleng-geleng kepala, ia pun kembali melangkahkan kakinya duduk di taman belakang gudang. Karena itu tempat favoritnya untuk tidur siang saat istirahat, karena Alvian juga suka keheningan dan kesendirian.
Di hari selanjutnya, Alvian selalu menghampiri anak itu. Ya pria yang sangat ketus kepadanya, namun entah kenapa Alvian senang saja mendekati Excel. karena bagi Alvian pria itu sama-sama senang menyendiri, mungkin bisa di ajak berteman olehnya.
Hingga saat jam istirahat, Excel terkejut melihat Alvian sudah berada di depan kelasnya.
"Hallo sob, ayo kita ke kantin."
"Tidak usah sok akrab dengan ku." Jawabnya. Excel melenggang pergi, namun Alvian tetap mengikuti dan merangkul bahu Excel.
"Iiiisssshhh lepaskan tangan mu itu, dasar pria miskin." Melepaskan tangan Alvian dengan kasar.
__ADS_1
Yuuuupppssss Excel sedikit sombong dulu, mungkin karena dia biasa homeschooling sebelum ini, dan memilih sekolah di sekolah umum saat SMA karena kejenuhannya, membuat dia tidak bisa bertutur kata sopan.
Itu juga penyebab dia tidak memiliki teman di sekolahnya.