Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
Arya yang licik


__ADS_3

Doooorrr.... Doooorrr.... Dooor....


Sebuah pelatuk ditariknya, berkali-kali. Hingga peluru-peluru itu pun menembus bagian kening pria-pria yang bekerja kepadanya dalam urusan ini, dan tewas seketika.


"TIDAK BERGUNA!!!" BRENGSEK...!!!" Arya melempar pistol itu hingga mengenai kaca yang berada di hadapannya, kaca pun pecah dan hancur.


Membuat salah satu kaki tangannya merasa gemetaran. Dia menunduk namun dengan sikap yang tegap. Arya berjalan pelan menghampiri pria itu, lalu mencengkram kedua kerah bajunya.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana anak buah ku tiba-tiba banyak yang tertangkap? Lalu kenapa sabu itu harus diketahui polisi? KENAPA...!!!" teriak Arya, geram.


"Maaf... Sepertinya, Andi yang sudah memberitahukannya," jawab pria kekar di hadapan Arya.


"A...apa? Itu tidak mungkin? Lalu bagaimana Andi bisa tahu, barang itu datangnya hari ini? Bukankah dia sibuk dengan Bom yang kita rakit?"


"I...itu, kar... Karena, Andi adalah pria yang?"


"Haha... HAHAHAHAHAHA..." Arya tiba-tiba saja tertawa dengan sangat menakutkan, ketika mengingat sesuatu. "Cecunguk itu? benar... Dia tidak bisa kita remehkan kecerdikannya." Gumamnya sejenak, dan setelahnya dia pun kembali mencengkram baju kaki tangannya itu dengan keras. "Sekarang, Cari dia....! Cari Andi!!! Bunuh pria itu...!! BUNUH ANDI UNTUK KU...!!"


"Tu...Tuan. kita, kita itu tidak ada waktu lagi untuk itu. Kita memang akan memikirkan untuk membunuhnya, namun untuk saat ini. Kita harus segera melarikan diri dari sini."


"Apa? Kenapa?"


"Polisi pasti sudah mengendus kita. Mereka pasti akan datang kemari."


Arya mengerang, murka. "Siaaaaalll!" Braaaaaakkkk, di tendangnya keras meja itu, hingga terjungkal. "Akan ku binasakan dia, anak dan juga wanita itu... Lihat saja Nanti." Gumam Arya Gusar.


Sementara itu sang kaki tangan tengah sibuk memasukkan bergepok-gepok uang ke dalam ransel besarnya. Untuk bekal melarikan diri.


"Tuan, sebaiknya kita bergegas menuju basecamp rahasia. Ayo Tuan, setelahnya kita akan pergi ke Singapura esok hari. Aku akan mengatur jadwalnya." Tutur pria tersebut.


"Bagus, cepat atur itu." Jawab Arya, yang lantas mendekati pria yang berada di depan brangkas besarnya itu, lalu membantu memunguti uang-uangnya.


.


.


.


Di sebuah gudang kosong.

__ADS_1


Arya dan salah satu kaki tangannya itu memarkirkan mobilnya di sebuah semak belukar, agar tidak terlihat warga karena kawasan itu juga termasuk sangat lah sepi dari pemukiman.


Mereka pun berjalan cepat dengan dua tas besar berisi gepokan uang di dalamnya.


"Cepat...cepat..." Titah Arya yang berlari kecil di depannya.


Hingga mereka pun mulai memasuki sebuah gedung tersebut, manaiki anak tangga yang lembab dan sedikit berlumut, lalu berhenti di sebuah papan triplek yang menyandar Begitu saja. Pria yang kita sebut saja Ken itu pun meletakkan sejenak tasnya lalu mendorong kuat papan tersebut, di sana terdapat lorong kecil, mereka pun masuk bersama.


Hingga sampailah pada sebuah pintu yang akses masuknya menggunakan kode.


PIK... PIK... PIK... Kunci pun terbuka.


Dengan perlahan Arya membuka pintu itu.


Lalu masuk bersama, dengan pintu yang kembali di tutup.


"Cepat, cepat..." Titah Arya. Sembari memasuki sebuah ruangan yang masih gelap.


Hingga langkah mereka terhenti ketika melihat sebuah bayangan pria tengah duduk di atas mejanya sembari merokok.


"Si...siapa kau?" Dengan sigap ia mengeluarkan pistolnya, lalu mengarahkan ujunya kearah pria di hadapannya.


Dari siluet wajahnya ia terlihat tengah tersenyum, seringai. Tangannya pun menarik salah satu tali untuk menyalakan lampu di atasnya.


"Andi? Bedebah!" Arya mengumpat.


"Kalian tinggal berdua? Yang lain mana?" Andi bertanya enteng kepada dua pria yang sudah mengarahkan pistol mereka.


"Cih...! Seharusnya kemarin aku membunuh mu sekalian ya." Arya mendesah. "Tapi tidak apa, ku bunuh saja sekarang."


"Hahaha... Yakin kah, ingin membunuh ku saat ini? Ini ruangan tertutup Tuan Arya. Sepertinya bukanlah hanya aku yang akan terbunuh di sini." Andi menurunkan resleting jaketnya lalu membukanya lebar-lebar, dimana mata Arya dan Key langsung membulat sempurna, karena tubuh Andi penuh dengan bom Aktif. Andi terkekeh, "apa kalian membawa uang-uang itu untuk biaya pemakaman kalian?"


"Brengsek kau!!" Arya pun menurunkan pistolnya. "Apa mau mu sebenarnya?"


"Kembalikan kebebasan ku. Dan kau menyerahkan diri." Pinta Andi.


Arya mendesah sinis. "Aku tidak akan menyerahkan diri ku, semudah itu. Apa kau lupa siapa aku, Andi?"


"Aku tidak lupa siapa kau, yang pasti aku tidak akan pernah takut menghadapi kematian ku. Asal satu, kau pun harus di hukum atas segala perbuatan mu."

__ADS_1


Arya tertawa, sejenak. "Hei bedebah...! Apakah kau sedang menjadi kacang yang lupa dengan kulitnya? Kenapa kau hendak membinasakan orang yang sudah membuat mu tetap bertahan hidup? Seperti ini kah cara mu berterima kasih?"


Tersenyum sinis. "Aku? Berterimakasih? pada orang yang sudah ku besarkan? Kau pun lebih kaya dari saat kita bertemu karena aku, bukankah itu sudah lebih berkali-kali lipat dari cukup, sebagai ganti dari roti dan air mineral yang dulu kau berikan kepada ku?"


"Hahahaha... Benar, aku lah yang seharusnya berterimakasih kepada mu. Bukankah begitu?" Arya berjalan mendekati, hingga sampai di hadapan Andi. "Marilah kita bernegosiasi, mungkin kau geram, ketika aku membawa-bawa nama wanita itu dan anak mu."


Kraaakkkk... Ujung pistol kini telah menempel sempurna di kening Arya. Secara tiba-tiba. Dan pria itu pun langsung diam, sementara Ken segera mengarahkan pistol miliknya, ke arah Andi.


"Lepaskan Tuan ku." Tegas Ken.


"Akan ku lepaskan, setelah pelatuk ini ku tarik." Tuturnya, lalu dengan gerakan secepat kilat, ia membidik langsung ke arah Ken.


Dooooorrr.... Darah segar muncrat dari kening pria tersebut. Bruuukkk, Ken terkapar dan mati seketika, sementara pistol itu sudah kembali menempel di kening Arya.


"Hanya tinggal kau sekarang..." Tersenyum sinis. Arya menelan ludah, dengan keringat dingin mengucur deras di tengkuk serta keningnya. Ia pun menyunggingkan senyumnya.


"Kita, bicarakan ini dengan baik." Ucap Arya, masih berusaha bernegosiasi.


"Aku tidak suka bicara panjang lebar. Sepertinya jika aku menempelkan ujungnya ke bagian jantung mu, akan lebih menarik." Andi menurunkan itu pelan dengan ujung pistol masih menempel.


Dari kening, ke hidung, turun lagi melalu leher depan, dan berhenti di sana. "Oh... Tapi sepertinya lebih terasa menyakitkan di sini."


"Kau benar-benar yakin akan membunuh ku?"


"Kau pikir aku bercanda Tuan Arya?" Senyum seringai.


"Kau memang benar-benar tidak bisa lagi di ajak bernegosiasi. Dan aku ingin bertanya, akankah kau sudah yakin tentang keselamatan anak dan wanita itu?"


Andi menatap lurus kearah pria yang kini mulai berbalik tersenyum.


"Maksud mu?"


"Hahahaha... Kau ingin membunuh ku kan? Tapi kau lupa jika aku itu punya rencana lain untuk menjatuhkan mu. Mungkin aku akan mati, namun kau juga akan mati, tidak? Anak mu..." Tertawa lepas.


"Keparat...!" Gumam Andi. "Apa yang kau lakukan pada anak ku."


Senyum seringai. Dia pun mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku jasnya. "Kau yang mengajari ku tentang sinyal ponsel yang mampu meledakkan sebuah tabung gas? Aku melihat ruangan kelas anak mu dekat dengan dapur kantin sekolah. Di sana aku sudah merakitnya. Hanya tinggal aku menelepon salah satu ponsel yang ku tinggal maka? booooommm...! Tiga tabung berukuran 12 kilogram akan meledak secara bersamaan."


Andi menurunkan pistolnya perlahan, dengan tatapan bengis. Di mana Arya langsung tertawa lepas ketika kemenangan kini berbalik kepadanya.

__ADS_1


"Matikan sistem bom di tubuh mu itu." Titah Arya. Andi pun langsung menekan satu tombol dengan tatapan masih menghunus ke arah Arya, dan hitungan mundur pun terhenti. Ia lantas melepaskan semuanya dari tubuhnya, lalu melemparkannya jauh.


Bersambung...


__ADS_2