
Andi melepaskan kalung tersebut. Setelah memastikan jika Arya sudah tak bernyawa.
Lalu meraih sesuatu untuk membantu tubuhnya berdiri. Sedikit meringis, ia pun mulai melangkahkan kakinya, keluar dari ruangan yang pengap itu.
PIK... PIK... PIK... Cklaaakk.
Ia menoleh lagi kebelakang pria itu benar-benar tewas. Andi pun menghela nafas, lalu membuka pintu tersebut.
Berjalan tertatih-tatih, sementara tangannya bertumpu pada salah satu dinding yang sempit di kiri dan kanannya.
Lalu setelah sampai pada ujung lorong sempit itu, ia seperti mendengar suara yang mendekat. Andi bersiap dengan pistol di tangan. Membidik kearah depan, menanti siapa yang tengah berusaha mendorong papan di depannya.
Sraaaakkkkkk.... Papan itu bergeser, hingga sedikit demi sedikit cahaya pun muncul. Membuat Andi semakin bersiap.
"Tahan...!" Seru pak Ridwan, mengangkat satu tangannya. Ketika beberapa tim aparat Militer yang bekerja sama dengan aparat kepolisian sudah membidikkan senapan mereka ke arah Andi, ketika papan tersebut terbuka seluruhnya.
Andi langsung menurunkan pistolnya.
"Jatuhkan pistol itu." Titah pak Ridwan. Yang seketika itu melepaskan gagang pistolnya begitu saja. "Keluarlah..."
Andi mengangkat kedua tangannya, berjalan pelan sembari meringis.
"Dimana dia?" Yang di maksud adalah Arya.
"Di dalam... Dia sudah tewas," jawab Andi. Ketika dua orang aparat sudah memegang kedua lengannya. Sementara yang lainnya masuk.
"Maaf Mayor. Saudara Andi tetap harus kami bawa, karena dia harus melakukan pemeriksaan sebagai saksi," ujar seorang kasat Reskrim.
"Baiklah... Tapi, sebaiknya. Dia di obati dulu," balas pak Ridwan.
"Kami akan membawanya ke rumah sakit Bayangkari. Untuk di obati."
"Maaf... Bolehkan saya meminta sesuatu?" Andi menyela.
"Silahkan."
"Pak Ridwan... Bolehkah saya bertemu Nara. Hari ini?"
"Emmm... Tapi kau perlu di obati lebih dulu."
"Ku mohon... Aku hanya ingin melihat wajahnya. Karena kelegaan ku." Andi memohon dengan sangat, sehingga membuat Pak Ridwan terdiam sejenak. Lalu berbicara dengan seorang Kasat Reskrim di sebelahnya. Sebuah anggukan pun menandakan jika Andi di izinkan untuk mendatangi sekolah tempat Nara menimba ilmu lebih dulu. Hingga senyum mengembang di bibir Andi, akibat rasa senangnya karena dia diizinkan mendatangi sekolah itu hanya untuk memeluk putrinya saja.
***
__ADS_1
Di sekolah Nara...
Gadis itu keluar dari dalam gedung sekolah menghampiri kakeknya yang sudah berdiri di dekat tiga mobil yang berhenti berurutan.
Tatapannya beralih pada pria yang memar di tengah-tengah antara dua aparat kepolisian.
"Ayah?" Panggilannya.
Andi tersenyum, ia menitikkan air matanya. Lalu menurunkan tubuhnya bertopang pada kedua lututnya. Nara yang langsung berlari kecil menghampirinya memeluk tubuh yang kotor itu. Lalu setelahnya melepaskan lagi, menyentuh wajah Andi dengan kedua tangan kecilnya.
"Ayah? Ayah kenapa?"
"Ayah jatuh." Terkekeh bercampur tangis. "Peluk ayah lagi, nak."
Gadis itu melebarkan senyumnya, hingga gigi-gigi itu nampak sembari mengangguk lalu memeluk lagi. Dengan cara melingkari leher sang ayah.
"Anakku. Syukurlah... Syukurlah..." Andi mendekap tubuh kecil itu erat. Lalu mencium bahu sang anak berkali-kali, perasaan lega yang tidak bisa ia ungkapkan ketika bisa kembali memeluk sang anak setelah duelnya tadi.
Pak Ridwan yang melihat itu berkaca-kaca. Ia memang membenci Andi, namun Nara pun juga berhak untuk bertemu ayahnya begitu pula sebaliknya.
Tak lama, motor Jennie berhenti di depan sekolah.
Jennie yang turun dari kendaraannya itu sedikit bingung, ia menghentikan langkahnya menatap putrinya yang sedang berpelukan erat dengan Andi.
"A...ada apa ini?" gumamnya.
"Jennie, maukah kau mengakui sesuatu pada putri mu ini? Ku mohon."
"Ma... Maksudnya?"
"Tolong, katakan pada Nara. Siapa aku." pinta Andi.
Jennie pun terdiam, ia melihat tangan sang anak menggenggam erat tangan ayahnya.
"Nara?" gumamnya lirih.
"Ku mohon Jennie... Aku ingin dia tahu. Siapa aku. Setelah ini aku berjanji tidak akan menggangu mu lagi."
Jennie bimbang, ia menatap ke arah sang ayah. Dan pria paruh baya itu mengangguk tanda mengiyakan. Tatapan itu kemudian kembali kepada Nara.
Melangkah pelan mendekati Andi dan Nara, ia menurunkan kepalanya melihat gadis kecil itu sudah melebarkan senyumnya. Jennie pun berjongkok.
"Nara..."
__ADS_1
"Iya Bunda?"
"Nara pernah bilang sama Bunda, kalau Nara ingin bertemu dengan ayahnya Nara, 'kan?"
Gadis kecil itu mengangguk-angguk. Setitik air mata menetes di pipi Jennie yang kemudian tersenyum tipis.
"Om ini lah..." Jennie menghentikan ucapannya, sedikit ragu. "Om inilah Ayahnya Nara."
Nara yang sedikit bingung hanya diam saja, lalu mengangkat kepalanya menghadap ke Andi.
"Ayah, Nara? Om gagah?"
Andi tersenyum, bersamaan dengan Jennie yang lantas beranjak dari posisi jongkoknya tadi.
"Benar, Om ini lah ayah mu."
"Maaf Nara, Ayah?"
Gadis kecil itu melepaskan tangan ayahnya. Membuat Andi tercengang, sebenarnya rasa sakit itu sudah tidak tertahankan. Andi sudah tidak kuat untuk menurunkan tubuhnya lagi. Namun ia memaksakan diri untuk kembali berlutut.
"Iya... Aku ayah mu." Menatap dengan sendu kearah putrinya.
"Ayah...?" Masih saja Nara tidak percaya akan hal itu. Ia menyentuh kedua pipi Andi. "Jadi...? Kantong om itu benar-benar seperti Katong Dora? Dan permintaan Nara yang ingin ayah, terkabul?"
Andi mengingat kejadian, saat berbohong pada gadis kecilnya. Kalau kantong jasnya itu ajaib, dan bisa mengabulkan apapun. Yang saat itu pula permintaan Nara adalah seorang ayah.
Andi terkekeh, "Astaga... Kau ingat itu?"
"Ayah..." Nara memeluk tubuh itu lagi. Sementara Andi semakin merasakan lemas, karena rasa sakitnya itu. Tersenyum tipis, merasa bahagia.
"Maaf sayang. Maafkan Ayah yang tidak pernah ada untuk mu," tuturnya lemah, dengan mata perlahan-lahan mulai terpejam.
"Ayah... Hiks." Baru saja Nara hendak mencium pipi sang ayah. Pandang Andi sudah kabur.
Bruukkkk.... Pria itu tersungkur tak sadarkan diri.
"Ayaaaaaaah....!!!" Seru Nara.
Mata Jennie membulat. "Kak... Kak Andi?"
Beberapa aparat kepolisian itu menolong Andi, mengangkat tubuh itu lalu membawanya masuk kedalam mobil.
"Ayah... Ayah..." teriak Nara menangis. "Bunda? Ayah kenapa? Ayah Nara mau di bawa kemana?"
__ADS_1
Jennie mengerjapkan matanya, bulir-bulir bening itu berguguran begitu saja dari kedua matanya menatap mobil-mobil yang sudah pergi dari tempat itu. Sementara ia hanya memeluk Nara, yang menangis memanggil ayahnya.
Bersambung...