Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
Bos Medit


__ADS_3

(Flashback ke beberapa jam sebelumnya...)


Pukul enam pagi mobil Excel sudah sampai di gedung Hotel A.


Ia berjalan cool dengan satu tangan yang dia masukan ke dalam saku celana. Dua orang resepsionis wanita pun menatap penuh kekaguman, pria itu memang tampan dari segi manapun.


Bahkan dengan rambut gondrong yang selalu berantakan itu saja selalu sukses membuat mereka terpukau. Itu sudah menandakan bahwa Excel memang tidak bergurau kala mengatakan dirinya itu punya banyak fans.


Excel berdiri di depan lift tersebut menunggu pintunya terbuka.


Tangannya menyibak rambut panjangnya kebelakang. Okay tebar pesona pak bos gondrong ini.


"Kyaaaaaaa Tuan Excel benar-benar ya... tampan sekali." bisik salah seorang resepsionis tersebut pada temannya sembari menggoyang-goyangkan lengan temannya itu.


"Jangankan kau yang baru bekerja di sini. Aku yang sudah bertahun-tahun saja selalu merasa ingin pingsan jika melihatnya. Apa lagi sekarang setiap hari seperti ini oooohhh jantung ku." Bisik satu orang lagi. Keduanya terkekeh.


Tok tok tok. Adam mengetuk-ngetuk meja resepsionis meminta mereka berdua untuk Fokus. Keduanya pun menunduk lalu saling sikut antar satu sama lain.


Adam melangkahkan kakinya mendekati Excel dan berdiri di samping pria gondrong tersebut,


sedikit tersenyum bangga Adam pada Excel karena Tuan mudanya itu kini terlihat lebih rajin. ia selalu datang setiap hari di pagi hari, semua pekerjaannya pun dikerjakan dengan baik oleh bos mudanya itu.


Persis seperti mendiang ayahnya yang terlihat santai tapi bekerja dengan profesional begitu pula yang di lakukan Excel Pradiitaa.


Ibu Miranda pun kini jadi jarang datang ke hotel A ini, karena memang hotel tersebut sudah di pegang Excel.


Benar Excel mulai menikmati pekerjaannya di hotel, ia sudah tidak menerima tawaran proyek design lagi.


Bahkan proyek besar pun ia tolak. Demi bisa fokus pada bisnis keluarganya. Dan bagi Excel pekerjaan ini tidak buruk juga untuk ia lakoni.


Pintu Lift terbuka. Dia dan Adam pun masuk kedalam bilik lift tersebut. Melirik ke arah para gadis yang tengah berdiri di meja resepsionis. Dengan senyum tersungging Ia mengedipkan matanya pada mereka sesaat sebelum lift tertutup.


"Kyaaaaaaa. Ya Tuhan." Keduanya meleleh. Emang dasar Excel ya hahaha.


Di dalam Lift Excel menatap ke arah jam tangannya. Menghela nafas sejenak.


"Ada apa Tuan." Dia yang menyadari pria di sampingnya tengah menghela nafas.


"Adam, kenapa jam ku lama sekali ya?"


"Maksud Tuan?"


"Wanita itu pasti belum berangkat. Andai tidak ada laporan yang harus aku ACC, aku pasti akan betah berdiri di sana dan memikirkan hukuman apa yang cocok untuknya." Terkekeh.


'pasti nona Jennie yang dia maksud. Haduh Tuan.... Tuan....' Adam diam saja. Pria berusia empat puluh tahun itu sudah mulai terbiasa dengan tingkahnya. Karena yang memiliki sikap aneh bukan hanya dirinya, namun ibu Miranda juga sama.

__ADS_1


Bahkan saking konyolnya, ibu Miranda pernah datang ke hotel ini pagi-pagi buta hanya dengan menggunakan piyama tidur yang di tutupi jubah mandinya. Juga sandal tidur beliau.


Jangan di tanya penampilan rambutnya yang masih penuh dengan rol rambut.


Ya itu adalah segelintir contoh kecil kegilaan sang ibunda Excel yang tidak jauh beda dari anak semata wayangnya itu.


Di ruangan Excel. Pria itu fokus dengan beberapa berkas yang di sodorkan Adam. Mengamati dengan seksama apa yang di terangkan Adam.


Lalu menandatangani beberapa file yang perlu ia tanda tangani.


Sangat cepat pria itu berkerja. Tidak butuh waktu lama semua file sudah ia ACC.


Excel mengecek jam tangannya. "Okay pukul sembilan. Saatnya mencari kesalahannya." Beranjak.


"Tuan Anda harus sudah kembali di sini sepuluh menit lagi ya."


"Asiiiaaaaappp!" Membuka pintu ruangan lalu keluar.


Adam geleng-geleng kepala. Dia kembali merapikan berkasnya.


Sementara Excel mengecek ruangan CCTV mencari posisi Jennie ada di mana. Dia belum tahu jika wanita itu hari ini tengah off.


"Hei, kenapa tidak ada wanita itu? Apa ada ruangan yang tidak ada CCTVnya? Tanya Excel."


"Semua ada kecuali Toilet dan kamar-kamar tamu Tuan." jawab seorang petugas yang berjaga di sana.


"Mau tahu saja kau ini." Excel keluar ruangan itu.


Di depan pintu ia menyibak rambutnya kebelakang.


"Duh, Jejen kemana ya? Aku harus menemuinya menanyakan semua yang terjadi sesungguhnya. Benarkah dia sudah menikah? Soalnya aku tidak percaya." bergumam sendiri.


Tak lama Ruby melewatinya. "Pagi Tuan." Ruby menyapa.


"Hemmm." jawabnya. pria itu masih melamun, namun seketika tersadar kalau yang lewat itu Ruby.


"Hei manusia—" seru Excel.


Ruby menghentikan langkahnya. Mengecek ke segala arah hanya ada dirinya dan Excel yang ada di lorong tersebut.


Lalu menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kau?" Excel menjentikkan jari telunjuknya.


'lah, dia manggil saya manusia. Sendirinya apa? Manusia setengah salmon?' batin Ruby sembari melangkah maju mendekati Excel.

__ADS_1


"Hei. Dimana Jejen?"


"Jejen? Siapa Jejen Tuan?"


"Hiiiisssshhh wanita cantik yang kemarin-kemarin ku hukum itu."


"Ohhh mbak Jennie ya? Dia off Tuan hari ini."


"Kok off. siapa yang menyuruhnya? Wah wah main-main dia."


"Ya Ampun Tuan, kan memang sudah kebijakannya. Karyawan harus memiliki masa libur satu hari dalam seminggu."


"Cih." Mengumpat.


"Tuan kenapa tidak menemui beliau saja?" Ruby mengusulkan.


"Kaya kau tahu saja rumahnya." Mancing.


"Tahu lah Tuan. Mbak Jennie tinggal berdua sama anaknya. Di kawasan B."


"Berdua? Sama anaknya? Apa suaminya tengah merantau?" Tanya Excel.


"Mbak Jennie kan seorang ibu tunggal Tuan."


Deggg... Mendengar itu Excel mengeluarkan dompetnya. Menghitung beberapa lembaran uang berwarna merah. Di hadapan Ruby.


'aseeeeek... Bakal dapet rejeki nomplok ini saya. merahnya banyak banget yang di hitung.' batin Ruby sembari nyengir.


Siuuuut Excel mengeluarkan satu lembar uang pecahan berwarna hijau lalu mengulurkan nya kepada Ruby, "untuk beli lontong sayur di depan." Tuturnya. Pada pria yang sudah menarik senyumnya.


'Idiiihhh!!! medit nya nih orang...' upat Ruby. Sembari menerima uang pemberian Excel yang mungkin memang hanya cukup untuk jajan lontong sayur.


"Bisikin sini, dimana alamatnya lengkapnya." Excel mendekatkan telinganya pada pria yang sudah menatap sebal. Ruby pun memberitahukan alamat Jennie, alamat sekolah anaknya, dan kawasan-kawasan yang sering di singgahi Jennie.


Excel menyeringai. Ia kembali menarik tubuh nya ke posisi semula.


"Wahhh bukan main, kau selama ini menguntit ya, hapal sekali tempat-tempat Favoritnya."


"Saya tidak menguntit Tuan hanya kebetulan saja tahu."


"Wah hebat-hebat... Ku tambahin deh." Excel mengeluarkan lagi dompet nya.


'nah kali ini harus yang merah ya bos.' batin Ruby semangat.


Excel pun mengulurkan uang senilai lima ribu rupiah. "ku tambahin buat beli es teh nya. Okay... Makasih banyak Bro." Excel kembali melangkahkan kaki setelah Ruby menerima uang pemberiannya itu.

__ADS_1


"Cih, bayaran yang tak sesuai info yang dia terima." gumam Ruby. Ia pun geleng-geleng kepala kecewa. Dan melanjutkan lagi langkahnya ke tujuan semula.


__ADS_2