Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
Balita dewasa, Bu Miranda.


__ADS_3

Excel melamun dalam perjalanan pulang, dengan tangan memegang kendali stir. Ia menyusuri jalan ibu kota, tercenung mengingat apa yang terjadi.


Andi bukanlah pria yang mudah menyerahkan sesuatu apapun yang sudah ia genggam. Jangankan yang miliknya, milik orang lain pun? Ketika dia ingin memilikinya maka ia akan ambil dan jangan harap sesuatu itu bakal kembali.


Sekeras apa Excel berfikir, ia tetap tidak mengerti. Orang bisa berubah hanya karena dia sakit? Tapi, apa separah itu penyakit yang di derita pria paling mengerikan baginya dulu bahkan hingga saat ini.


Excel membelokkan kendali stir tersebut ke arah kanan. Menuju salah satu hotel yang di pegang ibunya.


Baru kali ini dia akan berbicara serius, berdua bersama sang ibu.


–––


Di dalam ruangan ...


Bu Miranda termenung, menunggu pria di hadapannya yang sudah datang dengan gagah namun sesampainya di sana, dia hanya diam saja.


"Hei...! Kau tahu aku sudah menghabiskan satu cangkir kopi hanya untuk menonton pria gondrong seperti mu itu diam."


"Aaarrggghhh... Aku sedang menyiapkan kata-kata. Harusnya Mamih mengerti."


"Tidak usah banyak tingkah, katakan saja intinya."


"Ck...! Baiklah." Excel menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku ingin menikahinya bulan depan," bergumam amat lirih bahkan hampir tidak terdengar, dengan posisi masih menunduk malu.


"Apa...? Apa katanya tadi? Kau ini kumur-kumur kah? Atau sedang membaca mantra?"


"Jika Mamih memiliki masalah pendengaran, kenapa tidak pakai alat bantu dengaran saja sih?"


Plaaaaaakkkk...


"Aaaarrggggghh... Tangan tua itu semakin hari semakin ringan saja." Mengusap kepalanya yang terkena sabetan tangan sang komisaris.


"Anak kurangajar. Ingin ku hajar lagi kau?" Mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi.


"Tidak... Tidak... Intinya aku ingin menikahinya bulan depan." Excel menutupi wajahnya dengan lengan, lalu mengintip sedikit dan menghela nafas. Setelah sang ibu sudah pada posisi normal, menurunkan satu tangan itu.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba terburu-buru sekali?" gumamnya, merasa bingung.


"Mau bagaimana lagi. Aku sudah mendapatkan restu dari dua orang penting. Aku hanya takut, salah satu di antara mereka berubah pikiran. Lebih-lebih Jennie itu sendiri."


Ibu Miranda menatap serius kepada sang anak. Ia melihat keseriusan yang di tunjukkan oleh Excel sudah menandakan jika anaknya benar-benar mantap ingin menikahi wanita itu. Bibir Bu Miranda tersungging, seraya melepaskan kacamatanya. Mengusap matanya yang basah.


"Haaaah... Akhirnya," gumam beliau dengan mata berkaca-kaca, lalu beranjak dari posisinya berjalan sebentar dan duduk di sebelah Excel. Ia menepuk pelan pundak sang anak.


"Excel, selama ini? Mamih hanya melihat diri mu sebagai anak laki-laki Mamih yang masih kanak-kanak. Tapi hari ini, Mamih baru melihat mu, sebagai pria dewasa."


Excel tersenyum tipis. "Aku memang sudah dewasa Mih, Mamih ini."


"Uuuhhh... Sini, Mamih peluk ya. Anak ku yang sudah beranjak dewasa. Cepat sekali sih waktu berputar... Padahal aku masih ingin memakaikan mu popok," gumam Bu Miranda sembari memeluk putranya itu.


Excel terkekeh. Dia menciumi bahu ibunya sembari membalas pelukan hangat sang ibu.


"Tetaplah jadi Mamih ku yang ringan tangan ya, Mih."


"Itu sudah pasti, tangan ini pasti akan gatal jika tidak melakukannya. Oh... Putra gondrong ku."


"Aku akan potong rambut setelah ini."


"Hei... Hanya potong rambut saja syukuran. Mamih ini?"


"Loh... Kau tahu ada salah satu adat tentang mencukur rambut panjang? Yang bahkan memakai ritual mandi bunga tujuh rupa kan?"


"Mih...!"


"Hahaha... Mamih hanya bercanda, dasar anak bodoh." Memeluk lagi.


"Terserah saja lah," Excel tersenyum senang.


***


Waktu semakin berputar, setelah mendatangi keluarga Jennie serta membicarakan pasal pernikahan.

__ADS_1


Kini hari sudah semakin mendekati hari-H, tepatnya tiga hari lagi mereka akan melangsungkan sebuah pernikahan.


Saat ini, Jennie tengah mendandani anaknya yang hendak pergi bersama kakeknya untuk menemui Andi. Pria itu semenjak melakukan operasi kondisinya semakin menurun, itu menurut penuturan sang ayah.


Tergerak hatinya untuk mengunjungi Andi, namun ia juga harus menjaga perasaan Excel. Terlebih hari pernikahan sudah semakin dekat. Jennie tersenyum, menyentuh kedua pipi anaknya gemas.


"Cantiknya," puji Jennie, pada gadis yang hanya melebarkan senyumnya.


"Bunda, lihat ini." Gadis kecil itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah gulungan kertas yang ia ambil dari buku gambarnya, lalu ia serahkan pada Jennie.


Perlahan tangan Jennie meraihnya. Lalu membuka gulungan kertas tersebut. Sebuah gambar sederhana yang di buat Nara.


"Ini, bunda?" Menunjuk salah satu gambar dengan rambut sebahu, namun sepertinya pakaian yang di gunakan di gambar tersebut tidaklah menunjukkan jika itu adalah seorang wanita.


Nara menggeleng. "Bukan, itu Ayah Excel." Menunjuk pria gondrong di sisi kirinya. Jadi gambar yang di tunjukkan oleh Nara adalah gambar dirinya yang memiliki dua orang Ayah yang hebat, sebagai pelindung dia di sisi kanan dan kirinya.


Jennie tercenung, menatap gambar tersebut lalu beralih pandang kearah sang anak. Ayah?... Sejak kapan dia memanggil Excel dengan sebutan ayah? Batin Jennie bertanya-tanya.


"Kamu memanggil Om Excel dengan sebutan ayah?" Tanya Jennie kemudian, gadis kecil itu pun mengangguk.


"Kita sudah melakukan janji kelingking kemarin, kalau Nara kalah main batu kertas gunting maka Nara harus memanggil Om Excel dengan sebutan ayah, dan Nara kalah telak."


Mendengar itu Jennie terkekeh.


"Ya ampun." Ia mencium kepala anaknya gemas, sembari terkekeh bersama. Memeluk tubuh mungil Nara dengan penuh kasih sayang.


Tak lama, suara motor terdengar. Nara pun tersenyum ceria, lantas turun dari tempatnya duduk dan berlari kecil keluar, menemui kakeknya yang baru saja tiba.


Mata Jennie kembali terarah ke lukisan sang anak. Ia menyentuh gambar itu, lalu tersenyum.


Ia berharap, Excel benar-benar menyayanginya. Ketika mereka sudah resmi menjadi suami-istri.


Baru saja Jennie hendak beranjak, sebuah pesan chat masuk. Segera ia meraih dan membukanya.


Yang tak lain isinya adalah Foto dia sendiri.

__ADS_1


📲 (Sudah tiga jam dari terakhir aku mengirim foto ku. Kali saja kau sudah rindu. Maka dengan kebaikan ku ini, akhirnya ku putuskan untuk mengirimkannya lagi. aku baik hati kan?) Begitu isi pesannya.


Jennie terkekeh. Ia mengetik sesuatu, membalas hanya dengan emoticon acungan jempol saja. Lalu meletakkan ponselnya dan berjalan keluar menghampiri Nara dan pak Ridwan.


__ADS_2