Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
ketidakadilan dunia


__ADS_3

Setelah berbicara panjang lebar. Mengeluarkan segala uneg-uneg yang ada di hati. Kini timbul sedikit kelegaan di hati Jennie karena ia tidak hanya menyimpan itu sendirian. Seperti ada teman berbagi walau dia adalah Alvian.


Cukup lucu memang, pria itu pernah ia kagumi saat MOS* dulu (Masa Orientasi Siswa)*. Di mana pria itu menjadi salah satu anggota OSIS. Bersama salah satu temannya yang jika kemana-mana selalu bersama.


Alvian Pratama, sebenarnya Jennie bohong jika ia tahu nama Alvian dari name tag nya. Ia sudah tahu nama itu karena mencari tahu dulu sebelumnya. Hehehe diam-diam Jennie memang mengamati pria yang suka tertidur di taman belakang sekolah, tepatnya di bawah pohon kelengkeng.


Alvian memang tipe pria pendiam berbeda seratus delapan puluh derajat dari pria yang selalu bersama Alvian itu, kalau kata Jennie banyak tingkah. Yang terkadang ia juga lucu dengan tingkah konyolnya. Hehehe. Namun sayang, nasibnya sangat tidak baik. cinta itu malah tumbuh pada pria yang salah, bersemi secara cepat, lalu terjatuh begitu saja.


***


Masih di sebuah trotoar Jennie berjalan menyusuri jalan. Ia ingat kata-kata Alvian tentang keinginannya, agar Jennie lebih berani memberitahukan semua yang terjadi pada dirinya.


Walau rasa takut masih menghantui, namun itu memang harus ia utarakan bukan. Karena mau di sembunyikan seperti apapun toh perutnya tetap akan membongkarnya sendiri. Ia mulai masuk ke sebuah komplek perumahan sederhana. Tidak terlalu kumuh namun tetap tertata. Selayaknya rumah dinas prajurit TNI, iya mereka tinggal di sana.


Jennie membuka gerbang pintu rumahnya. Ia melihat ibunya tengah mengobrol dengan seorang tetangga sebelah di teras rumah mereka.


"Assalamu'alaikum." sapa Jennie.


"Walaikumsalam." Jawab keduanya. Jennie mendekati ibunya dan mengecup punggung tangannya, di sambung ke pada wanita sebelahnya.


"Senangnya punya putri yang cantik seperti ini. Berprestasi lagi." tutur Ibu Hayati sama-sama seorang istri TNI yang sedikit kenal dekat dengan ibu Sukma ibunda dari Jennie.


"Iya, Alhamdulillah." jawab Ibu sukma.

__ADS_1


"Jennie sudah punya pacar belum?" tanya Ibu Hayati. Hanya Senyum manis yang tersungging di bibirnya tanpa menjawab apapun dari pertanyaan itu.


"Jennie masih terlalu muda, ayahnya saja belum mengizinkan untuk berpacaran." tuturnya.


"Haha benar Ibu Sukma, saya juga demikian. Padahal anak saya laki-laki namun saya tetap memantau ketat pertemanannya. Yah mau bagaimana lagi. Pergaulan anak jaman sekarang, mengerikan loh bu." tuturnya. Jennie hanya tertunduk sembari melepaskan sepatunya, tidak ada niatan untuk menguping sebenarnya. Namun karena ia masih ada di sana, mau tidak mau jadi harus mendengarkan.


"Apa lagi anak bu Sukma perempuan. Mungkin harus lebih over. Jangan sampai seperti keponakan saya, harus buru-buru menikah akibat hamil."


Degg Jennie mematung sejenak


"Iya kah?" tanya bu Sukma.


"Iya, padahal masih sekolah."


Jennie berjalan pelan masuk ke dalam rumahnya namun memutuskan untuk berdiri di balik pintu itu. Ia ingin mendengarkan reaksi ibunya kalau mendengar cerita Bu Hayati.


"Keponakan saya itu harusnya lulus tahun ini bu, namun ya itu pacaran kelewat batas jadi seperti itu deh hasilnya."


"Ya Allah, saya jadi ngeri ya bu."


"Tapi seperti Jennie itu anak baik-baik kok bu, saya yakin ia tidak mungkin melakukannya."


Bu Sukma tersenyum. "Iya, saya harap juga begitu. Apalagi bapaknya sangat keras mendidiknya. Saya sangat percaya padanya kalau Jennie pasti akan mampu menjaga dirinya sendiri."

__ADS_1


Harapan seorang ibu pada anak, pasti akan seperti itu bukan? Jennie yang mendengarkan itu juga tidak menginginkan hal buruk ini terjadi padanya.


Sangat tidak adil baginya, melihat ibunya begitu membanggakan dan bahkan percaya padanya. Namun kenyataan tidak demikian. Gadis itu kini menahan tangisnya dikala sudut matanya mulai menganak. Tangannya bahkan sudah menyentuh bagian perutnya itu.


'Aku harus apa? Aku telah mematahkan kepercayaan ayah dan Ibu pada ku.' ingin rasanya ia menjerit sekeras mungkin mengutuk dirinya, membodoh-bodohkan dirinya. Yang tidak bisa menjaga harga dirinya sebagai seorang gadis, kini waktu sudah tidak bisa di putar, dan apa yang ia lakukan bersama sang kekasih sudah mulai menjadi kecambah, hanya tinggal tumbuh saja.


Jennie berjalan cepat ia masuk kedalam kamarnya. Membuka tas nya lalu meraih ponselnya.


Sembari menggigit-gigit kuku, ia masih berusaha menghubungi Andi. Panggilan pertama menyambung namun di abaikan, panggilan kedua di reject, dan ketiga kalinya.


~nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.~


Jennie melempar ponselnya ke atas ranjang, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang itu pula. Meraih bantal yang ada di sekitarnya lalu membungkam mulutnya dengan itu. Ia ingin mengerang sekeras mungkin. Walau hanya dirinya yang mampu mendengarkan jeritan hati yang menyayat itu.


'Aku benci pada mu Kak Andi! Aku benci pada mu!!' ya, hanya dari dalam hati ia mampu berteriak, sedangkan tangisnya saja ia redam dengan bantal yang menutupi mulutnya.


'Pria lakn*t!! Penjahat!! Aaaarrrrrggggghhh' Jennie mengerang sekeras mungkin. Kedua tangannya bahkan memukul bagian perutnya dengan sangat keras. Berusaha sekali agar janin itu bisa kesakitan lalu tidak bertahan di dalam rahimnya.


'Aku tidak menginginkan mu! Keluar dari rahim ku! Aku tidak ingin kau ada—' jeritan hati Jennie. Yang masih terus memukuli perutnya hingga ia pun merasa sakit sendiri dan lelah.


Kenapa? Kenapa hanya wanita yang bisa merasakan luka itu sendirian? Bukankah kala melakukan itu tidak hanya wanita yang merasakan nikmatnya saja ya? Namun juga laki-laki? Namun kenapa hanya wanita yang memiliki bekas? Bahkan naasnya jika bibit itu tumbuh? Aib itu hanya bisa tertancap di wanita saja, menyandang gelar sebagai gadis yang hamil di luar nikah. Mendapati kenyataan kalau ia telah melahirkan seorang anak yang akan di cap haram seumur hidupnya.


Sungguh tidak adil bukan? Sangat tidak adil.

__ADS_1


__ADS_2