Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
makan es krim


__ADS_3

Kita kembali pada Jennie...


Perjalanan dari sekolah Nara ke rumah biasanya tidak memakan waktu lama. Namun sepertinya Jennie tengah menginginkan tempat lain untuk menyendiri.


Sehingga memutuskan untuk berjalan terus tanpa arah.


Air matanya masih mengalir, membasahi pipinya yang putih dan mulus.


Kenapa bisa Andi ada di hadapannya, dan berkata ia menyayangi Nara, setelah apa yang sudah ia lakukan.


Jennie menyeka air matanya yang terus saja mengalir, bahkan ia sendiri bingung bagaimana cara menghentikannya.


Tangan kecil yang melingkar di pinggangnya semakin memegang erat. Jennie meredam tangisannya.


Ia harus ingat akan janjinya untuk tidak menangis di hadapan Nara.


'tidak apa-apa Jennie. kau itu kuat, kau pasti kuat.' Jennie menenangkan dirinya sendiri. Namun sepertinya itu hanya membuat air matanya semakin deras.


"Bunda?" Panggil Nara. Sepertinya Isak tangis bundanya terdengar sampai ke telinga Nara.


"Ya...iya sayang?" Memaksa meredam suara seraknya.


"Bunda nangis ya?" tanya Nara.


"Ti...tidak kok, tidak sayang."


"Tapi tadi Nara dengar bunda menangis." Suara Nara sedikit kalah dengan suara deru motor yang mereka tunggangi.


Jennie hanya diam saja ia pun memutuskan untuk berhenti di sebuah taman bermain.


Jennie memarkirkan motornya.


"Kok kita kesini bunda?" tanya Nara.


"Bunda ingin main sebentar sayang. Mau kan?" tanya Jennie yang sudah turun dari motornya. Berdiri menghadap Nara yang masih duduk di atas motor mereka.


Nara menyentuh pipi Jennie. "Beneran bunda Nangis ya?" tanya Nara.


Jennie tersenyum. Matanya kembali berkaca-kaca. "Nara mau jajan apa?" Jennie mengalihkan.


"Mau es krim."


"Okay, yuk kita makan es krim dulu."


Gadis kecil itu membalas dengan senyumannya merasa senang.


Di sisi lain sebuah mobil berhenti di dekat nya.


Dan seorang Pria gondrong keluar dari dalam mobil berjenis Ferrari tersebut.


Mata Jennie melebar, bos gondrong itu kenapa tiba-tiba ada di hadapannya sekarang?


"Hei tidak usah terpesona seperti itu. ngapain kau di sini?" Tanya pria tersebut. Ya benar dia Excel.

__ADS_1


"Tuan yang ngapain di sini. Saya kan tengah off." Jennie masih menatap tidak percaya.


"Saya Ingin cari angin segar. Tidak sengaja lewat kawasan sini eh malah liat karyawan pemalas seperti mu."


Bohong, dia itu bohong Jennie.


Jennie hanya diam saja lalu menoleh kearah sang putri yang tengah menarik-narik bajunya.


"Bunda? Tante ini siapa?" Tanya Nara menunjuk ke arah Excel.


"Tante? Mana Tante?" Excel menoleh ke ke kiri dan ke kanan lalu ke belakangnya.


"Ini...Tante." Nara menyentuh bagian perut Excel.


Jennie menutup mulutnya menahan tawa.


"Hei... Hei... Siapa tadi yang kau sebut tante? Aku ini pria sejati. Seenaknya saja memanggil ku Tante. Panggil saya om, om Excel yang tampan dan berwibawa." Membanggakan dirinya.


"Ckckck. Mana ada om-om berambut panjang. Tapi Tante ini jelek ya bunda, lebih cantik bundanya Nara."


Excel membulat bola matanya. "Sudah di bilang saya ini pria. Panggil saya om bukan Tante. Bagaimana sih."


"Bunda ayo kita pergi. Tante ini galak." Nara menarik tangan bundanya.


"Apa? Apa? Tante lagi?" Excel berkacak pinggang. Ia pun mengikuti langkah Jennie dan Putri nya.


Sehingga membuat Jennie menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang.


"Tuan mengikuti kami ya?" tanya Jennie.


Jennie pun diam saja, memang dia aneh orangnya jadi mau bagaimana lagi biarkan dia bertingkah semaunya.


Jennie kembali melangkahkan kakinya, sama halnya dengan Excel yang turut melangkah mengikuti Jennie.


Nara menoleh ke belakang. "Tante—" panggilnya.


"Ck, aku ini om-om... Panggil saja om bocah."


Nara terkekeh. "Okay Nara panggil om, tapi om jelek belikan Nara es krim di sana ya, bunda sama Nara biar di sini saja."


"Hadehhh bocah, sudah mengatai ku jelek memerintah pula."


Jennie pun menyentuh bahu Nara. "Sayang, jangan seperti itu, om ini bos nya bunda. Itu tidak sopan sayang." Tutur Jennie pada Nara.


"Hei... Hei... Siapa bilang tidak sopan, anak ini manis sekali kok, aku akan membelikannya." Excel berjalan


"Nara es krim cone strawberry sama bunda ya om. Tidak pakai lama." Seru Nara pada Excel yang sudah berjalan dua langkah.


"Ya... Iyaaa Tuan putri. hamba akan menjalankan titah mu. Puas kan kau?" Excel kembali melanjutkan langkahnya. Sedangkan Nara terkekeh-kekeh.


"Nara kamu ini." Jennie turut terkekeh. Ia merasa tidak enak sebenarnya, namun lucu juga melihat bos gondrong itu menuruti keinginan putri nya walau terus bersungut-sungut.


Kedua ibu dan anak itu duduk di kursi taman Excel pun mendekati mereka menyerahkan es krim tersebut pada Nara dan Jennie.

__ADS_1


"Terimakasih Tan?"


Excel melirik tajam.


"Maksud Nara om jelek."


Masih menatapnya tajam.


"Ganteng deh ganteng. Dikit."


"Haaaaahhh, Untung kau manis ya. Jika tidak? Bisa ku masukin kau ke dalam karton lalu ku ekspor." runtuk nya.


Jennie pun hanya geleng-geleng kepala melihat Nara tergelak.


Excel baru saja hendak duduk di sebelah Jennie.


"Stoppp!!!" Seru Nara.


"Apa?" Excel masih dalam posisi membungkuk hendak duduk.


"Siapa suruh om duduk di situ."


"Bocah ini! Memang ada larangannya begitu saya tidak boleh duduk di sini?"


"Maksudnya, siapa suruh om duduk di sebelah bunda."


Excel berdiri. "Lalu saya harus duduk dimana?"


Nara menunjuk satu bangku lagi berjarak dua meter dari mereka. "Di sana. Itu tempat om."


"Jauh sekali. Aku tidak mau."


"Tidak mau? Ya sudah ayo bunda kita pulang saja. Om rambut jelek ini sudah menggangu kita."


"Apa? Baiklah... baiklah... Hamba akan duduk di bangku lain. Cih."


"Nah begitu dong... Itu baru om ganteng... Sedikit."


Jennie menatap tidak enak pada Excel yang sudah terlihat marah. "Maafkan anak saya Tuan."


Excel berkacak pinggang sejenak. Sembari terkekeh sinis. "Haduuuuhhh Jennie kau ngidam apa punya anak menyebalkan seperti dia sih?" Geleng-geleng kepala lalu berjalan dan duduk ke bangku lain.


Mereka pun saling menikmati es krim yang mereka beli. walau berbeda kursi. Cukup membuat Excel kesal sih tapi tidak masalah lah yang penting bisa membuat Excel dekat dengannya.


"Om! Jika makan es krim lihatnya jangan ke bunda. Nanti es krim itu masuk ke hidung loh." seru Nara yang mendapati pandangan Excel terus saja tertuju pada bundanya.


"Tidak usah mengajari ku, biarkan saja jika es krimnya masuk ke hidung, aku sudah biasa makan es krim lewat lubang hidung."


Jennie menoleh cepat tidak percaya.


"Bawah maksud nya." gumam Excel setelahnya sembari menikmati es krim di tangannya.


Ku bantu translate lubang bawah hidung berati mulut ya hahaha.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2