
Andi mengusap wajahnya, lalu menggeleng pelan.
'bagaimana Arya bisa melakukan ini?' batin Andi yang masih berkutat pada ponselnya. Berusaha keras Andi meretas sistem bom rakitan tersebut agar bisa ia matikan penghitungan Waktunya, cukup lama namun Andi mulai tersenyum lega. Ketika sistem waktunya bisa ia matikan.
"Syukurlah," gumam Andi seraya mengusap keningnya yang keluar peluh.
"Apa maksud dari semua ini?" Tanya Pak Ridwan pada Andi. Pria itu pun beranjak seraya menyerahkan bom rakitan beserta kabel yang ia gulung itu pada ayah Jennie.
"Dialah Arya... Seorang penjahat kelas kakap, yang melakukan ini. Ada tiga tempat yang ia tanam. Yaitu sekolah ini, Kodim XX dan Hotel A."
"Tunggu, kenapa semua berkaitan? Kodim XX itu tempat ku bekerja, sekolah ini dan Hotel itu kan tempat Jennie?" Tangan Pak Ridwan gemetaran, kenapa bisa?
"Itu sebenarnya hanya untuk menggertak ku, dan sebagai pengalihan saja pak. Bom ini sebenarnya tidak begitu besar efek ledakkan. Dan tujuan Arya itu juga bukan lah ini."
"maksudnya?"
"Di pelabuhan, sedang di turunkan satu kontainer yang berisi beberapa boks aki mobil, yang di dalam aki tersebut sebenarnya bukan lah cairan aki, namun itu hanya wadahnya saja. Sementara isinya adalah, Sabu." Jawab Andi, mata pak Ridwan membulat sempurna.
"Dari mana kau tahu?" Tanya pak Ridwan yang langsung mencengkram pakaian Andi. "Apa kau berkomplot?"
Andi terdiam sejenak, membalas tatapan pak Ridwan dengan datar.
"Jawab? Apa kau satu komplotan dengan mereka?"
"Iya, pak," jawabnya lesu.
"Apa?" Tangan itu merenggang dengan sendirinya.
"Tapi, saya ingin berubah... Saya ingin membantu bapak, untuk menangkap sosok Arya itu."
__ADS_1
"Ahh.. ya Tuhan." Pak Ridwan menghembuskan nafasnya keras, lalu menoleh ke arah Andi. "Kau tidak sedang menjebak ku kan?" Hunus pak Ridwan.
"Untuk apa pak? Justru jika Arya tertangkap, saya jadi bisa benar-benar lepas dari dunia hitam ini."
Keduanya saling tatap untuk beberapa saat.
"Kita tidak ada waktu lagi pak." Andi mengangkat ponselnya, menunjukkan sebuah titik merah yang sedang bergerak itu di layar ponsel Andi. "Mereka sudah mulai jalan." Ucap Andi kemudian.
Pak Ridwan pun dengan cepat mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi beberapa pihak aparat yang bergerak untuk menangani kasus ini.
Sementara Andi langsung memasukkan ponselnya kedalam saku celananya lalu melenggang pergi.
"Hei...! Kau mau kemana?" Seru pak Ridwan dengan ponsel masih ia tempelkan di telinga.
"Menuju basecamp baru pria bernama Arya itu." Jawab Andi masih melangkah maju.
"Tunggu...! Tunggu dulu." Pak Ridwan menghentikan laju kaki Andi, dengan tergopoh-gopoh dia mendekati. "Kau tidak bisa pergi sendiri. Dia pasti bukan orang sembarangan kan?" Ucap pak Ridwan, Andi pun tersenyum.
"Hei... Setidaknya kau kasih tahu alamatnya."
"Komplek X, daerah XX." Jawab Andi kemudian yang langsung melanjutkan langkahnya.
'kawasan itu sepi. Baiklah, akan ku selesaikan masalah sabu ini. Baru setelahnya pemuda itu.' batin pak Ridwan yang kembali mengangkat ponselnya lalu menekan-nekan nomor yang ada di sana.
***
Di tempat lain... Seorang supir kontainer dengan santainya membawa peti kemas yang berisi barang haram itu.
Sebelum keluar dari pelabuhan, seorang petugas memeriksa surat jalannya. Memang Arya bukanlah penjahat abal-abal, dia sudah pasti mengatur siasat sebaik-baiknya agar barangnya itu bisa aman tak terendus aparat kepolisian.
__ADS_1
Hingga dalam beberapa detik, seorang petugas itu mengembalikan lembaran surat jalanya, dan mempersilahkan truk pengangkut peti kemas itu kembali melanjutkan tujuannya. Namun sebelum portal itu di buka, sepertinya sebuah laporan masuk, meminta petugas itu untuk menghentikan mobil tersebut dan menahannya agar tidak keluar dari lokasi pelabuhan.
"Maaf pak, bisa tunggu sebentar untuk beberapa menit?" Ucap petugas tersebut.
"Untuk apa? Saya harus segera jalan mas, ini sudah kesiangan." Jawab supir kontainer tersebut.
"Hanya beberapa menit pak. Mohon menepi sejenak ya."
"Tidak bisa saya sudah telat, cepat buka portalnya." Titah sang supir tersebut, dia nampak mulai panik. Terlebih ketika dia melihat beberapa mobil menghampirinya, melalui kaca spion. Wajahnya pun seketika berubah pias, dengan cepat ia mengatur tuas giginya dan membawa laju truk tersebut dengan kecepatan tinggi, hingga portal itu pun patah dan hancur.
BIP... BIP...BIP...
Suara mobil di belakang mulai riuh terdengar, mengejar sebuah truk kontainer ilegal yang nampak melarikan diri dari kejaran mereka.
Di tambah suara sirine mobil polisi yang mulai meraung-raung, serta beberapa kali letusan tembakan peringatan agar supir truk tersebut mau menepi dan menghentikan laju mobilnya.
Namun sepertinya mobil itu enggan berhenti, dan malah justru mempercepat lajunya, hingga membuat mobil-mobil di depan yang tengah melintas terpaksa menepi demi menghindari laju kontainer di belakangnya.
"Di mohon untuk pengemudi truk ber plat B. XXX. Mohon untuk menepi." Seru seorang polisi menggunakan pengeras suara.
Namun supir truk itu tidak menggubrisnya, dia terus saja berusaha melarikan diri.
semakin panik dia, ketika ada beberapa segitiga beton pembatas jalan menghadang jalannya di tengah. Belum lagi dengan beberapa anggota Brimob yang turut menghadangnya.
"Sial...!" Sang supir pun banting stir. Namun naas akibat belok mendadak, truk itu malah justru terguling.
Braaaaaaaakkkkk...... Terseret beberapa meter lalu menghantam pohon di bahu jalan.
Para satuan keamanan pun mendekati sembari berjaga-jaga, sementara yang lainnya mengecek kondisi sang sopir mendekati bagian kepala Truk. Beberapanya lagi mengecek bagian peti kemasnya.
__ADS_1
Dengan menyeretnya perlahan keluar dari dalam cabin kemudinya, Seorang supir yang hanya bertugas sendiri pun di amankan, dia hanya menderita luka yang tidak terlalu berat, walau bagian kepalanya harus berdarah-darah akibat hantaman keras tadi.
Sementara yang lainnya berseru, ketika mendapatkan sebuah barang bukti berupa aki mobil, yang di dalamnya terdapat sabu. Sesuai dengan apa yang di laporkan Andi tadi.