Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
ucapan selamat dari Andi


__ADS_3

Acara resepsi tiba...


Setelah prosesi ijab Qabul tadi pagi serta rentetan-rentetan acara lainnya. Kini gadis sederhana itu sudah berdiri di depan cermin bersama tiga orang wanita yang membantunya memakai gaun yang ia kenakan saat ini. Mempersiapkan diri untuk acara puncak yang tidak begitu megah namun tetap mengundang eforia, mereka-mereka yang sudah menanti-nanti momen bahagia Excel dan Jennie siang ini.


Gaun putih dengan detail renda di setiap sisinya membuat penampilannya makin nampak sempurna. Bagian bawah dress juga sengaja di buat sangat lebar, sehingga membuat Jennie makin tampil anggun. Di tambah dengan model lengan transparan yang pendek, serta bagian bahu yang sedikit terbuka, juga sebuah mahkota kecil yang tersemat di rambutnya yang di sanggul kecil, semakin membuat Jennie bak ratu dalam dunia dongeng.


Ia menatap bayangan sendiri di cermin, matanya yang indah itu sedikit berkaca-kaca. Masih tidak percaya dengan semua ini. Akhirnya dia bisa merasakan, indahnya sebuah pernikahan.


Padahal sebelumnya, ia sudah berfikir bahwa tidak akan ada pria manapun yang bersedia menikahinya tanpa memandang rendah dirinya yang seorang ibu tunggal tanpa pernikahan.


"Kau memukau ku hari ini," gumam seorang pria di belakangnya. Dengan warna setelan jas yang senada, Excel juga nampak tampan. Terlihat dari pantulan cermin itu, Jennie tersenyum menatap Excel dari cermin di hadapannya tanpa menoleh ke belakang.


Sedikit isyarat, ia memerintahkan kepada para pekerja yang membantu istrinya merias itu untuk keluar lebih dulu. Mereka mengangguk sekali lalu keluar dari ruangan tersebut.


Dan kini hanya tinggalah mereka berdua, di mana Excel berjalan pelan semakin mendekati wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


Excel berdiri di sisi samping masih agak kebelakang. Ia pun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak berwarna hitam.


"Satu Minggu yang lalu, saat aku tengah berjalan-jalan sendiri. Aku melihat benda ini yang membuatku sakit mata, karena kilaunya." Excel membuat kotak itu, yang tak lain adalah kalung berlian. Mata Jennie tertegun, namun ia diam saja saat Excel mulai memakaikan kalung itu untuknya. Lalu Setelahnya memandangnya di cermin setelah terpasang sempurna.


"Indah sekali," gumam Jennie seraya memegangi kalungnya. Tangan Excel melingkar di pinggang Jennie.


"Lebih indah diri mu," jawab Excel.


Jennie tersenyum. Ia merasa bahagia hari ini, namun hatinya seolah masih saja merasakan ganjalan, terlebih ketika Nara memilih untuk menemani ayahnya setelah acara ijab Qabul tadi.


Sebuah dering ponsel membuat keduanya menoleh ke arah meja. Excel melepaskan pelukannya, lalu mendekati meja itu meraih ponsel Jennie.


Terlihat nama Andi, yang hendak melakukan sebuah panggilan video. Excel tertegun, namun menghela nafas kemudian.


"Dia menelfon mu, angkat saja." Menyerahkan ponsel tersebut pada gadis yang hanya menatap Excel.

__ADS_1


"Yakin kah? Aku boleh menerima panggilan telepon darinya?"


"Tentu, kenapa tidak?" Meraih tangan Jennie, lalu meletakkannya di atas telapak tangan tersebut.


Jennie menunduk, lalu menggulir logo hijau keatas. Vidio pun terbuka.


"Bundaaaaaaa....." Seru Nara di sebrang. Jennie yang melihat Nara tengah tiduran di sebelah Andi tersenyum. Namun pusat perhatiannya tertuju pada Andi yang menggunakan penutup kepala, karena rambut di kepalanya sudah habis terkena efek radiasi kemo. Nampak juga selang di bagian hidupnya, serta wajah yang benar-benar sudah pucat tengah tersenyum kepadanya.


Dalam hati Andi, ia bergumam cantik. Melihat Jennie di layar telfon genggamnya. Mata itu mengembun, namun bibir pucatnya tetap berusaha menyunggingkan senyum terbaik, menahan sesak di dada.


"Bunda, tadi ayah main batu kertas gunting kalah terus dong sama Nara."


Jennie yang merasakan ganjalan dihatinya hanya bisa menanggapi Nara dengan senyuman.


"Nak, ayah mau bicara dulu sama bunda ya," tutur Andi pada Nara yang langsung mengangguk, mencium pipi sang ayah lalu turun pelan-pelan dari ranjang itu.


Andi kembali memandang ke arah layar ponselnya.


"Apa aku mengganggu mu?" Tanya Andi lemah.


Andi tersenyum. "Kamu cantik sekali, boleh kah aku memuji mu? Excel tidak marah kan?"


Jennie kembali menggeleng, dia benar-benar tidak bisa mengeluarkan suaranya. Setelah menahan untuk tidak mengunjunginya, ia baru tahu jika kondisi Andi sudah benar-benar parah. Hatinya seolah remuk redam, seharusnya dia bahagia ketika menemukan kebahagiaan dari pria yang menurutnya jauh lebih baik dari Andi. Sesuai apa yang ia impikan selama ini. Namun kenapa ketika momen ini hadir, kondisi Andi malah justru seperti itu, membuatnya merasa jahat karena lebih memilih orang lain.


"Selamat untuk mu ya, dan juga cecunguk itu. Hahaha... Excel maksudnya."


Excel yang masih di sana hanya senyum saja, lalu menundukkan kepalanya menahan genangan air di kedua matanya.


"Katakan pada Excel, jika dia menyakitimu dan juga Nara? Maka aku akan membunuhnya."


Jennie yang di sana masih diam saja sementara air matanya kembali menetes.

__ADS_1


Berbeda dengan Excel yang terkekeh tanpa suara, ia lantas mendekati wanitanya mengusap air mata yang kembali menetes. Lalu meraih ponselnya itu.


"Aku akan memegang janji ku, dan kau? Kau pun harus sehat."


"Kenapa kau mengharapkan aku sehat? Seharusnya kau mendoakan ku cepat mati, bodoh." Terkekeh.


"Aku tetap mengharapkan mu kembali sembuh."


"Hei... Apa kau tidak khawatir, aku akan merebut Jennie kembali dari mu ketika aku sembuh? Karena itu pasti akan ku lakukan."


"Dan itu tidak akan pernah terjadi, karena aku akan mempertahankannya," jawab Excel.


"Dengan apa kau mempertahankannya? Kalau aku sehat, hanya dengan menggenggam tangan mu saja? Maka kau akan merasakan remuknya tulang-tulang itu."


Tersenyum tipis. Ia mengusap matanya yang basah sembari mengalihkan kamera itu dari wajahnya.


Andi menghela nafas. "Intinya aku hanya ingin mengucapkan selamat untuk kalian. Berbahagialah... Dan untuk mu Jennie, segera berikan anak untuknya. Agar Nara ada teman, tadi dia sendiri yang bilang ingin adik."


Jennie sudah tidak kuasa menahan tangisnya, ia menutup mulutnya.


"Sore nanti, aku akan datang bersama Jennie. Jaga dirimu baik-baik."


"Ku tunggu, kedatangan kalian," Tutur Andi. Excel mengiyakan lalu mematikan panggilan telefon itu, di raihnya tubuh Jennie.


"Maaf, mas. Maafkan aku." Berusaha keras meredam tangisnya.


"Menangis lah... Tidak apa." Excel mengusap-usap punggung Jennie pelan.


"Tidak... Aku tidak menangisinya."


"Aku tahu, dan aku memahami. Di hati mu mungkin masih ada Dia."

__ADS_1


Jennie menggeleng, seraya melepaskan pelukan dari Excel. "sungguh tidak mas."


Excel Tersenyum, dan langsung mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir Jennie. Tidak peduli seperti apa isi hatinya saat ini. Yang pasti, Jennie sudah menjadi istrinya, dan dia pasti akan berusaha untuk menyerahkan seluruh hatinya pada Excel.


__ADS_2