Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
Menyusul Nara


__ADS_3

hai guys jangan kaget dengan judul di cover ya... aku ingin merubah judul dan cover soalnya.


aku merasa judul awal ini kurang menarik minat pembaca, jadi dengan banyak pertimbangan akhirnya aku ganti.. ini judul sengaja belum ku ganti supaya kalian nggak bingung saja. tapi besok sudah ku ganti keseluruhannya... maaf ya sudah membuat tidak nyamanπŸ™πŸ™ happy reading...πŸ€—πŸ€—πŸ€—


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Di sisi lain Jennie masih kelimpungan mencari ponselnya.


Terlihat dari ekspresi wajahnya yang benar-benar sudah frustasi, sehingga membuatnya tidak fokus dalam bekerja.


Ia pun sudah berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali dirinya menggunakan ponsel tersebut.


Namun tetap saja hasilnya nihil ia tetap tidak menemukannya.


"Jejenβ€”" Excel berseru.


'astaga, ngapain sih dia? Aku kan tengah pusing mencari ponsel ku.' batin Jennie yang sudah malas duluan melihatnya.


"Iya Tuan?"


"apa kau tahu? Tentang anak mu?"


"Anak ku? Maksudnya?"


"Alvian tadi bertemu Andi. Dia bersama anak perempuan, aku hanya menduganya, bisa saja dia Nara." ucap Excel. Mata Jennie membulat.


"Na...Nara? Bersama kak Andi?" Begitu paniknya Jennie sehingga membuatnya langsung membalik badan dan berlari keluar gedung hotel tersebut.


"Jejenβ€”" seru Excel yang berniat ingin mengejar Jennie namun di tahan oleh Ruby yang tengah memanggilnya.


Pria itu menghampiri Excel.


"Maaf Tuan, saya menemukan ponsel mbak Jennie di salah satu ruangan kamar, itu saja yang menyerahkannya salah satu tamu hotel." ucap Ruby, karena sedari tadi dia tidak kunjung bertemu Jennie.


"Okay, terimakasih ya." Excel pun langsung berlari mengejar Jennie yang sudah berada di parkiran.


Wanita itu meraba saku bajunya. Tampak tengah mencari sesuatu, namun sepertinya tak ia temukan.


"Astaga... Kunci motor ku di tas." Jennie mulai panik. Seseorang menyodorkan ponsel milik Jennie.


"Ponsel ku?" Jennie merasa senang ia lantas menerimanya.


Excel sudah mengarahkan jari telunjuknya kearah kening Jennie, dan menekan-nekannya di setiap kata yang dia ucapkan.


"Pemalas! Ceroboh! Pelupa lagi! Lengkap sudah." Tuturnya setelah itu dia melipat kedua tangannya di depan dada


"Maaf Tuan, saya tengah terburu-buru, dan lagi saya tidak bisa mendengarkan ocehan mu saat ini. permisi Tuan."


Jennie memutuskan untuk berlari lagi namun di tahan Excel yang sudah meraih pergelangan tangannya, dan membawanya pergi.


"Tuan? Saya tahu, saya harus bekerja. Namun saya harus mencari anak saya Tuan. Mohon izinkan saya."


Excel masih saja membawa Jennie hingga keduanya sampai di pelataran lobby hotel.


Sebuah mobil berhenti di dekat mereka, dengan supir tersebut yang langsung keluar dan menyerahkan kunci mobilnya pada Excel.


"Cepat masuk. Ku bantu kau mencarinya." Titah Excel yang sudah membukakan pintu untuk Jennie.

__ADS_1


"Ta...tapi Tuan?" Jennie ragu. Excel pun meraih kepala Jennie lalu menekannya memaksa Jennie untuk masuk ke dalam mobilnya itu.


Braaaaaaakkk pintu mobil tertutup.


"Bilang pada Adam, aku keluar sebentar." Ucap Excel pada seorang scurity di sana.


"Siap tuan." Mengiyakan. Excel pun masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil, Jennie mendapati panggilan telfon yang tak terjawab dari pihak sekolah. Ia pun memutuskan untuk menelfonnya balik.


Dalam panggilan nya Jennie mendengar kan pembicara wali kelas Nara yang mengatakan jika hari ini putrinya tidak masuk sekolah tanpa keterangan.


Jennie pun meminta maaf pada guru tersebut, setelah menjelaskan sedikit guru pun mengerti dan panggilan telfon terputus.


Jennie menghela nafas. Sedangkan mobil sudah melaju.


"Kita mau kemana?" Tanya Excel.


"Entah lah, tidak ada jejak, saya saya tidak tahu Tuan." Tak lama sebuah pesan singkat masuk.


From: unknown number


πŸ“² (Nara ada pada ku, aku hanya mengajaknya jalan-jalan sebentar. Jika kau mencarinya, bisa hubungi nomor ku ini)


Jennie menekan tombol call setelah membaca isi pesan singkat tersebut.


Menunggu suara deru sambungan teleponnya berubah menjadi suara Andi


πŸ“ž "Hallo." Sapa suara pria dari sebrang


πŸ“ž "hanya jalan-jalan, aku merindukannya."


πŸ“ž "Malam itu sudah jelas kan? Jika aku tidak ingin kau menemuinya."


Andi terdiam sejenak, mendengarkan setiap kata-kata yang di lontarkan Jennie.


πŸ“ž "Kembali kan anak ku, kak Andi." Ucap Jennie kemudian.


πŸ“ž "Aku akan mengembalikannya, asal kita ketemu di daerah X."


πŸ“ž "Baik, aku ke sana sekarang." Piiiikk... Jennie mematikan sambungan teleponnya.


"Bagaimana?" Tanya Excel.


"Maaf Tuan, bisakah anda mengantarkan saya ke daerah X?"


"Okay." jawab Excel, mobil pun putar arah. Menuju ke tempat yang di tunjukkan Jennie tadi.


Terlihat mimik wajah ketakutan di wajah Jennie, mungkin yang ada di fikiran nya saat ini adalah Andi akan membawa kabur anaknya.


Namun, ia tidak bisa menyimpulkan itu, yang pasti saat ini.


yang pasti saat ini ia harus segera ke daerah X dan temui Nara lalu membawanya pulang.


***


Di sebuah kawasan yang tidak begitu ramai mobil berlalu lalang. Seperti sebuah gerbang masuk menuju daerah perbukitan.

__ADS_1


Andi sudah berdiri di depan kap mobilnya. Bermain dengan kotak korek ditangannya dengan cara membuka tutup, penutup korek tersebut sembari menunggu Jennie.


Hingga tak lama mobil Excel tiba. Mata Andi melebar, Jennie datang dengan seorang pria. Dan pria itu adalah pria yang ia anggap sebagai seorang pecundang.


"Excel? Cecunguk itu!"


Braaaak Jennie menutup pintu mobilnya lalu berlari ke arah Andi.


"Mana Nara?"


"Di kursi belakang, tengah tidur." Jawabnya namun pandangannya tertuju pada Excel.


Jennie mengeceknya lalu mengintip ke dalam mobil. "Nara." Gumamnya.


Ia hendak membuka pintu mobil itu namun terkunci. Jennie kembali mendekati Andi dengan tatapan bengisnya.


Plaaaaaaakkk hingga sebuah tamparan mendarat di pipi Andi.


"Puas kau sekarang? Kenapa kau membawanya? Nara harusnya sekolah!"


"Aku merindukannya."


Plaaaaakkk Jennie kembali menamparnya.


"Jangan sebut kau merindukannya kak Andi. Kau sudah membuangnya! KAU SUDAH MEMBUANG NARA!!!"


Andi meraih dua pergelangan tangan Jennie. Dan mencengkram nya.


Mendorong tubuh Jennie pelan hingga mentok ke mobil Andi tepatnya di bagian pintu kursi samping pengemudi.


Sedikit gelagapan saat Andi melakukan itu, terlebih dengan wajahnya yang sangat dekat.


Sementara Excel ingin berusaha membantu Jennie, namun sorot mata Andi yang menghunus ke arahnya membuat Excel menghentikan langkahnya.


"Aku tidak pernah benar-benar membuangnya," gumam Andi. Tatapannya kembali terarah pada Jennie.


Jennie masih berusaha menggerakkan lengannya melepaskan diri dari Cengkeraman Andi.


"Ikut lah dengan ku sekarang. Aku akan menjelaskannya pada mu."


"Tidak boleh!!!" Potong Excel.


Andi pun menoleh ke arah Excel. Lalu tersenyum sinis.


Ia lantas melepaskan Jennie lalu berjalan mendekati Excel.


"Kau bilang apa?" Tanya Andi.


"Aku tak mengizinkan mu membawa Jennie dan putrinya."


Terkekeh sembari berkacak pinggang, "Lihat ini, sang pria pengecut yang selalu menjadi bulan-bulanan ku dulu, rupanya sudah bisa bicara Sekarang?"


Tersenyum sinis "Lepaskan dia dan Nara. Kau tidak ada lagi urusan dengan mereka."


Pandangan keduanya saling hunus antar satu sama lain.


Terlihat pandangan tidak suka Andi yang semakin menjadi saat Excel mengatakan itu padanya. Tangan kanannya sudah terkepal kencang siap meluncurkan sebuah bogem mentah di wajah pria gondrong di hadapannya itu.

__ADS_1


__ADS_2