Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
keluar dari lingkaran hitam


__ADS_3

Di hari yang sama...


Andi tengah membawa laju mobilnya menuju sebuah hunian mewah, milik pria yang dulu pernah mempekerjakannya sebagai kurir sabu.


Dua orang bertubuh kekar membukakan pintu gerbang utama, yang besar dan tinggi menjulang.


Andi pun membawa mobilnya masuk ke dalam hunian bos besarnya itu.


Dalam pelataran rumah yang sangat luas dimana ada beberapa pilar-pilar besar yang tinggi menjulang, Andi memarkirkan mobilnya lalu menyerahkan kunci mobil pada seorang pelayan yang langsung membawa mobil itu menuju area parkirnya.


Seorang lainnya datang sembari membungkuk. "Tuan Arya sudah menunggu Anda." Tuturnya.


Andi pun melenggang masuk menghampiri pria bernama Arya itu. Dan mendapati pria itu tengah bersama tiga gadisnya di dalam sebuah kolam renang.


"Aku datang Tuan Arya." Ucap Andi.


Arya yang masih membelakanginya pun menoleh pelan lalu tersenyum. Ia lantas memberi kode pada wanita-wanitanya untuk berhenti menggerayangi tubuh yang penuh dengan tato dan sayatan benda tajam itu.


Setelahnya ia pun naik ke permukaan, seorang pelayan seksi memakaikan jubah mandinya. Arya pun menghadiahkan satu kecupan di pipi wanita itu. Lalu berjalan mendekati Andi yang sudah duduk di kursinya.


"Mau minum apa?" Tanya Arya menyalakan cerutunya.


"Apa saja."


Prok...prok... Dua kali tepukan tangan membuat seorang pelayan datang. Dan dua orang gadis seksi berjalan mendekati Andi duduk di sisi kanan dan kirinya. Memberikan sentuhan lembut di dadanya, membelai dan menggelayut manja di tubuh kekar Andi.


"Enyah kalian!" Ucap Andi dingin. Mendengar itu Arya pun mengangkat kepalanya melirik ke arah Andi.


"Ku bilang enyah! Jangan sentuh aku." Menaikan nada bicara, sehingga membuat dua gadis seksi itu beranjak.


Arya terkekeh. "Wah...wah... Apa aku tidak salah dengar ini?" Tanya Arya.


Andi menatap ke arah Arya tanpa berkata apapun.


"Kau mengusir dua gadis yang cantik dan seksi itu? Biasanya kau senang ku hadiahi gadis-gadis seperti itu untuk memenuhi hasrat mu."


Menghela nafas sejenak. "Aku ingin berhenti." Ucapnya.


"Ingin berhenti? Berhenti meniduri para gadis-gadis pemberian ku? Hahaha, tidak apa-apa, kau mungkin jengah dengan pilihan ku." Ucapnya.


"Tidak hanya itu. Aku pun ingin berhenti mengedarkan barang mu." Ucap Andi.


Arya menghentikan kegiatannya yang akan menenggak segelas anggurnya. "Kau bercanda. Ckckck. Ini minum saja tidak usah ngelawak di hadapan ku."


"Aku serius. Termasuk semua tawaran yang lain. Aku ingin berhenti semuanya, aku ingin keluar dari lingkaran hitam ini." Ucap Andi.


Pria di hadapannya pun meletakkan gelasnya di atas meja. "Kau tahu gelas ini kan?" Tanya Arya.


Andi menatap serius gelas yang ada di atas meja itu.


"Aku sangat menyayangi gelas ini, karena apa? Dia ku beli dengan harga mahal.


Di Tiongkok, dengan ukirannya yang bagus dan artistik. Dan barang ini di buat satu-satunya di dunia khusus untuk ku." Arya beranjak sembari meraih gelasnya.


"Kau tahu apa yang membuat ku suka dengan gelas ini?" Tanya Arya, sementara Andi hanya diam saja, ia pun melemparnya dengan sangat keras ke lantai.


Dan gelas yang di lemparkan itu sama sekali tidak pecah, melainkan hanya berputar-putar sesaat. "Yaitu kekuatannya. Walaupun aku membantingnya sekeras itu tadi. Dia sama sekali tidak hancur."

__ADS_1


Andi masih memandangi pria yang tengah berdiri di hadapannya dan kini berjalan mendekati lalu mencondongkan tubuhnya.


"Dan kau tahu? Seberharga apapun gelas ini?" Satu tangannya menengadah sesaat setelah seorang pelayan meraih gelas dan menyerahkannya kepada Arya. "Aku bisa saja menghancurkannya." Braaaaaaakkk di pukul lah gelas itu menggunakan palu hingga hancur didepan Andi.


Andi paham, akan sangat sulit dirinya keluar dari lingkaran hitam ini. Terlebih semua kekayaan yang ia miliki adalah hasil dari kebaikan Tuan Arya. Pasti akan lebih sulit lagi untuk dirinya pergi dari tempat ini.


Greeeep Arya memegangi bahu Andi. "Kau itu berharga untuk ku Andi. Kau pria hebat, bringas, dan yang pasti, aku tidak akan semudah itu melepaskan mu." Tuturnya.


"Tolong bebaskan saya Tuan Arya, aku hanya ingin membina keluarga dengan normal setelah ini," jawab Andi.


"Apa? Keluarga? Hahaha." Arya tertawa keras. "Hei...hei Andi, kau lihat semua gadis ini?" Arya menunjuk para gadis bayaran yang selalu menemaninya setiap hari.


"Kau bisa meniduri mereka secara bergantian Andi, yang sudah pasti bisa memberikan mu kepuasan lebih, lalu untuk apa lagi berkeluarga? dan hanya meniduri satu wanita setiap malam?? Astaga...!" Masih terkekeh-kekeh.


"Terserah apa kata mu Tuan. Yang pasti aku ke sini hanya ingin menyerahkan uang setoran ku ini pada mu. Dan mengatakan itu." Menepuk-nepuk tas besar berisi gepokan uang di dalamnya.


Andi pun beranjak, bersamaan dengan itu sebuah pistol terhunus di depan keningnya. "Selangkah kau keluar dari rumah ini. Maka kepala mu akan pecah saat itu juga." Ucap Arya sembari menodongkan pistolnya.


Andi pun tersenyum sinis. "Anda mengancam saya?" Tanya Andi.


"Kau berhutang Budi pada ku. Maka mengabdi lah seumur hidup mu, dan berhentilah ketika kematian sudah menjemput mu."


Andi menyentuh lubang pistol itu dengan telapak tangannya, lalu menurunkan pistol tersebut.


"Anda, tidak akan bisa membunuh saya." Ucap Andi.


"Kenapa tidak bisa? Apa kau pikir aku takut dengan itu? Karena merasa sayang dengan mu? Cih!" Terkekeh.


Andi pun meraih ponselnya, lalu menunjukkan layar itu pada Arya.


Arya pun tertawa keras, sembari berkacak pinggang, lalu mencengkram jaket Andi dengan kedua tangannya. "Bedebah sialan? Dimana kau menanam ranjau-ranjau itu?"


Andi tersenyum tipis. "Dimana ya?"


"Katakan?"


"Hampir di semua sudut rumah mu Tuan Arya. Termaksud kamar anda."


"Brengsek! Jadi ini balasan mu?"


"Balasan apa? Aku hanya ingin keluar dengan tenang. Karena aku tahu kelicikan anda Tuan."


'sialan! Andi itu perakit bom paling ditakuti, Sekarang dia malah menanam semuanya di markas ku.' batin Arya menatap tajam ke arahnya.


"Sejak kapan kau menanam itu?"


"Sudah lama. Sangat lama, di mana aku masih aktif setiap hari datang ke rumah ini."


"B*ngs*t!!!" Mengumpat.


"Aku tahu kelicikan mu, dan aku harus berjaga-jaga karena itu. Jadi bagaimana Tuan? Angkanya masih berjalan,"


"Matikan penghitungan bom itu."


"Bebaskan aku dulu." Ucap Andi, ia maju satu langkah. "Berikan surat kontrak abdi kerja ku, maka akan ku hentikan ini."


"Keparat!!"

__ADS_1


"Jangan terlalu lama mengumpat Tuan, waktunya tinggal 30 menit lagi." Andi tersenyum sinis.


"Matikan itu!!!"


"Surat kontraknya dulu!"


Arya mendesah, "Seekor anjing liar yang ku pungut dan ku beri makan, kini tengah mengigit ku?"


Tersenyum. "Aku hanya ingin keluar baik-baik Tuan. Tidak membutuhkan apapun dari mu lagi selain itu."


'mengeluarkannya mungkin mudah saja. Namun pria di hadapan ku ini? Akan sangat di sayangkan jika sampai keluar dari grup ku.'


"Jangan diam saja Tuan, waktu terus berjalan."


"Baik, akan ku berikan surat itu. Namun dengan satu catatan. Kau harus melakukan tugas terakhir mu." Pinta Arya.


"Tugas terakhir apa?"


"Lakukan pengeboman di gedung B. Dekat bank X." Ucapnya, mata Andi membulat, kawasan itu dekat dengan Kodim X, tempat ayah Jennie bertugas.


"Aku tidak bisa." Jawab Andi.


"Kenapa?"


"Aku tidak perlu menjelaskan alasan ku kan?"


Arya terkekeh. "Apa salahnya jika kau melakukan pengeb*man di sana. Kau pasang di tiga titik itu. Membentuk formasi segitiga. Bayarnya sangat besar Andi, mungkin sampai tujuh turunan harta mu tidak akan pernah habis."


"Aku bukan ter*ris, tugas ku hanya merakit b*m saja, bukan sebagai pemasang ranjau di sana."


"Aku sudah bilang ini tugas terakhir mu, jika kau benar-benar ingin melepaskan diri dari ku. Karena aku tidak ingin rugi karena hal itu."


"Kenapa aku harus menuruti mu? Sedangkan aku bisa meledakkan rumah mu saat ini juga."


Arya tersenyum tipis. "gadis pelayan di Hotel A, dan anak perempuan yang bersekolah di SD X, kau kenal mereka kan?"


Mata Andi melebar. "Jangan sekali-kali kau menyentuh mereka."


"Kenapa? Jika kau bisa sangat licik menanam alat peledak di setiap sudut rumah ku, kenapa aku tidak bisa melakukan cara yang sama?" Tanya Arya, tangan Andi pun terkepal.


"Bagaimana? Kau setuju melakukannya? Tugas terakhir mu. Maka surat ini?" Arya meraih surat bermaterai. Ia merobeknya di hadapan Andi. "Aku sudah merobek surat kontrak kerja mu. Jadi kau bebas Sekarang."


Andi masih terdiam menatap tajam Arya.


"Jangan terlalu banyak berfikir, karena ketika kau ledakan rumah ini, kau mungkin akan mati di sini, namun wanita dan anak gadis itu akan menyusul mu juga. Jadi sekarang matikan timer nya, dan lakukan tugas terakhir mu, lusa nanti. Bagaimana?"


"Baiklah." Andi menatap lurus ke arah Arya, mengangkat ponselnya lalu menekan tombol off, dan timer yang hanya tersisa 10 menit itu pun terhenti.


Kini wajah pias Arya berubah menjadi wajah penuh kelegaan.


"Deal?" Tanya Arya sembari mengulurkan tangannya.


Andi menjabatnya. "Deal!" Jawab Andi datar.


'aku harus menyelamatkan beberapa orang sebelum ledakan itu terjadi, termaksud melindungi ayahnya Jennie.' batin Andi. Ia pun mulai berfikir keras bagaimana caranya agar ledakan itu tak merenggut nyawa orang di sekelilingnya.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2