Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
permohonan Andi.


__ADS_3

Di waktu sebelumnya. tepat di saat Excel baru saja pulang tepatnya pukul 17:12 petang itu Jennie menghela nafas lega. Akhirnya bos menyebalkan itu pun pulang juga. setelah seharian mengganggu hidupnya.


Jennie pun tidak menyangka pria itu akan betah di rumahnya bermain dengan Nara. Tidak! Bukan bermain namun lebih ke menggangu Nara, karena kedua orang itu selalu bertengkar.


Lebih-lebih sifat tidak mau mengalahnya Excel yang justru menambah beban stres Jennie.


Kini tuan muda tengil itu sudah pulang. Hanya tinggal membereskan sedikit kekacauan di rumahnya.


Jennie menengok Nara sejenak di kamar. Setelah selesai berbenah, karena anak itu tidak kunjung keluar kamarnya lagi.


Gadis kecilnya itu sudah tertidur, mungkin akibat kelelahan setelah bermain dengan Excel. Jennie duduk di samping Nara.


Tangannya menarik selimut di dekat kaki putrinya lalu menutupi tubuh Nara dengan selimut itu.


Sebuah kecupan sayang ia berikan untuk Gadis manis yang sudah menutup matanya, dan masuk ke dalam alam mimpi. Mengusap kepalanya dengan lembut.


"Selamat istirahat sayangnya bunda." Jennie tersenyum.


Ia pun beranjak lalu berjalan ke luar, memutuskan untuk mencari angin di teras rumahnya.


Langit mendung seolah menandakan akan turun hujan, sedikit melamun Jennie duduk di sebuah kursi teras sendirian.


Iya, sendiri. Tidak ada teman di komplek ini ataupun orang terdekat yang Sudi menjadi temannya di sini.


tidak tahu kenapa, secara tiba-tiba mereka para ibu-ibu menjauh. Hanya satu dua sih yang masih mau menegur namun setelah kejadian pagi tadi. Sepertinya semakin di kecam lah dia. Semakin mendapat cap juga dirinya sebagai gadis penggoda.


Itulah dunia ya, yang hanya memandang dari sisi kesalahan insan yang ternoda. Walaupun mau menanam kembali kebaikan seperti apapun.


Orang akan lebih suka memberi stempel buruk dari pada harus mengakui apalagi menerima sisi baik orang tersebut.


Jennie sudah menepis semua ingatan ke jadian Mbak Sasmi dan mas Very. Sekarang justru yang menjadi pikirannya adalah pada saat Nara meminta izin padanya untuk memanggil Andi dengan sebutan Ayah.


Memang tidak salah jika Nara ingin menyebut Andi dengan sebutan Ayah, karena Andi memang ayahnya.


Namun Jennie justru takut putrinya akan lebih memilih tinggal bersama sang ayah jika gadis kecil itu sudah menemukan kenyamanan bersama ayahnya.


Betapa terlukanya dia nanti jika itu sampai terjadi. Apalagi sang anak sangat menginginkan sosok ayah, bahkan ia bisa meminta izin padanya untuk memanggil ayah pada pria yang baru dia kenal. Tidak menutup kemungkinan dia juga bisa meminta izin untuk hidup bersama sang ayah jika gadis itu tahu. Om gagah yang selalu menemuinya adalah ayah kandung dia sendiri.


Sesenang apa dia nanti? Mungkin akan sangat bahagia. Dan tangan kecil itu akan melambai kepada Jennie lalu meninggalkannya pergi.


Jennie menghela nafas. "Aku tidak mau, aku tidak mau kehilangannya. Nara putri ku bukan putri pria itu." Jennie pun beranjak.


Ia kembali masuk ke dalam rumahnya, menutup pintu itu serapat mungkin dan menguncinya. Baru saja ia melangkah membuka pintu kamarnya dan Nara. Pintu ruangan depan sudah terketuk.


Jennie menoleh. "Ada yang bertamu? Apa ayah?" Gumamnya.


Ia pun berjalan keluar lalu membuka pintu rumahnya. Sontak saja, ia melebarkan bola matanya. Saat mendapati pria bertopi yang dia kenal.

__ADS_1


Tanpa ba, bi, Bu Jennie langsung berniat menutup pintunya kembali. Namun tangan Andi sudah dengan kuat menahan pintu itu membuat Jennie kesulitan.


"Ku mohon dengarkan aku Jennie. Kita harus bicara." Masih menahan pintu dengan satu lengannya.


"Pergi! pergi dari sini!" Masih berusaha keras mendorong tubuh Andi.


"Tiga puluh menit."


"Pergi!"


"Dua puluh menit saja. Kita harus bicara."


"Aku bilang pergi!! Pergi Kak Andi!!!!"


Andi menarik tangan Jennie mendekat ke dada bidangnya, lalu memeluknya dengan erat.


"Lepas kak Andi. Kumohon lepaskan aku." Meronta.


"Tolong, beri aku kesempatan untuk bicara. Kita harus bicara Jennie. Ku mohon."


"Aku tidak mau, cepat lepaskan aku dan pergi dari sini."


"Aku akan terus memeluk mu, jika kau tetap keukeuh tidak mau berbicara dengan ku. Ku mohon Jennie berikan waktu mu dua puluh menit saja. Atau sepuluh menit pun juga tidak apa." Tubuh Jennie mulai menyerah, ia tidak lagi meronta minta untuk di lepaskan.


"Baik. Kita bicara. Namun lepaskan aku dulu." Pinta Jennie. Andi pun melepaskan pelukannya.


Jennie membenahi pakaiannya, ia juga mengusap-usap lengannya kasar karena merasa sudah tersentuh lengan kotor pria yang paling ia benci dalam hidupnya. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Jennie tanpa menatap sedikit pun, posisi mereka masih sama, berdiri di depan pintu rumah Jennie.


Andi menghela nafas. "Aku hanya ingin meminta maaf pada mu Jennie."


"Sudah ku maafkan," jawab Jennie sangat ketus. masih tidak mau menatap kearah Andi kedua tangan nya pun kini terlipat di depan dada.


"Jennie, aku tahu aku bersalah. Kau pantas marah karena itu." Suara Andi sama sekali tidak seperti Andi yang kasar dan bermulut besar seperti dulu. Dia bertutur kata dengan halus saat ini.


"Jennie. Aku ingin kau tetap mengizinkan ku. Bertemu dengan putri ku."


Jennie menoleh cepat ia mengangkat jari telunjuknya mengarah ke wajah Andi. "Dia putri ku. Bukan putri mu, itu kan yang kau katakan pada ku dulu?"


"Aku tahu aku sudah sangat berdosa pada mu dan anak kita,Jennie."


Jennie terkekeh sinis bercampur sesak saat mendengar ucapannya yang menyebut Nara sebagai anak kita.


"Jika kau sadar kau berdosa kenapa kau masih di sini? Kau sudah membuang Nara. Akan lebih baik jika kau tidak memunculkan wajah mu lagi di hadapan ku ataupun Nara!"


Andi menatap Jennie dengan pandangan nanar. Dengan perasaan bersalah yang teramat.


"Kau ingin aku dulu mengugurkan Nara kan? Lalu sekarang kau sebut Nara apa? Anak kita?" Jennie tergelak. Merasa konyol dengan ucapan itu.

__ADS_1


"Terserah kau mau menganggap ku apa Jennie, yang perlu kau tahu, aku menyayanginya." jawabnya lirih.


"Sayaaang?" Suara Jennie serak,air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi.


"Kak Andi? Kau ingat kala aku mengabarkan aku hamil pada mu dulu? Apa yang kau lakukan pada ku? Tubuh ini memar karena pukulan mu!!!! Kau bahkan mencengkram leher ku. KAU INGIN MEMBUNUH KU KAK!!!"


Andi menitikkan air matanya.


"Kau minta aku untuk menggugurkan Nara? Bahkan Kau dan keluaga mu sudah menghina ku dan keluargaku." Jennie mencengkram baju Andi dengan kedua tangannya.


"LALU SEKARANG KAU BILANG KAU SAYANG? KAU SAYANG PADA ANAK YANG SEHARUSNYA SUDAH MATI DARI DULU, JIKA AKU MENURUTI KEMAUAN MU!!!"


Kening Jennie menempel di dada Andi, menangis sesenggukan.


"Kau tak tahu rasanya kala jadi aku kak Andi? saat aku harus menelan semua penderita, hujatan, dan juga cemooh dari semua orang karena aku hamil di luar nikah? Kau bahkan tidak pernah tahu betapa irinya aku saat melahirkan? Wanita-wanita yang ada di samping ku semua di samping oleh pria yang di sebut suami!!! Sedangkan aku?" Kembali sesenggukan.


Andi meraih kedua pergelangan tangan Jennie melepaskan cengkraman nya. Lalu bersimpuh di bawah kaki Jennie, dengan kepala tertunduk.


"Maafkan aku Jennie. Tolong maafkan lah aku."


Jennie menutup mulutnya dengan satu tangannya bahunya bergetar hebat karena tangisannya itu.


Kaki Jennie pun mulai melangkah mundur.


"Aku tidak bisa memaafkan mu kak Andi... Aku tidak bisa...hiks."


Andi meraih tangan Jennie. "Jennie ku mohon. Atau bila perlu hukum saja diri ku ini Jennie. Tolong hukum aku."


Jennie melepaskan tangannya dengan paksa. Lalu melangkah masuk dan menutup pintunya dengan kasar.


"Jennie, aku masih menyayangimu! Kau dan Nara! Itu yang perlu kau tahu!" Seru Andi yang masih pada posisinya bersimpuh di depan pintu yang sudah tertutup itu.


Tubuh Jennie yang tengah menyandar di balik pintu itu mulai merosot turun.


"Aku tidak mau memaafkannya, sudah terlalu sakit untuk ku. Sudah sangat sakit rasanya." gumam Jennie. Dari balik pintu.



Bagaimana bisa dia mengatakan itu saat ini? Setelah apa yang dia perbuat, dan kabur begitu saja, sehingga meninggalkan jejak luka yang sangat menyayat ini?


di luar Andi masih belum bergerak. Tangannya sedikit terangkat menyentuh pintu tersebut.


"Tolong Jennie... Tolong maafkanlah aku." Suara Andi di luar sudah terdengar sangat parau.


Jennie pun menutup kedua telinganya. Ia tidak mau mendengar apapun. Sungguh ia tidak ingin mendengar ucapan apapun darinya.


Dia tidak ingin lagi bodoh, karena masih ada sedikit rasa di hatinya.

__ADS_1


Memang tidak bisa di bohongi perasaan itu memang masih ada. Namun luka yang ia guratkan masih sangat membekas di relung hatinya. Sehingga membuat Jennie sulit untuk memaafkan Andi.


__ADS_2