
Dalam suasana remang, serta keheningan. Yang tersisa hanya nafas yang memburu. Andi menatap bengis pria yang kini tengah tersenyum seringai.
"Untung kau menurut, karena aku juga menggunakan sistem telepon otomatis. Hanya untuk berjaga-jaga."
"Matikan sistem itu."
"Sssssttt.... Kau pikir aku bodoh? Hahahaha."
Andi semakin menajamkan pandangannya kearah pria yang tengah tertawa itu.
"Aku tidak suka pengkhianatan. Kau tahu itu kan?" Suara itu lirih terdengar. Andi masih terdiam, ia mendengarkan setiap ucapan yang akan keluar dari mulut pria bengis itu. "Biasanya, aku akan langsung membunuh siapapun yang menusuk ku dari belakang."
Kraaakkk... Andi masih bersikap biasa, bahkan ketika pistol di tangan Arya kini telah menempel di kening bagian samping.
"Andi, kau itu anak kesayangan ku. Kenapa kau lakukan ini pada ku. Kembalilah... Mari kita kuasai dunia ini."
"Tidak...!" Andi menjawab dengan tegas.
"Kenapa kau lebih memilih mati? Apa kau pikir mati itu mudah?" Arya terkekeh. "Dasar bodoh..."
"Serahkan ponsel mu," titah Andi.
"Apa? Hahaha, untuk apa?"
"Sesuai perjanjian. Aku menyerah kepada mu, dan kau harus menghentikan niatan mu itu. Jadi? Serahkan ponsel mu sekarang." Salah satu tangan Andi menengadah.
"Hei... Terburu-buru sekali? Permainan belum juga ku mulai."
Buaaaaaakkkk Arya menghantam wajah Andi dengan tangan yang masih menggenggam pistolnya, hingga mengenai pelipis yang langsung membuat pria itu sedikit tersungkur.
Andi menyentuh bagian pelipisnya yang sedikit robek dan mengeluarkan darah.
"Jangan melawan, papa. Karena kau harus kembali kepada ku, jadi aku akan melakukannya lagi. Mendidik mu, agar kau lebih tahu diri."
Buaaaaaakkkk... sebuah tendangan kick back keras mengarah ke tubuh Andi. pria itu sedikit terpental menimpah beberapa papan yang berada di pinggir dinding. Braaaaaakkk...
Andi yang kala itu semakin meringis merasakan sakit di area punggungnya. Masih berusaha tak melawannya, sampai ponsel di tangan Arya mampu ia rebut.
Langkah kaki Arya terdengar, semakin mendekati pria itu. Ia menekuk satu lututnya lantas menarik rambut Andi, agar wajah itu terangkat.
"Kau tahu seperti apa hidup ku hingga detik ini? Yang hanya bermodalkan insting, antara membunuh lebih dulu atau terbunuh."
Braaaaaakkk...
"Aaaaaaaarrrrhhh....." Andi mengerang, akibat kening yang dihantamkan ke lantai dengan keras, lalu di tariknya lagi naik.
"Kenapa kau malah justru menghancurkan semuanya?"
Andi tersenyum sinis. "Kau sudah merugikan banyak orang, kau membunuh siapapun yang kau kehendaki. Kau...? Sudah sepatutnya binasa Arya."
__ADS_1
"Hahahaha... Aku benci orang-orang yang merubah dirinya menjadi baik."
Buuuaaaaaaakkk... Buaaaaaakkk... Buuuuukkk.... Tiga kali kepalan tangan itu mendarat di wajah Andi yang sudah mulai berlumuran darah.
"Ku beri satu kesempatan untuk mu. Kembali lah pada ku...!! Dan kau akan ku ampuni."
"Cih...!! Se.... sebaiknya kau... bunuh saja aku, Se... Sekarang."
"Kau pikir aku akan membunuh mu semudah itu? Kau itu melebihi Ken. Malah justru yang ingin ku bunuh bukan dirimu. Melainkan anak mu, itu kan kelemahan mu?"
"Jangan harap kau bisa menyentuhnya. Dia malaikat kecil ku. Yang akan ku jaga, sampai kapanpun." Tersenyum seringai setelah meludahi wajah Arya.
"Bedebah ini..." Arya yang semakin geram pun mencengkram baju di bagian dadanya. Membangunkan tubuh itu, lalu membantingnya lagi. Hingga menghantam meja yang seketika langsung hancur, tertimpa tubuh besar Andi.
Ia mengerang kuat, tatkala merasakan beberapa tulang rusuk yang sepertinya patah.
.
.
.
Di sekolah Nara.
Hujan di luar turun, gadis kecil itu menatap ke samping jendelanya, mengarah ke langit.
'panggil aku ayah.' suara Andi yang terngiang di benak gadis kecil itu.
Ya... Tiba-tiba saja gadis kecil itu mengingat pria yang ia panggil dengan sebutan ayah. Karena sudah beberapa hari ini, ia tak melihatnya datang menghampiri dia seperti biasa. Hingga terbesit rasa rindu di relung hatinya.
"Nara–" panggil guru tersebut yang kita sebut saja Bu Rania, karena mengira gadis itu tertidur. "Nara–"
"Ya Bu...?" Nara beranjak, terkesiap. sontak gadis itu langsung mendapatkan sorakan serta tawa yang mengejek dari teman-temannya. Nara langsung menunduk, malu.
"Nara, tidak mendengarkan penjelasan ibu ya?"
"Emmm?"
"Coba, tadi ibu menjelaskan tentang apa?"
"Tentang?" berfikir cukup lama. Hingga ia mendapatkan ejekan lagi dari para teman-temannya.
Guru wanita itu pun geleng-geleng kepala sembari tersenyum.
"Sudah ya anak-anak, jangan mengejek Nara lagi. Dan untuk Nara, lebih fokus lagi ya."
Gadis kecil itu mengangguk pelan. "Iya Bu."
Bu Rani tersenyum. "Sudah ya, yuk kita sambung belajar kita."
__ADS_1
"Iya Buuu..." jawab anak-anak kelas itu serempak. Dan kelas pun kembali di mulai.
–––
Kembali ke gedung kosong ...
Tangan Andi terkepal, ia masih berusaha untuk terjaga. Demi memastikan, agar Arya tidak menggunakan telfon genggamnya.
Sejenak ia merasakan, bubuk kayu yang berada di dekat telapak tangannya.
Sepertinya meja yang hancur ini tak terbuat dari kayu yang bagus, atau mungkin kondisi kayu yang masih muda. sehingga bisa mengeluarkan serbuk yang di akibatkan oleh hewan kecil yang menghasilkan teter kayu demi membangun sarang untuknya bertelur.
Andi menghitung langkah Arya yang semakin mendekat, dengan tangan yang sudah menggenggam teter kayu atau bubuk kayu tersebut. Dan saat pria licik itu semakin mendekat, ia pun melemparkannya tepat di bagian mata. Membuat pria itu terkesiap, dan mengusap-usap matanya yang pedih.
Kesempatan itu tak di sia-siakan oleh Andi yang langsung menyusupkan tangannya kedalam saku jas pria itu lalu meraih ponsel tersebut.
Braaaaakkk... Andi menghancurkannya dengan sekali hantaman.
"BRENGSEK...!!!" Arya mengarahkan pukulannya kepada Andi. Pria itu menahannya dengan satu tangan. Meraih bubuk itu lagi dengan satu tangan yang lain lalu menebarkannya ke bagian mata Arya.
"Aaarrggghhh... Siaal!!!"
Perlahan-lahan, Andi bangkit dari posisinya. Berusaha mendekati pistolnya, dengan posisi menahan sakit.
Arya yang menyadari itu, pun beranjak mengejar Andi. Ia meraih bagian leher Andi, mencengkramnya kuat dengan lengan itu.
Kedua tangan Andi memegangi lengan itu, berusaha melepaskan diri, di saat nafasnya mulai habis akibat tercekik.
"Aku tidak akan mendiamkan mu... Jika kau ingin mati, baiklah. Kau akan mati sekarang juga, KEPARAT...!!! Tapi tenang saja, kau tidak akan mati sendirian. Karena anak mu akan menyusul setelah ini."
Deg...!!!
'tidak...! Aku tidak boleh mati sekarang...!' gumam Andi dalam hati saat mengingat gadis kecilnya, tengah tersenyum. 'ku mohon, tubuhku... Kuatlah.'
Ia memegangi lengan itu dengan kuat lalu berusaha menarik tubuh Arya sekaligus, dan membantingnya kedepan.
Bruuaaaakkkk.... Keduanya tersungkur bersama. Arya mengerang dengan sangat kuatnya merasakan sakit. Sama halnya dengan Andi namun dia masih berusaha untuk menahan rasa sakit itu. Berusaha perlahan-lahan menyeret tubuhnya, semakin mendekati pria yang masih kesakitan di hadapannya. Hingga ia berhasil meraih kalung ratai yang melingkar di leher Arya.
Mata Arya membulat, saat merasakan leher yang tercekik.
Andi menggulung sedikit ditangannya. Greeeppp.... memperkuat jeratannya.
"Aaarrrggg..." Erang Arya, yang semakin tercekik.
"Kesalahan fatal dalam berkelahi. Adalah, Ketika kau memakai kalung." Tersenyum seringai, ia semakin memperkuat jeratan itu lagi. Hingga kedua kaki Arya mulai bergerak-gerak, meronta.
"Katakan selamat tinggal pada dunia ini, Bedebah...!!!"
"Aaaarrggggg.... aaaakkkkkkhhhh... kkkhhhhhggg..." Bola mata Arya sudah menatap keatas seluruhnya.
__ADS_1
"Mati lah kau....!!!"
"Kkkkkkkkhhhh...." Perlahan-lahan tubuh yang menggeliat-geliat itu semakin merenggangkan tubuhnya dan, dengan suara nafas yang mungkin sudah sampai di kerongkongan. Arya pun tewas dengan mata yang masih terbuka serta lidah yang terjulur keluar.