
Menjalani hidup sendiri memang tidak mudah, tidak jarang juga beberapa tetangga menanyakan keberadaan sang suami. Walaupun sekeras apapun dirinya menutupi.
Kabar bahwa dirinya adalah seorang ibu yang tak pernah memiliki status pernikahan pun menyebar, hingga kini pandangan buruk pada dirinya kembali.
Bahkan dengan jahatnya banyak di antara mereka yang menjauh akibat takut jika Jennie termasuk seorang wanita kesepian yang haus akan belaian pria. Sehingga membuat sebagian dari mereka takut suaminya akan ter gaet pesona Jennie yang terkenal gadis paling cantik di kawasan tersebut.
***
Tidak terasa sudah lewat lima tahun dari semenjak dirinya pindah tempat tinggal Jennie kini bekerja di sebuah Hotel berbintang. Sebagai pelayanan kamar.
Sebagai pekerja yang rajin dan disiplin tak jarang Jennie sering mendapatkan pujian dan tips dari para pelanggannya.
Malam itu seorang tamu berwarganegara asing tengah menginap.
Ada tiga orang pria di sana, memesan sebotol wine dan beberapa makanan lainnya. Jennie mengantarkan pesanan mereka lalu mengetuk pintu kamar 775.
Seorang pria bertubuh kekar membukanya.
"Excuse me sir, Room service." Jennie tersenyum ramah. Pria itu mengusap dagunya sendiri terlihat dari pandangannya ia tertarik pada wanita itu.
"Bisakah hanya anda saja yang masuk. Pria ini tidak usah." Ia menunjuk seorang pria yang tengah mendorong trolinya. Berucap menggunakan bahasa Inggris.
"Ahhh maaf Tuan, karena saya membutuhkan bantuannya jadi kami harus bekerja sama." jawab Jennie ramah.
"Nona, aku membayar mahal untuk pelayanan kamar ini, jadi sebaiknya kau saja yang masuk kedalam,dia tidak usah." Pria itu menarik lengan Jennie masuk, sedangkan Jennie berusaha menahannya.
Pelayan pria itu pun berusaha membantu Jennie dan dengan cepat pula dua orang pria kekar lainnya mendorong bahunya.
"Tuan tolong, kami hanya bekerja. Jangan?" Pria itu sudah menarik Jennie masuk, dan menutup pintunya.
Tok tok tok.... "Tuan, mohon buka pintunya." Pelayan pria yang bersama Jennie berusaha menggedor pintu yang sudah tertutup.
Ia pun merasa khawatir saat Jennie sudah di bawanya masuk. Hingga seorang pria berjas rapih menghampirinya.
__ADS_1
"Hei kau! Apa yang terjadi? Kenapa kau mengetuk pintu itu dengan keras?" Tanya pria berambut gondrong.
"Maaf Tuan Excel, mbak Jennie salah satu pelayan room service, di paksa masuk oleh tiga tamu di dalam. Saya khawatir mbak Jennie akan di apa-apakan."
Excel pun mengetuk pintu tersebut. Tok tok tok...
"Tuan! Tolong buka pintunya, mohon keluarkan karyawan hotel ini!! Anda sudah menyalahi etika!" Seru Excel.
"Tu...Tuan Excel maaf, mereka itu bule, jadi anda harus menggunakan bahasa Inggris."
"Isssshhh kenapa tidak bilang dari tadi sih?" runtuk Excel.
Tok tok tok. "Tuan yang ada di dalam tolong buka pintunya!" Menggunakan bahasa Inggris. Excel menoleh kearahnya. "Cepat hubungi bagian resepsionis untuk membawakan kucing kamar ini." Titah Excel.
"Baik Tuan." Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menjalankan apa yang yang di perintahkan Excel.
Di sisi lain Jennie yang mulai merasa takut, saat pria itu menyuruhnya duduk di atas ranjang, mulai membelai rambutnya.
Jennie menggeleng. "Tuan, saya hanya ingin bekerja dengan semestinya. Saya tidak menjual harga diri saya." ucap Jennie dengan bahasa Inggris yang lumayan fasih.
Pria itu tersenyum, ia meraih dagu Jennie. "Hanya sebentar Nona."
Jennie berusaha mengalihkan wajahnya dari pria itu. Yang mulai meletakan tangannya di bagian paha kaki Jennie.
Meremas nya pelan. "Aku sedikit suka wanita yang ketakutan seperti ini." Ia tergelak. Sedangkan Jennie berusaha menepis tangan nakalnya itu. Jennie mulai menangis. Ia benar-benar ketakutan.
'Oh Tuhan, tolong kirimkan malaikat untuk menolong ku.' batin Jennie. Saat pria itu mulai membuka atasannya.
Cklaaaaakkk pintu pun terbuka. Jennie melihat pria gondrong yang hanya sebatas bahunya itu masuk. Dengan jas rapi ia mendekati mereka.
"Mohon maaf Tuan, sudah mengganggu ketenangan kalian, saya putra pemilik hotel ini. Kami tidak bisa membiarkan adanya tindakan asusila yang terjadi pada seluruh karyawati, Atau tindakan kekerasan dalam bentuk apapun pada seluruh karyawan dan staf yang bekerja di hotel ini. Mohon untuk melakukan check-out, dan uang kalian akan saya kembalikan seluruhnya." Excel pun memberi kode pada menager hotel untuk mengurus ini. Sedangkan ia menggandeng tangan Jennie keluar.
Di area lobby tepatnya di dekat sofa tamu, Excel melepaskannya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Excel.
__ADS_1
Jennie menggeleng. "Terimakasih banyak Tuan, Anda sudah menolong saya." Jennie berusaha tersenyum, walau tubuhnya masih gemetaran. Dan lagi ia seperti kenal dengan pria itu tapi siapa??
Excel tersenyum. "Kau pasti karyawan baru, kenalkan nama saya?" Plaaaaaaakkkk Jennie terperanjat kaget. Kala seseorang sudah memukulkan sesuatu pada pria di hadapannya.
"Aaaarrrrggghhh...!" Excel pun mengerang saat sebuah gulungan majalah yang tebal mendarat dengan keras di kepalanya. "Sialan siapa yang?" Excel menoleh. Wajah kesalnya berubah pias saat mendapati seorang wanita paruh baya tengah menatap tajam ke arahnya.
"Ma... Mamih?"
"Bujang lapuk!! Baru datang kau rupanya hah!"
"Siapa yang mamih sebut bujang lapuk sih? Ahhh menyebalkan sekali." Excel mengusap kepalanya.
"Cepat masuk ke kantor ku."
"Tidak mau, Excel itu hanya sebentar saja. Kalau ingin bicara, katakan saja di sini."
"Ck ck ck cecunguk tidak berguna ini cari mati rupanya." Ibu Miranda pun mengangkat kembali gulungan majalah itu dan memukuli putranya dengan brutal.
"Aarrrgggghhh! Cukup! Hentikan, sudah hentikan mamih!!" Excel masih berusaha menangkis pukulan itu dengan lengannya, sedangkan di sisi lain Jennie hanya menatapnya sembari sesekali meringis melihat sang Presdir wanita memukuli putranya.
Memang pemandangan yang sangat langkan bagi Jennie.
"CEPAT MASUK ATAU KU GANTUNG KAU DI LOBBY INI!!!" pekiknya, membenahi jas yang beliau pakai lalu berjalan meninggalkan putra songongnya itu.
"Haaaiiiisssss, punya mamih sebrutal itu benar-benar membuat ku bisa mati muda!" runtuk nya.
Excel pun beranjak meninggalkan Jennie yang masih menatapnya bingung.
Jennie menghela nafas saat Excel sudah masuk kedalam lift. "Tadi siapa ya namanya? Dia belum memberitahu, tapi siapapun kau Tuan Muda, aku berterimakasih sekali." Jennie tersenyum lega.
Ia kini bisa menjalani pekerjaannya kembali.
Bersambung...
__ADS_1