Ayah Untuk Putri Ku

Ayah Untuk Putri Ku
keinginan menyesakkan Andi bagi Jennie.


__ADS_3

Jennie merasa lemas. Entah berapa kali ia muntah pagi ini. Obat mual muntah yang ia beli bahkan tidak mempan baginya. Tetap saja ia masih merasakan perutnya yang tidak enak itu.


Drrrrrrrt drrrrrrrt ponselnya bergetar. Jennie meraihnya lalu membuka salah satu pesan singkat yang masuk.


( By my Love Andi) benar ia belum mengganti nama Andi di kontak ponselnya.


(Temui aku sepulang sekolah nanti di belakang gedung ini,dekat pohon beringin, aku tunggu.)


Hanya itu yang di tulis Andi. Jujur saja perasaan Jennie tidak enak, pria itu jangan-jangan merencanakan sesuatu tindakan kriminal. Terlihat dari caranya mencekik dirinya kemarin, apa mungkin dia akan membunuh ku, begitu pikir Jennie yang merasa Khawatir.


"Bagaimana ini? Apa aku beritahu kak Alvian ya untuk menemani ku?" gumamnya merasa ini sangat aneh. Namun ia menepis semua itu dan tetap menemui Andi sendirian.


**


Sepulang sekolah....


Berjalan pelan Jennie menghampiri sesosok pria yang tengah merokok di atas motornya. Sendirian tanpa siapapun.


"Kak... Kak Andi." panggil Jennie tergagap. Ia berdiri berjarak dua meter dari posisi Andi. 'Takut, aku takut di dekatnya sekarang.' batin Jennie tertunduk, ia masih trauma tangan besarnya itu akan memukulinya lagi seperti kemarin.


Andi mendesah sinis. "Benar kau hamil?" tanya Andi. Jennie mengangguk kepalanya.


"Apa kau punya bukti kalau akulah yang menghamili mu, soalnya kau sangat mudah ku tiduri. Tidak menutup kemungkinan kan, kau juga melakukan hal yang sama dengan pria lain di belakang ku." tuturnya sembari menghembuskan asap rokok itu ke arah Jennie.


Tangan Jennie terkepal "Sebagai seorang pria, seharusnya kau paham kak Andi, kau pasti bisa merasakan selaput darah ku. Dan kau melihat darah yang keluar saat kau memaksa masuk kan?" ucap Jennie memberanikan diri menatap ke arah pria bringas di dekatnya.

__ADS_1


"Hahaha." Andi tergelak ia melempar rokok di tangannya. "Benar, aku memacari gadis cerdas dalam hal pelajaran jadi kau paham tentang hal itu." Beranjak lalu jalan mendekati Jennie menariknya dan mengungkungnya di bawah pohon yang rindang itu. Suasana di sana sangat sepi itu sebabnya membuat Jennie merasa sangat takut.


"Aku ingin kita berdamai sayang. Aku masih mencintai mu loh sebenarnya." bisik nya di dekat telinga Jennie. Yang seperti angin segar baginya.


"Apa kakak akan bertanggung jawab?" tanya Jennie dengan senyum polosnya itu.


"Iya." jawabnya, bibirnya sudah berada di dekat rambut Jennie mengendus nya dengan penuh gairah. "Aku tidak suka Selly, dia tidak secantik kau. Tidak sewangi kau, aku hanya ingin kau Jennie. Tapi sayang kau malah sudah hamil." Jennie beringsut, Tiba-tiba ia sedikit ngeri pada Andi.


"Kalau kita gugurkan kandungan mu saja bagaimana? Lalu kita rajut kembali hubungan kita sayang. Jadi aku masih bisa meniduri mu lagi sampai puas." Bisik nya. Jennie membulatkan bola matanya. 'Pria ini sinting, benar kata Kak Alvian dia ini predator.'


"Aku tidak mau kak." Jennie menekan dada Andi berusaha mendorong tubuh itu agar menjauh darinya.


Andi meraih dagu Jennie memeganginya dengan satu tangan, "Kenapa? Katanya Jennie mencintai kak Andi? Dan mau kak Andi bertanggung jawab kan? Ini aku akan bertanggung jawab, kita cari bidan yang bersedia melakukan ab*si sayang, kita tetap bisa bersekolah dengan aman, dan hubungan ini tetap bisa terjalin. Aku itu mencintaimu Jennie." Andi mendekati bibir yang sedari tadi sudah menggoda baginya. Lagipula masih belum puas bagi Andi bermain dengan gadisnya. Sangat disayangkan karena Jennie harus hamil secepat itu.


"Aaaaarrrggghhhh!" Andi mengerang ia lantas meninju pohon tepat di samping wajah Jennie. Membuat Jennie terperanjat kaget, nafasnya memburu merasa takut karena mimik wajah menakutkan dari Andi, yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Kau mau menolak ku?"


"Hiks, tolong jangan lakukan ini kak, aku takut." Jennie mulai terisak.


"Tidak perlu menangis Jennie, aku hanya ingin kau menurut pada ku. Ayo lakukan ab*rsi itu. Dan selamatkan aku juga, tolong mengerikan lah, aku bisa di bunuh ayah ku, jika ia tahu aku menghamili anak orang!!" Seru Andi.


Jennie masih gemetaran. "Ka...kau pengecut kak Andi." gumam Jennie lirih.


"Apa kata mu?"


"Kau pengecut! Kau berani melakukan itu pada ku tapi kau ingin lari dari tanggung jawab mu, kau pikir hanya kau yang takut karena kehamilan ku ini? Aku juga kak Andi. Ayah ku juga pasti tidak akan membiarkan ini begitu saja!!"

__ADS_1


"KALAU BEGITU MENURUT LAH DAN GUGURIN KANDUNGAN MU INI!!!" Pekik Andi.


Jennie menggeleng pelan. "Tidak mau. Aku akan tetap mempertahankannya."


Andi menuding kening Jennie. "Dasar otak dangkal, bagaimana bisa kau mempertahankan itu hah!!!!" Seru Andi.


"Kau ingin membesarkan anak itu di dalam rahim mu dengan seragam putih Abu-Abu mu? Otak mu di taruh dimana sih?"


"Ki, kita sudah bersalah melakukan hubungan terlarang itu kak, kita sudah melakukan dosa besar! Jika kita menggugurkan janin ini apa tidak semakin berdosa?" Jennie menangis sembari memegangi lengan Andi.


"Dan saat ini aku hanya ingin kau bertanggung jawab kak Andi. Kau harus mendampingi ku mengatakan semua kondisi ini pada orang tua ku kak."


Andi menggerakkan kasar lengannya sampai kedua tangan Jennie terlepas. "Apa maksud mu aku harus mengatakan akulah yang telah menghamili mu didepan orang tua mu, setelah itu menikah? Dan urusan selesai begitu saja? Dasar bodoh!!!" Andi menuding kening Jennie.


"Kau pikir hidup ku akan selamat setelah ini?"


"Kak, aku tahu orang tua kita pasti akan marah namun setelahnya mereka pasti akan menerima kondisi kita."


"TAHU DARI MANA ITU? MEMANG KAU KENAL SIAPA AYAH KU?" seru Andi. Jennie pun bungkam.


Andi menghela nafas. "Aku hanya memberimu pilihan itu. Gugurin janin itu, atau urus anak itu sendiri dan jangan libatkan aku, aku tidak mau tahu." Andi berjalan mendekati motornya lalu menaikinya. Setelah itu motor pun melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Jennie yang masih menangis di sana.


Begitu mudahnya pria mencari solusi, demi bisa menghindari masalah yang ia buat sendiri. Tanpa memikirkan resiko lain yang bisa di alami Jennie jika ia benar-benar menggugurkannya.


Di bawah pohon yang rindang itu ia masih mampu bernafas lega pasalnya Andi hanya menggertak nya demikian, tidak memukulinya lagi seperti kemarin. Namun tetap saja. Ia masih kecewa dengan ucapan Andi tadi yang menginginkan dirinya melakukan Ab*rsi demi bisa lari dari tanggungjawabnya.

__ADS_1


__ADS_2