
Satu jam kemudian...
Ia mendapatkan kabar dari sang ayah jika hasil lab sudah keluar. Dimana Andi mengalami penyakit yang cukup, bahkan sudah memasuki stadium akhir.
sementara peradangan yang di alami Andi semakin parah, membuat dokter tidak bisa menunda lagi operasinya.
Jennie yang mendengar itu pun langsung bergegas menuju rumah sakit. Ketika dirinya sudah tidak bisa lagi menunggu hingga tiba waktu petang, sampai Excel benar-benar datang menjemputnya.
'maafkan aku mas Excel. Aku harus menemui kak Andi, demi mengetahui kondisinya.' batin Jennie di dalam taksi online.
Setibanya di rumah sakit, ia langsung menuju pintu ruangan operasi dan menunggu di sana hingga beberapa jam.
–––
Beberapa jam kemudian Andi sudah keluar dari ruangan operasi dan di pindahkan ke ruangan khusus paska operasi, sembari menanti pria itu siuman.
Jennie terdiam di sebelah bed pria yang masih memejamkan matanya. Menatap sendu, yang tersirat sebuah rasa kekhawatiran. Tidak munafik... Pria itu pernah mengisi hatinya, hingga bertahun-tahun lamanya bahkan menitipkan benih yang amat ia sayangi hingga saat ini.
Menunggu dan menunggu, Andi belum juga terbangun dari tidur panjangnya. Setelah mengetahui hasil diagnosa dari dokter yang merawatnya. Tangannya kala itu bergetar, membaca hasil dari lab tersebut. Ia tidak percaya pria seperti Andi bisa mengidap penyakit separah itu.
'kanker paru-paru?' batin Jennie, sekilas ia mengingat, ekspresi kebahagiaan Nara saat berada di dekat Andi, di tambah tangis sang anak saat Andi tak sadarkan diri.
Jennie mengerjap, menitikkan bulir bening dari kedua matanya secara bersamaan. Perlahan tangannya itu terangkat, ia menyentuh punggung tangan Andi dan menggenggamnya.
Namun segera ia lepaskan lagi, ketika mengingat semua yang sudah pria itu lakukan terhadap dirinya.
Jennie mengamati wajah yang masih tenang dalam tidurnya itu, memikirkan sesuatu yang entah apa.
Duduk dalam posisi semakin menundukkan kepalanya, ia terisak-isak, padahal dia sendiri sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
Hingga sepasang mata yang terpejam itu mulai bergerak, dan perlahan-lahan terbuka.
Samar... Hanya nampak cahaya, serta sedikit suara seperti Isak tangis. Itu yang di rasakan Andi. Hingga pandangan yang kabur itu berangsur-angsur semakin jelas. Ia mencoba mencari sumber suara yang semakin terdengar menyayat hati.
'Jennie?' kepalanya sedikit menoleh, walaupun ia hanya melihat seorang gadis yang tengah tertunduk. Namun ia yakin itu adalah Jennie, bibirnya yang pucat tersenyum. Tangannya perlahan-lahan ia angkat, demi bisa menyentuh kepalanya.
__ADS_1
Sementara Jennie yang merasakan adanya sentuhan di kepala, langsung saja menghentikan tangisnya. Lalu melirik kearah Andi, mendongak.
Pria itu semakin mengembangkan senyumnya. Gadis itu segera beranjak, dan menyeka air matanya.
"Kau menangis karena aku?" Tanyanya lemah.
"Tidak..."
"Hemmm... Senangnya." Tersenyum lagi, lalu meringis.
"Apa kau merasakan, sakit?" Tanya Jennie khawatir.
"Iya."
"Di mana?"
"Di sini." Menyentuh dadanya. "Aku merindukan mu, tapi kau menolak rindu ku. Jadi sakit di sini."
Jennie hanya mendengus. Menatap tidak suka. Terlebih ketika Andi tertawa, dan setelahnya terbatuk-batuk sembari memegangi bagian yang luka.
"Aku baik-baik saja. Dan aku senang kau ada di sini." Andi meraih tangan Jennie. "Terimakasih."
Gadis itu terdiam, dan perlahan menarik tangannya, melepaskan diri dari genggamannya. Andi tertegun sejenak.
"Maaf... Aku tahu, kau pasti masih benci pada ku."
"Itu benar... Sangat..."
Andi hanya memaklumi itu, dan tidak berniat untuk menjawab lagi.
"Delapan tahun, bukanlah waktu yang sebentar. Untuk menjalani hidup seperti ini," gumam Jennie, dengan tatapan sendu masih terarah pada Andi. "Kau pernah menjadi pria paling ku cintai setelah ayah ku. Tapi, secepat itu pula kau bakar perasaan ku dengan perlakuan mu."
Menghela nafas sesak, berusaha mengontrol diri. Ya... dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi di hadapan pria itu.
"Andai aku bisa mengembalikan waktu. Sungguh aku sangat menyesal," bergumam lirih, pria itu. Tubuhnya seperti lebih lemah dari sebelumnya, bahkan untuk berbicara pun Andi memerlukan tenaga lebih.
__ADS_1
"Sayangnya, catatan masa lalu tidak bisa di ubah, kak Andi."
"Aku tahu Jennie." Andi hendak meraih tangan Jennie, namun gadis itu menjauhkannya, tidak ingin di sentuh. Ia memalingkan wajahnya, dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Sementara Andi masih menatap penuh rasa bersalah.
"Andai saja dulu, kau bukan pria pengecut yang jahat...! Semua pasti akan baik-baik saja, andai saja kau mau bertanggung jawab kak, dan kau tidak melarikan diri lalu bersembunyi di balik nama ayah mu? Apapun diri mu... Seperti apapun kehidupan kita, Aku akan menerima mu. Walaupun harus sama-sama di usir oleh kedua orang tua kita. Aku tidak akan merasakan penderitaan ini, dan Nara? Ia tidak akan pernah di ejek sebagai anak yang tak memiliki Ayah..."
Suara Jennie mulai serak, ia kembali menunduk, meremas kain seprai dengan kedua tangannya yang terkepal kuat. Menahan goncangan tubuh akibat tangis yang sudah tak terbendung.
"Jen..."
"Dan sekarang kau sakit kanker paru-paru...?"
Deg...! Andi tercengang, Jennie tahu penyakitnya, apa dokter yang mengatakan itu?
"Nara baru mengenal ayahnya? Dan bahagia saat tahu ayahnya adalah dirimu tapi kenapa saat hari ini hadir, hidup mu malah justru sudah tergerogoti penyakit mematikan?" Jennie kembali terisak. "Kenapa kau tidak bisa menjaga diri mu, sih? Paling tidak, sehatlah untuk anak mu, walaupun kau tidak ada niatan untuk dekat dengan Nara sekalipun...!!"
Mata Andi mengerjap, menitikkan air mata.
"Kenapa kau tidak bisa menjaga diri mu sendiri demi Nara, kenapa? Hiks..."
Andi meraih tangan Jennie menarik gadis itu hingga terjatuh ke dadanya.
"Maaf... Maafkan aku."
"Lepaskan aku, Kak. Maaf mu tidak akan merubah takdir, nyatanya kau sakit, kan?"
"Sungguh maafkan aku, ini hukuman untuk ku Jennie. Ini lah hukuman ku," Andi mempererat pelukannya. Tubuhnya berguncang.
Di saat yang sama, mata Excel menatap sendu kearah kaca. Melihat Andi yang tengah memeluk gadisnya. Ia sedikit mendengarkan ucapan Jennie dan Andi tadi. Namun ia tidak berani masuk. Excel tersenyum tipis.
'Benarkah yang orang katakan? Jika tidak akan mungkin, orang baru bisa menggantikan sosok yang lama secepat itu. Andi adalah cinta pertama mu, mungkinkah aku harus berhenti? Karena mungkin dia lah yang di butuhkan Nara.' batin Excel masih menatap kearah mereka berdua. Ia menghela nafas panjang, dengan mata yang bergerak-gerak lalu menyentuh dadanya.
Excel tersenyum seraya menunduk lalu memutar tubuhnya berniat untuk pergi dari tempat itu.
__ADS_1