Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 11 Azka Narendra


__ADS_3

Dania segera memesan ojek online di saat cafe sudah tutup sekitar pukul 00.30. Sebagian besar para karyawan sudah pulang mengendarai kendaraan masing-masing.


Keadaan cafe sangat ramai, para karyawan menyambut dengan ramah dan tanpa lelah. Semua orang yang datang begitu antusias untuk mencoba semua makanan dan minuman yang ada di sana. Yang hampir semuanya enak-enak, setidaknya itu yang dikatakan oleh para pengunjung.


Mobil Almeer langsung berhenti di depan Dania, sedikit membuka kaca mobil lalu meminta Dania untuk naik ke mobilnya. Almeer berinisiatif untuk mengantarkan Dania pulang.


"Ayo, Dania. Aku akan mengantar mu pulang. Ini sudah sangat malam, tidak baik wanita cantik seperti mu masih ada di luar."


"Tidak, Pak Almer. Terima kasih tapi saya sudah memesan ojek online."


"Ini demi kebaikan mu, Dania. Ayo lah jangan sungkan begitu, aku berbuat ini karena kamu karyawan cafe." Almeer berusaha membujuk Dania supaya mau cepat masuk ke dalam mobilnya.


Dania yang masih ingin bertahan dengan menunggu ojek online nya harus kecewa dan menerima tawaran Almeer. Sebab ojek online nya membatalkan pesanan dari Dania. Tidak mungkin juga Dania masih menunggu di sana, sementara sudah tidak ada yang lain.


"Dasar wanita murahan." Batin Azka yang sejak tadi ada di belakang mobil Almeer.


Azka tidak menyukai jika Dania masuk ke dalam mobil Almeer, dekat dengan Almeer atau pun Shaka hanya untuk kepentingan Dania. Sebab wanita murahan seperti Dania memang membutuhkan pria-pria kaya untuk mempermulus hidup mereka. Apalagi Azka tahu jika Dania sedang membutuhkan banyak uang untuk membayar hutangnya pada bank.


"Kamu kenapa sayang?. Sejak tadi memperhatikan Almeer dan pelayan itu. " Tanya Joanna yang duduk di sebelah Azka, Joanna menyadari sikap Azka yang tiba-tiba berubah karena melihat mereka.


"Tidak ada, semoga saja Almeer tidak termakan rayuan wanita itu. Karena sepertinya wanita itu pandai menggoda dengan wajah lugunya."


"Paling juga Almeer hanya main-main, sayang. Tidak seperti kamu ke aku yang sangat serius." Joanna menempelkan dadanya pada lengan Azka.


Azka merasakan sesuatu yang kenyal di sana. Tapi Azka malah membayangkan dada Dania yang masuk ke dalam mulutnya. Azka menggeleng berulang kali sambil bergumam. "Kenapa harus mengingatnya coba?."


"Kamu bicara apa, sayang?."


"Ah, tidak."


Azka semakin menambah kecepatannya supaya cepat sampai rumah. Dirinya tidak bisa berlama-lama dengan pikiran yang terus saja tertuju pada tubuh Dania yang sudah sangat dihafalnya.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Dania sudah rapi dan bersiap pergi ke sekolah, tapi tidak menaiki angkot lagi. Karena Almeer sudah berjanji akan menjemputnya lagi, padahal Dania sudah sangat berusaha menolaknya.


"Apa pekerjaan mu tidak menganggu sekolah mu, Nia?." Tanya Mama Ningrum saat mereka masih di meja makan.


"Enggak, Ma. Dania tetap akan memprioritaskan sekolah dari pada pekerjaan. Tapi jujur saja, Dania sangat menyukai pekerjaan ini." Dania begitu antusias menceritakannya bagaimana suasana di cafe yang sangat ramai.


"Mama dan Papa takut saja kalau kamu akan kelelahan dengan bekerja yang seperti sekarang ini." Mama Ningrum memperlihatkan kekhawatirannya.


"Iya, Nia. Semalam saja kamu sampai rumah jam 02.00, belum lagi harus bangun pagi dan fokus pada sekolah." Papa Hamzah ikut khawatir.


"Papa Mama tenang saja, aku akan belajar untuk membagi waktu dan tenaga ku sebaik mungkin. Supaya keduanya tidak saling mengganggu satu sama lain."


Tin...Tin...Tin...


"Dania pamit Ma, Pa. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Nia. Hati-hati."


Dania meninggalkan kedua orang tuanya yang masih di meja makan, sebelum itu Dania juga sudah menceritakannya sosok Almeer yang merupakan atasan sekaligus kakak tingkat di kampus yang satu lingkungan dengan sekolahnya.


Dania berusaha bersikap biasa saja, meski sebenarnya Dania merasa takut jika Azka akan menyakitinya lagi karena mereka sering bertemu.


"Sepertinya Almeer serius sayang pada pelayan itu?." Ucap Joanna yang menempelkan tubuhnya pada tubuh samping Azka.


Lagi-lagi, bayangan tubuh Dania yang Azka ingat di dalam pikirannya. Entah sudah berapa persen tubuh Dania memenuhi isi kepala Azka?.


"Aku tidak peduli." Azka berlalu pergi, meninggalkan Joanna yang masih melihat Dania dan Almeer yang berjalan kearahnya.


Dania segera pamit dan mengucapkan terima kasih pada Almeer sebelum sampai di tempat Joanna. Dania tidak ingin mencari masalah baru, karena masalahnya yang sekarang saja masih banyak dan belum ada yang selesai.


Salma dan Fathia melambaikan tangan pada Dania, Dania menunggunya di depan kelas kemudian mereka baru masuk bersama.

__ADS_1


"Medina katanya telat, dia bangun kesiangan karena habis nonton sampai pagi" Salma membacakan pesan Medina yang baru masuk beberapa detik.


"Tumben banget Medina. Biasanya dia paling getol, tidak peduli habis nonton atau pun habis nongkrong. Pasti bisa bangun pagi." Salma mengerutkan dahinya karena merasa heran dengan kebiasaan Medina yang mulai mengendur.


"Mungkin Medina benar-benar kelelahan dan tidak bisa bangun pagi, Salma."


"Bisa juga sih." Jawab Salma dan Fathia serempak.


Sementara itu di kampus, saat mereka sedang berkumpul. Pikiran Azka sangat kacau, isi kepalanya hanya tentang gadis berseragam putih abu-abu yang sudah tidak gadis lagi karena ulahnya.


Kehadiran Joanna disampingnya tidak mampu meredam gejolak hasratnya pada Dania. Sampai-sampai Azka harus mengusap kasar wajahnya yang dipenuhi oleh keringat.


"Kamu sakit, sayang?." Tangan lentik Joanna mengusap wajah Azka yang kembali berkeringat.


Azka menggeleng lemah, bukan Joanna yang diharapkan menyentuhnya, Azka hanya menginginkan tangan Dania yang memegang wajahnya, sama seperti saat Dania melepas kegadisan untuknya.


"Kalian temani Joanna!, aku ada urusan!." Tanpa menunggu respon dari mereka, Azka segera berlari kearah gedung kampus. Di mana ada satu ruangan yang biasa dipakainya jika terpaksa harus menginap di kampus.


Brak


Setelah pintunya tertutup, Azka langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang tidak terlalu luas tapi cukup nyaman bila di pakai untuk istirahat.


Gejolak hasrat Azka semakin meningkat sampai ke ubun-ubun. Sehingga tanpa pikir panjang lagi Azka langsung meraih ponselnya dan segera menghubungi orang yang sudah lama mengabdi di kampus mereka.


Hanya membutuhkan waktu setengah jam saja bagi orang dalam itu untuk memenuhi apa yang di minta oleh Azka Narendra.


Sedangkan Salma, Fathia dan Medina hanya saling tatap saat Dania di minta datang ke gedung kampus karena ada urusan penting.


"Kira-kira urusan penting apa?." Tanya Salma.


"Mungkin ada hubungannya dengan beasiswa." Jawab Fathia menimpali.

__ADS_1


"Benar, bisa jadi. Sekarang sudah tidak aneh kalau Dania sering di panggil ke gedung kampus karena Dania akan menjadi anak emasnya kampus itu." Medina ikut berkomentar.


"Setuju." Timpal Salma dan Fathia berbarengan.


__ADS_2