
Rania dan Radit sudah sama-sama masuk penjara dan ternyata bukan hanya mereka saja karena ternyata ada Joanna. Tapi, mereka bertiga di tangkap di tempat yang berbeda. Kalau Rania diamankan di tempat kejadian perkara, berbeda dengan Radit yang berusaha melarikan diri ke kota Semarang namun dengan sigap pihak polisi sudah menangkapnya. Dan Joanna sendiri di tangkap saat berada di kediaman kedua orang tua Joanna yang baru setelah keluar dari rumah Azka.
Ketiganya terlibat dalam jaringan pemakai dan pengedar obat-obat terlarang. Apesnya sedang ada pada Joanna, baru hanya dalam hitungan hari saja dirinya ikut bersama Radit dalam dunia bisnis itu. Itu pun karena terjebak keadaannya yang harus menanggung malu karena batal rencana pernikahannya bersama Azka. Eh, sudah harus langsung berurusan dengan pihak polisi.
Sedangkan Rania dan Radit sudah lama bergelut dalam dunia hitam itu. Itu pun berawal dari Radit, Rania hanya ikutan dan coba-coba saja tapi lama kelamaan terjerumus juga.
Radit, Rania dan Joanna memiliki kesempatan untuk menghubungi keluarga masing-masing. Joanna sudah sangat merasa senang karena bisa secepatnya keluar dari sana. Namun sayangnya dari pihak keluarga Joanna tidak ada yang mengangkat teleponnya, termasuk Adnan.
"Ah sial, kenapa tidak ada yang mau mengangkat telepon ku?." Ucap Joanna frustrasi sambil mengusap kasar wajahnya.
Rasanya lebih baik menahan malu batal menikah dengan Azka dari pada dirinya berada di tempat yang tidak pernah terbayangkan dalam benaknya.
Sedangkan Radit dan Rania sudah pasrah jika mereka akan dijatuhi hukuman berat. Mau minta tolong pun pada siapa?. Dania juga tidak mungkin membantunya, ya karena mau membantu dengan cara apa?.
"Kalian tidak menelepon keluarga kalian?." Tanya petugas yang baru saja menerima ponsel dari Joanna.
Radit dan Rania sama-sama menggeleng, lalu petugas itu pun meninggalkan mereka bertiga dalam penjagaan yang super ketat.
Sementara itu di rumah sakit, Inara tidak perlu bersusah payah untuk membujuk Dania supaya tinggal di rumah milik mereka sampai bayi itu lahir.
Karena sebelumnya Barata sudah bernegosiasi bersama Dania sehingga sampai pada keputusan jika Dania bersedia ikut mereka.
"Aku senang kamu mau ikut bersama kami."
Dania hanya tersenyum tipis.
Karena bagi Inara sendiri tidak pernah memandang orang dari latar belakangnya. Asalkan orang itu baik, sopan dan tidak aneh-aneh, dirinya bisa menerima siapa pun yang dekat dengan Azka, sekalipun itu nanti istri putra semata wayangnya.
Dan Almeer yang sudah berada di rumah sakit pun karena dihubungi oleh Barata supaya secepatnya datang ke rumah sakit. Tidak bisa menolak permintaan Inara dan Barata, dengan berat hati membiarkan Dania tinggal di rumah Azka.
Dengan catatan Almeer tetap yang mengatar jemput Dania bekerja dan Almeer bisa kapan saja datang bertemu dengan Dania di rumah itu.
__ADS_1
"Deal, pejuang cinta! ." Goda Barata. Pria paruh baya itu tahu begitu besar cinta yang dimiliki Almeer untuk Dania.
Almeer tersenyum kearah Barata lalu menatap tajam pada rivalnya. "Aku hanya tidak ingin ada yang menikung ku."
"Ok, aku hargai itu." Barata menepuk punggung Almeer dan mereka berpelukan.
Azka tidak menanggapi apa pun baik itu yang dikatakan oleh Barata atau pun Almeer. Semuanya sah-sah saja dalam urusan cinta.
Mereka pun saat ini sudah berada di dalam perjalanan menuju rumah Azka. Barata, Azka dan Inara berada dalam satu mobil. Sedangkan Dania berada dalam satu mobil bersama Almeer.
"Kak Almeer." Dania melirik Almeer yang sejak tadi tidak bicara padanya. Mungkin pria itu marah padanya atau pada Azka atau pada keadaan mereka saat ini.
"Kenapa harus Azka yang menyelamatkan kalian?. Kenapa bukan aku yang Tuhan kirim untuk menyelamatkan mu dan bayi mu?." Ucap Almeer penuh kemarahaan pada dirinya sendiri.
"Kak..."
"Aku sangat takut kamu akan kembali pada Azka, Dania!. Apalagi diantara kalian ada bayi itu, aku harus apa Dania untuk menenangkan diri ku?." Almeer menepikan mobilnya di jalan yang cukup sepi, bisa di bilang jalan itu tidak dilalui kendaraan.
"Kak, aku tidak akan pernah kembali pada Kak Azka meski ada bayi ini. Aku akan tetap berada di sisi Kak Almeer, Kak Almeer lebih berharga dari seorang Azka Narenda yang telah menorehkan luka yang sangat dalam pada ku." Balas Dania dengan sangat yakin.
Satu hal yang baru Dania ketahui tentang kebaikan Almeer padanya tentang uang 30 jt yang ternyata itu uang Almeer bukan uang Chaca. Dania tidak ingin mengecewakan pria yang telah sangat baik padanya. Itu pun Dania tahu saat menemui Chaca untuk membicarakan uang tersebut yang berujung cerita sebenarnya di balik uang 30 jt nya.
Tubuh Almeer mendekati Dania dengan tangan yang saling bertaut. Tatapan keduanya sangat dalam dan Dania bisa melihat cinta yang luar biasa besar yang ditunjukkan Almeer padanya. Sehingga Dania tidak menolak saat Almeer mencium bibirnya dengan lembut.
Dania menatap kedua mata Almeer yang terpejam, dirinya belum sanggup melakukan itu karena takut yang ada dalam bayangannya Azka Narendra.
Meski Dania tidak merasakan debaran yang sama saat Almeer menciumnya dengan saat Azka menciumnya meski dengan paksa sekalipun. Tapi Dania tetap membiarkan Almeer mencium bibirnya dengan penuh cinta.
"Mungkin sekarang aku belum mencintai Kak Almeer, tapi aku yakin cinta itu akan datang dengan sendirinya karena terbiasa bersama." Batin Dania yang sedetik kemudian Dania memejamkan matanya karena melihat Almeer yang perlahan akan membuka matanya.
Dan banar saja, wajah Almeer yang semula Dania lihat kini berubah menjadi sosok Azka. Dan untungnya Almeer menyudahi ciuman itu sehingga Dania bisa cepat membuka matanya juga.
__ADS_1
"Aku percaya pada mu, Dania." Almeer mengusap bibir Dania dengan ibu jarinya. Dan Dania hanya mengangguk sambil tersenyum.
30 menit kemudian mobil Almeer sudah sampai di depan rumah Azka. Dan kedatangan mereka sudah ditunggu tentunya karena takut Dania dan Almeer berubah pikiran. Tapi ternyata perkiraan mereka meleset semua.
Almeer tidak ingin berlama-lama barada di rumah itu, yang terpenting baginya dia sudah mengantongi janji Dania dan mengantar Dania ke rumah Azka. Dirinya langsung pamit pada Barata, Inara dan Dania. Tapi tidak pada Azka.
"Jaga diri mu dengan baik di sini." Ucap Almeer lalu mengecup kening Dania di depan semuanya.
"Iya Kak Almeer." Dengan wajah tersenyum Dania menyambut kecupan Almeer pada keningnya.
Azka langsung balik badan dan langsing naik ke lantai 2 kamarnya. Barata hanya tersenyum tipis saat melihat cucu kesayangannya terbakar api cemburu.
Setelah Almeer pergi dari rumah itu, Dania langsung di bawa ke lantai 2. Di sana ada kamar tamu yang belum pernah digunakan oleh siapa pun.
"Ini kamar mu, Dania. Semuanya sudah lengkap ada di dalam sana, kalau butuh sesuatu kamu bisa bilang pada ku, Azka, Kakek Barata atau pada pelayan rumah ini."
"Terima kasih Ibu Inara."
Inara mengangguk. "Sebaiknya kamu langsung istirahat ya."
"Iya Ibu Inara."
Dania langsung masuk ke dalam kamar itu setelah Inara meninggalkannya. Dania menatap ke dalam cermin besar yang ada di dalam kamar itu saat melihat Azka yang berjalan mendekat kearahnya.
"Apa hanya di sini saja Almeer menyentuh mu, Dania." Azka mengecup kening Dania saat sudah berada di depan Dania dengan jarak yang sangat dekat.
Dania diam mematung ketika bukan hanya bibir Azka yang mencium keningnya, melainkan tangan Azka yang sudah mengelus perut Dania dengan gerakan memutar.
"Apa dia melakukan ini, Dania?."
Dengan cepat Dania menggeleng kala tangan Azka sudah naik dan meremas salah satu dadanya.
__ADS_1