Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 37 Azka Narendra


__ADS_3

Dania pulang dengan perasaan senang setelah diterima bekerja di toko bunga milik Ibu Meisa.


Waktu saat ini sudah pukul delapan malam, ketika Almeer bertamu ke rumah Dania. Tapi Almeer datang tidak sendiri karena merasa tidak enak pada tetangga Dania. Dan Almeer sangat menghindari hal-hal yang akan mempersulit hidup Dania. Almeer datang bersama tiga wanita cantik lainnya yakni ada Fathia, Medina dan Salma.


Almeer menyodorkan satu map berwarna coklat muda ke hadapan Dania setelah mereka duduk di kursi yang ada di ruang tengah.


"Ini apa Kak Almeer?."


"Buka dan baca lah!, itu milik mu!." Jawab Almeer sambil tersenyum.


Perlahan Dania membuka amplop tersebut, Dania mulai membaca satu lembaran pertama, ke dua dan ketiga. Di mana di sana dinyatakan rumah milik kedua orang tuanya kembali lagi ke tangan Dania.


Wajah cantik itu sepertinya tidak senang menerima rumah milik mereka.


"Itu milik mu!." Ucap Almeer lagi sambil memegang tangan Dania.


Dania menggeleng lemah, rumah itu pasti sudah dibayar oleh Almeer. Jadi rumah mereka sekarang milik Almeer. Setidaknya Dania bisa tenang, orang yang memilii rumahnya adalah orang baik.


"Itu sudah menjadi milik Kak Almeer. Aku senang kalau Kak Almeer yang telah membeli rumah kami. Aku sudah merasa cukup senang tinggal di sini. Di sini juga ada kenangan bersama mereka." Dania mengulas senyum menerima apa yang sudah menjadi kehendaknya.


"Benar, rumah itu aku yang telah membelinya.Tapi, rumah penuh kenangan itu akan kembali menjadi milik mu." Almeer kekeuh ingin memberikan rumah yang dibelinya dengan harga fantantis dari bank.


Almeer rela merogoh semua uangnya demi senyum Dania yang ingin dia lihat kembali. Wanita yang sudah mengisi hatinya dengan penuh cinta.


Tadinya, Almeer juga ingin membayar toko bunga Dania. Tapi, sayangnya sudah ada yang lebih dulu membelinya. Jadi meski hanya rumah ini pun tidak masalah, karena di rumah itu Dania lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kedua orang tuanya.


"Maaf Kak Almeer, tapi aku tidak bisa menerimanya!." Tolak Dania cukup tegas.


Almeer pun hanya diam, tidak ingin membantahnya.


Fathia yang sedari diam, kini buka suara memberikan idenya.


"Bagaimana jika kalian berdua yang mengisi rumah itu?."


"Maksud mu apa?." Tanya Dania menatap Fathia.


"Kalian berdua bisa menikah dan tinggal di rumah itu bersama-sama. Adil bukan untuk kalian berdua?."

__ADS_1


"Betul itu!." Sahut Medina dan Salma bersamaan.


"Kalian semua ngaco." Sahut Dania dengan wajah datar.


Almeer yang merasa ada lampu hijau dari pembicaraan Fathia, memberanikan diri bicara serius pada Dania di depan ketiga sahabatnya.


"Ayo Dania, kita menikah!." Ucap Almeer sunguh-sungguh dengan menatap Dania.


"Kak, aku...Kak Almeer jangan terprovokasi dengan mereka. Ketiga sahabat ku itu memang suka begitu." Balas Dania menunjuk ketiga orang yang dimaksudnya.


Almeer menggeleng. "Aku serius Dania, ayo kita menikah!." Lanjut Almeer.


"Maaf Kak Almeer, untuk sekarang aku belum bisa menjawabnya. Aku ingin benar-benar melupakan kejadian ini dulu, aku ingin kembali bangkit dan berdiri di kedua kaki ku. Mungkin itu yang aku inginkan sekarang. Maaf Kak Almeer." Dengan tidak enak hati Dania harus menolak Almeer.


Dania masih ragu dengan siapa pun, karena ini sangat terlalu cepat baginya.


10 menit sudah dari kepulangan Almeer dan ketiga sahabatnya. Dania masih membuka matanya. Besok dirinya sudah tidak beangkat sekolah dan belum mulai masuk bekerja. Dania membayangkan setiap momen indah yang terjadi di rumah itu bersama Mama Ningrum dan Papa Hamzah.


Lamunannya terhenti karena terdengar suara ketukan pada pintu rumahnya.


Tok...Tok...Tok...


Ceklek


Tatapan mereka saling beradu, Azka yang berada tepat di depan matanya dengan jarak yang cukup dekat.


Tangan Azka sudah bergerak dengan cepat menahan pintu yang akan ditutup lagi oleh Dania.


"Tolong biarkan aku masuk!."


"Lebih baik Kak Azka pergi dari sini sebelum aku berteriak." Ancam Dania dengan suara yang bergetar.


"Berteriak lah Dania!. Biar aku tidak harus bersusah payah membujuk mu supaya mau menikah dengan ku."


Deg


Rasanya tidak mungkin seorang Azka yang telah menyakitinya berbicara saol pernikahan. Malam ini ada dua pria yang telah mengajaknya menikah. Tapi, Dania tidak mempercayai satu pun.

__ADS_1


Azka berhasil menerobos masuk di saat Dania lengah dan kini mereka sudah ada di dalam rumah itu. Azka langsung mengunci pintu lalu mengantongi kuncinya.


"Kak Azka!." Teriak Dania. Karena kaget dengan apa yang dilakukan Azka tapi dirinya telat menyadarinya.


Dania mash diam mematung di depan pintu, dia melihat pria yang telah mengambil semuanya darinya.


Tidak berselang lama Azka berlutut di depan Dania dengan jarak yang cukup jauh.


"Aku tahu, aku sudah sangat tertambat untuk meminta maaf pada mu. Aku baru menyadarinya di saat semuanya telah pergi. Maka dari itu tolong ampuni aku, Dania."


Air mata Dania lolos seketika mendengar perkataan Azka yang sangat tulus atau memang pria itu pandai bersandiwara didepannya.


"Aku sudah sangat terlambat menyadari bahwa diri mu tidak bersalah, mereka lah yang sudah bersalah. Tapi aku buta karena cinta ku. Tapi aku masih berharap maaf dan ampunan dari mu." Ucapnya lagi, kali ini Azka berjalan menggunakan lututnya mendekati Dania.


Azka menatap perut Dania yang masih rata. "Dan dari awal pun aku sudah katakan pada mu, aku mau bertanggung jawab pada anak kita." Ucap Azka lagi menegaskan kata-katanya di awal kehamilan Dania.


Azka memeluk pinggang Dania, hingga wajah Azka menempel pada perut Dania.


"Kak jangan seperti ini!." Dania berusaha melepaskan diri dari Azka. Tapi tenaga pria itu terlalu kuat untuk wanita seukuran dirinya.


Sehingga Dania dapat merasakan bibir Akza yang menciumi perutnya beberapa kali.


"Kak lepas!." Dania memegangi wajah Azka supaya menjauh dari perutnya.


Bukannya berhasil menjauh, justru Azka memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik wajah Dania lebih dekat lagi dengan wajahnya.


Keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing-masing yang perlahan berubah menjadi sedikit memburu. Terlebih Azka yang sudah sangat merindukan Dania.


Cup


Azka berhasil menyatukan bibir mereka dengan tangan yang menahan tengkuk Dania.


"Emmmpphh.." Tangan Dania bergerak ke sana kemari memukuli Azka, tapi pria itu tetap bergeming sambil terus memagut bibir Dania.


"Kak, pergi lah!. Aku mohon lupakan aku, lupakan bayi ini. Pergi lah yang jauh dari hidup ku, Ka! ." Dania menangis di dalam pelukan Azka setelah pria itu melepas ciumannya.


Kini Azka berdiri dan membawa tubuh Dania dalam pelukannya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah pergi dari mu dan bayi kita, Dania. Kalian berdua adalah milik ku."


__ADS_2