Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 53 Azka Narendra


__ADS_3

Sudah satu Minggu lebih video itu tersebar di dunia maya, banyak sekali yang sudah menonton bahkan mendownload video tersebut. Tidak ada orang yang tidak mengenal Dania dan Adnan yang menjadi pasangan mesum dalam video yang telah beredar.


Hujatan, cacian dan makian banyak dialamatkan kepada kedua orang tersebut, terutama pada Dania. Reputasinya sudah benar-benar sangat hancur dan mungkin Dania tidak bisa keluar rumah meski hanya untuk merasakan panasnya sinar matahari.


Rusli sendiri tidak bisa mencegah penyebaran yang sangat cepat itu, meski sudah mengerahkan banyak orang untuk membantu menangani masalah ini.


"Bagaimana dengan kondisi Dania?." Tanya Inara pada Barata yang baru saja pulang dari bertemu dengan Radit.


"Masih belum ada perkembangan apa pun. Gadis itu hanya diam dan diam, tidak ingin menemui siapa pun kecuali Radit." Barata mengela nafas panjang.


"Azka bagaimana?." Kini Barata menanyakan keadaan cucu kesayangannya.


"Masih sama. Azka masih betah mengurung dirinya di dalam kamar. Belum lagi dengan morning sickness yang masih dialaminya. Ini sungguh ujian yang sangat luar biasa bagi Azka dan Dania." Inara mengelus dadanya begitu prihatin dengan perjalanan putra semata wayangnya.


Barata mengusap wajahnya perlahan lalu menatap Rusli yang baru datang kemudian menyerahkan dokumen pada Inara.


"Apa tidak bisa kita bertahan untuk Azka dan Dania?. Apa tidak bisa kita berdiri kuat untuk Azka dan Dania?. Apa tidak bisa kita memberikan kesempatan pada hubungan kita?.


"Kau berdiri di samping Dania dan aku berdiri samping putra kita. Kita akan mampu memenangkan pertempuran ini, Inara." Rusli tidak bisa membiarkan keluarganya hancur begitu saja oleh keadaan atau pun masalah yang datang dari orang lain.


Pria itu terlihat berkaca-kaca, lalu tidak lama kemudian berlutut dihadapan Inara sambil meraih kedua tangan Inara.


"Aku memang sangat bersalah pada mu dan Azka dan juga Medina. Tapi aku tidak mau kalah dengan keadaan kita yang terpecah seperti ini. Dania dan Azka sangat membutuhkan kita berdua, Inara. Biarlah dosa dan salah ku pada Medina ku tanggung sendiri dan tidak akan melibatkan siapa pun."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan gadis itu?. Gadis itu masih memiliki jalan yang panjang dan cerah jika kau tidak merusaknya, Rusli. Jadi kau harus tetap bertanggung jawab padanya. Kau tenang saja, aku akan tetap membantu Dania dan Azka dengan cara ku sendiri." Inara sudah memantapkan hatinya untuk tetap berpisah dari Rusli. Karena Inara tidak bisa membiarkan Medina seperti Dania meski dengan versi yang berbeda.


"Aku tidak apa-apa Tante Inara, aku merasa baik-baik saja. Om Rusli tidak perlu bertanggung jawab apa pun pada ku karena aku juga sadar saat dalam melakukan hubungan kami." Tiba-tiba Medina bersuara dari arah pintu hingga semua orang melihat kearahnya.


"Medina..." Gumam Inara sambil bangkit berdiri. Meminta Medina untuk duduk bersama mereka, Rusli pun bangkit dan ikut duduk di samping Inara.


"Maaf kalau aku main datang saja ke sini, tapi karena aku ingin cepat menyelesaikan hubungannya kami jadi aku langsung datang kemari menemui kalian."


"Aku tidak tahu kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan mu bersama Rusli?. Kalau pun kamu ingin melanjutkan, itu hak kamu, Medina. Surat perpisahan kami sudah datang hari ini."


Medina segera menggeleng.


"Tidak, Tante Inara. Jangan pernah lakukan itu karena aku. Aku sudah sangat merasa bersalah pada Dania, jangan menambahnya lagi dengan perpisahan kalian. Lupakan perpisahan itu, Tante Inara. Kalau bukan untuk Tante sendiri, paling tidak demi Dania yang terus-terusan mencoba mengakhiri hidupnya."


Inara meneteskan air mata sambil menunduk. Dania, dia harus tetap bertahan untuk seorang anak gadis yang telah kehilangan kedua orang tuannya. Salah satu penyebabnya adalah Azka, dan Azka, anak itu ada dalam keadaan terburuknya. Kenapa dirinya harus egois atau kenapa dirinya harus melakukan itu demi Azka dan Dania?. Karena sebenarnya cintanya pada Rusli masih sangat besar.


Medina memberanikan diri memegang tangan Inara dengan sangat erat.


"Tolong jangan kecewa kan kedua orang tua ku di atas sana, karena harus melihat anak mereka menjadi penghancur rumah tangga wanita lain." Ucap Medina dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf, aku tidak tahu." Inara mengangkat wajahnya lalu memeluk Medina yang sudah berurai air mata.


Dengan tidak tahu malunya Medina menangis dipelukan wanita yang telah disakitinya. Tetapi itu lah yang sekarang dibutuhkan Medina, menangis di dalam pelukan seorang wanita yang berstatus ibu dan itu bisa menghilangkan semua rasa sakitnya.

__ADS_1


Sementara itu Radit cukup kewalahan saat menghadapi Dania yang setiap detiknya hanya ingin mati dan mati.


Dokter Tantan dan Dokter Levi sudah meningkatkan lagi pengawas dan pengamanan untuk Dania. Jangan sampai mereka kecolongan lagi dengan tindakan Dania yang tidak bisa ditebak untuk mengakhiri hidupnya.


"Bagaimana Dokter Tantan?."


"Untuk bayinya tidak ada masalah sama sekali, apa Dania pernah bicara serius pada mu?."


Radit menggeleng karena satu Minggu ini Dania hanya diam, menangis dan menutupi wajahnya. Entah itu dengan tangan, bantal guling, selimut atau apa pun yang bisa menutupi wajahnya.


"Tante Inara, Pak Barata, Pak Rusli dan Rania serta sahabat-sahabatnya datang kemari pun Dania tidak mau menemuinya."


"Mental Dania sudah terganggu, kita akan memberikan pendampingan pada Dania dari seorang ahli dibidangnya."


"Lebih cepat itu dilakukan akan semakin baik untuk mengembalikan kesehatan mental Dania."


"Iya, kami sangat mengerti. Baiklah Radit, aku dan Dokter Levi harus praktek lagi. Jadi Dania kami serahkan pada mu." Pamit Dokter Tantan sambil menepuk pundak Radit.


"Terima kasih Dokter Tantan, Dokter Levi."


"Jangan sungkan, kami senang bisa membantu kalian." Jawab Dokter Levi. Kemudian kedua dokter itu pun meninggalkan ruangan isolasi Dania. Karena banyak faktor dan salah satunya efek dari video yang telah menyebar ke seluruh penjuru negara.


Radit menatap Dania dengan rasa sesak di dalam dadanya, air mata pun kian berlomba melewati pipi Radit. Adiknya hancur karena perbuatanya sendiri. Kalau saja waktu bisa di putar dan dapat mengembalikan semuanya, tidak akan dirinya menyentuh Joanna atau pun kalau itu terjadi dirinya akan dengan gentle mengakuinya pada Azka Narendra. Bukan malah membuat karangan cerita baru yang pada akhirnya telah menghancurkan Dania sampai hancur berkeping.

__ADS_1


Dirinya pun tahu kalau Adnan sangat mencintai Dania dan bahkan sudah meminta izin darinya untuk mendekati atau bahkan menikahi Dania. Tapi Radit tidak tahu jika Adnan begitu sangat mencintai sampai nekad melakukan hal hina ini pada adiknya yang tidak tahu apa-apa.


"Maaf kan aku, Dania. Aku memang kakak yang berengsek." Radit menangis sejadi-jadinya di ruangan di Dania sambil menundukkan kepalanya di depan Dania. Dania hanya menatap Radit dengan tanpa ekspresi.


__ADS_2