Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 55 Azka Narendra


__ADS_3

Sore ini sekitar pukul 16.20 wib, Zayyid datang mengunjungi Dania setelah satu Minggu tidak datang lagi setelah pertemuan pertama mereka. Meski begitu, Zayyid masih menerima semua laporan tentang keadaan Dania setiap waktunya.


Zayyid datang dengan membawa buket bunga yang sangat cantik dan wangi. Dan semoga saja Dania akan menyukainya dan tentunya saja bisa menerima dirinya sebagai Zayyid yang akan membantunya melewati masa sulit ini.


Keadaan Dania masih seperti biasa, hanya saja karena ada sang calon bayi yang mengalihkan rasa ingin matinya dengan sesuatu yang berbeda. Sehingga dalam satu Minggu itu bisa dikatakan Dania hampir tidak pernah terdengar mengatakan ingin mati atau mencoba mengakhiri hidupnya.


"Selamat sore, Dania." Dania masih mengenali suara yang satu Minggu ini menghilang dan sekarang suara itu kembali terdengar.


Dania menoleh sekilas pada Zayyid lalu pada bunga yang ada di tangan Zayyid, dengan tangannya yang terus saja mengusap perutnya yang menyembul. Tanpa ekspresi wajah itu kembali berpaling dan menatap fokus pada perutnya.


"Semoga kamu menyukai bunga ini, Dania." Zayyid mendekat dan berdiri tepat di depan Dania sambil menyodorkan bunga yang sangat tercium bau harumnya.


"Ini untuk ku?." Tanya Dania sembari mengulurkan tangannya mengambil bunga tersebut.


"Iya."


"Ini ada bunga untuk mu, jagoan." Dania menempelkan buket bunga pada perutnya, seakan diberikan pada calon bayinya yang berjenis kelamin laki-laki.


Zayyid tersenyum senang dengan reaksi pertemuan kedua mereka. Ternyata Dokter Tantan dan Dokter Levi sudah membantunya dengan sangat baik selama dirinya tidak ada.


"Kamu suka wangi bunganya?." Dania masih mengajak bicara bayi yang ada di dalam perutnya.


"Dania..." Panggil Zayyid mengalihkan perhatian Dania dari perutnya.


Meski tidak menjawabnya tapi Dania menoleh memberikan responnya.


"Aku akan membawa mu pergi dari sini, tidak jauh tempatnya, yang pasti aku harap kamu akan menyukainya dan kita akan berangkat malam ini juga."


Masih dengan raut wajah yang sangat datar, Dania menatap Zayyid lalu sedetik kemudian menggeleng lemah sambil melempar buket bunganya kearah Zayyid.


"Kenapa tidak mau?." Tanya Zayyid sambil memegangi bunga itu lagi.

__ADS_1


Dania kembali menggeleng lemah tanpa mau bicara.


"Sekarang begini, kamu ikut saja dulu bersama ku. Kalau tempatnya membuat kamu nyaman dan suka dengan tempat itu, maka kita akan tinggal di sana. Tapi kalau misalkan kamu tidak suka, kita akan kembali lagi ke sini. Bagaimana?." Zayyid memberikan penawaran yang tidak bisa ditolak oleh Dania.


Tidak lama kemudian Dania mengangguk dengan memandangi bunganya.


"Ini aku kembalikan pada mu." Zayyid meletakkan bunga itu di atas pangkuan Dania.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 23.40 menit. Zayyid dan Dania sudah betapa di dalam mobil tanpa adanya perawat atau Dokter yang lain.


"Kamu bisa tidur, perjalanan kita cukup memakan waktu kurang lebih 6 jam." Ucap Zayyid setelah memasang sabuk pengaman pada Dania.


Dania hanya menggeleng.


Zayyid mulai menyalakan mesin mobilnya lalu tancap gas meninggalkan rumah sakit dalam kegelapan malam. Meninggalkan sejenak kepahitan yang terjadi di ibu kota yang meninggalkan luka mendalam bagi Dania.


Tidak ada sedikitpun Dania memejamkan matanya sampai mobil itu sudah berhenti di sebuah bangunan luas tidak bertingkat.


"Aku tidak bisa bersembunyi di mana pun." Dania menolak ajakan Zayyid dan tetap duduk di kursinya.


Zayyid menggeleng sambil tersenyum lalu meraih tangan Dania. "Kita tidak sedang bersembunyi, aku dan kamu hanya beristirahat di tempat yang lebih nyaman dan aman untuk beberapa waktu saja. Nanti kita akan kembali lagi untuk menghadapi semuanya."


Dania menatap pria yang ada didepannya. Dania memang baru dua kali ini bertemu, tapi entah kenapa jauh di lubuk hatinya seperti sudah mengenal sosok Zayyid sebelumnya.


"Ayo, turun!." Dania menatap tangan Zayyid yang menggenggamnya sangat erat.


Zayyid menutup pintu mobil setelah berhasil membawa turun Dania. Kemudian dengan penuh perhatian Zayyid menuntun Dania sampai masuk ke dalam bangunan luas itu.


Dania mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan yang sangat luas itu. Tidak ada banyak barang di tempat itu, tidak seperti rumah pada umumnya.


"Di sini hanya ada kita bertiga." Ucap Zayyid mengerti dengan tatapan Dania.

__ADS_1


"Bertiga?." Tanya balik Dania lalu kembali mengedarkan pandangannya.


Zayyid tersenyum kemudian menunjuk perut Dania." Bayi yang ada di dalam perut mu, karena dia sudah bernyawa. Hanya saja masih tinggal di dalam rahim mu, belum waktunya bayi itu keluar dari sana."


Dania meraba perutnya sambil tersenyum tipis.


Zayyid membawa Dania ke dalam kamar dan meminta Dania untuk beristirahat.


"Kamu harus belajar untuk tidur, mata mu sudah sangat lelah, butuh untuk istirahat." Zayyid meminta Dania untuk berbaring di atas tempat tidur yang sangat empuk itu.


Sebelum Dania menggelengkan kepalanya, Zayyid kembali buka suara.


"Aku akan menemani mu tidur di sini, kita akan tidur bersama di kasur besar ini."


Dania segera menggeleng, bagaimana dirinya tidur di dalam satu tempat tidur bersama pria yang baru dua kali ditemuinya.


"Aku tidak ingin mengingatnya!." Balas Dania lalu duduk di kursi yang tidak jauh dari jendela.


Zayyid melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, waktu sudah hampir pagi. Zayyid mengabaikan rasa lelahnya demi menemani Dania.


"Kamu harus tetap belajar, Dania. Itu lah gunanya tempat ini." Zayyid setengah memaksa Dania.


Dania tidak menggubrisnya, Dania masih betah duduk di kursi panjang itu.


Zayyid tidak memaksa lagi, dirinya membiarkan Dania untuk tetap berada ditempatnya saat ini. Sesekali Zayyid menangkap Dania yang melawan rasa kantuknya, sehingga Zayyid pun duduk di sebelah Dania dan tanpa permisi menarik kepala Dania untuk bersandar di pundaknya.


Pada awalnya Dania sempat berontak, tapi rasa kantuknya sudah tidak bisa dihindarinya lagi setelah selama di rumah sakit, Dania tidak pernah tidur sampai pulas karena pasti kejadian itu terlintas di dalam benaknya.


"Tidak apa-apa, tidur lah dengan cara yang seperti ini di pundak ku. Aku akan memastikan semuanya baik-baik dan kamu akan perlahan mulai melupakan kejadian itu." Dengan refleks tangan Zayyid mengusap rambut Dania yang semakin panjang dari sebelumnya.


"Ada aku di sini bersama mu, menemani mu melewati masa-masa sulit kita. Aku di sini untuk kita." Tanpa sadar Zayyid mengucapkan kalimat yang membuat Dania bisa memejamkan matanya.

__ADS_1


"Tidur lah yang lelap, Dania. Aku akan memastikan semuanya baik-baik saja. Aku akan membuat mu melupakan setiap kejadian buruk itu dan menggantinya dengan kenangan indah kita bersama." Zayyid mengelus pipi Dania yang sangat lembut lalu tanpa sepengetahuan si pemiliknya, Zayyid mengecup pipi itu berbarengan dengan air mata Zayyid yang menetes.


__ADS_2