Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 29 Azka Narendra


__ADS_3

Dania sudah berada di rumah sakit setelah menerima uang pinjaman dari Chaca. Dania langsung menyerahkan uang itu pada Radit karena sudah tidak sabar ingin bertemu dan memeluk Mama Ningrum yang sudah bisa di ajak bicara.


Wajah Radit sangat bahagia saat menerima uang dari adiknya. Radit tidak mempedulikan uang itu di dapat Dania dari mana, terpenting uang itu sudah ada ditangannya.


Rania yang sudah berada di sana bersama mereka, hanya bisa iri ketika melihat Mama Ningrum menangis di dalam pelukan Dania. Rasanya Rania sudah tidak sabar ingin segera melempar semua bukti yang dimilikinya tentang Dania. Tapi untuk sementara Rania bisa menahannya sampai Rania menemukan momen yang pas untuk membongkar kenakalan Dania di luar sana.


Karena tidak tahan dengan drama sang Mama dan anak tercintanya, Rania memilih pergi supaya tetap memiliki otak yang waras. Rania menyusul Radit yang tadi bilangnya akan kebagian administrasi.


"Mama...Dania..." Ibu dan anak itu saling melepas rindu, padahal baru hanya beberapa hari saja mereka tidak bertemu.


Di balik sikap diam Papa Hamzah hari-hari kemarin pada Dania, sebenarnya menyimpan penyesalan atas sikapnya tersebut. Tidak seharusnya dirinya bersikap tidak adil seperti itu pada Dania. Tapi, siang ini Papa Hamzah merasa bahagia di saat istrinya bisa segera pulih dan sekarang sedang memeluk anak kesayangannya.


"Malam itu, Mama dan Papa tidak salah dengar kan, Dania?." Mama Ningrum melepaskan pelukannya lalu merapikan rambut Dania yang sedikit berantakan.


Dania menundukkan kepalanya di hadapan Mama Ningrum, suasana yang tenang ini tidak ingin diganggunya dengan perbincangan masalah itu lagi. Takutnya akan kembali memanas.


"Dania, bicara lah yang jujur pada kami. Kami harus siap mendengar kebenaran itu walau sangat menyakitkan bagi kami." Mama Ningrum mengangkat dagu Dania sehingga wajah Dania yang semakin berisi terlihat jelas dan menambah nilai kecantikan putri bungsunya itu.


"Papa setuju dengan Mama, Dania. Kalau pun itu benar terjadi. Untuk hukumannya apa tidak bisa kalau tidak di penjara?.


"Aku tidak tahu Pa, itu harus dibicarakan dengan Kak Azka. Karena Kak Azka yang akan membawa masalah itu pada pihak yang berwajib."


"Nak Azka kekasih mu yang waktu itu?."


Dania hanya mengangguk mengiyaakan.


"Papa akan menemuinya dan berbicara pada Nak Azka setelah Mama pulang dari sini, siapa tahu Nak Azka mau mendengarkan Papa." Papa Hamzah memberanikan diri melakukan itu demi putra pertamanya.


"Mama ikut Juga Pa, kalau perlu Mama akan bersujud di kedua kakinya demi kebebasan Radit. Nanti bagaimana dengan nasib Radit kalau benar-benar masuk penjara. Mama tidak bisa membayangkannya." Mata Mama Ningrum sudah berkaca-kaca. Tapi dengan cepat Dania memeluknya lagi.

__ADS_1


"Semuanya akan baik-baik saja, Ma."


"Terima kasih, Dania." Mama Ningrum mengecup kepala Dania dengan penuh kasih sayang.


Sementara itu di cafe, Chaca hanya diam mematung di ruangan ganti setelan memberikan laporan pada Almeer terkait uangnya sudah diterima oleh Dania.


Dirinya baru membuka amplop yang diberikan Almeer, karena merasa pekerjaannya telah berhasil. Di sini Chaca sangat terkejut dengan jumlah uang yang ada di dalam amplop. Sangat banyak dan itu lebih besar dari gajinya sendiri.


"Apa Pak Almeer tidak salah memberikannya pada ku?." Chaca menatap uang pecahan 100rb yang masih dipegangnya setelah dihitung berulang kali.


Chaca segera memasukkan uang itu ke dalam tas saat ada temannya yang lain masuk.


"Tumben Cha sendiri, biasanya bareng Dania?." Tanya temannya sambil membuka loker.


"Dania belum datang, mungkin sebentar lagi." Jawab Chaca sambil melihat kearah temannya yang mengganti pakaian.


"Ya, wajar lah. Kami kan bestie." sahut Chaca sambil tertawa.


Temannya pun ikut tertawa lepas.


.....


Lima hari sudah Mama Ningrum berada di rumah sakit, selama itu pula Dania bisa menemani dan berbicara dengan Mama tercinta, hari-hari yang sangat membahagiakan bagi dirinya. Dan sore ini Mama Ningrum sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter yang telah memeriksanya.


Namun ada yang sedikit aneh menurutnya, karena dirinya tidak pernah melihat Radit lagi di rumah sakit setelah menerima uang 30 jt darinya. Entah pergi kemana kedua orang tua itu?. Padahal Papa Hamzah sudah meneleponnya berulang kali, tapi tidak ada jawaban sama sekali.


Dania yang mendapatkan kabar itu saat bekerja pun dengan berat hati harus minta izin lagi pada Almeer dan Shaka untuk membawa Mamanya pulang dari rumah sakit. Sebab lagi-lagi Radit dan Rania belum bisa dihubungi Papa Hamzah.


Almeer yang sudah berikrar untuk selalu terdepan bagi Dania, dia buktikan sendiri ucapannya. Dia mengajak Dania untuk membawa pulang Mama nya dengan mobil yang sekarang mereka gunakan.

__ADS_1


"Maaf Kak Almeer aku selalu merepotkan." Ucap Dania saat mobil sudah meluncur ke jalan besar, bergabung dengan pengendara yang lebih banyak lagi karena waktu sore hari saat-saat kemacetan akan di mulai.


"Jangan sungkan Dania, aku melakukan ini supaya kamu dan bayi mu baik-baik saja. Tidak stres dalam menghadapi masalah hidup yang terus saja menimpa mu."


Dania merasa malu dan banyak berhutang budi yang tidak bisa digantinya dengan uang berapa pun. Sebab Dania bisa merasakan jika Almeer mengerjakan semuanya itu dengan tulus.


"Terima kasih, Kak Almeer."


"Sama-sama, Dania."


Setelah beberapa waktu, mobil Almeer sudah terparkir di halaman rumah sakit. Almeer dan Dania langsung mendatangi bagian administrasi, ada beberapa dokumen yang harus di ambil dan tentunya pembayaran yang harus segera diselesaikan pihak keluarga pasien.


Dania mendapatkan informasi itu dari pesan singkat yang dikirimkan oleh Papa Hamzah saat dirinya masih di dalam perjalanan.


Pikiran Dania sudah buruk saja pada kakaknya, Radit. Karena uang itu sudah diserahkannya pada Radit tanpa mengecek kebenarannya terlebih dulu.


"Kamu harus tenang, mungkin ada kesalahan."


Dania hanya mengangguk dan semakin mempercepat langkahnya ketika bagian administrasi sudah ada di depan matanya.


Dengan nafas yang masih memburu, Dania langsung berbicara pada petugas administrasi dan jantung Dania seperti mau copot, ketika petugas tersebut menyebutkan nominal yang harus dibayarkan oleh pasien atas nama Ningrum Permata Sari. Sebesar 45 jt dengan rincian yang sedang di baca oleh Almeer.


Sebuah harga yang sangat fantastis tentunya, tapi memang tidak ada rekayasa atau pun kesalahan dalan rincian tagihan tersebut jika pelayanan yang terbaik yang telah diberikan rumah sakit tersebut untuk Ningrum.


Tapi, sekarang yang jadi permasalahannya adalah uang 30 jt tidak di setor oleh Radit yang seharusnya menjadi DP saat masuk rumah sakit.


Sesakit itu hati Dania pada Radit yang tidak hentinya memberikan luka baru dalam hidup Dania. Air matanya pun berjatuhan tanpa bisa dicegahnya lagi.


"Biar aku yang melunasi semuanya, Dania. Kamu tenang saja, Mama mu bisa pulang sore ini juga." Ucap Almeer sambil memegang erat tangan Dania.

__ADS_1


__ADS_2