
Dania sempat mengajukan keberatannya pada Inara dan Rusli terkait apa yang mereka putuskan untuk anak mereka, Azka Narendra. Tapi, keputusan Rusli dan Inara sudah sangat bulat jadi tidak bisa untuk di rubah lagi.
Barata tidak bisa ikut campur dengan apa yang telah diputuskan oleh putranya untuk cucu kesayangannya. Menurutnya itu sama-sama adil untuk Dania dan Azka.
Azka tidak merasa keberatan dengan apa yang diberikan untuk dirinya. Karena sejauh ini Azka memang sudah mampu berdiri di kedua kakinya. Hanya saja masih terkendala dengan morning sickness yang menyerangnya, jadi Azka lebih fokus pada dirinya sendiri.
Di depan Dania, Azka menyerahkan kartu kredit, kartu debit yang sudah tidak pernah dipakainya lagi. Karena Azka sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Beberapa kunci mobil mewah yang sesekali masih digunakan oleh dirinya beserta dua buah kartu akses untuk masuk ke beberapa hotel besar yang ada di seluruh Indonesia dan mancanegara.
"Aku keluar dari rumah ini tidak membawa apa pun selain pakaian yang ku pakai saat ini dan satu mobil yang aku beli dengan uang ku sendiri." Ucap Azka setelah menyerahkan itu semua pada Rusli.
Rusli hanya mengangguk.
"Kamu jangan khawatir, Dania. Tinggal di sini kamu akan aman dan terjamin." Ucap Azka beralih pada Dania yang sejak tadi menundukkan kepalanya.
Azka mengangkat dagu Dania hingga tatapan mereka saling bertemu. "Kalau kamu membutuhkan aku, kamu bisa menghubungi ku. Aku pergi." Tangan Azka terulur menyentuh pipi Dania yang baru saja dilewati air mata.
"Kak!." Azka langsung membawa Dania keluar dari ruang kerja dan mereka menuju kolam renang yang ada di samping rumah.
Dania dan Azka duduk di kursi yang ada di sana.Tatapan keduanya tertuju pada air kolam yang sangat tenang.
"Ingat pesan ku Dania, jangan pernah lagi membiarkan Almeer mencium bibir mu!." Ucap Azka memperingati calon ibu dari anaknya.
Dania mengangguk mengiyakan.
"Tapi, Kak Almeer tetap akan mencium ku kalau kami sudah menikah." Balas Dania tanpa melihat wajah Azka, karena Dania sendiri tidak ingin memperlihatkan wajah sendunya pada Azka.
"Itu tidak masalah kalau kalian sudah menikah, karena itu haknya Almeer. Dan aku akan menjadi saksi nikah untuk kalian nanti, aku ikut bahagia dengan pilihan mu." Azka menatap wajah Dania yang terus saja memandangi air kolam.
"Sebenarnya aku tidak menginginkan Kak Azka menjadi saksi kami, tapi kalau Kak Azka memaksa, aku dan Kak Almeer bisa apa."
Dania menatap wajah Azka yang sudah menatapnya dari tadi.
"Aku harus pergi." Azka bangkit lalu berdiri di depan Dania. "Aku ingin berpamitan padanya, boleh?."
__ADS_1
Dania hanya mengangguk.
"Hei baby, kamu harus sehat dan kuat di dalam perut Mommy, ok. Daddy harus pergi dulu dari kalian. Kalau Kalian merindukan Daddy, bawa Mommy ke apartemen Daddy ya." Ucap Azka lalu mengecup perut Dania untuk waktu yang cukup lama.
Dania cukup terenyuh dengan apa yang dikatakan oleh Azka tapi Dania tidak bisa menahan Azka untuk tetap berada di rumah itu.
Azka pun pergi keluar dari rumah itu, Dania hanya menatap punggung Azka yang semakin menjauh. Tanpa terasa air matanya kian jatuh berderai, Dania menangisi pria yang telah membuatnya terluka. Tapi, itu lah hati.
Keesokan pagi
Seperti yang sudah dijanjikan Almeer, Dania berangkat kerja diantarkan oleh Almeer. Almeer membawakan makanan yang banyak untuk Dania, mulai dari buah-buahan, cemilan, susu hingga makanan barat.
"Apa ini tidak kebanyakan Kak?."
"Justru kalau kamu kurang tinggal bilang saja pada ku nanti aku akan mengantarkannya pada mu."
"Tidak, Kak Almeer!. Ini sudah kebanyakan." Tolak Dania sambil menggeleng.
"Ok, berarti segitu cukup?."
Setelah melati hampir empat puluh menit, mobil Almeer sudah sampai di toko bunga Dania.
"Aku baru sadar kalau nama toko bunga ini masih menggunakan nama mu. Siapa pemiliknya?." Tanya Almeer penasaran.
"Ibu Meisa, pemilik sekaligus atasan aku di sana." Jawab Dania.
"Apa kamu yakin?." Tanya Almeer menyelidiki.
"Iya, memangnya menurut Kak Almeer siapa pemilik toko bunga ini?." Tanya balik Dania karena Almeer meragukan informasi yang diberikannya.
Dengan cepat Almeer menggeleng, biar dia cari informasi sendiri siapa pemilik toko bunga itu yang sekarang.
"Baik lah sekarang kamu turun, aku sudah harus ke kantor."
__ADS_1
"Iya, Kak Almeer. Terima kasih." Dania segera turun dari mobil lalu masuk ke dalam toko.
Sedangkan mobil Almeer kembali melaju menuju kantornya.
Sementara itu di sekolah, Medina dan Fathia tidak percaya dengan pengakuan yang dikeluarkan oleh Salma kalau Salma jatuh hati pada Almeer. Medina dan Fathia sampai tidak berkata-kata, Salma sudah jatuh cinta pada pria yang tidak tepat.
"Kamu akan sakit hati terus Salma. Lebih baik kamu berhenti suka sama Kak Almeer." Saran Medina yang sangat melukai hati Salma.
"Aku juga sudah berusaha melupakannya, Medina. Tapi aku sudah terlanjur jatuh cinta. Apalagi saat jamuan makan malam, aku merasa Kak Almeer adalah pangeran ku, bukan Dania."
Fathia dan Medina kompak menggelengkan kepalanya. "Itu tidak benar Salma. Lebih baik jangan kamu lakukan. Apa kamu tidak kasihan pasa Dania?." Lanjut Fathia.
Salma menunduk lesu, dirinya pun tidak ingin menyakiti Dania. Tapi, hatinya juga sangat menginginkan Almeer.
"Aku akan memendam perasaan ini, tolong jangan ada yang memberitahu Dania. Aku janji tidak akan merebut Kak Almeer dari Dania." Salma menutup wajahnya dengan buku bersampul plastik.
"Cinta memang rumit." Gumam Medina, dirinya pun sama saat ini mencintai suami dari wanita lain.
Sedangkan Dania yang saat ini sudah memiliki banyak pelanggan setia karena rangkaian bunga yang dibuatnya selalu menarik, cantik dan sangat indah.
Dania disibukkan dengan orderan yang semakin banyak yang datang pada dirinya. Meski pun begitu teman-teman kerja yang lain dengan senang hati membantu Dania dalam menyiapkan semua keperluannya.
"Kamu terlihat seperti seorang pemilik toko Dania?. Jika melihat keterampilan mu ini orang tidak akan mengira kalau kamu hanya karyawan di toko ini." Puji Hernita. Si ketus itu sekarang sangat baik terhadap Dania.
"Kamu bisa saja Kak." Sambil tersenyum Dania menatap ke lantai dua di mana seolah kedua orang tuanya melihat dirinya dari sana.
Sangat berbeda dengan senyum yang selalu mengembang dari wajah Dania, wajah kusut Azka sangat terlihat jelas di dalam cermin kamarnya.
Sudah ada Dokter Tantan yang menemaninya karena dari satu jam yang lalu sudah di telepon oleh Azka.
"Ini sudah tiga bulan Dokter Tantan, tapi kenapa aku masih mengalami ini?." Keluh dan protes Azka layangankan pada Dokter Tantan.
"Sekarang tanyakan pada bayi kau, mau sampai kapan membuat Daddy nya harus berjuang lebih keras lagi untuk bersama mereka?."
__ADS_1
"Dania sudah mantap memilih Almeer, masa iya aku harus menghancurkannya lagi?."