Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 56 Azka Narendra


__ADS_3

Untuk pertama kalinya setelah kejadian itu Dania bisa tertidur pulas meskipun hanya 3 jam saja, karena selanjutnya bayangan kejadian itu datang dan kembali membawa Dania membuka matanya.


"Dia datang lagi!." Seru Dania sambil mengusap wajahnya yang sudah dipenuhi keringat.


Dania menatap satu tangan yang tidak bisa digerakkannya karena ternyata dipegang kuat oleh Zayyid.


"Kenapa?." Tanya Dania sambil berusaha melepaskan tanganya dari genggaman Zayyid.


"Tadi kamu menyebut sebuah nama yang tidak pernah aku dengar sebelumnya." Dania menundukkan kepalanya.


"Bukan siapa-siapa. Sekarang lepaskan tangan ku!." Pinta Dania, tapi sepertinya Zayyid masih belum ingin melepaskannya.


"Kalau bukan siapa-siapa, kenapa sampai berulang kamu memanggil namanya?." Dengan sangat tajam Zayyid menatap Dania yang membuang mukanya.


"Hanya seorang pria yang ingin aku lupakan."


Setelah menjawabnya, baru lah Zayyid melepaskan tangan Dania.


"Kenapa kamu ingin melupakannya?."


Dania menggeleng lalu melihat matahari yang begitu sangat cerah dengan hembusan angin yang begitu sejuk.


"Kamu mau melihat keluar?." Zayyid mengikuti Dania berdiri di depan jendela, melihat halaman bagian depan rumah yang dipenuhi dengan berbagai macam tanaman bunga.


Dania menggeleng lalu kembali duduk di kursi.


Zayyid balik badan dan menatap Dania. "Kamu tidak suka tinggal di sini?."


Dania kembali menggelengkan kepalanya.


"Lalu?."


"Perut ku sekarang terasa sangat lapar, padahal selama di rumah sakit aku selalu merasa kenyang."


Zayyid tersenyum lalu meraih tangan Dania dan membawanya ke ruangan depan, di sana sudah ada banyak makanan dan buah-buahan yang bisa di makan mereka.


"Susu hamilnya masih hangat, kamu minum itu saja dulu." Zayyid menarik kursi untuk Dania duduki. Lalu dirinya pun duduk di sebelah Dania.


"Jadi, apa kita akan tinggal di sini?." Tanya Zayyid setelah Dania menghabiskan susunya.


"Iya, kita akan tinggal di sini. Aku sangat menyukai tempat ini."


Zayyid mengangguk senang sambil mengambil sarapannya.

__ADS_1


Sementara itu di rumah Salma, Fathia dan Medina juga ada di sana. Mereka berkumpul untuk merayakan pertunangan Salma dan Almeer yang telah diselenggarakan beberapa waktu lalu.


"Bagaimana rasanya jadi tunangannya Kak Almeer?." Tanya Fathia sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Salma.


"Enggak ada yang bagaimana-bagaimana sih, karena kalian tahu kan pertunangan ini karena kedua orang kami yang menginginkannya. Sedangkan Kak Almeer masih memikirkan Dania."


"Wajar saja, karena Dania sedang mengalami masa terberat dalam hidupnya." Sambar Medina.


"Iya, aku tahu. Jadi aku juga tidak terlalu berharap banyak untuk sekarang ini. Tapi untuk kedepannya aku tidak tahu."


"Ternyata kamu tidak bahagia juga Sal, meski sudah bertunangan dengan Kak Almeer." Timpal Fathia.


Salma hanya mengangguk sambil menghela nafas.


"Kamu dan Papa nya Kak Azka benar-benar sudah berakhir?." Kini tanya Salma pada Medina yang fokus pada ponselnya.


"Iya, kami sudah berakhir dan dia pun sudah tidak pernah menghubungi ku lagi." Jawab Medina sambil meletakkan ponselnya.


"Lalu Kak Shaka?."


"Maksudnya bagaimana?."


"Kalau aku dan Fathia lihat sepertinya Kak Shaka suka sama kamu, Medina."


"Terus Chaca bagaimana? Aku sudah tidak ingin cinta segitiga lagi. Aku hanya ingin cinta yang benar-benar tulus pada ku, hanya untuk ku seorang." Lanjut Medina.


"Betul, Medina. Aku juga setuju dengan apa yang kamu katakan." Balas Salma bersemangat.


Waktu sudah menjelang sore saat Medina dan Fathia keluar dari rumah Salma. Keduanya mampir dulu di tempat makan kesukaan mereka.


Fathia dan Medina memesan banyak makanan untuk mereka berdua. Karena Salma menemani Mamanya menemui kedua orang tua Almeer.


"Apa kita sanggup menghabiskan makanan ini, Fathia?."


"Entah lah, Medina. Aku rasa sih bisa dan enggak bisa."


"Ha...ha...ha..." Keduanya tertawa bersamaan.


Hingga kedatangan seseorang menghentikan tawa mereka berdua.


"Kak Almeer?." Serempak Medina dan Fathia menyebut nama Almeer yang sudah berdiri di hadapan mereka.


"Aku baru selesai bertemu klien di sini dan aku melihat kalian berdua sedang makan, jadi aku mampir ke sini. Aku juga mau makan tapi tidak ada temannya." Tanpa permisi Almeer duduk di depan Medina sambil menatapnya.

__ADS_1


"Bukannya Kak Almeer ada acara makan bareng Salma dan Mamanya?." Tanya Fathia.


"Itu kedua orang tua ku." Jawab Almeer sambil meminta satu piring baru pada pelayan.


Ketiganya pun makan dengan sangat lahap dan ternyata makanan itu dilahapnya sampai habis.


Sudah selesai acara makan bersama, Fathia dan Medina berencana pulang. Tapi Almeer malah menahan Medina dan membiarkan Fathia untuk pulang lebih dulu.


"Ada apa Kak Almeer menahan ku?." Tanya Medina saat Fathia sudah tidak bersama mereka lagi.


Almeer menggeleng. "Sebenarnya tidak ada, aku hanya ingin ngobrol sama kamu saja."


"Kita tidak memiliki topik pembicaraan yang menarik Kak Almeer. Jadi lebih baik kita pulang saja."


"Ada, ada hal yang menarik yang bisa kita bicarakan Medina?."


"Apa?."


"Kamu dan aku."


Medina mengerutkan dahinya karena heran, ada apa dengan mereka?. Kenal dekat saja tidak, kenapa sekarang jadi ada pembicaraan penting tentang mereka berdua.


Sementara itu Zayyid dan Dania baru selesai berkeliling halaman rumah yang ternyata dibelakangnya ada perkebunan buah-buahan yang siap untuk di panen beberapa hari lagi.


Zayyid melihat sisi lain dari Dania yang sangat cukup membuatnya bernafas lega. Ternyata tempat yang selama dua Minggu ini dicari dan dipersiapkannya dengan susah payah sangat disukai oleh Dania. Sehingga Dania bisa mengalihkan pikirannya pada apa yang ada disekelilingnya saat ini.


"Ada lagi yang mau kamu petik enggak?." Tanya Zayyid yang rela memanjat pohon jambu air.


"Ini sudah cukup." Jawab Dania dari bawah.


Zayyid segera turun dan menyusul Dania yang telah berjalan lebih dulu kearah rumah.


Dania meletakkan hasil buah petikannya di atas keranjang lalu dicucinya di dalam wastafel.


"Kenapa di kebun seluas itu tidak ada seorang pun?." Tanya Dania sambil berbalik dengan bauh yang sudah bersih di dalam keranjang.


"Aku ingin menyesuaikannya dulu untuk mu."


Dania menggigit bibir bawahnya sambil berpikir keras, mungkin sampai kapan pun dirinya tidak akan pernah sanggup untuk bertemu dengan orang-orang di luar sana.


"Apa mereka semua pasti mengenali ku atau melihat rekaman itu?." Kedua tangan Dania bertaut, ini pertama kalinya dirinya membicarakan masalah ini dengan orang lain.


"Aku tidak ingin membuat mu senang atau membohongi mu. Karena kemungkinan besarnya, dari mereka ada yang pernah melihat rekaman itu. Tapi belum tentu mereka mengenali kamu jika mereka hanya sekilas bertemu dengan mu." Jawab Zayyid memberikan pendapatnya.

__ADS_1


"Sudah lupakan mereka, sekarang kita makan buah-buahannya." Zayyid menyodorkan bauh jeruk pada Dania.


__ADS_2