Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 71 Azka Narendra


__ADS_3

Meski Zayyid kecil sudah tidur lagi, tapi Dania masih menggendong dan sesekali menciumi wajah Zayyid yang begitu lelap. Azka merasa sangat cemburu pada Zayyid, akan tetapi Azka tidak bisa berbuat banyak karena rasa rindu Dania pada anak mereka yang baru datang.


"Sayang, jangan lupakan ada aku di sini. Aku juga sangat membutuhkan mu." Ucap Azka dengan manjanya sambil mencium leher Dania hingga menengadah.


"Iya, Kak. Aku tahu aku juga harus menguras dan melayani Kak Azka. Tapi beri aku waktu sedikit lagi untuk melihat Zayyid kecil ku sebelum aku kasih sama Mama lagi."


"Baik lah sayang, tapi jangan lama-lama."


Inara dan Rusli sudah sangat menyayangi Zayyid, seperti anak mereka sendiri. Jadi. Inara meminta pada Dania dan Azka untuk membolehkan Inara tetap satu kamar bersama Zayyid. Tanpa membatasi ruang gerak Dania dan Azka jika ingin mengambil atau melihat Zayyid yang berada di dalam kamarnya.


Dania mengangguk sambil menerima sebuah ******* dari suaminya.


Azka tidak membuang kesempatan ketika Zayyid kecil sudah berpindah tangan pada Inara dan Rusli yang berada di ruang tengah. Karena sore ini ada yang harus Azka kerjakan bersama Dokter Tantan dan Doktor Levi.


"Kak...ahhh." Dania selalu dibuat mendessah karena ulah Azka yang semakin liar pada tubuhnya. Tapi Dania pun sangat menikmatinya.


Bibir Azka mengecup setiap inci tubuh Dania tanpa ada yang terlewat. Suara merdu Dania memenuhi kamar Azka yang memang ada peredam suaranya. Jadi mau sekeras apa pun mereka bersuara di dalan sana tidak akan terdengar sampai keluar.


Inara dan Rusli sudah berada di dalam kamar dan Inara menaruh Zayyid di tempat tidur.


"Eva dan Darwin sudah sampai dan langsung dibawa oleh mereka." Rusli sudah mendapatkan kabar dari anak buahnya.


"Kamu ikut?."


Rusli menggeleng. "Aku dan Papa hanya melindungi mereka dari luar saja. Supaya jangan sampai apa yang mereka lakukan tercium oleh pihak lain."


Inara hanya mengangguk sambil berjalan kearah walk in closet.


"Bagaimana kalau kita memiliki baby lagi?." Rusli menahan tangan Inara yang hendak mengambil pakaian gantinya.


"Kenapa?."

__ADS_1


"Supaya Zayyid memiliki teman. Dania kan tidak mungkin memberikan Zayyid adik sekarang-sekarang ini. Mereka lagi fokus pada pendidikan.Jadi bagaimana kalau kita saja?." Rusli melepaskan sisa bahan yang melekat pada tubuh istrinya.


"Apa anak dan menantu kita tidak akan malu kalau aku hamil lagi?." Tubuh Inara sudah menghadap Rusli yang sedang berusaha melepaskan pakaiannya sendiri.


"Tidak akan sayang, justru mereka akan tambah senang apalagi Papa dan keluarga mu."


Inara dan Rusli sama-sama tertawa dan sore itu mereka melebur menjadi satu. Tidak mau kalah dengan Azka dan Dania.


Azka dan Dokter Tantan sudah berada di tempat mereka, yang digunakan untuk menyembunyikan Joanna dan kawan-kawannya.


Radit dan Medina yang masih di rumah sakit pun bisa melihat dan mendengar bahkan ikut bisa berbicara bersama mereka, dengan sangat jelas dari layar monitor yang telah disiapkan oleh Dokter Levi dan Gatot sebelumnya.


Joanna yang berada di atas tempat tidur sangat bingung dengan keadaannya sendiri. Karena terakhir dia mengingatnya berada di kamar hotel bersama Azka.


"Aku di mana sayang?."


"Di tempat yang seharusnya."


"Kenapa Jo?."


"Aku di mana?. Apa yang kamu rencanakan untuk ku, Azka?. Kenapa ada banyak monitor?." Joanna bangkit dan mendekati Azka, tapi Azka berhasil menghindarinya.


"Untuk apa Dokter Tantan ada di sini juga?." Joanna semakin takut dengan peralatan yang ada di sebelah Azka.


Azka menekan tombol pada layar, lalu Joanna dapat melihat dengan jelas Radit dan Medina yang terbaring.


"Seharusnya aku mengubur kalian hidup-hidup jika aku tahu kalau kalian akan membalas ku!." Teriak Jonna sambil melempar layar monitor itu dengan gelas yang ada di sana, yang ternyata sudah memakai pelindung. Hingga hanya luarnya saja yang retak.


Azka sudah memperhitungkan semuanya dengan sangat baik, karena dia harus membalas apa yang telah Joanna dan kedua orang tua Joanna lakukan pada orang-orang terdekat dirinya.


"Aku ingin Joanna merasakan apa yang dirasakan Medina ketika empat orang pria itu menggilirnya berramai-ramai. Tapi aku ingin Eva dan Darwin menyaksikan itu, sebagaimana aku menyaksikan perbuatan bejad mereka."

__ADS_1


"Ok, sesuai dengan permintaan kau, Radit?!."


Azka meminta mereka untuk masuk. Dan keempat orang yang dimaksud Radit saat ini ada bersama mereka. Sedangkan dari arah pintu. yang lain, Dokter Tantan membawa Eva dan Darwin untuk menyaksikannya.


"Kalian semua jahat!." Eva berusaha berontak tapi tangan dan kalinya sudah diikat. Begitu juga Darwin, dia ingin sekali menyudahi pertikaian ini. Kalau saja dirinya tidak mengikuti kemauan Eva untuk menculik dan menyiksa Radit bahkan menyeret Medina kedalamnya.


"Kalian yang telah memulai semua ini, Apa yang dilakukan Adnan dan kalian sangat tidak bisa aku maafkan. Jadi nikmatilah pembalasan bagi kalian."


Dari arah layar monitor, Medina melambaikan tangan namun tidak bisa didengar oleh Azka mau pun Dokter Tantan. Karena Dokter Levi sudah menekan tanda mute yang ada pada layar atas permintaan Radit. Medina tidak ingin hal itu terjadi pada Joanna karena sakit yang dirasakan Joanna tidak akan pernah hilang. Sama seperti dirinya, Medina tidak akan pernah bisa melupakan.


"Aku mohon Kak Azka, jangan lalukan itu pada Joanna!." Gumam Medina sangat lirih, tapi Medina pun tahu rasa sakit hatinya Azka saat Dania diperlakukan tidak senonoh oleh Adnan.


Dania, dirinya dan Joanna adalah orang-orang yang kurang beruntung karena harus mendaptkan kekerasan dalam hubungan intim.


Semuanya terjadi begitu saja, Eva dan Darwin yang tidak menyelamatkan putri mereka hanya tertunduk lesu sambil menyesali perbuatan pada Medina beberapa waktu.


Kala itu mereka tidak mempedulikan Medina yang memohon, mengiba belas kesaihan dan sekarang itu terjadi pada putri mereka.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Azka dan Dokter Tantan keluar dari tempat itu, setelah apa yang mereka rencanakan sudah dieksekusi dengan sangat baik.


Mereka hanya tinggal menunggu 3X24 jam, pasti mereka akan bisa dipastikan masuk ke dalam rumah sakit jiwa karena gangguan mental yang sangat berat.


Rusli dan Barata tetap memastikan keadaan keluarganya aman setelah apa yang dilakukan oleh Azka.


"Setelah ini kau jangan dulu kemana-mana, aku dan kakek mu akan memastikan kalau semuanya sudah sesuai dengan rencana kita."


"Iya, Pa. Terima kasih."


Azka masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sudah menunggunya.


"Bagaimana?."

__ADS_1


"Semuanya sudah selesai sayang." Azka mengecup pucuk kepala Dania dengan sangat sayang.


__ADS_2