Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 74 Azka Narendra


__ADS_3

Pagi ini Azka dan Rusli sudah bersiap ke kantor dengan ketampanan mereka yang hampir sempurna. Keduanya baru saja menghabiskan sarapan yang sudah disiapkan oleh istri mereka masing-masing.


Rusli dan Azka berangkat ke kantor dengan menaiki mobil yang sama, setelah berpamitan pada istri mereka dan Zayyid. Supaya lebih bisa menghemat semuanya. Barata pun ikut ke sana namun dengan mobil yang berbeda karena ada orang yang ingin dijemputnya.


Mobil mereka berpisah dipersimpangan jalan, ya itu tadi, Barata ingin menjemput seseorang yang akan bekerja di perusahaan Rusli.


Barata tersenyum lebar ketika melihat wanita yang akan dibawanya ke kantor pagi ini, yang memperlihatkan deretan giginya yang masih bagus meksi sudah paruh baya.


"Oppa!." Seru Fathia dari dalam rumah yang diikuti oleh wanita yang usianya tidak jauh beda dari Barata. Paling lebih muda sekitar 4 atau 5 tahun.


Barata sudah tiga sama ini bertemu dengan Betari, nenek dari Fathia yang sudah lama ditinggal mati oleh suaminya.


"Kau jaga baik-baik cucu kesayangan ku, Tuan Barata."


"Itu sudah pasti Betari, kau pun akan aku jaga." Balas Barata sebelum masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Meski pria itu sudah paruh baya, tapi dia masih kuat dan bisa mengendarai mobilnya.


Barata menawari Fathia untuk bekerja paruh waktu di perusahaan Rusli untuk menambah uang buat biaya kuliah dan hidupnya sehari-hari. Tidak bagus juga posisi yang ingin diberikan untuk Fathia, hanya sebagai admin umum saja yang mencatat berkas yang masuk dan keluar.


"Apa aku tidak masalah bekerja sampai jam makan siang?."Sebenarnya Fathia ragu-ragu untuk mengambil pekerjaan itu. Tapi karena desakan dari Barata dan pertimbangan Nenek Betari, jadi Fathia memutuskan untuk mencoba menerima pekerjaannya.


"Tenang, ada aku yang akan menjaminmu."


Fathia hanya menganggukan kepalanya.


"Dan satu lagi, nanti di sana kau akan bertemu dengan tunangannya Dokter Levi. Namanya Nency, jabatannya sebagai sekretaris Rusli. Orangnya baik dan ramah, jadi kau bisa berteman dengan Nency." Barata menceritakan sosok Nency calonnya Dokter Levi, yang beberapa waktu sempat ditawarkan padanya.


"Iya, Oppa." Hanya itu yang bisa dikatakan Fathia karena dia tidak tahu, kenapa juga dirinya harus mengenal sosok Nency yang menurutnya tidak akan pernah bertemu dengan dirinya yang hanya ditempatkan dibagian belakang.


20 menit sudah berlalu, Barata sudah memarkir mobilnya di halaman depan gedung perkantoran milik putranya.


Sampai di lobby kantor, mereka bertemu dengan Dokter Levi dan seorang wanita cantik, anggun dan cukup seksi jika dari perawakannya. Dan Fathia bisa menebak jika itu Nency, kalau dilihat dari Dokter Levi dan Nency berpegangan tangan.

__ADS_1


"Halo Nency, Levi." Sapa Batara lebih dulu menyapa dua anak muda itu.


"Oppa, Fathia." Balas Dokter Levi sambil tersenyum sedangkan Nency hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Kemudian mengajak Oppa dan Fathia bersalaman tanpa berbicara sepatah kata pun.


Fathia dan Batara menerima dengan sangat hangat dan Fathia bisa bersikap biasa saja.


"Kau mau mengantar Nency sampai ruanganya atau sampai di sini?." Tanya Barata sebelum melangkahkan kakinya.


"Sampai ke dalam ruangannya saja, Oppa."


"Baik, ayo kita naik." Ajak Barata pada mereka ketika pintu lift sudah terbuka.


Ting


Mereka semua keluar dari dalam lift, Dokter Levi berpamitan pada Oppa dan Fathia yang akan mengantar Nency ke dalam ruangannya. Sedangkan Barata mengajak Fathia untuk langsung menemui putranya.


Tok Tok


Terdengar dari dalam suara Rusli menyuruh mereka masuk.


"Papa?, Fathia?." Rusli cukup penasaran dengan kedatangan mereka setelah pintu itu dibuka dengan lebar.


Di sana Ada Azka, Almeer dan Shaka yang sedang membahas proyek baru mereka yang ada hubungannya dengan perusahaan Rusli.


"Baik, sekarang katakan apa yang Papa ingin aku lakukan untuk nona cantik ini?."


Barata pun menjelaskan niatnya membawa Fathia ke dalam perusahaan putranya dan dengan sangat senang hati Rusli mau menerimanya tapi itu hanya dibagian umum yang tidak memerlukan waktu banyak untuk setiap harinya. Posisi itu memang sangat cocok bagi Fathia yang seorang pemula dan pekerja paruh waktu.


Fathia langsung diarahkan oleh Barata ketempatnya, karena Rusli harus melanjutkan pembicaraan penting mereka terkait pekerjaan.


Almeer dan Shaka sudah tidak ada di kantor Rusli sebelum makan siang, padahal Inara dan Dania sedang dalam perjalanan menuju kantor dengan membawa banyak makanan untuk makan siang mereka bersama.

__ADS_1


Fathia pun sudah tidak ada di sana saat Dania dan mertuanya sampai di kantor bersama si kecil Zayyid.


"Katanya ada Fathia?, mana Kak?." Tanya Dania sambil menyerahkan Zayyid dalam gendongan suaminya.


"Baru saja berangkat naik ojek, mau aku antar tapi menolaknya." Barata yang menjawab pertanyaan Dania.


"Oh gitu." Balas Dania sangat menyayangkan, ada banyak makanan yang bisa dibawa Fathia ke kampus daripada harus beli lagi.


Azka makan disuapi oleh Dania, suaminya itu sangat manja sekali pada Dania. Barata dan Rusli yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Kenapa, kalian iri?. Papa sama Kakek tidak lihat kalau jagoan ku anteng di dalam gendongan Daddy tampannya. Jadi wajar saja kalau istri ku yang paling cantik ini menyuapi ku."


"Iya Tuan Azka Narendra." Jawab Rusli, Inara dan Barata yang diakhiri sebuah tawa kecil mereka.


Jam makan siang selesai, Dania dan Inara pulang setelah berpamitan pada suami masing-masing. Si kecil Zayyid tidur dalam gendongan Inara. Karena Dania membawa perlengkapan makan siang.


Saat keduanya memasuki lift yang menuju ke lantai bawah, ternyata sudah ada tiga orang karyawan namun Inara tidak mengetahui jika itu dari devisi mana dan lantai berapa?.


Suasana di dalam lift itu terlihat sangat wajar, tidak ada kejadian aneh yang mereka alami di dalam sana. Hanya saja Dania merasakan suatu keanehan saat ketiga orang yang sudah ada di sana, menatapnya dari atas sampai bawah. Dari bawah naik lagi ke atas sambil memperhatikan layar ponsel mereka.


Hawa-hawa tidak enak mulai menyerang tubuh Dania, keringat dingin sudah membasahi pakaiannya dengan tubuh yang bergetar.


"Hei gadis cantik, mau juga dong aku dipuaskan!."


Deg


Inara dan Dania menatap ketiga pria yang sudah menatap menantunya dengan sangat mesum. Apalagi salah satu dari mereka ada yang memutar adegan itu lagi.


"Beraninya kalian kurang ajar pada menantu ku!." Bentak Inara sambil mendekati Dania yang sedang mengontrol emosinya, jangan sampai apa yang Dania lakukan akan merusak nama suaminya dan juga dirinya.


"Oh, Nyonya. Menantu mu ini sangat menggairahkan saat di atas ranjang. Kami akan membayar berapa pun asalkan kami bisa bersama menantu mu itu." Dengan lancangnya salah satu dari mereka mengatakan itu sambil mencoba memegangi Dania, namun Inara berusaha menghalangi dengan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2