Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 66 Azka Narendra


__ADS_3

Atas kesepakatan bersama juga, Dania dan Azka kembali ke bangku pendidikan. Di mana teman satu angkatan mereka sudah mulai meninggalkan keduanya. Azka dan Dania harus menyelesaikan satu tahun pendidikan bagi Dania untuk menyelesaikan sekolah menengah atas. Dan Azka harus merampungkan S2 nya.


Dengan perasaan was-was, Dania mencoba memberanikan diri memasuki gedung sekolah itu setelah Azka pergi ke kampusnya. Yang letaknya bersebelahan dengan sekolah Dania, guna lebih mempermudah akses mereka berdua.


Dania tidak asing dengan seragam putih abu-abunya tapi semuanya jelas terasa berbeda karena yang ditakutinya berasal dari dirinya sendiri dan bisa juga dari orang lain.


Fathia, Medina dan Salma yang biasanya selalu menyambut dirinya di depan kelas, hanya tinggal kenangan karena mereka sudah lebih dulu menyelesaikan pendidikan mereka. Dan sekarang pun Dania belum tahu kesibukan para sahabatnya.


Rambut panjang Dania di potong sebahu, tidak ada perubahan apa pun yang mencolok dari Dania untuk mengelabui orang-orang dari video yang pernah beredar. Hanya saja Azka meminta Dania untuk memotong sedikit rambutnya supaya terlihat lebih segar saja.


"Kenapa hanya berdiri di sini saja, ayo masuk!. Pelajaran saya sebentar lagi akan dimulai." Dania menoleh kearah pria yang meminta dirinya masuk. Menatapnya sesaat lalu bergerak maju dan langsung duduk di kursi yang paling depan karena itu yang hanya tersisa.


"Oh, ternyata seorang guru." Batin Dania.


Dirinya masih menatap satu persatu teman satu kelasnya, mereka semua sibuk dengan diri mereka sendiri. Tidak ada yang memperhatikan dirinya, Dania menghela nafas panjang lalu fokus pada apa yang mulai dikerjakan oleh guru di depan kelas.


Dua jam pertama, Dania sudah bisa bernafas lega saat ada satu orang yang mengajak ngobrol dirinya.


"Dania, sepertinya guru yang tadi melihat kearah kamu terus deh?."


"Ah, enggak. Semua murid juga diperhatikan."


"Enggak, Dania!. Pak guru itu memperhatikan kamu terus. Tapi sayang, kamu fokusnya pada catatan mu. Ih hebat kamu, baru masuk sekolah sudah disukai Pak guru."


Seketika tubuh Dania menjadi panas dingin karena Erina sangat ngotot kalau guru tadi memperhatikan dirinya. Jangan sampai apa yang ditakutkan terjadi, dan kalau terjadi apa yang harus dilakukannya?.


"Kenapa Dania?. Kenapa kamu berkeringat?."


Dengan cepat Dania menggeleng dan segera mengelap keringat yang mulai berdatangan lalu mengedarkan pandangannya. "Mungkin karena AC nya mati."


"Tidak ah, sepertinya AC nya nyala." Sanggah Erina yang menatap lekat pada AC nya.

__ADS_1


Dania segera keluar dari kelas dan langsung menuju toilet. Wajah yang pucat itu dibasahinya beberapa kali, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.


Di tempat lain, sangat berbeda dengan Azka. Di mana pria tampan yang sudah memiliki anak dan istri itu menjadi pusat perhatian semua pasang mata yang melihatnya. Terlebih bagi para kaum hawa yang menggilainya.


Kehadiran Azka seperti kilauan berlian yang menarik mereka untuk berebut mendekat dan ada pula yang ingin memilikinya.


"Baru hari pertama masuk, kau sudah menjadi rebutan para wanita cantik dan seksi." Puji Panji yang baru dikenalnya juga.


"Aku sudah menikah dan memiliki seorang bayi, jadi aku tidak membutuhkan mereka semua." Dengan santainya Azka melewati para wanita yang menonjolkan segala kelebihan yang mereka miliki.


"Kau serius sudah menikah dan memiliki baby?. Apa tidak sayang dengan ketampanan yang kau miliki kalau sudah terikat dengan satu wanita dan berikrar untuk setia?."


"Tidak, justru aku merasa beruntung sudah memiliki mereka di dalam hidup ku." Azka menunjukkan cincin nikah yang tersemat dijari manis sebelah kanannya.


Menjadi pria tampan tidak menjadikan Azka penikmat wanita cantik dan seksi di luar sana. Dirinya sudah sangat puas dengan kecantikan dan keseksia yang dimiliki Dania.


Azka duduk bersebelahan dengan Panji, kemudian pria tampan itu mengirimkan sebuah pesan singkat pada istrinya. Karena tidak mendapatkan balasan, Azka memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas.


Di saat para mahasiswa lain yang berjumlah tidak lebih dari 15 orang itu sibuk mengerjakan tugasnya, Azka justru kedatangan Dosen tadi yang sekarang sudah berdiri didepannya.


"Kalau kau butuh Dosen pembimbing, aku siap membantu." Bisik Dosen itu menggoda.


"Tidak, aku bisa mengerjakannya sendiri." Balas Azka tanpa menghiraukan wanita yang sedikit memajukan dadanya kearah pundak Azka.


Namun Azka sudah ada dalam sikap siaga kalau saja dada itu menempel pada pundaknya, tapi untungnya saja tidak, jadi Azka masih bisa bersikap santai dan tidak mempedulikan aksi dari Dosen tersebut.


Waktu berputar sangat cepat, hingga kini Azka sudah berada di depan sekolah Dania. Sudah tiga puluh menit dirinya betapa di sana, tapi Dania belum muncul juga.


Azka mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil saat sudah melihat istrinya, tapi Dania keluar tidak sendiri melainkan ada seorang pria yang berpenamlilan formal.


Api cemburu mulai menyulut hati Azka kala Dania tersenyum ramah pada pria yang diyakininya adalah seorang tenaga pengajar.

__ADS_1


Dania segera berlari kearah mobil suaminya yang sudah terparkir.


"Wali kelas atau guru mata pelajaran apa pria yang tadi bersama mu?."


"Guru bidang studi matematika."


"Seperti sudah sangat akrab."


Dania menoleh pada Azka yang sudah membawa mobilnya pergi dari sekolah. Dania menangkap ada sesuatu yang tidak disukai oleh suaminya.


"Kak Azka melihatnya seperti itu?."


Azka terdiam dan memikirkan kembali apa yang dikatakannya. Padahal tadi juga dirinya di kampus di goda oleh Dosen cantik dan seksi itu. Mungkin Dania juga akan merasa cemburu dan seharusnya bisa untuk dihindari.


"Bukan begitu sayang, baru masuk satu hari sekolah sudah sangat akrab."


"Aku nya atau Pak Reza nya?."


"Oh, namanya Pak Reza."


Dania mengangguk sambil terus memiringkan tubuhnya guna melihat setiap respon yang diberikan oleh Azka.


"Pak Reza nya sayang, yang terlihat sok dekat dan sok asyik sama kamu."


Azka berusaha untuk menekan rasa cemburunya, hal ini tidak pernah dirinya perhitungkan sebelum mengambil keputusan untuk meminta Dania bersekolah lagi. Sekarang sudah terlanjur dan dirinya harus bisa mengontrol perasaannya.


"Aku enggak bisa melarang orang untuk dekat atau pun baik pada ku, Kak. Karena aku sendiri status di sekolah sebagai pelajar yang tidak mungkin berstatus istri dari seseorang. Jadi kalau mau, aku tidak usah sekolah lagi."


Dania menjadi serba salah sendiri dengan dirinya kembali ke sekolah lagi, masalah video itu belum ketahuan nantinya bagaimana. Ini sudah ada masalah baru yang muncul dalam hubungan pernikahan mereka yang baru beberapa bulan.


"Aku sangat cemburu, sayang." Aku Azka sambil mematikan mesin mobilnya karena sudah sampai di depan ruamh.

__ADS_1


__ADS_2