Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 15 Azka Narendra


__ADS_3

Makan malam telah selesai beberapa menit lalu, para staf guru dan dosen yang bekerja untuk lembaga pendidikan milik Rusli bergabung berbaur menjadi satu. Meski sebelumnya mereka sudah saling mengenal. Mereka membicarakan banyak hal mengenai pendidikan yang terjadi baik di tingkat sekolah atau pun kampus.


Begitu juga ada beberapa mahasiswa yang datang ke sana karena beasiswa yang didapatnya, sama seperti Dania. Termasuk ada Adnan yang merupakan adik dari Joanna yang sebentar lagi akan menikah dengan Azka.


"Aku kira kamu tidak datang, Pak Gupta ingin bertemu dengan mu."


Dania langsung menyalami Pak Gupta walau pun tadi di pertemuan pertama mereka sudah bersalaman.


"Saya bangga pada mu, Dania. Hanya kamu yang bisa membaca soal saya dangan baik dan benar." Pak Gupta mengacungkan dua jempolnya untuk Dania.


"Pak Gupta terlalu berlebihan. Tapi, terima kasih atas pujiannya, saya sangat tersanjung." Dania sedikit membungkukkan tubuhnya sambil tersenyum ramah.


Tapi sayang bagi Azka sangat terlihat berbeda senyum yang Dania perlihatkan pada Adnan dan Pak Gupta. Itu sebuah senyum menggoda yang diperlihatkan seorang wanita murahan untuk mendapatkan mangsanya.


"Sepertinya Adnan menyukai pelayanan cafe mu, sayang. Tapi, ternyata pelayan itu sangat pintar." Antara senang dan tidak Joanna melihat hal itu.


Azka tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Joanna, fokusnya hanya pada Dania yang dikelilingi oleh para guru dan Adnan.


Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 22.30, waktunya bagi para tamu undangan untuk berpamitan pada pemilik rumah.


Karena Adnan memaksa, maka malam ini Dania pulang diantarkan oleh Adnan mengendarai motor besar kesayangannya.


"Tapi maaf aku hanya menaiki ini, bukan mobil seperti yang lainnya." Ucap Adnan rendah hati.


"Ini sudah lebih dari cukup bagi ku, Kak Adnan. Biasanya aku naik ojek online atau angkutan umum." Balas Dania sambil tersenyum.


Lalu Adnan segera tancap gas sepeda motornya, membawa Dania pergi dari rumah Rusli.


Setelah melewati perjalanan kurang dari tiga puluh menit, akhirnya Dania sampai di rumah. Adnan pun pamit setelah memastikan kalau besok Dania mau berangkat bersama dirinya ke sekolah.


"Siapa lagi yang mengantarkan mu pulang, Nia?." Tanya Mama Ningrum dari balik pintu.


Sebenarnya Mama Ningrum percaya kalau anak gadisnya bisa menjaga diri di luar sana. Tapi jika melihat pulang di antar oleh seorang pria, Mama Ningrum memiliki kekhawatiran sendiri.


"Kak Adnan, Ma. Teman kampus Kak Radit sama Kak Rania." Dania duduk di sebelah Mama Ningrum.

__ADS_1


Dania tahu pasti Mama nya sangat khawatir. Apalagi pulang larut malam di antar pria tidak di kenal juga.


"Mama tenang saja, aku bisa jaga diri, Ma." Dania memegangi kedua tangan Mama Ningrum lalu menciumnya dengan takzim.


"Iya, Nia. Mama sangat percaya, Nia." Ada kegundahan di dalam hati Dania, semoga saja dirinya datang bulan. Atau tidak Dania harus mengkonsultasikannya pada dokter.


"Sekarang tidur lah, besok pagi harus sekolah lagi kan?."


"Iya, Ma. Selamat malam." Dania mengecup pipi Mama Ningrum.


"Selamat malam, Nia." Mama Ningrum pun melakukan hal yang sama pada Dania.


.....


Sampai di sekolah, Dania menjadi buah bibir satu sekolah plus satu kampus karena satu motor bersama Adnan. Orang tampan dan pintar setelan Azka yang menjadi rebutan para cewek-cewek yang masih single.


Pasang mata itu begitu iri pada Dania, gadis berseragam putih abu-abu yang berhasil duduk di belakang Adnan. Menghirup aroma wangi tubuh Adnan dan merasakan punggung kokok yang pastinya membuat nyaman para cewek-cewek.


"Kamu berhasil menjadi primadona, Dania. Karena sudah di bonceng oleh Adnan. Most wanted di sekolah dan di kampus setelah Azka Narendra." Ucap Salma begitu antusias.


"Biasa saja ah, kalian kan tahu aku kenal sama Kak Adnan karena Kak Radit dan Kak Rania. Tapi kalau di bonceng naik motornya, ya baru pagi ini. Itu juga Kak Adnan maksa." Jelas Dania yang merasa tidak enak menjadi bahan gosip orang banyak.


"Sudah lah biar saja orang iri pada mu, Dania." Medina tidak ambil pusing masalah itu. Karena di kampus itu tidak ada yang menarik perhatiannya.


Keempat gadis cantik masuk ke dalam kelas karena suara bel sudah berbunyi.


Kabar Adnan dan Dania pun sampai pada telinga Azka yang hanya mampu berbaring di atas tempat tidur. Karena pagi ini dirinya kembali muntah-muntah dengan durasi yang hampir sama seperti kemarin. Azka sangat mengutuk apa yang dialaminya sekarang. Karena dirinya jadi tidak bisa mengerjakan apa pun, tenaganya sudah terkuras habis saat muntah-muntah.


"Ah, sial." Azka menggerutu sendiri tanpa bisa melakukan apa pun.


Azka berusaha bangkit dan berjalan kearah balkon, membuka pintunya lebar guna menghirup udara pagi ini.


Azka menghubungi dokter pribadi keluarga mereka lagi, dirinya mau minta resep obat yang lebih manjur supaya dirinya bisa cepat sembuh dari mual muntahnya.


"Dokter Tantan lagi sibuk enggak?."

__ADS_1


"Baru mau praktek, Azka. Ada apa?."


"Obat yang kemarin aku minum ternyata tidak bisa membantu mengatasi mual muntah. Tapi pagi pun aku begitu lagi dan bisa di bilang lebih parah. Sama hidung ku tidak bisa mencium bau-bauan, aku sangat tersiksa. Untuk mencium parfum kekasih ku saja tidak bisa, pasti mual muntah." Terang Azka.


Kalau kemarin yang bercerita kedua orang tuanya, hanya memberitahu soal muntah-muntah saja. Sekarang Azka sendiri yang mengatakannya pada Dokter Tantan.


"Kau serius mengalami itu, Azka?."


"Iya, Dokter. Setiap pagi hingga siang aku akan lemas dan merasa tidak bertenaga. Tapi sore sampai malam hari aku bisa normal beraktivitas tapi tetap tidak bisa mencium aroma-aroma yang lain." Terang Azka lagi.


Hening untuk beberapa saat, entah apa yang sedang dipikirkan Dokter Tantan di sana. Sehingga Azka tidak bisa mendengarkan apa-apa.


"Dokter Tantan!."


"Iya, Azka. Sorry aku sedang berpikir."


"Apa?."


"Apa kau dan calon istri pernah melakukan hubungan suami istri sebelum ini?."


Azka terdiam, kenapa pertanyaan Dokter Tantan malah sangat pribadi?."


"Azka!."


"Iya, Dokter Tantan."


"Apa hubungannya sakit ku dengan aku yang pernah berhubungan intim?."


"Sangat besar kemungkinannya, Azka. Kalau kau bersedia besok pagi kau ke rumah sakit, kita periksa lagi. Karena sekarang pasien ku sudah mengantre panjang."


"Ok, Dokter Tantan. Sampai bertemu besok."


Azka memegangi ponselnya sambil mengingat kembali perkataan Dokter Tantan, tentang hubungan suami istri yang ada hubungannya dengan sakit yang sedang dideritanya.


"Apa hubungannya Dania dengan ku?." Karena Dania wanita pertama dan satu-satunya yang di sentuh oleh Azka.

__ADS_1


__ADS_2