Azka Narendra

Azka Narendra
Bab 36 Azka Narendra


__ADS_3

Eva dan Darwin bersikeras tidak ingin Azka membatalkan pernikahannya dengan Joanna. Walau pun Azka sudah menjelaskan duduk perkaranya. Selain rasa malu karena semua koleganya sudah tahu dirinya akan berbesan dengan Inara dan Rusli. Pernikahan itu harus tetap terlaksana supaya menaikkan lagi pamor mereka dikalangan dunia bisnis.


Mereka berdua mengingatkan janji-janji Azka yang diucapkannya untuk Joanna. Lalu kenapa sekarang Azka malah ingkar janji karena masalah sepele itu?.


Hal biasa yang sering terjadi bukan pada pasangan yang sudah sama-sama dewasa?. Itu tidak akan menjadi penghalang atau menghancurkan hubungan mereka yang telah lama saling memiliki. Asalkan jangan dilakukan setelah adanya pernikahan.


Karena pembatalan tersebut merupakan tamparan keras bagi keluarga mereka, terlebih mereka dari pihak wanita. Mereka tidak ingin mental Joanna kritis karena batal menikah.


Joanna tertunduk lesu di hadapan mereka semua. Tapi, tidak sedikit pun Azka merasa kasihan atau pun ingin kembali pada wanita itu.


"Kau bisa memberikan tanggung jawab pada calon bayi itu dan ibu nya dengan memberikan uang pada mereka. Karena itu yang diinginkan oleh mereka bukan?, uang yang sangat banyak!." Eva menganggap sepele hal besar yang terjadi pada Dania.


Azka menggelengkan kepalanya.


" Lagi pula aku tidak pernah satu kali pun menyentuh Joanna, Om, Tante."


"Itu tidak mungkin!." Bantah Darwin.


Pria normal berdekatan, berduaan dengan lawan jenis seperti Joanna pasti ada hasrat atau gairah yang bangkit. Mustahil Azka tidak seperti itu.


"Om dan Tante tetap bisa menikahkan Joanna di tanggal yang sama dengan tanggal pernikahan yang sudah tercetak dalam undangan. Tapi, mempelai prianya orang yang telah menyentuh Joanna dan aku yakin kalau mereka masih memiliki hubungan sampai sekarang."


Joanna tetap bungkam, hanya sesekali saja wajah itu terlihat dengan air mata yang sudah menetes.


"Dasar kau anak bodoh!. Tidak tahu di untung!." Eva menonyor kepala putrinya yang tertunduk.


Rusli dan Inara tidak bisa ikut campur dalam keputusan Azka. Karena sebenarnya mereka tidak menginginkan pernikahan itu terjadi. Hanya saja dari awal putra semata wayang mereka yang tetap berpegang teguh untuk memperistri Joanna.


Kalau pun pernikahan itu harus tidak jadi, itu keuntungan bagi Inara dan Rusli. Tanpa memaksa Azka, justru anak mereka yang membatalkannya sendiri.


Perdebatan alot itu tidak akan menemukan ujungnya, baik Azka dan pihak keluarga Joanna tetap mempertahankan argumennya masing-masing. Maka dari itu, Rusli sebagai kepala keluarga berjanji pada Eva dan Darwin untuk berbicara pada Azka.


Barata hanya menjadi penonton saja bagi mereka yang berada di lantai bawah. Namun dia tersenyum senang ketika Azka tetap ingin membatalkan pernikahannya dengan Joanna.


Saat waktu menjelang malam, Azka mendatangi cafe di saat kedua sahabatnya berada di sana. Untuk kali pertama Azka menampakkan batang hidungnya lagi di cafe setelah Almeer dengan terang-terangan mendekati Dania. Rencananya Almeer akan kembali ke perusahaan keluarganya dan meninggalkan cafe milik Azka.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku berharap kau akan jauh lebih sukses lagi di perusahaan." Ucap Azka sebagai penutup pembicaraan mereka. Kemudian Azka mengulurkan tangannya pada Almeer.


"Terima kasih." Almeer menerima uluran tangan Azka dan mereka berjabatan tangan cukup lama.


Almeer berpamitan pada Shaka dan Azka lalu keluar dari ruangan tersebut.


Azka menatap Shaka yang masih duduk ditempatnya. "Kau sendiri masih mau di sini atau pergi ke tempat lain?."


"Aku di sini saja. Tapi itu juga kalau kau masih mau mempekerjakan aku."


"Tentu saja, kau yang akan mengelola cafe ini. Paling sesekali saja aku datang ke sini."


"Ok." Shaka mengangguk.


.....


Hari ini memasuki bulan ketiga kehamilan Dania. Wanita hamil itu baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan. Tanpa adanya yang menemani, Dania lebih memilih untuk memeriksanya seorang diri. Karena ini adalah bayinya seorang. Dania langsung menebus resep vitamin, karena persediaannya sudah habis.


Dania kembali pulang menaiki angkutan umum, dirinya memilih rute yang cukup jauh dari biasanya. Sebab Dania ingin melihat sesuatu yang sangat diridukannya. Dania menaiki angkutan umum yang berbeda namun dengan tujuan yang sama hanya saja bukan jalan yang biasa dilewatinya.


Milik siapa sekarang toko bunga Dania?. Kenapa masih memakai nama dirinya?.


Dania mendekati toko bunga tersebut lalu membaca selembar kertas yang bertuliskan lowongan pekerjaan yang menempel pada kaca.


Dirinya saat ini sudah tidak bekerja lagi di cafe milik Azka setelah kepergian kedua orang tuanya. Dania tidak ingin berada di bawah bayang-bayang Azka, jadi Dania memutuskan untuk pergi dari Azka meski masih di wilayah Jakarta.


"Permisi!." Ucap Dania setelah masuk dan mendekati tiga pegawai perempuan yang sedang merapikan bunga-bunga yang batu datang.


"Iya, Mbak. Ada apa?." Tanya salah satu pegawai dengan ketus.


Namun Dania masih bisa tersenyum pada pegawai yang ketus itu.


"Apa lowongan pekerjaannya masih ada?."


Pegawai ketus itu menatap dua teman yang lainnya, kemudain mengangguk.

__ADS_1


"Masih ada. Tapi di sini pekerjaannya berat dan banyak loh, emang kamu sanggup mengerjakannya?."Ucap pegawai yang ketus lagi.


Dania mengangguk dengan cepat, dirinya harus bisa bekerja di tempat in. Karena di sini banyak kenangan manis dirinya dan sang Mama begitu juga Papanya. Walau pada akhirnya seorang pria egois telah merampasnya. Dan sekarang, Meski pun berat Dania akan tetap bertahan demi tetap berada di sini.


"Saya harus bertemu siapa untuk melamar pekerjaan ini?."


"Ada Ibu Meisa di lantai 2. Kamu langsung saja temui beliau." Jawab pegawai yang lain. Karena si ketus sedang melayani pembeli yang baru datang.


Dania mengangguk, lalu masuk kearah belakang menuju anak tangga yang terhubung ke lantai 2. Tempat ini belum berubah, malah terlihat lebih baru, rapi dan sangat bersih.


Sampai di ruangan yang menjadi ruangan Mama dan Papa nya semasa hidup, Dania menarik nafas dalam-dalam supaya bisa mengontrol perasaannya.


Tok... Tok...


"Masuk!."


Dania mendorong pintu perlahan dan terlihat lah wanita paruh baya yang duduk di kursi milik kedua orang tuanya.


"Mau melamar pekerjaan?."


"Iya Ibu Meisa."


"Silakan masuk dan duduk di sana!." Ibu Meisa menunjuk sebuah kursi yang didepannya sudah banyak bunga-bunga hidup yang sangat wangi dan cantik.


Dania pun duduk di sana sambil bisa menghirup aroma bunga yang sudah lama tidak dirasakan karena kejadian itu.


"Coba kamu buat kan aku tiga rangkaian bunga. Satu untuk kedua orang tua mu, untuk kekasih mu dan satu lagi untuk ku."


Deg


Dania seketika tetdiam mendengar nama kedua orang tuanya di sebut. Tapi dengan senyum yang mengembang Dania segera menyelesaikan tiga permintaan Ibu Meisa.


"Apa kedua orang tua mu sudah tiada?." Tanya Ibu Meisa melihat karangan bunga cantik tapi tidak memiliki nyawa dalam rangkaian bunga yang di buat oleh Dania.


Dania hanya mengangguk namun dengan senyum tipis dibibir merah alaminya.

__ADS_1


__ADS_2