
Inara begitu sangat panik melihat putra semata wayangnya mendadak sakit seperti itu, muntah-muntah sekitar 10 sampai 15 menit di ruang makan karena tidak sempat berlari ke kamar mandi. Begitu juga dengan Joanna dan kedua orang tuanya sangat panik melihat kondisi Azka.
Rusli yang tidak mau Azka kenapa-napa langsung menghubungi dokter pribadi keluarga mereka untuk segera datang ke rumah guna memeriksa keadaan Azka. Ini kali pertama dirinya melihat Azka sakit sampai muntah-muntah dengan durasi yang cukup lama menurutnya.
Rusli dan Darwin membawa Azka ke kamarnya, karena tubuh Azka begitu lemah. Sementara ketiga wanita itu hanya mengekor. Tapi sebelum itu Inara meminta pelayan untuk membuat air rebusan jahe untuk mengurangi rasa mual.
Azka sudah berganti pakaian dan berbaring di tempat tidurnya sambil menunggu kedatangan dokter Tantan.
Setiap pertanyaan yang diajukan pada Azka pasti di jawab Azka dengan sebuah gelengan kepala. Karena dirinya pun tidak mengetahui apa yang sedang terjadi pada tubuhnya.
Tiga puluh menit kemudian, dokter pribadi keluarga mereka sudah tiba di rumah itu dan langsung saja memeriksa tubuh Azka. Mencari sesuatu penyakit apa yang sedang diidap oleh putra tunggal pemilik rumah.
"Bagaimana kondisi putra ku, Tantan?."
"Baik, tidak ada masalah. Mungkin terlalu lelah bekerja jadi Azka mengabaikan asupan makanannya." Jawab dokter Tantan sambil merapikan perlengkapan medis yang dibawanya.
"Bagus kalau tidak ada yang serius dengan keadaan putra ku. Karena mulai besok dia akan kembali duduk di kursi CEO."
"Ok, semuanya baik-baik saja. Cepat sembuh Azka dan aku sudah menuliskan resep yang bisa kalian beli di apotik terdekat." Dokter Tantan bersalaman dengan semuanya sebelum dirinya berpamitan dan pergi dari rumah itu.
"Sekarang kau istirahat saja di rumah, biarkan kedua sahabat kau yang bekerja. Joanna kau temani Azka di sini dan pastikan makanannya dihabiskan dan obatnya nanti di minum."
"Iya, Om. Aku akan menjaga calon suami ku dengan baik." Joanna mengambil posisi di dekat Azka. Kemudian para orang tua mereka keluar dari kamar Azka.
Namun apa yang terjadi, Azka kembali merasa mual saat berdekatan dengan Joanna dengan parfum yang sangat menusuk indra penciumannya.
"Sayang, memang aku bau?." Tanya Joanna sambil mengendus tubuhnya sendiri, jujur saja Joanna cukup jengkel dengan Azka yang begitu.
"Kamu tidak bau, sayang. Tapi aku tidak ingin mencium bau apa pun dulu saat ini. Lebih baik kamu sarapan bersama mereka di bawah, aku akan sarapan di sini." Usir Azka pada kekasihnya setelah ada pelayan yang membawa satu nampan berisi makanan dan obat yang harus diminumnya.
__ADS_1
Azka tidak ingin kembali merasakan mual muntah yang baru pertama kali dialaminya selama dia hidup. Sebab menurutnya, Joanna terlalu berlebihan dalam memakai pewangi untuk tubuhnya.
"Sayang!." Joanna merasa tidak terima di usir dari kamar Azka.
Ini juga kali pertama Joanna memasuki kamar Azka selama dirinya berpacaran dengan Azka. Dan walau pun dirinya sekarang tinggal dalam satu atap yang sama bersama Azka, tapi Azka tidak pernah membawanya masuk ke dalam ruangan pribadi Azka.
"Please, Joanna!." Azka tidak ingin mendengar penolakan dari Joanna. Hanya Dania saja yang boleh menolaknya.
"Dania..." Azka mengingat Dania yang pastinya sekarang sedang di goda oleh Almeer dan Shaka.
Dirinya tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Azka harus segara pulih supaya bisa datang ke cafe untuk melihat Dania secara langsung.
Dania yang saat ini sedang berada di dalam toilet, diam mematung di depan cermin. Setelah beberapa saat dirinya berpapasan dengan Chaca yang dari toilet juga. Chaca membicarakan soal menstruasi yang menurutnya sangat ribet kalau di tempat bekerja. Karena dalam satu hari, Chaca bisa menghabiskan pembalut 6 sampai 7 pcs.
Mengingat hal itu, seharusnya dua hari yang lalu Dania mendapatkan tamu bulanannya. Sebab lima bulan terakhir selalu datang mundur dua hari dari tanggal sebelumnya.
Hari sudah sore, di mana Dania dan semua karyawan yang masuk pagi sudah bersiap untuk pulang karena memang sudah waktunya pulang kerja.
Dania yang berpapasan dengan Azka yang baru tiba di cafe harus menundukkan pandangannya karena mata tajam Azka menatapnya sinis. Tapi ada yang aneh dengan penampilan Azka yaitu menggunakan masker, padahal sedang tidak ada wabah penyakit yang berbahaya.
Dania segera menaiki angkot yang berhenti didepannya karena ada penumpang lain yang turun.
Sedangkan Azka yang baru mendaratkan bokongnya di kursi langsung mendapatkan todongan pertanyaan dari Almeer dan Shaka terkait penampilan sore ini.
"Kau serius sedang sakit penyakit menular?." Almeer memicingkan matanya menatap Azka sangat lekat. Sekaligus Almeer mendapatkan perlawanan sengit saat hendak membuka masker Azka. Kalau sampai itu terjadi bisa-bisa dirinya kembali mual dan muntah.
"Kau cukup berdiri jauh dari ku, jangan dekat-dekat. Sebenarnya kalian yang sedang menyebarkan virus pada ku. Jadi kalian yang harus menjaga jarak aman." Ketus Azka. Sebab dirinya mulai pusing mencium bau-bauan lagi.
Ternyata sebuah keputusan yang salah Azka mendatangi cafe, karena Dania sudah pulang dan dirinya mencium wangi-wangian yang sangat tidak disukai oleh hidungnya sehingga langsung berpengaruh pada kepala dan perutnya.
__ADS_1
"Lebih baik aku pulang lagi, ku serah kan malam ini cafe di tangan kalian berdua." Azka bangkit dan segera keluar dari ruangan.
Keesokan paginya, sekitar pukul 09.00. Dania menerima undangan yang diberikan oleh guru wali kelasnya, Pak Ahsan.
"Ini undangan apa, Pak?." Dania hanya menatap undangan itu.
"Undangan makan malam dari pemilik sekolah, pemilik kampus sekaligus yang memberikan beasiswa penuh pada mu." Jawab Pak Ahsan menjelaskan isi undangan tersebut. Sebab semua guru pun mendapatkan undangannya.
"Tapi untuk apa makan malam di sana?." Dania sudah membaca jika undangannya di rumah Pak Rusli dan Ibu Inara.
"Mungkin untuk lebih mengenal siapa murid berprestasi yang beruntung mendapatkan beasiswa sekaligus 2 sampai S2, penuh lagi."
"Kalau saya tidak hadir?." Meski ragu-ragu tapi keluar juga pertanyaan itu dari mulut Dania.
Pak Ahsan tersenyum sambil menatap wajah muridnya yang semakin cantik setiap harinya, tapi sayang Pak Ahsan sudah beristri dan cintanya sudah terpatri untuk sang istri.
"Hanya kamu yang berani bertanya begitu, karena semua orang di luar sana banyak yang berlomba untuk bisa di lihat oleh keluarga mereka. Jadi menurut saya, jangan pernah sia-sia kan kesempatan emas ini yang mungkin tidak akan datang dua kali, Dania."
Dania masih ragu dengan keputusannya malam ini, apa dirinya akan datang atau tidak?. Tapi dirinya sudah meminta izin untuk tidak bekerja karena alasan tersebut.
.....
"Selamat malam, maaf saya datangnya terlambat."
"Ok, Dania. Silakan ikut bergabung dengan yang lainnya. Pak Ahsan sudah memberitahu ku kenapa murid sepintar mu datang terlambat di acara makan malam ini." Sambut tuan rumah.
"Terima kasih, Pak Rusli dan Ibu Inara."
Dania mencari tempat duduk yang kosong dan itu harus berdekatan dengan Azka yang menutup sebagian wajahnya dengan masker.
__ADS_1