
Sejahat apa pun Azka padanya, Dania tidak benar-benar bisa mengabaikan apalagi sampai membenci Azka. Karena pada kenyataannya, saat ini Dania sedang membantu Azka mengganti pakaiannya lalu berbaring di tempat tidur dalam pelukan Azka.
"Aku pasti akan cepat pulih setelah ini." Azka mengeratkan pelukannya pada tubuh Dania.
"Iya, itu lebih bagus. Pak Ahsan sudah mengirimkan materi untuk soal latihan matematika." Balas Dania sambil menghadap dada bidang Azka yang tertutup koas.
Tidak berapa lama, terdengar dengkuran halus yang berasal dari Azka. Pria itu tertidur lalap dalam pelukan Dania.
Dania memberanikan diri untuk menatap wajah Azka yang sangat teduh jika saat sedang tertidur. Sangat jauh berbeda dengan Azka yang selama ini berbuat jahat padanya.
Sudah hampir satu jam lamanya Dania menemani Azka di tempat tidur. Dania berusaha bangkit dan menjauh dari pria itu setelah pelukannya melonggar.
"Mau kemana, Dania?." Azka melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Dania.
"Aku harus segera mengerjakan tugas." Dania berusaha melepaskan diri.
Bukannya melepaskan Dania, Azka malah menarik Dania hingga sampai telentang disebelahnya.
"Stop!. Jangan pernah menyentuh ku lagi." Pinta Dania sembari menyilangkan tangan pada dadanya.
Azka menggeleng lemah. "Tidak hari ini. Karena setelah ini kita akan pergi ke kantor."
Dania segera menggeleng. "Tidak selamanya. Kak Azka sangat mencintai Joanna bukan?." Azka mengangguk. "Kalau begitu seharusnya Kak Azka menyentuh Joanna, bukan aku atau wanita lain di luar sana."
Azka menatap wanita yang pagi ini tidak mengenakan seragam putih abu-abu. Tapi memakai pakaian yang kasual yang sangat sederhana. Namun tidak mengurangi kecantikan ragawi yang dimiliki oleh Dania.
"Terhadap mu pengecualian." Lantas Azka bangkit dan segera menuju ke kamar mandi.
Hanya kurang dari tiga puluh menit, Azka sudah rapi dengan setelan kantornya. Berbarengan dengan Dania yang mampu menyelesaikan tugas lalu mengirimkannya pada Pak Ahsan.
"Ayo, kita ke kantor. Aku sudah di tunggu." Azka membuka pintu kamarnya untuk Dania.
"Kak Azka!."
"Apa?."
"Aku tidak ikut ke kantor ya?. Aku ke sekolah saja."
__ADS_1
Azka menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. "Aku pasti akan muntah-muntah lagi, Dania!. Lagian aku sudah meminta Pak Ahsan untuk tetap memberikan nilai bagus pada mu selama kamu menemani ku di sini."
"Kak Azka!."
"Aku hanya bercanda, Dania. Tanpa kamu sekolah pun, nilai mu sudah bagus dan Pak Ahsan juga tahu. Bahkan Pak Gupta juga. Pak Gupta sampai membandingkan diri mu yang jauh lebih pintar dan cerdas di atas ku."
Kini Dania yang menghembuskan nafasnya dengan panjang.
Azka langsung menarik tangan Dania supaya cepat turun ke bawah dan segera menuju mobilnya.
"Pak Kamil sudah di depan, Tuan Azka."
Azka hanya mengangguk pada wanita paruh baya yang sudah lama ikut bekerja dengan keluarga mereka.
Dania dan Azka duduk di belakang dengan penghalang kaca yang di tutup tirai. Jadi Azka leluasa untuk manja pada Dania.
"Ini kemauan bayi kita." Dengan tiba-tiba Azka mencium perut Dania. Sampai-sampai Dania harus menahan nafas dengan kedua tangan ke atas.
Cukup lama mencium perut Dania, kini Azka menarik tangan Dania lalu diletakkan di atas kepalanya.
"Gerakkan jari-jari mu, Dania."
Azka tersenyum di dalam pangkuan Dania yang menghadap kearah perut, di mana ada benih dirinya yang sedang hidup di dalam sana.
Setelah melewati perjalanan hampir empat puluh menit, kini Azka dan Dania sudah turun dari mobil.
Gedung yang menjulang sangat tinggi yang saat ini di pijak oleh Dania. Namun, Dania berusaha bersikap biasa saja.
Baru masuk gedung saja, Azka sudah mendapatkan sambutan berupa ucapan selamat datang. Tapi, Azka mengabaikan itu semua.
"Selamat siang, Pak Azka. Selamat datang kembali di perusahaan The Royals."
Dengan gagah dan penuh kharisma Azka berjalan melewati beberapa orang tadi. Tapi, sayangnya menurut Dania. Azka sangat sombong dan angkuh.
Setelah sampai di depan ruangan, Azka kembali di sambut oleh Adnan dan Joanna yang baru tiba dari bandara. Jika Joanna membawa Azka ke dalam ruangan CEO, maka Dania dan Adnan menunggu di luar saja.
"Kak Adnan di sini juga?."
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat?."
"Jadi benar apa yang dikatakan oleh Joanna, kalau kamu menggantikan posisi Joanna."
"Bagaimana maksudnya, Kak Adnan?."
Adnan menceritakan kembali pada Dania, apa yang disampaikan oleh Rusli untuk mereka bertiga. Tapi Joanna malah menyerahkan tanggung jawabnya pada Dania. Dan Adnan tidak tahu apa alasannya.
Dania hanya mengangguk setelah selesai mendengar penjelasan Adnan.
"Tapi aku ada senangnya juga, Karena setiap hari bisa bertemu sama kamu." Adnan tersenyum manis pada Dania.
Sudah tidak malu lagi bagi Adnan untuk mengekspresikan perasaannya lagi pada Dania. Ya, walau pun Dania belum merespon apa-apa. Tapi, setidaknya Dania tahu perasaan hatinya.
"Kenapa kalian masih di luar?." Azka membuka pintu ruangannya dengan sangat lebar. Mempersilakan kedua orang yang masih berdiri itu untuk segara masuk.
Adnan dan Dania masuk beriringan dan kemudian duduk di kursi yang menghadap kursi CEO.
"Dania, kau harus standby disampingku. Perlu atau tidak diperlukannya diri mu!." Instruksi Azka sangat dimengerti oleh Dania dan Azka tidak perlu mengulangnya lagi.
"Dan kau, Adnan. Kau bisa mulai tanyakan pada asisten Papa. Pekerjaan apa saja yang bisa dan tidak bisa kau handle. Itu jauh lebih baik dari pada kalian berduaan."
Adnan menatap tajam pada Azka, apa maksud dari perkataannya?. Apa tidak salah dengar seorang Azka Narendra keberatan jika dirinya berduaan dengan Dania?. Sejak kapan?."
"Sudah lah sayang, mungkin kamu belum tahu. Kalau Adnan sedang pendekatan dengan Dania. Dan ya, semoga saja Dania mau menerima Adnan. Dengan begitu dia menjadi kakak ipar ku, tidak masalah bukan?."
Mendengar penjelasan dari Joanna, tangan Azka terkepal menahan kemarahannya. Tapi, Azka tidak bisa memperlihatkannya dihadapan mereka.
Sementara Almeer dan Shaka masih penasaran dengan apa yang terjadi pada saat CCTV ruangan mereka dimatikan.
"Apa ini hanya insting ku saja." Almeer menopang dagu dengan kedua tangannya dengan tatapan menerawang jauh ke depan.
"Apa?, mengenai apa?. Azka dan Dania?." Shaka meneguk air minum kemasan miliknya.
Almeer mengangguk. "Iya lah mereka, siapa lagi?."
"Apa Azka dan Dania terlibat suatu hubungan?. Bagaimana dulu Azka keberatan Dania bekerja di sini dan sekarang malah meminta gadis itu untuk menjadi asistennya." Lanjut Almeer masih sangat penasaran.
__ADS_1
"Aku tidak tahu pasti, aku juga tidak pernah melihat Azka atau pun Dania berduaan. Jadi aku tidak bisa berkomentar apa-apa." Timpal Shaka.
"Kita harus cari tahu, karena aku yakin kalau mereka memiliki hubungan." Almeer sudah bertekad untuk mencari tahu Azka dan Dania. Sebelum dirinya maju untuk bersaing dengan Adnan.