
Sudah berulang kali Dania menguap, merasakan kantuk yang sangat luar biasa malam ini, dirinya pun tertidur di atas lantai yang beralaskan sehelai tikar di dalam ruangan yang gelap. Karena Adnan kembali mengurung Dania di dalam sana.
Pintu ruangan tersebut terbuka lebar, Adnan masuk dan menggendong tubuh Dania, membawanya masuk ke dalam kamar miliknya.
"Seharusnya kamu tidur di sini bersama ku, Dania!." Adnan mengelus betis Dania hingga paha. Kecantikan Dania sudah terpatri di dalam hati dan mata Adnan.
Adnan mengecup setiap inci paha mulus Dania hingga rok Dania tersingkap ke atas sampai pangkal paha.
Penolakan yang pernah diberikan Dania membuatnya merencanakan hal gila ini. Adnan tidak bisa tidak untuk memiliki Dania. Dia yang pertama kali melihat gadis cantik itu saat Dania menemui Radit dan Rania di gedung kampus.
Mungkin saja kalau tidak ada kejadian Radit dan Joanna, Azka tidak akan merusak Dania. Bisa jadi dirinya dan Dania sekarang menjadi sepasang kekasih. Karena Adnan mengira kalau Dania memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Sedangkan di kosan Medina, pemilik mobil yang dicurigai Azka dan Medina tidak ada di tempat. Mereka baru saja keluar dengan menggunakan mobil yang lain.
"Jadi siapa pemilik mobil itu?." Azka memukul udara karena datang tertambat ke sana.
"Aku tidak tahu pasti, tapi kalau aku tidak salah. Aku pernah melihat Kak Adnan keluar dari mobil itu juga bersama dua orang lainnya." Jawab Medina memberitahu Azka apa yang pernah dilihatnya.
"Adnan?."
"Iya."
"Ok. Kau berjaga saja di sini dan laporkan pada ku setiap ada perkembangan. Selebihnya biar aku yang mengurus."
Medina hanya mengangguk kemudian melihat pria itu pergi dari tempatnya.
Medina menatap layar ponsel yang digenggamnya dan di sana memperlihatkan Om Tampan calling.
"Iya, Pak Rusli. Ada apa?."
"Itu tidak lucu Medina. Aku tunggu di apartemen!."
"Tunggu Om, aku enggak bisa datang. Aku ada urusan besok pagi." Untuk pertama kali Medina menolak Om Tampannya.
"Medina!."
"Maaf Om, aku tutup teleponnya."
Tut...tut...tut...
__ADS_1
Medina mematikan sambungan teleponnya.
"Mungkin memang takdir ku harus hidup sendiri." Gumam Medina memandangi langit untuk sesaat. Lalu masuk ke dalam kosan dan segera menonaktifkan ponselnya karena Om Tampannya kembali menelepon.
Pagi datang menyapa, Radit dan Rania disibukkan dengan banyaknya pekerjaan hari ini. Barata mengunjungi kedua kakak Dania. Siapa tahu ada informasi yang didapatkan dari keduanya.
"Apa kalian sudah ada informasi penting mengenai Dania?."
Rania dan Radit menggeleng bersamaan.
"Kami berdua hanya berada di sini sepanjang waktu, jadi mau mendapatkan informasi apa?." Lanjut Radit mengeluh. Dirinya pun sangat ingin mencari Dania dan kalau perlu dirinya lah yang menemukan Dania. Sebagai balas jasa atas kebaikan Dania padanya.
Barata mengangguk. "Baik lah kalian berdua bisa pindah ke rumah menantu ku. Supaya kau bebas bergerak mencari Dania dan kau di rumah menemani Inara." Ucap Barata pada Radit dan Rania.
"Sungguh?." Tanya Radit.
"Sejak kapan aku tidak serius dengan kalian?."
"Aku senang mendengarnya."
Pagi itu juga Radit dan Rania berhenti bekerja dari sana dan ikut bersama Barata ke rumah Inara.
Sesampainya di sana, kedatangan Radit dan Rania ternyata di sambut baik oleh Inara. Meski sebelumnya sudah tahu cerita tentang mereka yang sangat buruk, tapi ternyata Inara selalu berpikir positif terhadap mereka atau siapa pun di luar sana. Apalagi Radit dan Rania sudah menunjukkan perubahan yang lebih baik.
"Tidak, terima kasih. Kalau boleh, aku ingin menemu Azka?."
"Azka ada di kamarnya, anak itu masih suka mual muntah. Maklum efek dari bayi yang di kandung oleh Dania." Ucap Inara sambil tersenyum.
"Iya, tidak apa-apa. Aku akan menemui Azka sekarang."
Inara meminta salah satu pelayan untuk menunjukkan kamar Azka pada Radit.
"Terima kasih." Ucap Radit pada pelayan itu setelah membuka pintu kamar Azka yang tidak di kunci.
Radit melihat Azka yang sedang berdiri di depan wastafel dengan wajah yang sangat pucat.
"Aku kira cuma hisapan jempol belaka tentang kau yang parah mengalami morning sickness. Tapi ternyata benar adanya. Kau begitu sangat tersiksa."
"Untuk apa kau datang kemari?."
__ADS_1
"Aku ingin minta maaf pada mu, maaf untuk kesalahan yang telah aku lakukan pada mu sehingga Dania yang harus menanggung akibatnya. Andai saja aku tidak termakan rayuan Joanna, mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi."
"Cih, aku sudah tidak membutuhkannya Radit. Semuanya sudah hancur dan tidak ada yang tersisa lagi. Kau sendiri sudah minta maaf belum pada Dania?. Kau hampir saja membuat calon bayi kami hilang dari rahim Dania. Kesalahan kau sudah terlalu besar Radit!." Dengan penuh emosi Azka mengatakan itu pada Radit.
"Maka dari itu biarkan aku mencari Dania dan aku aku membawanya pada mu dalam keadaan selamat." Ucap Radit lalu keluar dari kamar Azka tanpa mendengar pria itu menjawab apa.
Sedangkan di suatu tempat, Dania baru saja membuka matanya. Rasanya begitu nyaman tidurnya malam ini. Kasur empuk dengan pendingin ruangan yang membuatnya bersembunyi di balik selimut tebal.
Tapi Dania cukup terkejut dengan tangan seseorang yang melingkari perut Dania.
"Selamat pagi Dania sayang."
Dania menoleh ke samping lalu menyingkap selimutnya.
Deg
"Kak Adnan?."
Dan yang lebih membuatnya terkejut kala Adnan dan dirinya sudah sama-sama dalam keadaan polos.
"Apa yang terjadi Kak?." Dania beringsut sambil menarik selimit dan turun dari tempat tidur. Pakaiannya yang semalam sudah berserakan di atas lantai.
"Ini tidak mungkin!." Dania melihat Adnan yang masih santai di atas tempat tidur dengan tubuh bawahnya hanya ditutupi oleh bantal guling saja.
"Apanya yang tidak mungkin Dania?. Kamu tidak melihat banyaknya cairan milik kita berdua di atas sini." Tunjuk Adnan pada bekas cairan yang telah mengering.
"Itu tidak mungkin Kak Adnan!." Teriak Dania.
Adnan tersenyum lalu bangkit dan langsung saja menarik selimut Dania dengan kencang hingga selimut itu kini berpindah tangan.
"Kamu lihat di atas perut mu, itu apa?. Kamu yang memintanya sendiri untuk dikeluarkan di sana. Supaya tidak menyakiti bayi Azka.
Dania menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan penyangkalan yang terus diucapkannya.
"Tidak mungkin!. Ini tidak mungkin terjadi!. Pasti ini ada yang salah."
Belum juga usai rasa tidak percaya Dania, kini gadis muda itu harus melihat beberapa tanda merah yang memenuhinya area dadanya.
Dania mencoba menggosok tanda merah itu sambil berurai air mata, namun bukannya hilang malah membuat merah-merah kulit mulusnya.
__ADS_1
"Ahhhhh...." Tubuh Dania ambruk ke lantai, bukan hanya Azka saja yang telah memasuki dirinya. Tapi ada orang lain juga.
"Apa yang harus dikatakannya pada Azka tentang semua ini?." Batin Dania. Dirinya benar-benar hancur berkeping.